
Setelah Naga pergi ke kantor, tidak berapa lama Bi Lala datang. Bi Lala pembantu yang tidak nginap di rumah. Pekerjaannya hanya sampai jam tujuh malam. Karena rumahnya dekat dengan apartemen, Bi Lala memilih pulang pergi dan tidak menginap.
"Assalamualaikum, Non. Bagaimana hasil tespek yang keduanya apakah hasilnya masih sama dengan yang kemarin siang?" Datang-datang Bi Lala langsung menanyakan hasil tespek Zila. Zila tersenyum membalas pertanyaan Bi Lala membuat Bi Lala semakin dilanda penasaran.
"Bagaimana, Non? Apakah senyum Non Zila menandakan bahwa hasilnya sama seperti kemarin?" tanya Bi Lala masih penasaran.
Zila tidak menyahut, dia hanya tersenyum yang menyiratkan bahwa hasil tespek itu sama dengan hasil tespek yang kemarin siang.
"Wah sepertinya Non Zila sedang bahagia nih. Selamat, ya, Non. Saya ikut bahagia," ujar Bi Lala seraya menghampiri Zila dan memeluknya secara spontan. Bi Lala menganggap Zila seperti anaknya sendiri. Jadi saat Bi Lala memeluknya dia merasakan seakan memeluk sang anak.
"Duhhhh, maaf, ya, Non. Saya jadi terha dan ikut bahagia dengan kabar Non Zila hamil, saya merasa terharu." Bi Lala meminta maaf karena telah lancang memeluk Zila.
"Tidak apa-apa, Bi. Anggap saja saya anak Bibi sendiri supaya kerinduan Bi Lala terhadap anaknya saat bekerja terobati," tukas Zila bijaksana membuat hati Bi Lala terenyuh.
Setelah Bi Lala datang dan terjadi sedikit drama persis di sinetron, Zila permisi menuju kamarnya dengan hati yang berbunga, karena sebentar lagi Naga akan menghubunginya dan mengucapkan kata selamat atau minimal terkejut karena bahagia mendapat kejutan yang paling mengejutkan dalam hidupnya, yaitu kehadiran anak dalam rahim Zila.
Namun, apa yang ditunggu Zila rupanya tidak muncul juga. Sampai waktu menunjukkan pukul 12.00 siang, Naga yang ditunggu belum juga muncul.
"Kenapa Kak Naga belum memberi selamat padaku terkait kado itu? Apakah Kak Naga sangat sibuk?" Zila bertanya-tanya sedih menunggu kedatangan ucapan selamat dan bahagia atas kehamilannya dari Naga.
"Ayolah Kak, kenapa tidak segera menghubungi dan mengucapkan selamat atas kehamilanku ini?" harapnya lagi sedih.
**
Sementara itu, Naga yang ditunggu kabarnya oleh Zila, kini sedang menikmati makan siangnya di kantin kantor, nampaknya belum sadar akan kado kecil dari Zila tadi pagi. Setelah menikmati makan siangnya, Naga segera berdiri dan bergegas menaiki lift dan menuju ruangannya.
Naga tiba di ruangannya, lalu masuk sejenak ke dalam ruangan pribadinya. Jika Naga merasa sumpek atau lelah, maka dia akan mengistirahatkan tubuhnya di sana dan menghempas di atas ranjang. Sejenak Naga tertidur saking lelah dan ngantuknya, sementara waktu istirahat pun masih tersisa.
Naga terbangun dari istirahatnya setelah dia disentakkan sebuah mimpi yang seakan nyata, yaitu sebuah mimpi yang terulang kembali. Mimpi bahwa Naga akan mempunyai anak.
"Astaghfirullah, rupanya aku bermimpi akan mempunyai anak lagi seperti mimpi aku yang kemarin. Apakah ini suatu pertanda bahwa sebentar lagi aku dan Zila akan segera mempunyai anak?" batin Naga penuh harap.
Naga segera keluar dari ruangan pribadinya dan kembali ke kursi dan ke belakang meja kebesarannya. Dia sama sekali tidak ingat dengan kado yang diberikan Zila tadi pagi. Naga fokus ke map yang berada di depannya untuk mempelajari beberapa proposal.
Hanya cukup beberapa saat, Naga berhasil memahami proposal di depannya. Kini tinggal menandatanganinya sebagai bentuk persetujuan darinya. Naga kini bermaksud meraih Hpnya di dalam tasnya yang sejak tadi disimpan di sana.
__ADS_1
Saat akan meraih Hpnya, Naga merasa ada sesuatu yang dia sentuh. Seperti sebuah kotak. Dan Naga seakan diingatkan akan kado
kecil dari Zila tadi pagi. Naga meraih kado it dan juga Hpnya, dua-duanya kini sudah berada di atas meja.
