
Keduanya menyudahi makan malam di warung makan lesehan itu. Zila nampak kekenyangan. Tangan kirinya memegangi perut bawahnya. Naga menggiring Zila ke dalam mobil. Mobil segera melaju menapaki jalanan kota Bandung yang tidak seramai tadi.
Zila menyenderkan tubuhnya di jok mobil dengan mata yang sudah mengantuk. Mulutnya menguap, sesekali ditutupi tangan. Naga menoleh, ke arah Zila. "Sayang, kamu mau apalagi mungpung ini masih di luar?"
Zila menggeleng, mulutnya masih saja menguap. Rasa kantuk di matanya sudah sangat berat sehingga Zila sudah tidak kuat menahannya dan akhirnya tumbang dengan bahu menyandar di jok mobil.
"Ya, ampun, Sayang. Kamu sudah tidur. Bagaimana dengan janjinya tadi, katanya mau dimanuver dulu supaya pas berperang nanti, bisa mengalahkan musuh?" Naga geleng-geleng kepala melihat Zila KO di dalam mobil. Bayangan peperangan nanti yang dijanjikan Zila buyar sudah. Naga kecewa lagi dan benar-benar kesal.
Tiba di parkiran mobil apartemen, Naga membangunkan Zila pelan. Menggoyang bahunya. Zila bergerak dan mulai membuka matanya dengan mulut yang masih menguap.
"Ayo bangun, kita sudah sampai apartemen, apakah kamu mau tidur di dalam mobil ini?" tanya Naga terlihat kesal. Masih setengah sadar, Zila tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya lalu merangkul Naga.
"Kak Naga, I love you," ucapnya sambil senyum-senyum. Naga yang mendengar ungkapan cinta Zila kegirangan dalam hatinya berpikir masih ada kesempatan dini hari ini untuk perang.
"Ayo, Sayang, sebaiknya kita segera naik lift, aku sudah tidak tahan ingin segera berperang," ajak Naga seraya memangku tubuh Zila ala Tarzan.
"Kak, turunkan, aku tidak mau dipangku begini, aku bukan Jeninya Tarzan. Aku malu dilihat Pak Satpam di pos," Zila berontak dan menolak tubuhnya dipangku Naga.
Naga menurunkan Zila dengan sangat hati-hati. Tiba di dalam apartemen, apa yang menjadi hasrat Naga tadi akan ditagihnya ke Zila sebab dia benar-benar sudah tidak kuat.
"Sayang." Naga segera menangkap pinggang Zila. Namun Zila menepisnya, lalu dia segera ke kamar mandi. Di dalam sana Zila membersihkan diri dan gosok gigi. Lalu Zila menggunakan baju tidur yang tidak seperti biasanya. Di bibirnya terbit senyum yang misteri.
Sementara Naga yang tadi tidak berhasil menangkap Zila, nampak murung dengan tangan berpangku pada kepalanya. Kepalanya sekarang benar-benar pusing. Zila keluar dari kamar mandi dan berjalan melewati Naga yang masih memangku kepalanya dengan pandangan ke bawah. Zila berdiri di samping Naga.
__ADS_1
"Kak Naga cepatlah ke kamar mandi, kita beristirahat." Naga sudah tidak mau menoleh lagi, dia yakin kali ini tidak akan melewati peperangan yang dijanjikan Zila tadi. Naga kesal dan segera ke kamar mandi dengan sangat suntuk.
Zila menaiki ranjang, lalu berbaring dengan wajah menghadap ke langit-langit. Senyum di wajahnya mengembang.
Naga keluar kamar mandi, rasa suntuknya masih ada ditambah sakit kepala yang tiba-tiba melanda semakin membuat Naga suntuk, belum lagi besok masih ada pertemuan dengan para investor asing, sakit kepala Naga semakin menjadi-jadi. Naga berniat mematikan lampu. Namun sekilas dia melihat penampakan yang sangat menggiurkan di atas ranjang.
Zila tersenyum menggoda dengan keadaan yang sangat mengejutkan Naga. Pakaian transparan mirip tile melekat di tubuhnya semakin menambah kesan seksi yang manja. Naga tersenyum bahagia, lalu segera dia bergegas mematikan saklar lampu.
