
"Silahkan." Hilda membawa Dokter Rama menuju tangga. Tujuannya jelas kamar yang ditempati Naga dan Zila. Suara Hilda yang mempersilahkan Dokter masuk ke rumah sudah terdengar samar-samar dari dalam kamar. Belum lagi suara kedua mertuanya yang masuk.
Zila semakin dilanda perasaan takut saat mendengar derap langkah menuju kamarnya. Jantungnya berdebar kencang , Zila sangat tegang. Naga yang melihat, ikut merasakan ketegangan yang dirasakan Zila.
"Sayang, coba tenangkan dirimu, jangan tegang begini," hibur Naga mencoba menenangkan Zila yang gelisah. Bukan tanpa alasan, Zila tahu dirinya sedang melakukan sandiwara yaitu pura-pura hamil. Jika Dokter itu memeriksanya, Zila takut kehamilan yang diada-adanya pasti ketahuan dan dia tentunya akan menjadi bulan-bulanan adik ipar serta kedua mertuanya.
Hilda masuk kamar Naga, disusul Dokter Rama yang merupakan Dokter keluarga Naga. Dokter Rama sudah terbiasa dipanggil langsung ke rumah Naga jika ada yang sakit.
Zila semakin gelisah dan tiba-tiba keringat dingin muncul di dahinya. Bu Hilsa dan Pak Hasri yang baru pulang dari Singapura dalam rangka menerima berbagai penghargaan, sempat heran dengan keriuhan yang mereka dengar di lantai atas.
Bu Hilsa dan Pak Hasri menyusul ke atas dengan harapan tidak ada masalah yang bisa menghancurkan kebahagiaan yang baru didapat karena mendapatkan penghargaan di Singapura. Pak Hasri dan Bu Hilsa mendapatkan berbagai penghargaan bergengsi, yakni *the best company founder, top brand product, dan the best quality*. Semua didapat tidak lepas dari kerjasama para klien dan seluruh karyawan di perusahaannya. Mereka berdua patut berbangga dan bahagia. Sayang sekali jika kebahagiaan yang didapat itu hancur dengan kabar yang tidak mengenakkan.
Bu Hilsa dan Pak Hasri mulai memasuki kamar Naga, yang kini sudah disesaki orang yang ingin menyaksikan Zila diperiksa, tepatnya ingin melihat Zila dipermalukan di depan keluarga.
Melihat Zila gelisah dan pucat seperti itu, Hilda hanya tersenyum penuh kemenangan. Inilah saatnya membongkar sebuah kebohongan yang dibuat Zila.
__ADS_1
Naga yang sejak tadi masih setia di samping Zila, tidak hentinya memberikan kekuatan. Dia mencoba menguatkan Zila, Naga tidak masalah jika Zila harus ketahuan benar-benar tidak hamil. Rasa malu yang Zila rasakan akan dia tanggung bersama Zila. Naga akan gentle mengakui kenapa Zila melakukan kebohongan itu.
"Silahkan, Dokter. Itu Kakak ipar saya, sudah beberapa kali katanya perutnya mengalami keram. Apakah ini disebabkan oleh kehamilannya?" ujar Hilda memberikan sedikit keterangan tanpa mendapatkan persetujuan dari Naga ataupun Zila.
Zila sangat kesal dengan Hilda yang sepertinya sengaja menghadirkan Dokter Rama hanya untuk mempermalukannya dengan membongkar kebohongannya.
Kembali rasa tegang dirasakan Zila, tapi kini dia pasrah apapun yang akan terjadi. Lagipula Zila bukan tipe lemah yang cukup diam saja jika ditindas atau dipermalukan. Zila akan melawan dan membela diri sekuat yang dia mampu.
Naga berdiri dari ranjangnya dan memberikan kesempatan pada Dokter Rama untuk memeriksa Zila sembari harap-harap cemas. Zila terbaring sesuai arahan Dokter Rama. Dokter Rama memeriksa suhu tubuh Zila terlebih dahulu. Lalu meraba-raba leher dan dada Zila serta perutnya dengan sebuah alat, yaitu stetoskop.
