
Rematan tangan Nagi semakin kuat, tubuh Hilda bergeser dan kini berhadapan dengan Nagi. Wajah dewasa yang kian tampan itu semakin tampan saja di mata Hilda. Hilda hampir saja luluh. Dia baru menyadari, Nagi belum menceritakan pengorbanan dan perjuangan dia selama ini apa untuk mendapatkannya.
Hilda menepis dan berdiri menjauh dari Nagi. Nagi yang melihat reaksi Hilda merasa kaget. "Sayang, kenapa kamu menghindar?" Nagi kembali mendekati Hilda dan berdiri di samping gadis cantik yang kini semakin mempesona.
"Lalu perjuangan dan pengorbanan Kak Nagi untuk mendapatkan aku apa? Aku merasa Kak Nagi tidak memperjuangkan aku, selama ini aku malah dibiarkan menderita dengan menanggung kerinduan," tukas Hilda seraya berpangku tangan.
"Ini yang ingin aku sampaikan padamu. Pengorbanan aku adalah sama seperti apa yang kamu rasakan, yaitu menahan rindu yang sekian lama aku simpan di dada ini. Lalu perjuangan aku adalah, selama ini aku mendirikan dan memajukan usaha kapas Ibu di Medan, yang awalnya hanya sebuah pabrik kecil dengan alat serba manual, akhirnya dengan dukungan Ibu Harumi dan kegigihanku untuk meraih sukses seperti Bang Naga, akhirnya pabrik kapas yang hanya skala kecil, kini menjadi perusahaan besar ternama. Semua berkat Ibu, Ibu Harumi yang selalu motivator pertamaku. Dia satu-satunya orang tua yang paling berjasa dalam hidupku," terang Nagi panjang lebar melanjutkan ceritanya tentang perjuangan dan pengorbanannya selama ini.
"Itu bukan pengorbanan dan perjuangan demi mendapatkan aku, tapi itu hanya untuk diri Kak Nagi dan perusahaan Kak Nagi. Semua itu sudah kewajiban Kak Nagi sebagai seorang insan yang bertanggung jawab untuk dirinya sendiri," sangkal Hilda menampik bahwa pengorbanan dan perjuangan yang Nagi ceritakan bukan bentuk usaha mendapatkan dirinya.
"Tidak Sayang, semua itu untuk kamu. Jika aku tidak berkorban menahan semua kerinduan aku dan tetap menghubungimu, maka aku tidak yakin kamu akan sukses dan menempuh pendidikan sampai S1 seperti sekarang ini. Lalu jika aku tidak berusaha menahan kerinduan aku dan nekad menghubungi kamu sembunyi-sembunyi dari Papa kamu misalnya, bisa jadi kita kebablasan dan akhirnya aku merusak kamu karena obsesi kamu yang ingin dimiliki aku. Apakah sampai di sini kamu paham?" Nagi menjeda sejenak bicaranya, beberapa saat kemudian berbicara lagi.
"Lalu perjuangan aku, seperti yang aku ceritakan tadi. Berkat doa dan motivasi dari Ibu Harumi, tanpa menyerah aku berjuang mendirikan perusahaan Kapassindo NagiMedani sehingga menjadi besar dan punya nama, dan semua itu hanya untuk kamu, untuk bisa menghidupi kamu jika kamu. Dengan berdirinya perusahaan kapas itu, aku berharap tidak malu saat melamar kamu di hadapan Papa Hasri dan Mama Hilsa. Karena aku datang ke Bandung ini, tujuanku hanya satu yaitu melamar kamu," tegas Nagi dengan wajah yang serius dan tegas berharap gadis cantik nan muda di sampingnya bisa mengerti.
Hilda terbelalak tidak percaya saat mendengar sebuah perusahaan yang tidak asing lagi di telinganya disebutkan Nagi. Jadi, selama ini kapas yang dipakainya merupakan kapas buatan perusahaan Nagi. Dalam hati Hilda, dia merasa bangga sekaligus terharu. Inginnya saat itu juga Hilda ingin memeluk Nagi seperti dulu. Namun, Hilda kini sedang berusaha menahan hasrat cintanya yang menggebu-gebu itu, dan berusaha menjadi Hilda yang diinginkan Nagi, minimal menjaga sikap dalam menghadapi Nagi sebagai lawan jenis.
