Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Musim 3 Nagi dan Hilda #Permohonan Handi


__ADS_3

    Handi masih bertahan di teras rumah Harumi, sebelum dia mendapat kata setuju dari Harumi dia enggan beranjak dari sana. Handi akan menunjukkan sikap seriusnya, kali ini dia tidak mau kehilangan lagi Harumi.


    Harumi melihat Handi dari dalam kaca rumahnya. Rasa iba timbul dari dalam hatinya. Sejujurnya dalam relung hati dia yang terdalam, rasa cinta itu masih ada. Namun ketika Handi asik mempersalahkan Nagi, rasa itu dia coba hempaskan jauh-jauh.


    "Aku harus bagaimana mengusir Mas Handi, aku tidak boleh gegabah mengambil keputusan. Walaupun hatiku masih menyimpan cinta, tapi aku takut suatu saat Mas Handi mengingat kembali pahitnya masa lalu yang menghancurkan rumah tangga kami, aku takut jika saat Mas Handi ingat kembali kepahitan itu, bukan tidak mungkin Nagi lagi yang akan diingatnya dan kebencian itu akan timbul. Tidak, itu tidak boleh terjadi." Harumi masih memikirkan cara untuk mengusir Handi dari teras rumahnya.


     "Ya ampun, Mas. Kenapa masih menunggu di depan teras. Ini sudah sangat larut malam. Apakah dia tidak tahu di lingkungan ini rawan gosip?" Harumi bingung cara mengusir Handi.


    "Baiklah mungkin cara ini lebih baik. Terpaksa aku lakukan demi Mas Handi pergi," bisiknya seraya menuju pintu dan membuka pintu pelan.


    Handi terperanjat melihat Harumi membuka pintu, dia berdiri menatap Harumi.


     "Harumi," ucapnya dengan wajah penuh senyum dan segunung harapan.


    "Mas, aku mohon kamu pergi dulu dari teras rumah ini. Aku tidak enak dilihat tetangga, aku ini janda dan rentan menjadi omongan. Besok kita bicarakan lagi. Aku mohon." Harumi meminta pada Handi supaya dia pergi dari teras rumahnya.


    "Tidak, selama kamu belum mengatakan iya dan menerima aku kembali. Aku akan terus di sini sampai kamu bilang iya dan setuju. Tentang jadi omongan tetangga kamu, aku tidak peduli. Aku akan bilang bahwa aku ini Satpam rumah kamu. Jadi jangan khawatir akan tudingan orang, sebab aku adalah Satpam hati kamu," ujar Handi penuh percaya diri dan keteguhan hati.


    Harumi kesal, tapi tidak ada alasan lain lagi untuk mengusir Handi kecuali menyetujui permintaan Handi.


    "Baiklah, Mas. Aku terpaksa setuju dengan permintaan kamu. Tapi keputusanku harus melalui persetujuan Nagi. Jika aku saat ini bilang setuju tapi ternyata Nagi tidak, maka aku tetap pada persetujuan Nagi. Bagaimana, apakah kamu paham? Jadi, aku mohon pergilah dari teras rumahku ini." Harumi memohon lagi supaya Handi pergi.


    "Tapi, aku harus pergi kemana, Harumi? Malam-malam begini aku bingung mencari hotel atau penginapan. Dan aku belum terbiasa keluyuran di tempat baru, aku takut dimanfaatin orang jahat." Handi bingung saat memikirkan dia harus nginap di mana malam ini.


    "Mas, kurang lebih 500 meter ada sebuah penginapan dari sini. Mas Handi coba mencari ke sana, pasti masih ada kamar yang kosong," usul Harumi seperti ada jalan.


    "Boleh, tapi kamu harus antar aku sambil jalan kaki. Kalau jalan kaki mana mungkin tetangga kamu yang suka gosipin itu menuding kita tidak benar," ujar Handi memberi tawaran. Harumi gugup dengan tawaran Handi, dia tidak habis pikir dengan lelaki berumur itu, ada saja alasan yang dia cari untuk bisa memiliki kesempatan dengannya.


