
Hilda terbelalak saat dirinya berhasil membuka bungkus kado terakhir, dia mendapati sebuah kotak perhiasan berukuran kecil. Perlahan Hilda membuka kotak perhiasan itu dengan hati yang tiba-tiba bergetar, jantung berdegup kencang. Hilda begitu penasaran apa isi dari kotak perhiasan itu.
"Satu, dua, tiga." Hilda menghitung maju saat ia akan mulai membuka kotak perhiasan itu. Dan, jantung yang berdegup itu kini benar-benar sangat terkejut, bahkan hampir saja seakan copot dari tempat. Hilda tidak menduga isi dari kotak perhiasan itu adalah sebuah cincin berlian bermata hati. Hilda perlahan meraihnya dengan tangan bergetar, menimang dan mengamatinya dengan mata yang awas.
"Untuk aku? Lalu siapa pengirim dari cincin berlian ini?" Hilda mencari siapa pengirim cincin itu, cap maupun pengirim dari layanan manapun tidak tercantum di sana. Lalu dibulak-balik lagi siapa tahu dia bisa menemukan petunjuk dari siapa dan dari mana asal pengirim itu. Namun nihil, Hilda tidak menemukan petunjuk yang dimaksud. Hilda menyerah dan berhenti mencari.
Hilda bingung mau diapakan cincin berlian itu yang masih misteri dari siapa pengirimnya. Lalu dia mengamati kembali dan menatap lekat. Seakan ada daya tarik dengan cincin berlian itu, Hilda ingin tahu dan ingin mencoba cincin berlian sebagus itu.
"Tapi kalau dicobain nggak apa-apa kali, ya? Kok bagus banget," gumannya. "Apakah ini cincin nyasar, atau gimana, sih, kenapa bisa dikirim ke aku?" Hilda masih berpikir dan menimbang cincin berlian itu.
Tepat di jari tengahnya sebelah kiri, Hilda mencoba cincin berlian bermata hati itu. Perlahan dan rasanya pas. "Wawww, keren banget. Ini pas banget di tangan aku. Ihhh cantik lagi," pujinya masih menimbang-nimbang cincin yang sekarang ada di jarinya.
"Ya ampun, kenapa aku seperti tidak ingin melepas cincin ini. Ini seperti cocok untuk aku," ujarnya lagi sembari menyunggingkan senyum. "Tapi siapa sih pengirim cincin ini, kalau memang ini untuk aku semoga saja ada petunjuk, menghubungi lewat telpon atau WA kek," harapnya masih penasaran.
Saking ngantuk dan lelah akibat aktifitas hari ini, Hilda tertidur sangat pulas bersama cincin yang baru saja di dapatnya entah dari siapa.
Di suatu tempat yang jauh dari Hilda, seseorang tersenyum bahagia saat mengetahui cincin kirimannya telah diterima dan ternyata dipakai sendiri oleh Hilda.
"Cincin itu akan jadi pengikat kita, jadi saat kemanapun kamu pergi aku tahu, dan bersama siapapun kamu, aku juga akan tahu," ujarnya terukir senyum yang sangat bahagia.
"Kesibukanku di sini tidak mungkin bisa memantau keberadaanmu tiap waktu, tapi dengan cincin itu, sepertinya aku diam-diam bisa memantau kamu," lanjutnya lagi seraya mengetuk-ngetuk meja dengan kepalan tangannya.
**
Hilda terbangun dari tidurnya, dan waktu kini sudah menunjukkan pukul enam sore. Suara kumandang azan pun bersahutan. Hilda menggeliatkan badannya, menarik otot-ototnya yang terasa tegang. Sejenak dia merasakan badannya terasa ringan dan enteng, entah kenapa.
Setelah membersihkan diri dan mematut diri di cermin melihat pantulan dirinya yang sudah lama tidak tampil cantik, entah kenapa hari ini Hilda ingin berdandan seperti dahulu saat Nagi selalu bersamanya. Dress tiga per empat dengan lengan tiga per empat juga menutupi tubuhnya yang ramping. Warna hijau toska yang selalu jadi favoritnya kini menempel di tubuhnya. Cantik dan girly khas anak muda sangat tampak.
Kini make up natural yang selalu disematkan di wajahnya, sudah menghiasi wajahnya kembali. Binar mata dan bulu mata yang lentik itu salah satu daya pesona Hilda. Juga bagi orang yang selalu di hati Hilda. Nagi pernah mengungkapkan bahwa daya tarik dia dan yang paling disukai Nagi adalah mata.
"Kak Nagi," desahnya mengingat kembali Nagi yang selalu di hatinya.
