
Sejak kejadian tidak sopan Mila di kantor Naga, Mila maupun Radit pemilik perusahaan Masagi Food, tidak datang atau menampakkan lagi batang hidungnya di perusahaan Naga. Meskipun kerjasama antara Masagi Food dan Naga Group masih tetap berjalan, terlebih Radit sebagai CEO dari Masagi Food meminta maaf lewat panggilan Hp atas perbuatan mila yang tidak menyenangkan.
Naga sedikit lega dengan keputusan Radit yang berjanji akan menindaklanjuti perbuatan Mila yang tidak menyenangkan di kantornya. Setidaknya Radit berjanji tidak akan mengirimkan Mila sama sekali ke kantornya untuk urusan apapun.
Mila pergi Dila datang. Lagi-lagi Dila tiba-tiba mendatangi kantor Naga yang di Bandung, padahal dia hanya seorang penanam setengah saham di perusahaan Kappa Food yang kebetulan bekerjasama dengan perusahaan Naga Group yang di Surabaya.
Naga mendapat kabar dari Desy yang menghubunginya via telpon bahwa sekarang sedang ada tamu yang mengaku dari Kappa Food. Desy mengatakan tamu itu seorang perempuan yang dulu pernah ke kantor Naga Group.
Naga sudah bisa menduga siapa orang yang dimaksud oleh Desy. "Bu Dila memaksa masuk meskipun sudah saya bilang bahwa Bapak tidak ada," ujar Desy.
"Baiklah, biarkan saja dia semaunya, asalkan kalian awasi gerak-geriknya jangan sampai dia melakukan kecurangan," peringat Naga pada Desy.
Melihat Naga mendapatkan telpon dengan marah-marah, Zila kaget dan penasaran dari siapakah telpon baru saja.
"Siapa Kak?" Zila penasaran dengan orang yang baru saja menghubungi Naga.
"Hanya Desy yang memberitahukan bahwa ada seorang tamu wanita yang ngotot ingin bertemu denganku," jawab Naga jujur.
"Ohhh, ya? Pasti tamunya seorang perempuan," duga dengan senyum sinis. Zila lagi-lagi terlihat cemburu. Dalam hati Nag sangat senang dia dicemburui Zila, itu artinya Zila sangat mencintainya.
"Kenapa harus cemburu , aku tidak cemburu. Kak Naga sudah tidak diragukan lagi pasti banyak yang mengagumi," tukas Zila seraya mendudukkan pantatnya di sofa beranda sebuah villa di daerah Lembang.
Naga dan Zila kini sedang berada di Lembang, tepatnya di villa milik Naga. Naga sengaja membawa Zila ke villa karena suatu hal, yakni mengulang bulan madu yang sempat tertunda.
Naga ingin melupakan sejenak rutinitas di perusahaan yang tidak ada henti-hentinya dengan quality time bersama Zila. Di sini di villa ini dia akan menagih janji Zila yang akan segera memberikan cucu kepada kedua orang tuanya.
"Sayang, jangan dulu memikirkan orang lain. Sekarang kita nikmati waktu kita. Bukankah kamu janji pada Mama dan Papa akan segera memberi mereka cucu. Kalau begitu, mari kita laksanakan permintaan mereka dengan bulan madu kita," ajak Naga dengan penuh semangat.
"Kak Naga, tapi ini masih siang. Bukankah alangkah lebih baiknya kita lakukan ini nanti malam saja? Aku ingin jalan-jalan dulu ke pabrik yang sebentar lagi launching dan ke rumah Paman Kobar untuk menemui Tanta Zuli," ujar Zila sengaja mengalihkan fokus Naga yang sepertinya sudah tidak tahan ingin menikmati bulan madu yang hampir tiap hari sudah sering mereka lewati.
"Sayang, siang ini juga tidak apa-apa, nanti malam kita beda lagi, apakah kamu tidak merindukan suamimu ini?" tanya Naga seraya sudah menangkap tubuh Zila dalam pelukannya.
Satu jam kemudian, Naga dan Zila sudah cantik dan tampan, mereka bersiap akan melihat persiapan launching pabrik milik Zila.
__ADS_1
Dan persembahan sebuah pabrik pun kini sedang digelar. Zila sebagai pemilik atau CEO sudah dipersilahkan untuk memberikan kata sambutan. Zila menoleh ke arah Naga tanda tidak siap. Namun Naga tersenyum padanya memberi kode supaya Zila berani bicara.
Akhirnya walau sedikit ragu, Zila memberi kata sambutan di depan hadirin tamu undangan yang beberapa merupakan sahabat dekat Naga dan keluarga.
