Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Musim 3 Nagi dan Hilda #Perjumpaan dengan Nagi


__ADS_3

     Hilda kini tengah mempersiapkan diri untuk menemui Nagi di Syaidar Cafe. Dia berdandan secantik dan seanggun mungkin. Karena kini Hilda bertekad akan membuat Nagi tergila-gila dan mengejarnya. Hilda tersenyum dengan sebuah rencana yang akan dijalankannya. Apa yang direncanakan Hilda? Sebentar lagi jam 12, Hilda merencanakan rencana pertamanya.


     "Jangan tunggu aku kalau aku telat satu jam." Pesan itu terkirim, dan Nagi langsung membacanya karena ia tengah memainkan HPnya.


     "Silahkan jika kamu mau telat, aku bisa melihatmu dari Hp ini. Aku akan ke Syaidar Cafe saat kamu mulai pergi." Nagi membalas WA itu di dalam hati saja. Lalu WA yang dia kirimkan hanya sebuah tanda emot ok.


     Hilda mendengus kesal dengan balasan WA dari Nagi, dia kesal karena Nagi hanya mengirimkan sebuah emot oke. Sebegitu yakinnya Hilda bahwa yang mengirimkan SMS itu adalah Nagi dan Hilda enggan bertanya, siapa gerangan di balik SMS itu?


     "Aku yakin di balik SMS ini adalah Kak Nagi. Maka lihat saja perubahanku besok, Nagi Regani." Hilda bertekad akan membuat Nagi benar-benar jatuh cinta padanya.


     Hilda melihat jam di tangannya dan sudah siap dengan semua rencananya. Kemarin Hilda juga sudah menghubungi seseorang untuk melengkapi rencananya.


     Jam 13.00 teng, Hilda baru berjingkat dari kamarnya. Dia benar-benar menjalankan rencananya dan kini rencana awal sudah dia mulai. Hilda akan melihat reaksi Nagi pertama kali bertemu dengannya dan Hilda bisa menilai seperti apa Nagi. Hilda keluar kamar dengan penuh senyum. Namun, dia membalikkan tubuhnya kembali sebelum membuka pintu.


     Hilda mendekati meja rias lalu melepaskan cincin berlian pemberian orang yang tidak dikenal itu. Di sini dia berpikir, tidak mau jika cincin itu dilihat oleh Nagi dan Nagi berprasangka buruk padanya. "Kamu diam dulu di laci ini, ya. Aku harus menemui lelaki egois itu dan memberi pelajaran. He, he, lihat saja, apa yang akan aku lakukan padamu, Kak," bisik Hilda penuh tekad seraya meletakkan dengan rapi cincin itu di dalam laci meja riasnya.


     Setelah merasa aman, Hilda segera bergegas menuju pintu kamarnya dan kini benar-benar keluar dari kamar itu. Dandanannya yang fresh dan nampak belia terpancar dari dalam diri Hilda. Dengan dress lengan panjang selutut ala Eonni Korea terpampang nyata.


     Tiba di ruang tengah, Hilda seperti mendengar Papa dan Mamanya berbincang, dengan rasa penasaran yang sedikit membuncah, Hilda menguping pembicaraan kedua orang tuanya tentang Nagi. Hilda memasang kupingnya baik-baik.


     "Pa, benarkah Papa sudah merelakan keinginan putri kita yang menginginkan Nagi kembali padanya?" Pertanyaan itu sangat jelas dan membuat jantung Hilda berdetak kencang. Rasa haru sekaligus berdebar, menyelimuti dadanya.


     "Papa, kini tidak mau lagi melarangnya. Jika memang itu pilihan yang baik untuknya, maka Papa akan biarkan Hilda mencari kebahagiaannya sendiri," tukas Pak Hasri dengan penuh tekad.

__ADS_1


     Hilda sejenak mengatur nafasnya dalam-dalam sebelum dia beranjak melewati ruang tengah. Ketika Hilda mulai melewati ruang tengah, Pak Hasri dan Bu Hilsa mendadak terkejut dengan kedatangan Hilda. Bu Hilsa bangkit dan menahan lengan Hilda.


     "Sayang, kamu sangat cantik, kamu mau kemana?" tanya Bu Hilsa langsung pada pokok utama. Hilda berhenti sejenak dan menoleh ke arah Mamanya.


     "Hilda mau jalan keluar dulu, Ma," jawabnya pendek.


     "Apakah kamu akan menemui seseorang?" Bu Hilda bertanya dengan penuh rasa penasaran.


     "Jelas dong, Ma. Aku pergi dulu, ya. Assalamualaikum," jawabnya lagi diakhiri salam. Dan Hilda kini mulai bergegas menuju pintu diantar oleh sebuah tatapan rindu sang Ibu.


     Hilda keluar dari gerbang, dan seseorang sudah menunggu di luar gerbang. Hilda menaiki mobil yang dikemudikan lelaki cepak. Ternyata dia adalah Hadi yang ikut Hilda seret ke dalam rencananya.


