
Kehamilan Zila yang kedua ini terasa lebih berat bagi Zila, dia mual muntah parah. Naga yang melihat perkembangannya sangat sedih dan ikut prihatin. Zila lebih banyak terbaring di kamar dan susah makan. Naga menjadi bingung, setiap habis makan selalu saja tidak lama di dalam perut.
Akhirnya Zila memang benar-benar tidak bisa makan nasi sama sekali. Setiap disodori makan nasi pasti saja mual dan tidak tahan untuk muntah. Tubuh Zila pun terlihat kurus dan ini sangat dikhawatirkan Naga.
Atas saran Bidan maupun Dokter, karbohidrat pengganti nasi disarankan makan umbi-umbian seperti kentang, singkong, talas, dan lain-lain. Awalnya Zila tidak mau, tapi setelah dibujuk Naga, akhirnya Zila mau makan sedikit-sedikit. Dan benar, umbi-umbian bisa dimakan dan diterima perut Zila, meskipun masih mual muntah. Namun dengan kuantitas mualnya sedikit. Naga sedikit lega, yang penting ada yang bisa masuk ke perut Zila, itu sudah disyukurinya
Karena tubuh Zila semakin menyusut, berat badan yang tadinya 50 kilo gram, kini menjadi 45 kilo gram, membuat Naga khawatir. Naga akhirnya membawa Zila ke rumah sakit untuk dirawat. Dua hari Zila dirawat, setelah mendingan Zila kembali ke apartemen.
Kedua orang tua Naga yang baru tahu Zila hamil saat Zila berada di RS, menyarankan supaya Zila dibawa ke rumah mereka saja, tapi Zila menolak dengan alasan dia hanya ingin di apartemen.
"Zi, kamu tinggallah di rumah Mama dan Papa selama kehamilanmu mual dan muntah parah. Biar kami bisa mengawasi kamu tiap waktu. Kalau terpisah seperti ini kami hanya bisa sesekali datang melihatmu. Ayolah, janin yang ada dalam kandunganmu adalah cucu kandung kami darah daging kami, jadi ijinkan kami ikut merawatmu," bujuk Bu Hilsa berharap.
Zila hanya diam dengan kepala yang menggeleng. Betapa keras kepalanya dia, padahal Bu Hilsa dan Pak Hasri hanya ingin ikut merawat dan memperhatikan perkembangan dan kesehatan Zila selama hamil.
"Ayolah, Sayang, untuk sementara kita tinggal di rumah Mama dan Papa, mereka juga berhak atas cucunya. Mereka khawatir dengan kesehatan janin dan kamu. Kalau banyak orang yang ikut memperhatikanmu, aku tidak akan khawatir saat meninggalkanmu ke kantor. Ini hanya sementara, setelah kamu bisa melewati trimester pertama, maka mual dan muntah ini akan terlewati. Ayolah, ini sementara kok." Naga ikut membujuk dengan berbagai rayuan. Namun Zila tetap pada pendiriannya, dia tidak mau diajak tinggal di rumah mertuanya.
"Maafkan Zila, ya, Bu, Pak. Zila hanya ingin menikmati kehamilan ini tanpa banyak orang terlibat. Biarkan saja Zila di sini, masih ada Bi Lala yang menemani Zila. Zila bukan orang sakit yang tidak bisa sama sekali berjalan ke kamar mandi, semua itu bisa Zila lakukan tanpa pertolongan orang lain. Zila hanya ingin ditemani sedikit orang, kalau banyak orang entah kenapa Zila justru tidak nyaman," alasan Zila dan itu tidak bisa menganggu gugat keteguhannya.
"Sayang alangkah sedihnya kami tidak bisa sama-sama merawatmu saat kamu hamil muda seperti ini, padahal Mama dan Papa ikhlas dan ingin sekali kamu ada di rumah kami," pinta Bu Hilsa lagi dengan mata berkaca-kaca.