"Sebetulnya keram yang dirasakan Nona Zila bisa diakibatkan karena kelelahan. Suhu tubuhnya juga agak tinggi. Keram ini bisa terjadi pada ibu hamil yang usia kehamilannya masih muda atau di trimester pertama. Tapi ini wajar terjadi. Solusinya mudah, Nona Zila bisa baringkan tubuh dengan perlahan dan mengatur posisi tidur. Jika kelamaan terlentang menimbulkan sakit atau perasaan tidak enak, maka rubah posisi baringnya," anjur Dokter Rama.
Semua yang ada di dalam kamar itu, masih berharap mendengarkan penjelasan selanjutnya dari Dokter Rama yang bagi sebagian besar masih samar. Naga dan Zila diam tidak bersuara, masih menunggu penjelasan Dokter Rama lebih lanjut.
"Sebetulnya menantu saya kenapa, dia akhir-akhir ini sering merasakan keram?" Bu Hilsa menyela dalam keheningan, tanya yang sejak tadi dipendam akhirnya keluar juga, dia penasaran dengan yang sesungguhnya terjadi pada Zila.
__ADS_1
"Menantu Nyonya saat ini sedang hamil muda, usia kehamilannya kini memasuki minggu ke tiga. Jadi keram yang dialami menantu Nyonya bisa karena kelelahan. Jadi saya anjurkan Nona tidak melakukan kegiatan yang berat terlebih dahulu, karena ini bisa juga mempengaruhi ketegangan dan perut menjadi keram," terang Dokter Rama terang benderang. Semua yang ada di dalam kamar kaget.
Kaget bahagia dan kaget tidak percaya berbaur menjadi satu. Naga yang sejak tadi harap-harap cemas, mendadak ceria. Dengan sedikit melonjak merayakan kebahagiaannya, Naga menghampiri Zila dan meraih tangannya yang diremasnya sebagai bentuk rasa bahagia.
"Sayang, kamu hamil. Kita akan punya anak," ucap Naga setengah menjerit. Wajahnya nampak rona bahagia. Bisa dibayangkan inilah kebahagiaan yang dirasakan Naga yang tidak terkira, sebab dua pernikahannya yang terdahulu, Naga tidak memiliki keturunan dengan berbagai alasan. Tiba-tiba Naga meneteskan air mata saking bahagianya.
Bu Hilsa dan Pak Hasri serta Hilda masih bengong tidak percaya. Meskipun mereka sudah mendengar kabar kehamilan Zila dari mulut Zila sebulan yang lalu, tapi kini berita kehamilannya diperkuat dengan pengakuan Dokter Rama, sehingga baik Bu Hilsa dan Pak Hasri merasa yakin. Mereka terbengong antara senang dan perasaan yang masih tidak percaya.
"Hemm, usia kandungannya baru tiga minggu, itu artinya kemarin itu dia memang berbohong untuk menghindari aturanku di rumah ini, tepat seperti apa yang Hilda katakan." Bu Hilsa berbicara di dalam hatinya.
"Dia benar-benar hamil. Tapi usia kandungannya masih tiga minggu, itu artinya kemarin itu si Zila membohongi kami semua. Huhh, memang dia pandai bermain watak." Hilda mendengus kesal di dalam hatinya.
"Baiklah untuk informasi yang lebih jelasnya, Mas Naga langsung periksakan istrinya ke Dokter kandungan. Saat ini saya hanya bisa memberikan obat demam yang aman dikonsumsi oleh ibu hamil, sebab Nona mengalami suhu tinggi akibat keram yang dialaminya," ujar Dokter Rama sembari memberikan secarik kertas resep untuk ditebus Naga.
Setelah pemeriksaan yang cukup intens yang dilakukan oleh Dokter Rama, satu per satu orang di dalam kamar itu keluar.
"Dokter Rama, terimakasih atas kedatangannya," ucap Naga sebelum Dokter paruh baya itu keluar kamar. Naga dan Dokter Rama bersalaman. Naga kembali ke kamar menghampiri Zila yang sebetulnya masih shock.
__ADS_1
Zila sebetulnya masih tidak menduga bahwasanya dia hamil, sebab selama ini di merasa sudah meminum pil KB dengan rutin, kecuali saat di Lembang. Zila pikir sekali saja melakukan maka tidak akan sampai bocor. Tapi kenyataan ini menguntungkan posisinya juga. Sebab Zila benar-benar hamil disaat dirinya berpura-pura hamil.