Naga menaiki ranjang, dengan tidak terduga Zila menyerangnya dengan sebuah gempuran yang dahsyat. Sebuah kecupan menyambar bibir Naga.
Malampun semakin larut, dua insan kini sedang terlena dalam buaian asmara, saling memberi dan menerima. Berbagi satu rasa cinta yang menyatu dalam dua jiwa. Sakit kepala Naga pun hilang seketika.
Pagi menjelang. Naga nampak bugar dan ceria. Sepertinya peperangan semalam yang membuat Naga menjadi ceria. Zila datang dari arah dapur membawa secangkir kopi yang Naga suka, harumnya sampai memenuhi seluruh ruangan.
"Terimakasih, Sayang, untuk kopi dan juga untuk semalam yang dahsyatnya," ujar Naga seraya menyeruput kopi favoritnya. Zila tiba-tiba menyandarkan tubuhnya di dada Naga, tangan Naga diambilnya lalu dia lingkarkan ke perutnya, Zila sengaja menempatkan tangan Naga di sana. Dengan seperti itu, Zila merasa nyaman dan damai.
Naga mengusapnya dengan penuh kasih sayang, diciumnya rambut Zila dalam. Dalam keadaan begini Naga tahu Zila tidak suka jika ditinggalkannya terlebih jika pulangnya larut malam.
"Kak Naga tahu tidak? Kemarin siang aku tiba-tiba dihubungi sepupu Kakak," berita Zila yang sontak membuat Naga terkejut, dia yakin yang menghubungi Zila adalah Nagi yang kini entah di mana.
"Siapa? Katakan ? Pasti Nagi. Kalau begitu aku minta nomer Hpnya." Naga langsung menodong Zila dengan beberapa pertanyaan.
"Bukan Kak Nagi," ucap Zila sembari menggelengkan kepalanya dalam.
__ADS_1
"Lantas?" Naga bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Rafa," jawab Zila secepat kilat. Secepat kilat juga Naga terbelalak tidak percaya, tiba-tiba dadanya merasa sedikit sesak, Naga seperti dilanda cemburu yang tiba-tiba menyeruak di dalam dadanya. Padahal sebelumnya tidak pernah merasakan rasa itu.
"Lalu apa yang dia katakan dan punya maksud apa sampai menghubungimu?"
"Dia hanya menanyakan apakah aku bahagia menikah dengan Kak Naga? Aku menjawab iya. Begitu." Mendengar jawaban Zila seperti itu, Naga tiba-tiba tersenyum gembira tidak seperti tadi.
"Ya ampun, buat apalagi si Rafa menanyakan itu, apakah dia merasa ragu bahwa aku bisa membahagiakanmu?"
"Kak Naga tidak perlu cemburu sama Rafa, sebab dia hanya meyakinkan saja aku ini dibahagiakan Kakak atau tidak," sergah Zila mampu membaca apa yang dirasakan Naga.
"Lalu apakah kamu senang dihubungi Rafa?" tanya Naga penasaran. Zila berdiri lalu tersenyum licik, kali ini dia akan mencoba mengerjai Naga supaya panik.
"Sayang, apakah kamu senang saat dihubungi Rafa?" ulang Naga seraya berdiri dan mengikuti Zila menuju tepi jendela.
"Siapa yang tidak senang? Pasti semua perempuan akan sangat senang jika diperhatikan seseorang," jawab Zila enteng seraya berjalan menuju meja rias dengan wajah yang masih tertawa ecil.
"Jadi, kamu masih suka jika diperhatikan lelaki lain?" Naga bertanya sambil menatap tajam ke arah Zila.
"Aku tahu, Kak Naga cemburu bukan? Tapi, Kak Naga tidak usah khawatir, Rafa menghubungi hanya meyakinkan bahwa aku benar-benar bahagiakan oleh Kak Naga."
"Sayang, kamu rupanya mulai nakal. Awas saja jika kamu nakal, maka tidak akan aku biarkan kamu lolos malam ini. Baiklah daripada aku mati berdiri di sini, lebih baik aku pergi ke kantor. Jaga diri kamu baik-baik. Jangan kemana-mana jika Bi Lala belum kembali," urai Naga sembari bergegas menuju pintu untuk pergi ke kantor.
__ADS_1
Zila tersenyum puas sudah mengerjai Naga yang semalam berhasil memaksanya.