Tiba-tiba setelah Zila turun dari panggung, Kobar dan juga Tante Zuli. Mereka tersenyum bahagia atas launchingnya pabrik milik Zila ini.
"Paman," serunya seraya merangkul Kobar dengan kerinduan yang teramat sangat. Kobar juga sama sangat merindukan Zila yang sudah beberapa bulan ini tidak bertemu.
Sementara Naga dan Zila sedang merayakan kebahagiaannya atas launching pabrik baru milik Zila di kota Lembang. Kini kembali ke Nagi. Masih ingatkah dengan Nagi?
Nagi sudah tiba di Bandara Sultan Hasannudin Makassar sekitar jam 11.00 WITA atau jam 10.00 WIB. Dari bandara, Nagi sudah dijemput oleh seorang Supir perusahaan milik Pak Hasri. Nagi diantar ke sebuah perumahan khusus karyawan perusahaan di daerah Tamalanrea, Makassar.
Lima belas menit kemudian, mobil yang mengantarkan Nagi tiba di sebuah perumahan yang lumayan elit. Sepertinya perumahan itu memang dikhususkan untuk karyawan perusahaan Hasri Group untuk Manager ke atas.
Nagi sudah tahu dia pasti bakal di tempatkan di sini. Setelah turun dari mobil perusahaan yang mengantarnya, Nagi segera memasuki rumah itu. Rumah yang lumayan besar bagi ukuran single seperti dia.
"*Kenapa Papa tega jauhin aku dari kalian? Apakah Papa mengetahui hubungan aku dengan Hilda? Lalu siapa yang memberi tahu*?" bisik Nagi sangat terpukul.
Nagi menangis sejadi-jadinya di sofa dengan keadaan dirinya yang seakan diasingkan. Jauh dari keluarga dan juga jauh dari Hilda yang sudah kurang lebih sebulan ini mengisi hari-hari murungnya karena patah hati.
Tubuh Nagi merosot ke bawah sofa, sebagai laki-laki dewasa yang masa kecilnya hampir tidak tersentuh kasih sayang orang tua kandung, Nagi tentu saja sangat merana ketika nasib ini menimpanya. Namun di kota ini rupanya Nagi tidak benar-benar diasingkan, Nagi masih punya seorang Papa yang selama ini tidak pernah menganggap Nagi anak. Ada apa dengan Papa Nagi?
__ADS_1
Besoknya Nagi membenahi dirinya. Hari ini dia akan ke perusahaan milik Papa Hasri untuk mengemban tugasnya di perusahaan ini sebagai Manager Produksi. Namun niat Nagi ternyata berbelok, dia tidak segera ke ruangannya atau melaporkan diri ke HRD.
Nagi sengaja menuju ruang Direktur Utama. Tiba di depan pintu di atasnya sudah tertera nama seorang Dirut yaitu Handi Prayogi. Sejenak Nagi berdiri menatap nama besar yang tertera di sana.
"*Papa*," serunya dalam hati nelangsa.
Nagi mengetuk pintu itu beberapa kali, dan sebuah suara terdengar mempersilahkan dirinya masuk. "Masuk!" titahnya tegas. Dengan langkah yang ragu Nagi membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan kebesaran Papanya.
Langkah kaki Nagi mulai berjalan mendekati kursi dan meja kebesaran orang yang disebutnya Papa.
"Assalamualaikum, Papa," ujarnya mengucap salam. Pak Handi dari balik mejanya menatap kaget kedatangan anak muda yang selalu memanggilnya Papa. Raut wajah datar terlihat di sana.
Nagi berjalan mendekat. Semakin mendekat maka semakin jantungnya berdebar kencang. Nagi mengulurkan tangannya lalu meraih tangan Papanya cepat dan erat kemudian diciumnya. Hal itu selalu Nagi lakukan meskipun sikap Papa Handi selalu dingin dan datar padanya.
"Pa, apakabar?" pertanyaan Nagi hanya dijawab dengan sebuah pertanyaan lagi oleh Papa Handi.
"Ada apa kamu kesini?" tanyanya menohok ulu hati Nagi. Nagi menghela nafasnya dalam-dalam, dia tentunya tidak ingin memperlihatkan rasa kecewa di depan Papanya. Sejenak Nagi menunduk, betapa dirinya tidak perna berharga bagi orang yang disebutnya Papa ini. Nagi masih berpikir dan berpikir, jawaban apa yang harus ia katakan pada Papanya.
__ADS_1
Halo Readers kisah Nagi akan saya kupas khusus di season tiga. Masih saya lanjut di sini tapi di season 3 supaya enak menceritakannya. Namun di bab selanjutnya masih ada sedikit lanjutan Nagi dari bab ini. tungguin kisahnya ya. Terimaksih....