Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 85 Musim 2 Kembali ke Rumah Mertua


__ADS_3

"Mas Hasya ini loh anak gadis saya yang saya ceritakan tempo hari, sepertinya kalau melihat dari gestur tubuh, kalian cocok jika dipasangkan," celetuk Tante Zuli saat baru saja memasuki ruang tamu. Ini cita-cita dia sejak pertama kali bertemu Hasya, dia ingin mempunyai menantu seperti Hasya. Rupanya sifat celetak celetuk Tante Zuli tidak pernah berubah, dari awal ketemu Hasya sampai sekarang masih saja seperti itu. Kobar geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya itu, genit di depan laki-laki muda untuk menggaetnya menjadi menantu.



Mendengar celotehan ibunya yang membuatnya sedikit tersipu malu, Diara bangkit dan bergegas pergi tidak lupa pamit pada semua termasuk Hasya.



"Saya ke dalam dulu," pamitnya dengan wajah yang pias malu-malu. Hasya nampak kecewa saat Diara akan pergi. Dia berharap Diara masih menemaninya di ruang tamu bersama kedua orang tuanya.



"Wah, memangnya mau kemana, kok buru-buru," sergah Hasya tanpa ragu-ragu. Seketika Diara menghentikan pergerakan tubuhnya lalu kembali duduk di sofa ruang tamu.



"Saya harus bersiap-siap menyiapkan barang saya untuk pulang besok ke Jakarta, sebab saya kerja di Jakarta," jawab Diara menunduk.



"Oh," seru Hasya membalas ucapan Diara. Tiba-tiba Hasya berkeinginan dalam hatinya ingin mengenal Diara lebih jauh, karena Diara terlihat sangat malu-malu dan kembali berdiri dan pamit ke dalam, Hasya berinisiatif meminta nomer Hp Diara pada Kobar ataupun pada Zuli yang dari awal pernah terucap niatnya ingin memiliki menantu seperti Hasya, dan kini Hasya ang diharapkannya ada di depan mata serta secara kebetulan dia tiba-tiba merasa tertarik dengan Diara. Sepertinya ini akan menjadi sebuah hal yang berbalas, bak gayung bersambut.


***


Kembali ke Bandung


Mobil Naga sudah berada di depan rumah kedua orang tuanya, sebelum turun Zila nampak terkejut, sebab dia pikir Naga akan membawanya ke apartemen seperti bayangannya. Kalau di rumah mertuanya Zila yakin dia tidak akan bisa istirahat dengan bebas meskipun selama di rumah ini sejak dia sudah diterima menjadi bagian anggota keluarga ini, dia bisa bebas dan istirahat dengan semaunya. Namun sekarang rasanya berbeda, Zila takut kedua mertuanya marah karena dia keguguran.



"Kak Naga kenapa kita pulang ke rumah Bapak dan Ibu?" protesnya sembari menatap Naga kemudian beralih menatap rumah besar bak istana milik orang tua Naga.



"Aku hanya ingin kamu ada yang mengawasi makan dan istirahatnya setelah kamu mengalami keguguran. Kalau tinggal di sini setidaknya ada yang memberimu perhatian lebih, Bi Rani dan Rana bisa melayani kamu dengan baik," alasan Naga masuk akal. Zila paham, tapi tetap saja dia merasa kurang srek.



"Kenapa harus pulang ke rumah ini, di apartemen juga ada Bi Dian yang bisa memperhatikan atau mengawasi aku?" tukasnya masih protes.



"Coba sekali saja kamu tidak protes atau membantah kemauan aku. Buktinya kemarin saja saat kamu membantah dan memaksa aku untuk mengijinkan kamu ke Lembang, kamu kena marah Tuhan, kemudian Dia ambil kembali anak kita tanpa kita mau. Apakah kali ini kamu mau membantah perkataanku lagi?" tegas Naga tidak segan-segan memarahi Zila yang dianggapnya sudah membantah. Zila diam, dia sadar kejadian kemarin memang kesalahannya sendiri yang tidak patuh pada Naga terutama saat Naga melarangnya naik pohon mangga dan Zila tidak mendengarnya.


__ADS_1


Akhirnya Zila terpaksa mengikuti kemauan Naga, padahal hatinya tidak srek, sebab dia malas harus bertemu kembali adik iparnya yang sering adu pendapat dengannya.



Zila menuruni mobil dan berjalan menuju pintu depan rumah mertuanya sembari menahan rasa tidak enak sehabis keguguran kemarin. Zila bingung untuk bersikap di depan kedua mertuanya. Pasti sehabis ini dia bakal ditanya-tanya dan disalahkan atas insiden ini.



Zila menunggu Naga di muka pintu, dia ingin melangkahkan kaki ke rumah ini bersama dengan Naga dengan tangan yang dipegang sebagai bukti dia meminta perlindungan.



Sebelum Naga menekan bel dan mengucap salam, pintu sudah terlebih dahulu dibuka. Bi Rani nampak terkejut saat membukakan pintu, ternyata di depan pintu ada Naga dan Zila. Setelah itu Bi Rani kelihatan bahagia dan menyambut Naga serta Zila masuk ke dalam rumah.



