
Hilda mulai siuman, tangannya bergerak. Nagi dan Bu Harumi langsung menghampiri dan duduk di tepi ranjang. Nagi memegangi tangannya supaya saat Hilda benar-benar sadar, dia tidak kaget lagi.
"Kak Nagi." Kata-kata pertama yang keluar dari mulut Hilda adalah nama Nagi. Nagi semakin erat meremas jemari Hilda sampai Hilda benar-benar sadar.
"De, kamu sudah sadar?" Hilda yang ditanya tiba-tiba memeluk Nagi dan menangis di sana. Bu Harumi menatap haru dengan kedekatan Nagi dan sepupunya itu. Tangisan Hilda semain menjadi dan terdengar sangat sedih. Bu Harumi tidak tahu apa yang sedang dirasakan anak muda itu, dia hanya ikut merasakan kesedihannya dengan ikut terharu. Bu Harumi keluar dari kamar Nagi dengan membiarkan pintu kamar tetap terbuka. Dia tidak berpikiran buruk tentang kedekatan antara dua sepupu itu, setahunya dari cerita Nagi bahwa mereka dekat layaknya adik Kakak. Hilda menganggap Kakak kepada Nagi meskipun di sini posisi Nagi merupakan adik sepupu.
"De, kamu kenapa? Kamu kenapa nyusul Kak Nagi? Kamu benar-benar nekad, bagaimana jika Mama dan Papa tahu kamu nekad seperti ini? Mereka akan marah sama Kakak." Nagi memberi peringatan pada Hilda atas kenekatannya pergi menyusulnya tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Nagi sudah menduga bahwa Hilda tidak pamit untuk pergi menyusul Nagi.
Hilda tidak menyahut, isak tangisnya masih tersisa. Nagi sigap menyeka air mata yang masih ingin tumpah di pipi Hilda yang licin.
"Katakan kenapa kamu menyusul Kakak?" ulang Nagi lagi penasaran.
"Karena aku mencintai kamu," ucapnya seraya menatap sendu ke arah Nagi.
Bu Harumi yang hendak masuk kamar Nagi, tiba-tiba harus mengurungkan niatnya saat mendengar ucapan Hilda. Bu Harumi sengaja menguping pembicaraan selanjutnya. Dia penasaran apa lagi yang akan mereka obrolkan selain ucapan Hilda tadi. Dia belum yakin cinta yang dirasakan Hilda pada Nagi cinta seperti apa?
"Aku tidak ingin kehilangan Kakak. Kak Nagi tahu, saat itu aku pura-pura menolak Kakak. Aku hanya ingin membuat Kak Nagi bisa berjuang lagi lebih keras untuk merayu aku. Tapi, tiba-tiba Kak Nagi dihubungi Ibu Kak Nagi untuk segera pulang, dan aku punya firasat lain atas kepulangan Kak Nagi. Dan ternyata benar," urai Hilda dengan mata yang sembab.
"Kamu mendengar semuanya, De? Apa yang disampaikan sama Ibu aku?" Nagi menatap Hilda dalam, ada haru di sana. Di tidak tega melihat Hilda bersedih. Nagi tidak menduga kepulangannya ke Medan malah mendengar kabar yang tidak ingin dia dengar. Awalnya dia berpikir ada apa-apa dengan kesehatan Ibunya, sehingga Nagi segera pulang.
Hilda mengangguk, dan kini wajahnya menunduk. Kesedihan nampak sangat jelas. Nagi meraih wajah itu dan dia berkata tepat di wajah Hilda.
"Aku janji, aku tidak akan menerima permintaan Ibu, hanya kamu yang akan menjadi milikku. Apapun yang tejadi kamu harus jadi milikku. Jadi, aku mohon jangan terlalu pikirkan kata-kata Ibu tadi. Ibu hanya memiliki hubungan baik dengan teman Ibu, tapi tidak bisa mencampur adukkan dengan hal perjodohan anak, sebab Kak Nagi akan menolak rencana Ibu. Bagaimanapun caranya," tegas Nagi seraya mencengkram dengan kuat kedua bahu Hilda seiring ucapan yang keluar dari mulut Nagi, bermakna semua ucapan Nagi adalah kesungguhan.
"Apa yang dikatakan Kak Nagi sungguh-sungguh?" tanya Hilda meyakinkan. Nagi mengangguk seraya mengusap wajah Hilda dengan penuh kasih sayang.
Bu Harumi terkejut, dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Bu Harumi penasaran dan rasanya ingin menanyakan langsung saat ini juga apa yang dilihat dan didengarnya barusan. Kedekatan seperti apa yang sebenarnya terjadi diantara kedua saudara sepupu itu?
