
Benar kata Naga, Hilda yang merasa kehilangan Nagi, mogok kuliah sudah dua hari. Dia berkeras tidak ingin melanjutkan kuliah karena merasa kehilangan Nagi sebagai penyemangat
"Papa,kan, yang punya perusahaan? Papa perintahkan Kak Nagi tetap di perusahaan itu. Atau jangan-jangan Papa yang sengaja pindahkan Kak Nagi ke tempat lain jika di Jakarta tidak ada?" protesnya lagi setelah Hilda terlihat tenang.
"Jangan tuduh Papa sembarangan, meskipun Papa pemilik perusahaan, tapi Papa tidak punya wewenang dalam hal memindahkan seorang pegawai. Itu wewenang pihak HRD. Jika Nagi dipindahkan, kita biarkan dia punya pengalaman yang lebih luas di tempat lain. Kamu jangan mencegah seseorang untuk maju," sangkal Pak Hasri, dan tetap menutupi kebohongan di balik pemindahan Nagi ke Sulawesi.
"Tapi aku mencintai Kak Nagi, mungkin saja Papa sebelum ini sudah tahu dari seseorang bahwa aku mencintai Kak Nagi, lalu Papa sengaja memindahkan Kak Nagi ke tempat yang jauh dari aku dan memerintahkan Kak Nagi mengganti semua nomer Hpnya dan menghapus semua akun media sosialnya, secara Kak Nagi anak yang sangat patuh sama Papa," tuding Hilda lagi dan semua tudingannya sangat mengena. Hilda tidak lagi menutupi perasaannya terhadap Nagi di depan kedua orang tuanya. Dia bongkar semuanya tanpa ditutup-tutupi.
Pak Hasri menekan pangkal hidungnya yang mendadak sakit kepala mendengar pengakuan anak bungsu sekaligus anak gadis satu-satunya itu.
"Tidak, Papa tidak lakukan itu. Meskipun Papa pemilik perusahaan. Harusnya kamu berpikir, bisa saja Nagi sengaja menjauhi kamu karena dia tidak mencintai kamu sebagai kekasih, tapi Nagi menyayangi kamu sebagai saudara sepupu." Pak Hasri masih menyangkal tudingan Hilda.
"Ok, kalau begitu, Papa perintahkan tiap staff HRD di perusahaan Papa di tiap kota untuk mengembalikan tugas Kak Nagi di Jakarta saja," mohon Hilda dengan wajah yang memprihatinkan.
"Itu tidak mungkin, Sayang. Itu hanya membuang-buang waktu saja. Kenapa sih kamu tidak mencoba memahami keputusan pihak HRD di setiap perusahaan? Lagipula Papa tidak pernah ikut campur dalam hal tekan menekan karyawan, itu murni wewenang pihak HRD," tukasnya lagi masih menyangkal.
"Papa bohong. Papa tidak mau mengerti perasaan aku. Ok, jika memang begitu. Lihat saja apa yang akan aku lakukan, aku tidak akan melanjutkan kuliah." Hilda mengancam tidak mau melanjutkan lagi kuliahnya.
"Dan sebelum aku mendapatkan jawabannya langsung dari Kak Nagi bahwa dia benar-benar tidak mencintai aku, maka aku tegaskan aku akan mencintai Kak Nagi sampai dia benar-benar datang menemui aku dan melamar aku. Lalu jika Kak Nagi sudah tidak mencintai aku, maka seumur hidup aku tidak akan pernah mau menikah." Pak Hasri tersentak mendengar ucapan sembarangan Hilda barusan. Hilda sangat keterlaluan menurutnya.
__ADS_1
Tapi Pak Hasri sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi pada anaknya, dia juga bingung harus melakukan apa setelah Hilda mengancam seperti itu. Hilda pergi menuju kamarnya dengan membawa sejuta kecewa dari Papanya.
Sementara itu setelah Hilda pergi, Pak Hasri menemui Bu Hilsa di ruang keluarga. Bu Hilsa yang sejak tadi memperhatikan perdebatan anak dan suaminya hanya bisa mengusap dada dan sedih karena mendengar ucapan anaknya yang nekad dan sembarangan.
"Ma." Pak Hasri duduk di samping istrinya yang kini sudah terlihat sangat sedih.
"Ini bagaimana, Pah. Hilda anak kita mengancam tidak mau lagi melanjutkan kuliah gara-gara Nagi tidak bisa dihubunginya. Apakah Papa akan membatalkan pemindahan Nagi?" tanya Bu Hilsa risau.
