
Kehadiran Baby Syaka yang baru saja beberapa hari di rumah Papa dan Mama Naga, dengan cepat membawa suasana menjadi lebih hangat dan bahagia. Semua menyambut bahagia dan tersenyum gembira. Bahkan Pak Hasri telah menobatkan bahwa Baby Syaka merupakan sang pewaris dari Hasri Group.
"Cucu Papa yang tampan ini merupakan trah Regana, yang kelak akan menjadi pewaris tunggal Hasri Group," ungkap Pak Hasri dengan rona bahagia.
"Syaka merupakan pewaris dari Naga Group, bukan Hasri group, Pa," sergah Naga tidak terima.
"Tidak, dia harus jadi pewaris Hasri Group," kekeuh Pak Hasri tidak mau dibantah.
"Ya, sudah terserah Papa. Lagipula Syaka masih bayi merah, belum sewajarnya dibebankan jadi sang pewaris," pungkas Naga diimbuhi tawa koor antara dirinya dan Pak Hasri.
"Ha, ha, ha, ha, kamu benar Ga, Baby Syaka masih bayi merah, tapi kenapa kita orang tua sudah membicarakan pewaris? Baby Syaka ngerti apa?"
"Itu, Papa tadi yang memulai, Naga tidak memulai." Keduanya mengakhiri perdebatan yang tidak akan ketemu ujung jika masih mempertahankan pendapatnya. Lagipula baby Syaka sedang tidur pulas, jika obrolan mereka terdengar baby Syaka, maka dikhawatirkan baby Syaka akan terbangun dan menangis.
Pak Hasri dan Bu Hilsa keluar kamar setelah baby Syaka masih belum bangun juga, padahal mereka berdua ingin menimangnya.
"Sebaiknya kami keluar dari kamar baby Syaka, kami takut membuat baby Syaka terbangun." Pak Hasri dan Bu Hilsa akhirnya keluar dari kamar baby Syaka setelah satu jam lamanya menghabiskan waktu bersama di dalam kamarnya.
Tinggallah, Zila, Naga, dan baby Syaka. Naga menghampiri Zila yang tengah berbaring. Naga duduk di samping Zila di tepi ranjang.
"Sayang, bagaimana rasanya saat melahirkan baby Syaka?" tanya Naga tiba-tiba, dia ingin tahu seberapa sakit saat Zila melahirkan baby Saya.
Zila mengerutkan keningnya, heran dengan pertanyaan Naga yang mendadak. Untuk beberapa saat Zila hanya bisa diam dan membayangkan kembali sakitnya rasa mulas saat mau melahirkan. Sungguh perjuangan yang luar biasa, antara hidup dan mati. Sakitnya tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata, sebab semua sakit yang dirasakan mendadak sirna jika suara raungan bayi menangis itu sudah terdengar.
"Sangat nikmat sekali Kak, nikmat yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Biarlah ini menjadi pengalaman aku dan semua ibu di dunia yang mengalami proses mengandung dan melahirkan. Tugas kaum pria atau suami adalah mencintai dengan setulus hati serta memberi sandang, pangan dan papan dari hasil keringat yang halal," tegas Zila dengan mata yang berkaca-kaca.
Naga segera menyadarinya bahwa Zila sangat sensitif saat ini untuk ditanya masalah yang barusan Naga tanyakan. Naga meraih bahu Zila lalu mengusapnya lembut memberikan sebuah motivasi.
__ADS_1
"Maafkan, aku. Aku tidak bermaksud mengingatkan kamu kembali pada rasa sakit saat melahirkan tadi." Zila tidak menyahut, untuk beberapa saat dia diam dan berusaha melupakan semua rasa sakit itu, karena semua sudah terganti dengan kehadiran baby Syaka. Zila mendongak setelah dia mampu meredam segala rasa yang berkecamuk di dalam jiwanya tadi.
"Kak Naga, sepertinya aku belum melihat Hilda ke kamar ini untuk sekedar melihat keponakannya, apakah Hilda di rumah atau pergi?" tanya Zila heran seraya menatap keluar pintu kamar, setelah dia bisa menguasai diri.
"Hai, Zi, apakah kalian sedang merindukan kehadiran aku?" Tiba-tiba Hilda datang dengan senyum di wajahnya. Naga dan Zila saling tatap terkejut sekaligus bahagia melihatnya.
"Panjang umur kamu, Hil. Baru saja kami membicarakan kamu yang belum muncul-muncul menemui baby Syaka, tapi akhirnya datang juga." Zila sepertinya sangat bahagia ketika Hilda muncul dan datang tiba-tiba. Hilda menghampiri box baby Syaka lalu tangannya berusaha meraih tangan baby Syaka.