     "Wawww, sangat cantik," puji Hadi menatap takjub Hilda yang memang sangat cantik. Hilda segera menepis pujian Hadi dengan mengajaknya untuk segera menjalankan mobilnya ke arah Syaidar Cafe. Tidak membantah, Hadi segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Syaidar Cafe, tempat di mana Hilda dan seseorang akan bertemu.


     "Apakah Kak Hadi benar-benar tidak keberatan membantuku dalam rencana ini?" tanya Hilda ragu.


     Mobil yang dijalankan Hadi masih berjalan menuju cafe yang ditunjuk Nagi.


Sementara itu Nagi yang sudah bersiap, kini kehilangan gerak-gerik Hilda dari layar HPnya. Dan Nagi menduga Hilda tidak sedang menggunakan cincin itu, sebab sensor yang diterima tidak sampai ke Hp Nagi.


     Walau demikian Nagi tidak merasa kecil hati, dia yakin Hilda akan datang memenuhi panggilannya dengan segudang rencana.


     "Aku tahu kamu merencanakan sesuatu, tapi aku tahu rencana kamu itu hanya gimick saja untuk membuat aku cemburu semata," simpul Nagi seraya memasukkan kembali sebuah kotak perhiasan ke dalam sebuah tas kecil.

__ADS_1


     Tidak berapa lama Nagi tiba di Syaidar Cafe, dia sudah membooking sehari yang lalu untuk mengosongkan dua meja di cafe itu. Nagi menempati salah satu meja di paling ujung.


      Hilda kini mulai nampak batang hidungnya. Namun sayang, Hilda tidak sendiri. Dia bersama lelaki cepak dan terlihat sangat mesra. Tapi Nagi meyakini itu hanya gimick belaka. Nagi akan hadapi dengan elegan sebab rencana ini sempat tercetus dari mulut Hilda dan Nagi mendengarnya dengan sangat jelas.


     "Kamu akan membuat aku cemburu, bukan? Ok kalau begitu, aku akan hadapi dengan sangat elegan," kata hati Nagi sambil menyunggingkan senyum.


     Jantung Hilda semakin berdegup kencang saat langkah kakinya semakin mendekati meja yang Nagi tempati. Seorang lelaki yang sangat tampan berkaca mata hitam duduk dengan gagah di salah satu sudut meja di cafe itu. Hilda dengan mudah bisa mengenali Nagi walau dia baru melihat dari belakang.


     Hadi yang menyadari sikap Hilda, hatinya dilanda cemburu, harusnya dia kemarin menolak ajakan Hilda untuk bekerjasama membuat Nagi cemburu.


     "Apakah kamu siap menghampirinya?" tegur Hadi membuyarkan Hilda yang melamun.


      "Aku harus siap, Kak. Aku ingin tahu bagaimana sikap Kak Nagi melihat aku datang bersama Kak Hadi dalam keadaan telat satu jam dari jam yang dia tentukan," ujarnya seraya mendekati meja Nagi.


     Semakin dekat Hilda ke meja Nagi maka semakin deg degan jantungnya tidak karuan. Namun tekad Hilda sudah bulat, ingin melihat reaksi Nagi yang pertama kali saat berjumpa. Hilda sangat merindukan sosok di hadapannya yang sekian tahun dia rindukan.


     Niat hati ingin segera memeluk Nagi, tapi Hilda sekarang sudah berubah, tidak akan lagi mengekspresikan rasa cinta itu dengan menggebu-gebu dan agresif, sebab seperti yang pernah dia dengar Nagi tidak menyukai perempuan yang ekpresif seperti dirinya.


     "Kak Nagi," sapanya sedikit bergetar, padahal sebelumnya Hilda akan berusaha tegar. Nagi yang berada tepat di hadapannya kini bak aktor Korea yang selalu diidolakan remaja-remaja seantero dunia. Nagi sangat tampan dan bersih, juga perubahan yang mencolok, kini Nagi semakin terlihat dewasa dan mapan. Hilda hampir saja tergoda untuk menyambutnya dengan sikap yang manja. Namun dia ingat akan rencananya yang ingin membuat Nagi cemburu. Nagi menoleh dan tidak memperlihatkan sikap yang terkejut.


     "Sayang," balasnya spontan dan sangat refleks. Memang kata-kata itulah yang ingin Nagi ucapkan di hadapan Hilda, bahkan sebenarnya Nagi ingin memeluk Hilda yang kini sangat cantik, anggun, dan mempesona.


      "Duduklah." Nagi mempersilahkan duduk pada Hilda dan Hadi, tidak ada gurat marah saat melihat Hadi. Hilda dan Hadi duduk.

__ADS_1


     "Sayang, kenapa kamu harus membawa pengawal ke sini untuk menemui aku, bukankah aku bukan makhluk yang berbahaya untuk ditemui?" ucapan Nagi barusan langsung membuat darah Hadi tiba-tiba mendidih.


     "Pengawal?" heran Hilda seraya menatap tidak enak ke arah Hadi.


__ADS_2