"Kita lihat saja bagaimana reaksi Hilda setelah seminggu. Jika dia masih tidak mau kuliah juga, maka Papa akan mengembalikan Nagi kembali ke Jakarta," putus Pak Hasri akhirnya. Bu Hilsa mendukung keputusan suaminya jika itu dianggapnya baik.
"*Tuh, kan, rupanya Papa yang merencanakan semua ini. Aku tahu siapa lagi yang bisa melakukan ini selain Papa sang pemilik perusahaan. Lebih baik aku lanjutkan saja sandiwaraku untuk pura-pura frustasi dan tidak melanjutkan kuliah lagi gara-gara kehilangan Kak Nagi*. Hilda di balik tembok luar ruangan keluarga berhasil menguping pembicaraan antara Mama dan Papanya tentang Nagi. Hilda pun tersenyum licik plus gembira mendengar semua ini.
Hilda uring-uringan dan murung setelah kehilangan Nagi, bahkan dia benar-benar membuktikan ucapannya, yaitu tidak mau kuliah. Bahkan sekarang sudah hampir seminggu Hilda tidak masuk kuliah, padahal ini awal semeter baru dan Hilda belum isi absen satu pun. Pak Hasri benar-benar bingung dan akhirnya mengalah sebelum Hilda mendapatkan surat skors atau DO dari kampusnya.
__ADS_1
"Baiklah, Papa akan mengalah dan mengikuti kemauanmu. Tapi, kamu harus janji setelah Papa kembalikan Nagi ke perusahaan yang ada di Jakarta, maka kamu harus melanjutkan kuliah kamu sungguh-sungguh. Dan, kalau bisa hubungan kalian harus kembali ke hubungan awal yaitu hubungan saudara sepupu," mohon Pak Hasri akhirnya dengan memberikan satu buah persyaratan yaitu mengembalikan hubungan antara Hilda dan Nagi ke hubungan yang semula yaitu hubungan kasih sayang antara saudara sepupu.
"Tapi aku tidak janji akan melupakan perasaan cintaku pada Kak Nagi, aku hanya janji akan tetap kuliah sampai empat tahun setelah itu aku akan menagih janji Kak Nagi supaya dia melamar aku," tegasnya penuh senyum kebahagiaan. Pak Hasri dan Bu Hilsa hanya bisa mendessah kesal dengan sikap keras kepala anak perempuannya ini. Untung saja Nagi bukan anak kandung yang dicintai Hilda, jika itu terjadi maka Pak Hasri dan Bu Hilsa akan menentang keras bagaimanapun keras kepalanya Hilda.
Hari itu juga Pak Hasri menghubungi pihak HRD perusahaan Hasri Food Group yang berada di Sulawesi untuk membatalkan pemindah tugasan Nagi ke perusahaan yang ada di sana dan dikembalikan ke Jakarta, di depan Hilda sendiri.
Namun, entah kenapa pihak HRD di perusahaan yang berada di Sulawesi tidak menemukan nama Nagi di sana. Pak Hasri merasa aneh dan mengerahkan orang kepercayaannya untuk mencari data dan keberadaan Nagi di sana. Namun hasilnya nihil.
"Aneh, kenapa Nagi tidak berada di perusahaan Hasri Food yang di Sulawesi?" Pak Hasri merasa bingung kemanakah Nagi? Bahkan saat Pak Hasri menghubungi Handi adik kandungnya, Handi hanya bilang sempat bertemu Nagi satu kali lalu Nagi berpamitan padanya dengan wajah sedih.
"Kenapa Pah, ada apa dengan Nagi? Kemana Nagi Pah?" Bu Hilsa bertanya dengan khawatir tentang keberadaan Nagi yang kini belum diketahui di mana. Hilda tidak kalah khawatirnya dan dia menganggap ini semua hanya akal-akalan Papanya supaya Hilda melupakan Nagi.
"Aku tidak percaya, ini semua pasti ulah Papa yang sengaja memerintahkan pihak perusahaan dan Kak Nagi supaya pura-pura dan mengikuti skenario Papa, yaitu menghilangkan data Kak Nagi di perusahaan itu supaya aku tidak bisa mengakses keberadaan Kak Nagi," tekannya marah dan frustasi.
"Tidak Sayang, kali ini Papa tidak membohongimu, Papa berkata jujur dan Papa tidak sedang bekerja sama dengan pihak perusahaan maupun dengan Nagi sendiri supaya menghilangkan data Nagi agar kamu tidak bisa menghubunginya dan menemukannya. Percayalah, Papa sungguh-sungguh," ujar Pak Hasri jujur dengan wajah yang diliputi was-was da bingung.
__ADS_1