"Lucu banget sih tangan bayi, gemes," ucapnya seraya menekan-nekan tangan mungil itu tanpa sadar, sehingga baby Syak terbangun dan menangis.
"Wahhhhh, nangis," seru Hilda sedikit terkejut padahal dia tidak bermaksud membuat baby Syaka bangun atau nangis.
"Wahhhh. Onty Hilda bikin nangis baby Syaka, jangan keras-keras pegangnya Onty, nanti kulit baby Syaka lecet," ujar Zila seraya meraih tubuh mungil bayi kecil itu yang kini menangis akibat dipegang Hilda. Hilda hanya sengeh-sengeh.
Zila dengan cekatan meraih baby Syaka dan membawanya dalam gendongan. Rupanya baby Syaka sangat haus, sehingga saat Zila menyusuinya, baby Syaka langsung melahap susunya. Sedotan bibirnya yang mengisap ****** susu Zila terasa bagai simfoni yang mengiringi kehidupan, begitu indah dan bahagia. Zila benar-benar merasakan nikmatnya menjadi seorang ibu ketika merasakan isapan di ****** susunya. "srett, srett," begitu bunyinya.
***
Seminggu berlalu sejak kelahiran itu, kini Zila sudah mulai mengajak Naga pulang ke apartemen. Dia sudah rindu dengan suasana apartemen.
"Zi, seminggu lagi saja baby Syaka di rumah ini, Mama akan sangat kehilangan kalau sekarang kamu bawa pulang ke apartemen." Mama Hilsa protes dan tidak mau kalau Zila mambawa baby Syaka pindah sekarang ke apartemen. Melihat Mama Hilsa begitu sangat sedih, akhirnya Zila mengurungkan niatnya untuk membawa Baby Syaka pindah ke apartemen.
Hari semakin bergulir, baby Syaka hari demi hari memperlihatkan pertumbuhan yang sangat bagus dan sehat. Semua anggota keluarga sangat bahagia dan menyayangi baby Syaka. Bahkan tidak jarang setiap yang menemui baby Syaka, pipi cubynya tidak luput dari keusilan tangan-tangan mereka untuk menjawil.
"Sangat mirip Kak Naga, sepertinya kamu memang takut jika tidak diakui Papa kamu," celetuk Hilda sembari mencubit kecil pipi baby Syaka yang cubby.
"Benar banget, sangat mirip Kakakmu," timpal Mama Hilsa bangga. Mereka berdua tertawa-tawa sembari mengayun baby Syaka yang saat ini sedang dalam ayunan.
__ADS_1
Tepat di usia 14 hari baby Syaka, Bu Hilsa selaku Oma yang sangat perhatian dan sayang, hari ini mengadakan acara aqeqahan cucu kesayangannya itu. Segala persiapan dan rangkaian acaranya dia yang menyiapkan. Zila dan Naga tidak dibiarkan ikut campur, semua sudah diatur dan ditangani oleh Bu Hilsa. Naga dan Zila tinggal duduk manis menikmati acara.
Benar saja, Naga dan Zila hanya tinggal mengikuti acara, semua rangkaian acara mulai dilewati tidak terlewat satupun. Baby Syaka pun diperlihatkan di depan para tamu yang datang mereka sangat antusias dan senang melihat baby Syaka.
Baby Syaka banyak yang memuji, wajahnya yang mewarisi ketampanan Naga tidak luput dari sorotan mata para tamu, mereka mengatakan bahwa baby Syaka merupakan pewaris trah Regana yang tidak terbantahkan.
Diantara para tamu yang hadir dalam acara aqeqahan baby Syaka, rupanya ada tamu spesial bagi Zila, yaitu kehadiran Paman Kobar dan Tante Zuli yang tidak disangka kehadirannya justru membawa kabar berita bahwa Tante Zuli kini tengah berbadan dua, usia kandungannya baru menginjak usia satu bulan. Zila sangat gembira mendengarnya. Terlebih mendengar jika ini merupakan anak pertama untuk Kobar dari Tante Zuli.
"Selamat Paman, selamat Tante Zuli, delapan bulan lagi kalian akan segera menyusul seperti aku menjadi orang tua," ucap Zila bahagia. Ia sangat antusias dengan kebahagiaan yang dirasakan Pamannya dan Tante Zuli.
Dan akhirnya setelah acara aqeqahan baby Syaka, Zila dan Naga benar-benar membawa baby Syaka pindah ke apartemen. Meskipun berat, Bu Hilsa akhirnya merelakan kepindahan baby Syaka ke apartemen.
"Nanti Mama bisa sering-sering datang ke apartemen untuk melihat baby Syaka. Atau kami saja nanti dua minggu sekali datang ke rumah Mama," bujuk Naga pada Mama Hilsa yang sedih saat baby Syaka dibawa Naga pindah.
__ADS_1