Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 50 Terbongkar Fakta Sebenarnya


__ADS_3

Setelah makan asinan dan rujak, Zila sudah merasa kembali bertenaga. Naga terlihat senang. Namun, saat akan diajak makan malam bersama, Zila justru tidak bisa makan nasi. Rasanya saat tercium, baunya sangat tidak enak. Kehamilan Zila benar-benar menguras otak. Naga bingung harus dengan apa karbohidrat pengganti selain nasi? Namun Bi Rani memberi ide yang sangat bagus, yaitu dengan umbi-umbian. Singkong dan kentang menjadi alternatif yang tepat bagi asupan karbo untuk Zila makan sehari-hari selama mual muntah.


Hari berganti malam, dan malam semakin larut. Naga menghabiskan sisa rokok sebatangnya di balkon. Sambil memandang ke angkasa yang terang. Cahaya bulan menerangi kelipnya bintang. Di sebelah utara ada satu bintang paling bersinar, Naga melihat bayangan Zila sedang tersenyum padanya.


Naga membalas senyuman Zila dengan penuh makna, lalu segera mematikan rokok. Membuka pintu balkon dan masuk ke dalam kamarnya kembali. Suara gemericik air di dalam kamar mandi jelas terdengar. Naga tahu itu Zila. Entahlah apakah kali ini ada drama mual muntah sebelum menaiki peraduan atau justru tidak?


Kerinduan Naga yang sempat tertunda karena keadaan Zila yang seperti itu dua hari yang lalu, membuat Naga harus rela menahan segala maunya. Tidak mungkin Naga melampiaskan itu di saat Zila sedang mengalami kondisi yang tidak mengenakkan.


Pintu kamar mandi terbuka, Zila keluar dengan mulut yang basah. Wajah yang pucat habis membuang rasa mualnya tadi kentara. Naga meraih Zila dengan rasa simpatik yang amat. Namun Naga hanya mampu berdecak sedih atas derita yang dialaminya. Kehamilan adalah anugrah, maka kehadirannya patut disyukuri dan disambut bahagia.


Naga menarik tubuh ramping mendekati kurus sejak hamil itu duduk di ranjang ukuran raja, menatap wajah ayu yang tertutup pasi. Namun tetap kecantikannya tidak pudar, hanya perubahannya saja yang nampak. Zila sedikit kurus padahal dia sedang hamil.


"Masih mual?" Naga memijit pelan pundak Zila berharap rasa mual itu sirna. "Sebaiknya kita tidur saja," Naga membawa tubuh Zila ke atas ranjang, menyelimutinya dan terbaring di bawah selimut yang sama. Sama halnya dengan dua hari yang lalu keadaan ini terpaksa harus mengalah demi kebaikan Zila.


Zila masuk dan menelusup di balik lengan kokoh Naga, mereka kini mulai merenda deru nafas yang sama. Sejenak Naga melabuhkan sikap genitnya dengan mencium kening Zila sebagai ucapan selamat tidur dan selamat malam.


"Besok kita pindah ke apartemen. Aku tidak ingin ada penolakan darimu." Naga menegaskan sebelum benar-benar terlelap. Zila tidak menjawab, hanya memberi kode dengan memeluk erat dada milik Naga.


Deru nafas keduanya kini bersahutan, semakin lama semakin membawa ke dalam buaian malam.



Pagi menjelang saat suara kokok ayam mulai ramai diperdengarkan. Hari ini Naga sengaja tidak ke kantor. Karena ingin menepati janjinya untuk pindah ke apartemen.



"Kita turun, kita sarapan bersama terakhir di rumah Papa dan Mama," ajak Naga sembari menarik lengan Zila. Namun Zila menolak, menggelengkan kepala. Naga tahu, rasa mual itu muncul lagi hampir setiap pagi.



Naga menuruni tangga menuju dapur dan duduk di antara meja makan yang sama. Bu Hilsa mempertanyakan ketidakhadiran Zila.

__ADS_1


"Zila mengalami morning sickness, Ma." mereka pun akhirnya sarapan dalam keheningan tidak seperti biasa.