    "Aku tidak bisa, Mas. Aku sudah ngantuk dan harus masuk rumah."

__ADS_1


    "Ya sudah. Alangkah lebih baiknya aku menunggu di sini saja jadi Satpam rumah kamu," keukeuh Handi membuat Harumi kehabisan cara.


    "Ya sudah, jika itu maumu. Aku ada penawaran yang sepertinya kamu setuju. Bagaimana jika kamu tidur di asrama pabrik, kebetulan di sana ada kamar kosong untuk istirahat. Tempat itu tadinya untuk tempat tinggal beberapa pegawai yang dulunya belum punya tempat tinggal. Untuk sementara kamu tinggali dulu kamar itu daripada kamu di depan rumah aku yang hanya akan mengundang pikiran negatif warga." Usul Harumi disenyumi Handi, sepertinya dia senang mendapat tawaran itu.


    "Baiklah, aku lebih baik memilih di asrama pabrik milik kamu. Aku akan betah di sana dari pada di tempat lain," ujar Handi setuju dengan senyum yang merekah.


    Harumi terpaksa memberi tawaran seperti itu pada Handi, daripada Handi banyak alasan dan menunggu di teras rumahnya.


    Harumi mengarahkan Handi untuk mengikutinya. Harumi melewati pinggir rumahnya menuju pabrik kapasnya. Beberapa meter dari jarak rumahnya, berdiri gagah sebuah pabrik bernama Kapassindo NagiMedani. Sejenak Handi berdecak kagum dengan pabrik itu yang berdiri gagah di belakang rumah Harumi. Rupanya, pabrik itu memiliki pintu depan dari arah utara bertolak belakang dengan letak rumah milik Harumi.


    "Ya ampun, rupanya ini perusahaan milik Nagi. Sungguh beruntung Harumi memiliki anak yang sangat gigih dan berbakti. Sehingga dia sukses seperti ini. Nagi sungguh luar biasa, dia memang pantas sukses dan bahagia. Aku selama ini sudah salah dengan membencinya atas kesalahan ayah biologisnya. Mulai sekarang aku harus bisa meyakinkan Nagi agar aku bisa kembali bersama Ibunya untuk merenda masa tua. Semoga Nagi menyetujui permintaanku dan memaafkan kesalahanku karena sikapku yang tidak baik padanya." Handi berbicara dalam hati mengagumi kesuksesan Nagi.


    Handi masih mengikuti Harumi yang menunjukkan di mana asrama yang akan ditinggali Handi untuk sementara.


    "Kamu sungguh beruntung memiliki Nagi, Harumi. Dia anak yang gigih dan berbakti. Aku salut padanya. Aku sungguh-sungguh menyesal telah bersikap tidak baik padanya," tutur Handi mengungkit kembali dosanya dan memuji kegigihan Nagi.


    Handi tersenyum gembira mendapatkan kamar asrama yang hanya luas 3x4 meter, beda dengan kamar di rumahnya yang luas dan tidak sumpek. Tapi ketika di sini hanya mendapatkan kamar ukuran sempit seperti itu saja, Handi bahagia tidak terkira.


    "Kalau kamu mau makan, di depan perusahaan ini ada banyak kedai tenda atau rumah makan sederhana yang menunya terjangkau," ujar Harumi memberitahukan kedai makan jika Handi ingin makan.


    "Terima kasih Harumi. Aku sangat berterimakasih dengan kebaikan kamu. Tinggal di kamar sebesar ini saja aku sangat bahagia asal aku bisa kembali lagi bersamamu," ungkit Handi ke masalah pokok yang sejak tadi dia bicarakan.


    "Sudahlah, Mas. Jangan banyak bicara dulu. Sekarang kamu istirahat saja dulu dan bersih-bersih jika kamu gerah." Harumi beranjak meninggalkan Handi dan kembali ke rumahnya. Handi tersenyum mengantar kepergian Harumi menuju rumahnya yang cuma beberapa meter.