"Silahkan masuk Non Zila, Den Naga. Lama tidak berjumpa Bibi sampai kangen," ujarnya sampai menggema ke seluruh ruangan di rumah itu. Bersamaan dengan itu Pak Hasri dan Bu Hilsa bermunculan ke ruang tamu menjumpai Naga dan Zila yang memang sudah mereka ketahui akan datang ke rumah dan sengaja akan tinggal dulu sejenak sampai Zila benar-benar pulih pasca keguguran.



Zila dengan cepat menghampiri Bu Hilsa yang kini sudah dalam keadaan duduk di sofa bersama suaminya dengan wajah sedikit tegang. Zila duduk bersimpuh dan meminta maaf atas kelalaiannya yang tidak bisa menjaga kandungannya dengan baik.




Bu Hilsa meraih pundak Zila dan mencoba menatap wajah menantunya itu. Rasa kesal dan sesal hadir bersamaan di dalam dadanya, tapi mau apa lagi, mungkin ini sudah ketentuannya. Meskipun Bu Hilsa merasa menyesal dan marah, dia tidak bisa apa-apa dengan kehendak-Nya.



"Sudahlah, mungkin ini sudah suratan dari illahi. Mungkin kami belum waktunya diberi cucu. Tapi, seandainya kamu bisa menjaga diri dan mengikuti perintah Naga, maka aku yakin cucuku masih ada di dalam perut kamu itu," ujar Bu Hilsa sedikit menyalahkan Zila. Zila sadar dia memang salah, dia sangat menyesal dan masih terisak di sana.



"Bangkitlah dan kembalilah ke kamar, kamu beristirahatlah dulu untuk memulihkan tubuhmu pasca keguguran," titah Bu Hilsa seraya mengangkat tubuh Zila. Zila berdiri dan kini dia duduk di samping Naga.



"Mama dan Papa sangat terpukul dengan berita ini, tapi mau bagaimana lagi? Mungkin ini sudah takdir-Nya, kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain berdoa dan kalian berusaha kembali untuk memiliki momongan lagi," ucap Bu Hilsa dengan wajah yang sendu dan kecewa.



"Wahhh, rupanya ada Kak Naga, Kak Naga kembali Kak? Lalu berita itu, apakah benar?" Hilda yang tiba-tiba muncul begitu senang saat melihat Naga berada di ruang tamu. Hilda langsung memburu Naga dan merangkulnya manja tanpa mempedulikan Zila yang di sampingnya.


__ADS_1


"Kak Naga, Kakak belum menjawab pertanyaanku tadi, benarkah istri Kakak keguguran?" ulang Hilda mempertanyakan pertanyaannya tadi.



"Betul, Zila keguguran. Dan kami belum jadi orang tua," jawab Naga terdengar menyesal.



"Sayang sekali, ya, Kak, padahal punya anak merupakan salah satu impian Kak Naga sejak dulu saat masih bersama mantan istri Kakak yang pertama. Salah istri Kakak sendiri sih, yang tidak patuh saat Kak Naga melarang jangan ini itu. Jadinya begini, kehilangan deh akhirnya," cerocos Hilda menyalahkan Zila tanpa memikirkan perasaan Zila.



"Ini sudah takdir, De. Mungkin Kak Naga belum saat ini untuk memiliki anak," pasrah Naga sembari mengurai rangkulan adiknya yang manja itu.



"Ini gara-gara dia yang tidak pandai menjaga amanah. Terlalu bar-bar, sih. Masa perempuan hamil naik-naik pohon mangga. Huhhhh, tidak berguna," ejeknya sembari mendilak ke arah Zila. Zila menatap sekilas ke arah Hilda, rupanya adik iparnya ini semakin ngenes saja terlebih mendapati dirinya kini yang sudah keguguran akibat kelalaiannya.



"Hilda, jangan seperti itu bicaranya. Kita, kan, tidak tahu Kak Naga bakal dapat ujian seperti itu," sergah Pak Hasri menegur Hilda yang secara langsung menyindir Zila.



"Huhhhh, Papa memang begitu, tidak pernah mau melihat aku senang sedikit saja jika sudah menyindir orang," jawabnya sembari manyun.



"Karena Kak Naga sedang mengalami ujian yang berat, bagaimana jika nanti malam Kak Naga traktir aku es krim yang banyak seperti yang dilakukan Kak Nagi selama ini sama aku. Supaya Kak Naga bisa terhibur kalau sudah nraktir aku nanti," rayu Hilda seraya bergelayut manja.



"Kakak tidak janji, tapi jika nanti tidak lelah, Kakak ajak kamu ke kedai es krim viral itu."



Ok, aku tunggu nanti malam. Pokoknya Kak Naga jangan bohong," ucapnya mewanti-wanti. Naga hanya tersenyum lalu berpamitan kepada Mama dan Papanya untuk membawa Zila ke kamar beristirahat.



"Ma, Pa, aku ke kamar dulu. Kami istirahat dulu, sepertinya istriku sangat lelah," ujar Naga berpamitan. Bu Hilsa dan Pak Hasri tersenyum dan membiarkan Naga dan Zila pergi istirahat. Saat Naga dan Zila beranjak, Hilda sengaja menatap Zila dengan wajah yang judes.



"Huhhh, dasar kakak ipar yang tidak bisa jaga amanah," umpatnya sembari duduk manja di samping Pak Hasri meminta sesuatu. Rupanya Hilda ada maunya.

__ADS_1


__ADS_2