Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 102 Musim 2 Nagi yang Akan Pergi


__ADS_3

"Perasaan? Perasaan apa maksudnya Bang?" Zila tiba-tiba muncul dari ruangan pribadi Naga dan mengejutkan Nagi yang merasa bingung dengan pernyataan Naga.



"Wah aku pikir tidak ada Nyonya Naga di dalam," serunya menatap Zila.



"Kak Nagi, apa-apaan sih? Jangan panggil aku Nyonya Naga, panggil saja aku Zila sesuai namaku," tegur Zila kurang suka sembari bergegas menuju sofa dan duduk manis di sana.



"Fokus dulu ke bahasan kita, Gi." Naga memberi peringatan pada Nagi. Lalu Nagi kembali berpikir apa yang akan ditanyakan Naga padanya, kelihatannya seperti sangat penting. Zila yang duduk di sofa menyimak dengan seksama apa yang akan dibicarakan suaminya.



"Kamu harus jawab dengan jujur semua yang aku tanyakan, jangan ditutup-tutupi!" peringat Naga serius lalu menatap tajam ke arah Nagi.



Nagi semakin tegang dengan sikap Naga yang seakan mau menghakiminya persis pesakitan.



"Kamu saat ini pasti sedang menjalani hubungan dengan seseorang, bukan?" ujarnya masih belum jelas untuk dicerna Nagi.



"Hubungan, hubungan seperti apa maksud Bang Naga?" Nagi balik bertanya karena dia memang belum paham. Sejenak Naga menoleh ke arah Zila seakan meminta sebuah persetujuan. Zila dengan cepat mengangguk.



"Kamu sedang menjalin hubungan dengan Hilda, apakah itu benar?" Pertanyaan itu sontak membuat Nagi tersentak, dia tidak menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu dari Naga. Apakah Naga sudah mengetahui hubungan dirinya dengan Hilda?



"Seperti yang Bang Naga tahu, hubungan kami selalu baik, aku menyayangi Hilda seperti layaknya adik sendiri. Lalu kenapa Bang Naga mempertanyakan itu?"



"Jawab saja apa yang menjadi pertanyaannya, jangan berbelit-belit! Kamu pacaran dengan Hilda tanpa sepengetahuan kami, kan?" Pertanyaan itu telak mengenai hati Nagi, dia bingung harus jawab apa, sementara dia berjanji pada Hilda dan pada dirinya sendiri untuk tidak dulu menceritakan masalah ini pada siapa saja.



"Gi!" Naga menyadarkan Nagi yang sepertinya sedang termenung. Nagi berpikir dari mana sepupunya tahu dia sedang menjalin hubungan dengan Hilda. Jika Naga tahu maka bersiap-siaplah dia kena bogem Naga.


__ADS_1


"Iya, aku dan Hilda memang berpacaran. Kami saling mencintai," ucap Nagi akhirnya mengakui yang selama ini mereka sembunyikan.



"Kenapa Hilda, bukan orang lain? Bukankah kamu dan Hilda sudah dari sejak kecil tumbuh besar bersama kami dan kita sudah diajarkan menyayangi satu sama lain? Bukan kasih sayang yang sepertimu yang aku maksud."



"Aku tahu, aku salah. Tapi di dalam agama kita tidak dilarang, bukan? Kalau aku mencintai sepupu aku?"



"Aku tahu itu tidak dilarang, Gi. Tapi, aku tahu sebetulnya kamu tidak mencintai Hilda, kamu hanya pelarian saja pada Hilda," tuding Naga membuat Nagi tidak terima.



"Itu tidak benar Bang," sangkalnya karena Nagi tidak merasa seperti itu, meskipun sebelumnya dia memang pernah ditolak Diara.



"Buktikan kalau itu tidak benar."



"Akan aku buktikan setelah Hilda lulus kuliah nanti, aku akan melamarnya dan menjadikan satu-satunya dalam hidupku," janjinya sungguh-sungguh.




"Kalau Papa dan Mama menyetujui, sekarang juga aku lamar Hilda. Aku juga mencintai Hilda," ungkapnya terdengar serius.