    Harumi kembali k rumah dengan hati yang gundah gulana. Dia sudah bukan anak baru gede lagi yang sedang merasakan keindahan cinta. Dia tidak boleh terlena atau mementingkan perasaannya seperti anak baru gede yang dimabuk cinta. Tapi, permintaan Handi tadi mau tidak mau harus dipikirkannya juga, dia terlanjur menyetujui permintaan Handi yang memintanya kembali. Namun semua itu harus ada persetujuan dari Nagi.


    Malam semakin larut, Harumi tiba-tiba kepikiran Handi yang bisa saja kepanasan karena di dalam kamar itu tidak ada Ac. Jangankan Ac, kipas angin saja tidak ada. Harumi merasa kasihan jika Raka harus kepanasan karena tidak ada kipas angin.


    Harumi segera ke belakang rumahnya sembari menenteng sebuah kipas angin yang lama tersimpan di gudang rumahnya. Masih bagus dan menyala dengan baik, daripada nganggur lebih baik dia kasih di kamar yang kini ditempati Handi.

__ADS_1


    "Assalamualaikum, Mas Handi," salam Harumi seraya menunggu Handi membukakan pintu kamar. Namun sayang, Handi tidak kunjung membuka pintu dan sepertinya Nagi tidak ada di dalam kamarnya.


    Harumi sengaja menunggu Handi di luar kamar. Dia yakin Handi sedang pergi mencari makanan. Benar saja, tidak lama dari itu Handi muncul dengan membawa kresek warna transparan di tangannya.


    "Harumi, ada apa?" tanya Handi heran.


    "Ini aku bawakan kipas angin supaya kamu tidak kepanasan."


    "Terimakasih, Harumi. Kamu sungguh baik dan perhatian," ucap Handi tersenyum bahagia.


    "Aku masuk dulu, ya. Sekalian memasang kipas angin di kamar ini."


    "Ya sudah, aku kembali ke rumah. Kamu di sini semoga betah," ujar Harumi seraya beranjak dari depan kamar yang ditempati Handi.


    "Harumi, alangkah baiknya kita makan malam dulu bersamaku, kebetulan aku tadi beli makanan banyak," tawar Handi seraya duduk di tembok pembatas.


    "Tidak, aku makan di rumah saja. Silahkan kamu nikmati makanannya. Aku kembali ke rumah," tolak Harumi seraya melangkahkan kaki menuju rumahnya. Hand menatap kepergian Harumi, wanita yang sebentar lagi usianya 50 tahun itu, masih terlihat sangat sehat dan cantik.


    "Seandainya dulu nasib buruk tidak menimpa kita, mungkin saat ini kita sedang bahagia dan menikmati masa tua dengan menimang cucu. Bisa jadi kita baru menimang cucu satu atau dua, seperti Mas Hasri yang kini baru dikaruniai cucu satu." Handi berandai-andai, tidak terasa air mata jatuh membasahi pipinya.


    Pagi menjelang, Harumi sudah membuat sarapan pagi yang banyak. Tiba-tiba dia ingat Handi dan rasanya tidak tega membiarkan dia mencari sarapan pagi ini.


    "Biar saja pagi ini aku yang sengaja berikan sarapan untuk Mas Handi, sekali-kali tidak apa-apa berbaik hati pada lelaki yang pernah menorehkan luka." Harumi beranjak dari dapurnya setelah dia menyiapkan serantang sarapan pagi untuk Handi ke asrama pabrik.


    Tiba di sana, Harumi melihat Handi sedang menyapu lantai kamar. Harumi tidak menyapa, dia membiarkan Handi membereskan pekerjaannya. Harumi menatap lekat lelaki paruh baya itu yang saat masih muda dikenal dengan sikap romantis dan perhatian. Namun sayang, nasib buruk merenggutnya. Kehadiran Guntur yang tiba-tiba justru membawa petaka.


    "Ya Allah, kenapa malapetaka itu hadir dalam hidup kami dan memisahkan kebersamaan kami. Setelah perceraian itu pun kami sama-sama tidak memiliki pasangan, lantas apakah kami ini akan jodoh di masa tua?" bisik Harumi menangis.


***

__ADS_1


__ADS_2