__ADS_1
"Tok, tok, tok." Suara pintu kamar terdengar diketuk, Hilda sejenak terkejut. Dia tersadar dari lamunannya tentang Nagi.
"Non Hilda, Nyonya besar dan Tuan Besar sudah menunggu. Nona diharapkan segera turun," teriak Bi Rani. Hilda tidak menjawab, dia segera menyampirkan tas di bahunya lalu bergegas menuju pintu kamarnya. Rupanya Bi Ranii menunggu di depan pintu. Saat Hilda keluar kamar, Bi Rani ternganga takjub melihat penampakkan Hilda.
"Nona, benarkah ini Nona? Nona sangat cantik dan bersinar seperti mau menghadiri pesta bersama pangeran-pangeran di film itu," ungkap Bi Rani entah itu candaan atau benar.
Hilda berjalan menuju tangga diikuti Bi Rani yang masih saja belum berhenti mengagumi kecantikannya.
Tiba di bawah, kehadiran Hilda sudah ditunggu Papa dan Mamanya yang tidak terduga tersentak melihat penampilan Hilda. Pak Hasri tersenyum lalu menangkap lengan putri kesayangannya yang dulu sangat manja padanya sebelum Nagi pergi jauh darinya. Bermanja, berdebat dan bercanda selalu mereka lewatkan. Namun, kini semua itu tidak ada lagi, Hilda sudah berubah 180 deraja, padahal suasana seperti itu sangat ingin Pak Hasri lewatkan kembali.
"Sayang, teman kamu Hadi itu apakah tidak kamu beritahu bahwa hari ini ada acara perayaan ulang tahun cucu Papa?" Tiba-tiba Pak Hasri menanyakan Hadi di saat mood Hilda sedang membaik dan tidak ingin dirusak dengan hal-hal lain.
"Tidak, Papa. Aku tidak memberitahu, buat apa?"
"Bukankah kalian selama ini sudah berteman hampir dua tahun dan dia selalu membantu tugas kuliah kamu, jadi sewajarnya kamu undang dia sebagai tali silaturahmi kita bersamanya," ujar Pak Hasri. Hilda menggeleng.
"Aku dekat dan dia selalu berinisiatif membantu aku, bukan aku yang meminta. Jadi, di saat aku tidak ingin mengajak dia kemanapun aku pergi, itu hak aku, dan aku tidak pernah mau mengajak seseorang dalam aktivitasku. Jadi, Papa jangan memaksaku untuk aku mengajak dia sekalian. Hidupku lebih senang dan bahagia sendiri," tukasnya seraya melepaskan tangan Pak Hasri sedikit kasar.
Hilda mende$ah meluapkan kekesalannya atas sikap Papanya barusan yang merusak moodnya. Hilda tidak ingin memikirkan lelaki manapun saat ini, Nagi saja yang masih di dalam hatinya sedang ingin dilupakan, tapi nyatanya sangat sulit untuk dilupakan, karena makin dilupakan, bayangan Nagi semakin melekat dalam ingatan.
"Ayo, sayang." Bu Hilsa meraih tangan Hilda mengajaknya memasuki mobil mewah milik Papanya. Hilda menepis.
"Tidak, aku mau naik motor aku saja. Mama sama Papa saja naik mobil," tolak Hilda membuat Mama Hilsa kecewa dan sakit ditolak seperti itu.
"Sayang, bisakah kamu ikut kami saja naik mobil, kalau kamu naik motor, Papa khawatir rok kamu tidak aman dan malah membahayakan," bujuk Pak Hasri berharap Hilda patuh seraya meraih pundak anak bungsu yang kini semakin jauh darinya. Hilda melepas belaian tangan Pak Hasri di bahunya, jangankan pria lain, tangan Papanya saja dia tolak.
"Kali ini saja, Nak. Ini hanya saat kita dalam acara," mohon Pak Hasri memelas. Dulu wajah memelas Papanya seperti itu akan jadi bahan ejekan dan candaan Hilda, tapi kini tidak ada lagi candaan dan olokan manja dari putri kesayangannya itu.
"Sudah terlalu lama kamu bersikap seperti ini sama Papa, Nak. Sebagai bentuk protes karena Papa menjauhkan kamu dengan Nagi. Maafkan Papa, karena ini semua ini demi kebaikanmu dan juga Nagi." Dalam hati Pak Hasri berkata dengan sedih.
"Sayang." Bu Hilsa meraih lembut lengan Hilda berharap Hilda mau ikut satu mobil dengan mereka. Tatapan Bu Hilsa mendamba dan meminta. Dia berharap Hilda mau ikut.