"Apakah mereka terlibat hubungan percintaan, suka sama suka sesama saudara? Ini tidak mungkin, bukankah sejak kecil mereka sudah bersama layaknya adik kakak, bahkan Naga saja menganggap Nagi adiknya. Tapi, dengan Hilda?" Bu Harumi berpikir keras di dalam hatinya seraya menyangkal bahwa hubungan antara Nagi dan Hilda hanya sebatas saudara sepupu.
__ADS_1
"De, kamu tadi menyusul Kakak ke sini apakah ada memberitahu Papa dan Mama?" Hilda menggeleng. Nagi sudah tidak terkejut lagi, dia malah khawatir dengan kedua orang tua Hilda yang akan cemas akan kepergian anaknya yang tanpa kabar berita.
"Aku baru akan menghubungi mereka setelah sampai rumah Kak Nagi, tapi berhubung keburu mendengar Ibu Harumi bicara seperti tadi, aku jadi tidak sadarkan diri," sesalnya.
"Ya sudah, kamu segera hubungi Papa dan Mama. Jangan sekali-sekali melakukan hal ini lagi, ini tidak baik. Kamu bisa membuat Papa dan Mama panik dan marah sama Kak Nagi. Ayo segera hubungi Papa dan Mama," ujar Nagi pura-pura kesal padahal dia tidak tega memarahi gadis cantik di hadapannya yang kembali terlihat manja.
"Kak Nagi jangan khawatir, aku akan hubungi sekarang. Kak Nagi diam, ya, jangan bicara. Kalau Papa dan Mama meminta, Kak Nagi baru bicara," peringatnya sebelum menghubungi Papa dan Mamanya.
Hilda segera menghubungi Hp Mamanya memberitahukan yang sebenarnya. Awalnya sempat terdengar marah dan khawatir. Namun setelah Hilda menyampaikan bahwa dirinya kini sudah berada di rumah Ibunya Nagi, Mama Hilsa tidak merasa panik lagi.
"Sampaikan salam Mama pada Tante Harumi," ujar Bu Hilsa mengakhiri sambungan telponnya. Percakapan antara Hilda dan Mamanya sempat terdengar oleh Ibu Harumi. Setelah itu Ibunya Nagi segera menjauh menuju kamar dan termenung di sana.
"Apakah Mbak Hilsa sudah tahu hubungan Nagi dan Hilda, apakah hubungan mereka direstui? Aku bukan melarang, sebab di dalam agama saja tidak ada larangan, tapi ...." Bu Harumi menggeleng kepalanya dan tidak melanjutkan kata-katanya, bibirnya seakan kelu jika dirinya harus mengingat kisah kelam ini.
"Ini semua gara-gara si bajingan itu," dengusnya mengingat masa lau yang baginya menyakitkan.
"Kalau bukan karena gara-gara dia, bisa jadi aku masih hidup bahagia bersama Mas Harsya. Mas Harsya yang sampai saat ini masih aku cinta," dengusnya lagi mengungkap sedikit masa lalu.
"Tante, masak apa? Aku bantu, ya?" Tiba-tiba Hilda menghampiri Bu Harumi yang sedang memasak arsik ikan. "Oh, iya, tadi ada salam dari Mama buat Tante. Lalu kapan Tante mau ke Bandung?" Hilda menyampaikan salam Mamanya tadi di telpon pada Bu Harumi.
"Salam dari Mama Hilsanya, Tante terima. Sekarang kamu di depan saja. Tunggu makanan ini siap," tukasnya menolak bantuan Hilda.
"Aku ingin lihat dan bisa masak arsik ikan ini, Tante. Aku ingin belajar langsung dari Tante. Bisa saja aku belajar dari yutub tapi aku lebih senang belajar langsung. Boleh, ya?" Hilda tanpa putus asa merayu Bu Harumi supaya dia bisa melihat cara memasak arsik ikan.
"Baiklah, jika kamu ingin membantu Ibu, ambilkan saja piring-piring ini dan lauk yang sudah matang ini di meja makan, sebentar lagi kita akan makan malam." Akhirnya Bu Harumi membolehkan Hilda membantunya. Namun hanya menyiapkan piring dan lauknya.
Sebenarnya Hilda tidak ada pengalaman sama sekali cara menata piring maupun menata piring lauk di meja. Tiba-tiba Nagi menghampiri dan melihat Hilda seperti kebingungan meletakkan piring maupun piring yang sudah diisi lauk. Nagi membantu kebingungan Hilda dan mengajari Hilda dengan sabar sambil sesekali menyambar hidung Hilda gemas.
