Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 61 Musim 2 Obsesi Hilda


__ADS_3

"Apa maksudmu, Zi? Hilda akan rusak dengan obsesinya sendiri, memangnya siapa yang akan merusaknya?" Nagi menyerobot Zila dengan sebuah pertanyaan.



"Iya, Hilda akan rusak dengan obsesinya sendiri jika Kak Nagi tidak berusaha menjauhinya," ungkap Zila membuat Nagi mengerutkan kening belum paham.



"Jelaskan maksud kamu, Zi. Aku sungguh belum paham," desak Nagi serius. Zila hanya bisa geleng-geleng kepala.



"Kak Nagi jangan hanya pandai ilmu akademik saja, tapi Kak Nagi harus mencoba menangkap secara alamiah gerak tubuh dan bahasa yang ditampilkan Hilda. Dia itu mencintai Kakak, tapi caranya salah, dia terlalu terobsesi dengan Kakak, dan itu salah. Dia mencintai Kakak, lalu tanpa malu-malu langsung mengekspresikannya dengan merayu dan menggoda Kakak dengan berusaha mencium Kakak. Kakak tidak menolak walau hati ingin menolak. Lalu ciuman itu berlanjut, lalu jika ...."



"Jika apa?" potong Nagi cepat.



"Jika Hilda tidak bisa menguasai dirinya maka perlahan-lahan dia bisa memberikan kesuciannya secara sukarela, dan Kakak sebagai laki-laki normal yang tiba-tiba disodori ikan yang bagus dan masih mulus, maka tidak mustahil Kakak akan tergiur dan menyantapnya. Itu maksudku, Kak." Zila menjelaskan dengan wajah yang penuh kekhawatiran.



"Tapi Zi, aku tidak sebejat itu. Hilda sepupu aku. Hal tadi itupun hanya sekedar berciuman, kami tidak mungkin melakukan perbuatan yang di luar batas," kilah Naga.



"Aku hanya takut, Kak. Kakak kebablasan karena terhanyut oleh obsesi Hilda. Apakah Kak Nagi akan menolak mati-matian saat Hilda meminta, "**tiduri**" aku saat suasana sedang sepi dan tidak ada siapapun? Tadi saja di rumah yang tidak kosong ini, kalian mampu melakukan perbuatan mesum karena menilai tempat ini sepi. Apakah sampai di sini, Kak Nagi paham?"



Nagi sejenak diam seakan sedang mencerna omongan Zila.



"Aku paham, Zi. Tapi Hilda sepertinya memang mencintai aku, dan aku tidak bisa menolak saat dia sudah nyosor dan mencium aku," jawab Nagi membuat Zila geleng kepala.


__ADS_1


"Ya, ampun, Kak Nagi. Kak Nagi itu udah dewasa, bahkan lebih tua empat tahun dari aku. Harusnya Kakak sudah punya pikiran dewasa, bukan dewasa itu saat dapat ajakan mesum saja. Coba Kakak pikirkan bagaimana akibatnya kelak jika Kakak misalnya merusak kehidupan Hilda, otomatis masa depannya akan hancur, sementara dia masih muda dan baru masuk kuliah. Lalu jika dia rusak, apa yang akan dia pertanggung jawabkan pada kedua orang tuanya? Perasaan malu tentunya. Sampai di sini Kakak paham?"



"Jadi aku harus apa, Zi?" Nagi bertanya balik.



"Jawab aku dengan jujur, apakah saat Hilda memaksa Kakak berciuman, Kak Nagi merasakan perasaan lain atau tidak? Seperti getaran lain di dalam dada, perasaan yang berbunga-bunga dan senang yang menimbulkan gairah. Apakah Kak Nagi merasakannya?" Zila berusaha menyelidik perasaan yang dirasakan Nagi.



"Iya betul, Zi. Aku merasakannya. Aku ingin menolak, tapi aku menginginkannya," jujur Nagi dengan wajah yang penuh penyesalan.



"Bisa ditebak, kalau sesungguhnya Kak Nagi mulai ada cinta."