"Zila minta maaf, ya, Bu. Zila hanya ingin suasana yang sunyi tanpa banyak orang yang over perhatian dengan kehamilan Zila ini. Sepertinya kehamilan Zila ini memang tidak ingin banyak ditangani banyak orang," alasannya lagi seakan tidak masuk akal bagi Bu Hilsa. Hanya sekedar tinggal di rumahnya saja dan tujuannya supaya Zila dapat perhatian dari banyak orang, tapi Zila keukeuh menolaknya.
"Jika Papa dan Mama merindukan bayi ini, Papa dan Mama bisa datang ke sini, atau kalau aku sudah sehat dan tidak mual muntah parah lagi, maka kami yang akan ke sana menjumpai kakek dan neneknya bayi ini," lanjut Zila meyakinkan kedua mertuanya.
Setelah dibujuk dan dirayu tidak mempan, akhirnya dengan sedikit kecewa Pak Hasri dan Bu Hilsa pulang dengan hampa dan tidak berhasil membawa Zila kembali ke rumah mereka.
"Kalau begitu, kami pulang, ya. Kalau ada apa-apa segera hubungi kami," ujar Bu Hilsa berpamitan dan berpesan terlebih dahulu.
"Bu, Zila minta maaf, ya." Zila memeluk Bu Hilsa seraya minta maaf.
"Sayang, jangan panggil Mama dan Papa lagi dengan sebutan Ibu dan Bapak. Kesannya kami ini begitu jauh dengan kamu. Mulai sekarang biasakan panggil kami Papa dan Mama," ujar Bu Hilsa meminta. Zila mengangguk dan berjanji akan menuruti permintaan Bu Hilsa.
"Jaga kesehatan kamu dan janin kamu, ya. Kami pamit dulu." Kali ini Bu Hilsa dan Pak Hasri benar-benar berpamitan dan pulang.
__ADS_1
Ketika kedua orang tua Naga pulang, ada rasa kecewa di dalam diri Naga, tentang penolakan Zila yang teguh untuk tidak tinggal sementara di rumah Mama dan Papanya. Zila memang keras kepala. Padahal itu semua demi kebaikan Zila.
"Zi, kenapa kamu menolak untuk tinggal sementara di rumah Mama dan Papaku? Kenapa kamu tidak ingin mereka rawat dan perhatikan? Bukankah selama ini kamu menginginkan perhatian dan kasih sayang kedua orag tuaku?" tanya Naga masih belum heran dengan penolakan Zila.
"Aku memang tidak mau terlalu banyak merepotkan orang, Kak. Jadi aku mohon Kak Naga jangan salah paham dulu tentang penolakanku. Aku tidak ingin banyak orang melihat jijik saat terdengar aku muntah dan mual. Biarkan aku memilih tinggal di sini bersama Kak Naga berdua. Lagipula jika siang hari, masih ada Bi Lala yang menemani aku," jawab Zila sesuai dengan kemauan hatinya.
"Dari awal kamu memang tidak mau tinggal bersama kedua orang tuaku, aku paham. Tapi dalam keadaan kamu hamil muda begini setidaknya Mama dan Papaku ikut andil merawatmu karena mereka juga menyayangi cucunya yang kamu kandung. Jadi, harusnya kamu kabulkan permintaan mereka, lagipula itu tidak akan lama, bukan?" tekan Naga lagi.
"Aku paham Kak mereka menyayangi janin ini, tapi mereka bukan karena menyayangi aku," kilah Zila membuat Naga terbelalak.
"Ya, ampun, Sayang. Mereka bukan saja menyayangi calon cucunya, mereka juga menyayangi kamu, kamu bisa lihat betapa mereka kini tulus menerimamu."
"Aku paham, Zi. Aku tahu maksud kamu. Kamu sedang hamil, sebaiknya tidak usah banyak pikiran yang bukan-bukan, kamu harus selalu berpikir positif. Dan jika kamu memang tidak mau tinggal untuk sementara di rumah Papa dan Mama, baiklah aku hormati keputusanmu. Maafkan aku karena telah memaksamu." Naga memilih mengalah dan tidak memperpanjang lagi menekan Zila yang memang teguh dengan pendiriannya, setelah dilihatnya Zila mulai murung dan berkaca-kaca.