"Di sini belajarnya, prakteknya di Bandung," celoteh Nagi diakhiri tawa. Bu Harumi yang mendengar sudah paham apa yan dimaksud Nagi, tapi dia tidak mau mengagetkan mereka berdua.
__ADS_1
"Nagi, Nagi, kamu sudah benar-benar jatuh cinta sama Hilda. Ibu tidak tahu lagi harus memisahkan kalian dengan apa, sementara kalian sepertinya tidak terpisahkan." Bu Harumi berbicara dalam hatinya sembari memikirkan cara untuk menghalangi cinta Nagi dan Hilda.
Setelah makan malam. Bu Harumi, Nagi dan Hilda menuju ruang keluarga. Bu Harumi seperti ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Karena dia pura-pura tidak mengetahui hubungan antara Hilda dan Nagi yang sebenarnya, oleh karena itu kini saat yang tepat baginya menyampaikan semua itu, syukur-syukur jika Hilda langsung mundur.
"Kalian duduklah, Ibu mau bicara sama Nagi. Langsung saja, sebenarnya Ibu mengajak kalian ke ruang keluarga ini ingin memberitahu bahwa besok Ibu akan kedatangan tamu. Ibu Hamidah teman Ibu yang sudah baik sama Ibu selama di perantauan ini ingin bersilaturahmi sama kita, Nagi. Dan juga Ibu ada rencana mau mengenalkan kamu sama anak teman Ibu itu, agar kalian bisa saling kenal," ujarnya langsung pada tujuannya. Tanpa ditutup-tutupi dari Hilda.
Bu Harumi justru ingin melihat reaksi Hilda dan Nagi, apakah mereka akan mengakui hubungan mereka yang sebenarnya atau tidak padanya. Nagi tiba-tiba meraih jemari Hilda dan merematnya erat, dia sekan tidak ingin terpisahkan.
"Maksud Ibu, Nagi akan dikenalkan dengan anak teman Ibu yang baru pulang kuliah dari luar negeri itu?" tanya Nagi terkejut. Bu Harumi mengangguk tanpa menjawab.
"Ibu mau menjodohkan Nagi dengan anak Ibu Hamidah? Tapi Nagi tidak mau, Bu. Nagi tidak suka dijodoh-jodohkan begitu, Nagi lebih baik mendapatkan pasangan dengan cara Nagi sendiri dan menemukan dengan cara Nagi sendiri. Lagipula Nagi sebetulnya sudah memiliki pilihan hati yang benar-benar akan Nagi ajak ke pelaminan dalam waktu dekat ini," tegas Nagi seraya meremat jemari Hilda semakin kuat supaya Hilda tidak pergi. Hilda hanya bisa menunduk dan tidak berani menyela perdebatan antara Nagi dan Ibunya.
"Apa, coba ulangi yang kamu katakan barusan?" kejut Bu Harumi meminta Nagi mengulang apa yang dikatakannya tadi.
"Nagi tidak mau dijodohkan dengan perempuan manapun, Bu. Apalagi Nagi sudah punya pilihan sendiri," tegas Nagi.
"Gadis mana yang menjadi pilihanmu, Hilda maksudnya?" Nagi dan Hilda terkejut saat Bu Harumi menebak siapa gadis pilihan Nagi.
"Ibu sudah tahu sendiri, dan memang Hilda gadis pilihan Nagi. Lalu apa tujuan Ibu mau menjodohkan Nagi sementara Ibu sudah tahu bahwa gadis pilihan Nagi adalah Hilda?"
"Itu mustahil, Nagi. Kalian tidak akan bisa bersama, terlebih jika Hilda tahu siapa kamu sebenarnya. Lagipula Papa Harsya yang kamu anggap Papa itu, Ibu yakin tidak akan pernah menyetujuimu. Ibu tahu Papa Hasri sudah memberimu restu, tapi Papa Hasri menyuruhmu meminta restu pada Papa Harsya, bukan?" tegas Bu Harumi menatap tajam ke arah Nagi merasa menang.
__ADS_1
"Lantas kenapa jika Hilda tahu siapa aku sebenarnya, misteri apa sebenarnya yang Ibu dan Papa Harsya sembunyikan selama ini dari aku? Apakah ini ada kaitannya dengan perceraian kalian? Jawab, Bu?" Nagi balas menatap tajam ke arah Ibunya meminta jawaban misteri siapa Nagi sebenarnya serta apa kaitannya dengan perceraian kedua orang tuanya di masa lalu.