"Entahlah, Zi. Aku juga tidak yakin. Aku menyayanginya sebagai sepupu aku. Tapi saat Hilda tadi mencium aku, aku ingin menolak tapi hati aku tidak bisa," cetus Nagi terdengar ngambang. Zila berusaha menebak-nebak apa yang dirasakan Nagi saat ini. Sepertinya Nagi sedang mengalami pertentangan hati dengan seseorang, lalu saat menemukan Hilda yang ekpresif, Nagi merasa mendapatkan penyembuh luka. Namun jatuhnya adalah sebagai pelampiasan. Zila takut, apa yang dirasakan Nagi terhadap Hilda adalah sebuah pelampiasan.




"Tidak. Tapi aku sedang mencoba mendekati seorang perempuan. Namun dia dengan tegas menolaknya," ungkap Nagi dengan mata menerawang dan mulai berkaca-kaca.



"Jadi, Kakak sebenarnya sedang patah hati saat ini, lalu ada Hilda yang ekspresif dan menawarkan cinta. Bisa jadi apa yang Kakak rasakan pada Hilda hanya sebuah pelampiasan. Kalian sama-sama bahayanya dalam hal ini. Kalian bisa kebablasan dan tanpa kalian sadari kalian bisa terjebak oleh perasaan yang kalian rasakan saat ini," jelas Zila menatap serius ke arah Nagi.



"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" Nagi bertanya penuh penasaran.



"Hindari Hilda, jangan beri peluang dia untuk leluasa mengeskpresikan sikapnya terhadap Kakak. Jika Kak Nagi masih melayaninya, maka Hilda tidak akan pernah berhenti."

__ADS_1



Mendengar Zila berbicara seperti itu, Nagi tertunduk seperti sedang berpikir. Benar kata Zila, dia harus menghindari Hilda, sebab apa yang dirasakannya terhadap Hilda hanya sebuah pelampiasan di saat dirinya patah hati oleh **Diara** yang menolak mentah-mentah cintanya.



"Lalu bagaimana caranya aku menghindarinya, aku takut Hilda kecewa karena sikap aku?"



"Kak Nagi cukup menolak ajakan Hilda, jika Hilda masuk kamar, Kak Nagi harus berusaha mengusirnya secara halus. Kak Nagi perlihatkan sikap yang tegas dan sedikit berwibawa supaya Hilda merasa segan, maka aku yakin Hilda akan malu jika dia mulai mengekspresikan perasaan cintanya terhadap Kakak," rinci Zila.



"Baiklah akan aku lakukan. Aku juga tidak ingin menjadi perusak saudara sepupuku sendiri," putus Nagi sungguh-sungguh.



"Jika Kak Nagi memang memiliki perasaan cinta pada Hilda, itu boleh-boleh saja. Kak Nagi tunggu Hilda benar-benar lulus kuliah. Maka Kak Nagi datangi, atau kalau perlu langsung lamar saja Hilda, jika memang di luaran Kak Nagi tidak menemukan perempuan yang Kak Nagi cintai."



Perlahan satu per satu saran dan peringatan Zila mulai masuk ke dalam benak Nagi. Dan sepertinya Nagi memang harus berusaha menghindar jika Hilda ingin menemuinya. Nagi baru sadar, Hilda memang terobsesi padanya seperti apa yang Zila simpulkan tadi.


***


Malampun menjelang, setelah makan malam tadi, Nagi segera menuju kamar lalu mengunci pintu kamar dengan cepat. Tidak berapa lama pintu kamar itu diketuk seseorang, tidak salah lagi itu Hilda. Seperti apa yang Zila katakan tadi supaya dia bisa menolaknya secara halus.



"Kak Nagi sudah ngantuk dan mau tidur, besok kita jalan-jalan lagi, ya."



"Sebentar saja, Kak, aku mau ngomong," pintanya memelas.


"Kakak sudah ngantuk, besok saja, ya. Kamu tidur yang cepat. Kakak sudah tidak tahan ngantuk." Nagi memberi alasan karena sudah ngantuk. Akhirnya Hilda pergi dengan kecewa dan masuk kamarnya. Di dalam kamar, Hilda bermaksud menghubungi Nagi. Namun, Nagi sudah lebih dulu mengirimkan pesan WA yang isinya mengucapkan selamat tidur untuk Hilda.


"Kamu jangan sedih begitu, Kakak sudah benar-benar ngantuk. Kamu tidur juga, ya. Happy good nice dreams." Pesan WA itu dibaca Hilda dengan sedikit kecewa sebab saat mau menghubungi HP Nagi sudah tidak aktif.

__ADS_1


__ADS_2