"Tapi ingat, Zi, kamu harus mau makan dan minum susu, aku tidak mau bayiku nanti kenapa-kenapa," peringat Naga seraya meninggalkan Zila memberikan ruang supaya Zila menenangkan diri setelah perdebatan barusan.
"*Kamu keras kepala banget sih, Zi. Padahal ini untuk kebaikan kita semua terutama kamu dan bayi kita*." Naga membatin seraya menjauh dari balik dinding kamar.
__ADS_1
"*Aku minta maaf, Kak. Aku memang harus menolak untuk tinggal di rumah Mama dan Papa mertuaku. Aku hanya ingin tenang menghadapi kehamilanku tanpa harus banyak orang menangani aku, aku cukup nyaman hanya tinggal bersama kamu dan bantuan satu orang Asisten. Aku sungguh tidak nyaman dikelilingi banyak orang atas kehamilanku ini. Aku tidak ingin memberikan kesan jijik pada mereka yang mengurusku karena mual dan muntahku. Di sini pun aku tidak mau merepotkan Bi Lala, Bi Lala hanya membantuku saat aku benar-benar tidak sanggup untuk apa-apa," bicara hati Zila dengan penuh kesungguhan*.
Berita Zila hamil juga sampai ke telinga Kobar dan Tante Zuli. Mereka sangat bahagia mendengar kabar bahagia ini. Dan mereka berjanji jika ada waktu senggang, mereka akan berkunjung ke kota Bandung untuk menemui Zila.
"Sayang, aku dan kamu sebentar lagi akan jadi nenek dan kakek. Lalu bagaimana dengan kita, apakah kita akan menyusul menjadi orang tua? Usia kamu masih 39 tahun, kamu masih bisa hamil dan memberikan adik buat Diara. Bagaimana?" tanya Kobar antusias.
"Ya ampun Akang, mendengar keponakannya sedang hamil Akang malah ikit-ikutan ingin hamil juga, eh, maksudnya ingin punya anak juga. Saya senang banget Kang mendengar Zila hamil, artinya kita dan besan kita akan segera punya cucu. Saya senang sekali Kang," balas Zuli tanpa menyinggung kehamilan untuknya.
"Akang juga bahagia, dan Akang lebih bahagia lagi jika di perut kamu juga ada janin, biar anak Zila dan anak kita seumuran."
"Berdoa saja Kang supaya Allah segera memberi kita momongan juga. Kalau Allah sudah waktunya memberi kepercayaan buat kita, maka Insya Allah saya akan diberi hamil juga sama Allah. Tinggal kita bersabar dan bertawakal sama Allah. Tidak lupa ikhtiar," ujar Zuli membesarkan hati Kobar.
"He, he, he, kalau begitu alangkah baiknya kita sekarang ikhtiar, mungpung Akang sedang libur dan kamu mau tutup warung. Ayo, kita ikhtiar, ini bagus lho buat kita dingin-dingin begini," seringai kobar sembari menuju warung membantu Zuli tutup warung untuk melakukan ikhtiar membuat adonan anak.
"Ya ampun Akang, sabar, jangan *gurung* *gusuh* (cepat-cepat), Akang ini seperti tidak ada waktu malam saja untuk melakukan ikhtiar. Kan kalau malam bisa lama ikhtiarnya. Kalau siang takutnya banyak gangguan."
__ADS_1
"Tidak akan banyak gangguan, toh tidak akan ada tamu atau yang beli sebab warung kamu akan ditutup. Ayo Sayang kita tutup dulu warungnya," ajak Kobar bersemangat menutup warung, sebab sebentar lagi akan berikhtiar bersama Zuli untuk mendapatkan momongan. Kobar tersenyum bahagia sementara Zuli senyum simpul sambil geleng-geleng kepala.