"Dia adik perempuanku satu-satunya, bukan tidak mungkin kamu di luaran sana mencari yang lebih dari Hilda. Jika itu terjadi, maka aku sebagai kakaknya tidak akan pernah rela dan tidak akan pernah membiarkan kamu melakukan itu. Maka dari itu sebelum semuanya terjadi sebaiknya kamu lupakan Hilda dan jauhi dia," tegas Naga sedikit emosi.



"Tapi aku sudah terlanjur mencintai Hilda dan bukan mencintai Hilda sebagai saudara sepupu lagi. Kenapa Bang Naga melarangnya? Agama kita juga tidak melarang," kilah Nagi.



"Aku hanya tidak ingin hubungan persaudaraan kita hancur gara-gara kamu menyakiti Hilda. Itu yang aku takutkan," jelas Naga.



"Kenapa Bang Naga menuduh aku akan berbuat seperti itu, aku tidak mungkin melakukan itu."

__ADS_1



"Sebab aku tahu perempuan yang kamu sukai bukan perempuan yang seperti Hilda."



"Bang Naga jangan memberi penilaian yang salah. Sekarang aku mencari perempuan yang bisa mencintai aku, bukan yang menyakitiku."



"Aku tahu, Gi. Tapi ...." Tiba-tiba bunyi notifikasi WA Nagi berbunyi memotong pembicaraan Naga pada Nagi. Nagi sejenak melihat HPnya dan membaca pesan WA yang masuk. Saat dibaca rupanya itu merupakan surat tugas elektronik untuk Nagi yang isinya bikin dia terhenyak. Nagi terlihat sedih dan menunduk lalu segera meletakkan Hpnya di saku celananya. Matanya sedikit berkaca-kaca.



"Bang Naga tidak perlu khawatir, sudah ada seseorang yang menghalangi hubungan aku dan Hilda. Hari Senin besok aku dipindah tugaskan ke daerah di pulau Sulawesi. Jadi, entah ini kebetulan atau kesengajaan, yang jelas jarak aku dan Hilda akan semakin jauh. Tapi, aku jelaskan bahwa aku mencintai Hilda dan bukan mencintai Hilda karena pelarian." Setelah mengatakan itu Nagi berdiri dan berpamitan pada Zila dan Naga membawa hati yang kecewa.



"Aku permisi," ucapnya pada Naga dan Zila yang masih melongo saat nagi mengatakan bahwa dia Senin besok dipindah tugaskan ke pulau Sulawesi. Naga berdiri dan mengejar Nagi.



"Gi, Nagi, tunggu," raihnya berhasil meraih lengan Nagi yang baru saja akan membuka pintu ruangan Naga.



"Apa maksudmu, siapa yang memindah tugaskan kamu ke pulau Sulawesi?" tanya Naga tidak percaya.



"Aku tidak tahu, tanyakan saja sama Papa, beliau orang yang paling berkuasa dan punya wewenang," ujarnya terdengar sedih lalu berlalu meninggalkan mulut pintu ruangan Naga.



Naga dan Zila saling pandang dengan apa yang dikatakan Nagi barusan. Mereka tidak menduga, Nagi dengan tiba-tiba harus dipindah tugaskan ke pulau yang jauh dari siapa-siapa kecuali Handi, orang yang Nagi panggil Papa.



Sementara itu di rumah Pak Hasri dan Bu Hilsa, Pak Hasri sudah menerima laporan bahwa surat tugas elektronik Nagi ke pulau Sulawesi sudah selesai dibuat dan sudah Nagi terima via Hpnya.



"Semua sudah selesai Ma. Nagi tinggal terbang Senin besok ke Bandara Sultan Hasannudin, Makassar," berita Pak Hasri terlihat bahagia.



"Tapi, Mama sedih Pah akan jauh dengan Nagi. Nagi juga anak kita juga. Dia sudah menderita sejak kecil karena perceraian kedua orang tuanya." Bu Hilsa nampak sedih harus ditinggal jauh oleh Nagi ke pulau Sulawesi, meskipun masih satu wilayah Indonesia, tapi kini Nagi tidak akan sering-sering dia jumpai di sini ataupun di Jakarta.

__ADS_1



"Maafkan Mama sama Papa, Gi. Mama yakin kamu akan sukses dan menemukan jodoh terbaikmu." Bu Hilsa nampak sedih dan menangis.


__ADS_2