Naga penasaran dengan kado itu lalu dia membuka perlahan pita yang menghiasi kado tersebut. "*Apaan kado ini, kenapa Zila memberinya kado ini*?" batin Naga bertanya-tanya.
Ketika Naga mulai membuka kado itu, tiba-tiba Hpnya berbunyi, sebuah panggilan dari Hasya memanggil. Tentu saja Naga segera mengangkatnya dan dengan senang hati dia berbicara panjang lebar dengan Hasya yang sudah berhasil mengawal jalannya pabrik yang berada di Kampung **Sukaseuri** dengan sukses dan mulai beroperasi.
Hampir empat puluh lima menit Naga berbicara dengan Hasya sampai Naga belum sempat lagi membuka kado spesial dari Zila tadi. Untuk sementara kado kecil itu tersisih di antara proposal dan map lain yang diantar Desy ke ruangan Naga.
"Selamat siang Pak Naga, saya mau memberikan map ini," lapor Desy.
"Duduklah!" titah Naga untuk mendengar laporan Desy selanjutnya. Desy patuh dan duduk di depan Naga.
"Desy, tolong proposal ini kamu berikan Pak Refan," tunjuk Naga pada proposal yang tadi sudah dia pelajari dan tandatangani. Desy segera melaksanakan tugasnya, lalu meninggalkan ruangan Naga.
Kini Naga kembali disibukkan dengan tugasnya yaitu mempelajari map yang diberikan Desy tadi. Tidak butuh waktu lama, Naga menyudahi mempelajari isi dari map itu, lalu membubuhkan tanda tangannya setelah isi dari map itu sesuai hatinya.
Selesai sudah, jam di tangan hampir menunjukkan pukul 15,00 petang. Naga membereskan mejanya dan menyingkirkan barang-barang yang sekiranya tidak bermanfaat ke dalam tong sampah.
Kado dari Zila yang sejak tadi tersisih kini mulai menarik perhatian Naga. Naga meraih kotak itu dan mulai membukanya perlahan. Sejenak Naga merasa kesulitan membuka kado itu. Namun lama-kelamaan kado itu terbuka.
__ADS_1
Naga mencari isi dari kado tersebut, lalu Naga menemukan secarik kertas di sana dan sebuah alat tespek yang masih belum Naga kenali bahwa alat itu tes kehamilan.
"Selamat Papa, aku akan datang menemui kalian sembilan bulan lagi." Usai membaca isi dari secarik kertas itu Naga terlihat histeris dan segera meraih alat tespek dan membukanya. Lalu dengan cepat perubahan mukanya terlihat. Naga ternganga tidak percaya dengan apa yang dilihat dan dirasakannya sekarang.
Naga ternganga dengan tespek di tangannya. "Jadi, Zila hamil? Zila beneran hamil?" tanyanya pada diri sendiri sembari meremas tespek tadi dalam genggamannya.
"Sayang kamu hamil? Maafkan aku yang sudah mengabaikan kado teristimewa darimu untukku ini. Aku minta maaf," ujarnya penuh sesal dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Tunggu aku pulang, Sayang." Naga segera mengemasi barang-barangnya dan berniat akan segera pulang menyambut anak yang kini ada dalam rahim Zila.
Naga segera keluar ruangannya dan berpesan pada Desy bahwa dia pulang duluan. Desy menatap heran kepergian Bosnya yang nampak bahagia. Tadi saat Desy masuk memberikan map, Naga masih terlihat suntuk dan lelah. Desy tersenyum menyertai kepergian Bosnya dari kantornya.
Naga segera ke parkiran lalu memburu mobilnya. Tidak sabar, dia segera menjalankan mobilnya keluar gerbang perusahaan dan melaju di jalanan menuju ke apartemennya.
Tiba di apartemen dan membuka pintu yang kode kuncinya sudah dia tahu, Naga segera memburu ke dalam apartemen lalu mencari Zila. Akan tetapi Zila tidak ditemukan di ruang tamu atau ruang tengah. Lalu Naga segera menuju kamarnya dan dia yakin Zila di sana.
Dan rupanya benar, Zila berada di sana dalam keadaan yang mengharukan. Zila sepertinya sedang menangis. Naga menghampirinya lalu memeluk Zila dari belakang.
__ADS_1
"Zi, Sayang, maafkan aku." Naga merangkul Zila yang saat itu sedang menangis. "Aku minta maaf kadonya baru aku buka. Aku mohon maafkan aku," ujar Naga seraya menciumi wajah Zila yang basah dengan air mata.