__ADS_1
"Ok, aku ikut, tapi ini terpaksa," ujar Hilda seraya setuju dengan ajakan Mamanya yang sedih. Walauun Hilda mengatakan itu terpaksa, tapi sungguh ini suatu kebahagiaan bagi Papa hasri dan Mama Hilsa bisa bersama sedekat ini bersama putri tersayangnya.
Di dalam mobil itu hening, sejak tadi Hilda hanya mempermainkan cincin yang baru dipakainya tadi sian yang dikirimkan entah oleh siapa, tapi dengan senang hati Hilda memakainya berharap si pemberi cincin ini menghubunginya menanyakan, "cincinnya sudah sampai?"
Pemandangan saat Hilda mempermainkan cincin di jari tengahnya yang sesekali dilihat dan diputar-putarnya, mencuri perhatian Bu Hilsa. Bu Hilla heran, dari siapa Hilda mendapat cincin sebagus itu. Cahayanya saja mengkilap terang.
"Dari mana Hilda mendapatkan cincin sebagus itu?" heran bu Hilsa dalam hati.
Tiga puluh menit kemudian mobil mereka tiba di sebuah hotel berbintang lima di mana akan dirayakan ulang tahun Syakala Renaga, keponakan tersayang Hilda yang jika bertemu, Hilda selalu gemas dengan pipi gemilnya Syaka. Dia sudah tidak sabar ingin segera melihat Syaka dan menciumnya.
Riuh suara tamu di ballroom hotel sudah terdengar. Nyanyian ulang tahun seorang artis cilik tempo dulu diperdengarkan, pertanda acara ulang tahun akan segera dimulai. Pak Hasri dan Bu Hilsa sampai di ballroom hotel sebelum acara dimulai. Zila dan Naga juga baby Syaka menyambut kehadiran Opa dan Oma juga Onty baby Syaka dengan gembira. Tidak pikir panjang lagi, Hilda berlari menuju baby Syaka yang digendong Zila.
"Baby Syakaaa, Sayang, kesayangan Onty," girangnya sembari menghambur ke arah Zila yang sedang menggendong baby Syaka. Hilda mencium seluruh pipi cuby baby Syaka gemas. Wajahnya yang imut dan tampan semakin membuat gemas Hilda yang kadang saking gemasnya mencubit, tidak jarang baby Syaka menangis akibat cubitan kecil Hilda.
Tapi kali ini baby Hilda tertawa-tawa renyah melihat tingkah Ontynya yang lucu memperagakan gaya harimau mencakar.
"Masa iya Onty Hilda sudah secantik ini tapi gayanya harimau mencakar?" ejek Zila yang langsung dibalas dengusan kesal Hilda.
"Ziiii, kamu jangan ledek aku, ya. Aku ini memang cantik, dan aku sudah bosan terlihat jelek," tukasnya sembari tidak henti mengganggu baby Syaka.
Zila sekilas melihat cincin yang dipakai di jari tengah Hilda, sangat indah dan kelihatannya mahal, ketika tangannya mencubit pipi baby Syaka. "Apakah Hilda dibelikan cincin itu oleh Mama Hilsa?" Zila tidak heran, dia yakin Hilda diberikan cincin itu dari Mama Hilsa.
Para tamu undangan satu per satu sudah memasuki ballroom hotel. Zila dan Naga selaku yang punya acara mempersiapkan sedemikian rupa untuk menyambut kedatangan tamu mereka. Bukan saja para orang tua yang memiliki anak balita yang hadir, melainkan kerabat, rekan bisnis dan sahabat Naga juga menghadiri acara ulang tahun baby Syakala.
"Kak Hadi, kok dia ada di sini, siapa yang mengundang?" Hilda menatap kehadiran Hadi sang Brigadir Polisi yang berjalan gagah dan tampan di samping dua orang tua paruh baya. Yang mengejutkan ternyata Papanya Hadi adalah sahabat lama dan kental Papa Hasri.
Hadi tersenyum sangat manis ke arah Hilda yang menatap hampa dan tidak percaya melihat kehadiran Hadi dan kedua orang tuanya, menghadiri acara ulang tahun baby Syaka yang kedua.
"Akan ada drama apalagi setelah ini? Perjodohan antara anak dua orang sahabat? Tidakkkk, aku hanya ingin memilih jodohku sendiri." Dugaan Hilda sejauh itu, kemudian dugaan itu ditepis-tepisnya kembali dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hilda, Sayang." Seseorang membuyarkan lamunan Hilda.
__ADS_1