Tiba-tiba Hp Naga berdering tanda sebuah panggilan masuk. Nada menghentikan sejenak sarapannya, lalu mengangkat panggilan itu. Sebuah panggilan dari Hasya.



Naga berdiri menjauh beberapa meter dari meja makan. "Halo, Sya. Ada kabar apa? Apa? Jadi mulai ada titik terang? Ok, aku tunggu kabar selanjutnya," jawab Naga di dalam sambungan telpon. Naga kembali duduk dan bergabung di meja makan.



"Bagaimana, sudah sejauh mana perkembangan sertifikat almarhum bapaknya zila itu?" tanya Pak Hasri tiba-tiba.



"Hasya bilang sudah mulai ada titik terang siapa sebenarnya pemilik asli dari sertifikat itu." Hasya tinggal satu langkah lagi mengetahui siapa sebenarnya pemilik tanah itu sebenarnya.




"Apakah kamu sudah yakin, Naga?" tanya Bu Hilsa masih ragu. Sejujurnya dalam hati kecil paling dalamnya, Bu Hilsa tidak ingin berjauhan dengan Naga. Tapi itu tidak bisa, sebab Naga sudah punya keluarga baru yang harus diutamakan.



"Naga sudah yakin, Ma. Terlebih Zila sebetulnya ingin tinggal di rumah Pamannya. Daripada aku biarkan tinggal bersama pamannya lebih baik kami tinggal di apartemen. Lagipula apartemen itu sayang banget sudah lama tidak Naga gunakan," tukas Naga.



"Kak Naga, kenapa tidak biarkan saja istri Kak Naga itu tinggal bersama pamannya." Hilda tiba-tiba menyela dengan celotehan yang membuat suasana menjadi sedikit tegang. Untung saja Zila sedang tidak berada di sana.


__ADS_1


"Jangan bicara yang tidak-tidak, itu tidak baik. Masa iya Kakak mau biarkan istri Kakak tinggal bersama pamannya yang jelas-jelas menyayanginya. Tapi apakah Kakak tidak malu istri sendiri dititip pada orang yang bukan tanggung jawabnya?" Naga balik menyerang ucapan Hilda sang adik.



"Aku bercanda, Kak, aku minta maaf, kenapa Kak Naga menganggapnya dengan serius?" ujar Hilda akhirnya mengakui semua adalah guyonan.



"Lain kali jangan begitu, karena kamu sama saja tidak menginginkan ponakan kamu tinggal di lingkungan yang layak." Hilda tidak membalas, dia diam seakan tersentil.



Di hari yang sama di kampung Sukaseuri, hari ini Hasya dan tim yang menyelidiki kasus sertifikat tanah milik keluarga Zila, sudah menemukan bukti yang jelas. Dan fakta yang mencengangkan terbongkar, rupanya sertifikat tanah yang dimiliki Pak Haidar adalah palsu. Sementara orang-orang yang terlibat kini sebagian sudah mulai diamankan, sebagian lagi ada yang lari karena terlanjur diketahui kejahatannya dan melarikan diri.



Semua bukti itu sudah sangat jelas, Pak Haidar dan orang-orang yang terlibat harus bertanggung jawab atas pemalsuan surat sertifikat tanah yang sebenarnya milik Pak Haga Barata, ayahnya Zila.



Siangnya, setelah benar-benar kasus ini terbuka dengan jelas dan benderang siapa pelaku dan siapa korban telah terungkap, pihak kepolisian pun bergerak cepat dalam proses penangkapan para penjahat mafia tanah ini, termasuk Kepala Desa yang menjabat sekarang terlibat banyak kasus pemalsuan sertifikat tanah.



Hasya akhirnya menghubungi Naga dan memberitahukan segalanya dengan sejelas-jelasnya.



"Jadi tanah itu dan sertifikat tanah itu adalah milik almarhum ayahnya Zila? Itu artinya aku telah membeli tanah istriku sendiri?" kejut Naga bercampur bahagia, sebab akhirnya semua kejanggalan itu terjawab sudah.


__ADS_1


Kini kabar baik itu akan Naga beritahukan pada Zila. Naga yakin Zila akan sangat bahagia mendengarnya. Naga menyunggingkan senyum bahagia.


__ADS_2