Hilda pun tidak ingin menghancurkan kepercayaan Papanya yang kini sudah mengijinkan dirinya berhubungan dengan lelaki mana saja termasuk Nagi asal tidak melewati batasan yang menyimpang. Hilda juga tidak ingin Nagi buruk di hadapan kedua orang tuanya. Alasan Nagi dibuang pun itu karena Papa Hasri tidak ingin antara Hilda dan Nagi terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Bagaimana, apakah kamu sudah paham dengan semua yang Papa Hasri lakukan dengan membuang aku? Juga paham kenapa aku tidak menyusul mu saja sembunyi-sembunyi dari Papa dan Mama Hilsa sebebas kita mau? Lalu apa kamu paham, perjuangan aku itu untuk tujuan apa? Semua untuk meraih hati Papa Hasri dan Mama Hilsa supaya aku bisa diterima oleh mereka untuk mendampingi kamu," tegas Nagi seraya mendekati Hilda dan secepat kilat meraih pinggang Hilda.
Hilda dan Nagi kini saling berhadapan dengan tangan Hilda menyilang di dadanya. Hilda merasa Nagi kini berbalik agresif dan semakin kuat tenaganya.
"Apa yang akan Kak Nagi lakukan?" tanya Hilda menatap takut ke wajah Nagi. Nagi tersenyum dan menikmati setiap inci wajah Hilda yang semakin cantik. Mata dan bibirnya yang sangat Nagi suka merupakan daya tarik Hilda paling utama baginya.
__ADS_1
"Biarkan aku menikmati cantiknya wajahmu beberapa saat, aku rindu semua yang ada di wajahmu, termasuk rindu dengan hembusan nafasmu. Semua itu tidak pernah aku lupakan dalam ingatanku. Jadi, kamu harus menjadi milikku. Aku mencintai kamu Hilda," ungkap Nagi menggebu-gebu seraya semakin kuat memeluk tubuh Hilda. Hilda tidak bisa berontak seiring semakin dekatnya sapuan hembusan nafas yang wangi dari mulut Nagi. Lalu ciuman itu tidak terhindarkan lagi.
Hilda yang tadinya ingin menghindar dan jual mahal, nyatanya kini menikmati sentuhan itu dan membalas setiap kecupan yang Nagi berikan.
"Betapa aku merindukanmu. Aku ingin memiliki kamu secepatnya dan kamu harus jadi milikku," ucap Nagi memberi ruang pada wajah keduanya yang tadi sangat rapat. Lalu ciuman itu kembali mendarat, lagi-lagi Hilda tidak menolaknya, dia seakan hanyut dalam buaian Nagi. Sepuluh menit kemudian.
Hilda melepaskan ciuman itu, dan itu sudah cukup lama, dia kali ini tidak ingin kebablasan. Semua itu sudah cukup bahkan berlebihan.
Hilda menarik nafasnya dalam lalu melepaskan perlahan. Lalu melepaskan tubuhnya perlahan dari dekapan Nagi yang merasakan kerinduan yang menggebu. Hilda juga menyadari dirinya mengalami yang sama, jika hal ini berlanjut, maka akan berbahaya bagi dirinya juga Nagi. Kali ini harus benar-benar kuat mempertahankan mahkotanya supaya bisa dia serahkan di malam pertama pada suaminya.
"Aku tidak mau kita kebablasan. Bukankah tujuan utama Kak Nagi datang ke Bandung untuk melamar aku, bukan mau merusak aku?" Nagi tersenyum, benar kata Hilda tujuan utama dia adalah melamar Hilda dan menjadikan dia satu-satunya ratu di hatinya.
"Betul sekali, kamu sangat cerdas sayang, dan kejadian barusan bukan hanya aku yang mau, tapi juga kamu. Kamu tahu, bagaimana pun kamu harus jadi miliki, karena kalau tidak kamu akan rugi, sebab ...."
Nagi tertawa menertawakan tudingan Hilda yang salah besar, sebab maksud Nagi bukanlah itu melainkan Nagi sudah melihat Hilda seutuhnya dari CCTV cincin berlian yang dia kirim untuk Hilda, saat Hilda lupa melepasnya saat mandi. Nagi merasa beruntung, sebab dua kali dia bisa melihatnya. Setelahnya Hilda selalu melepaskan cincin itu saat mandi, dengan alasan takut rusak.
"Maafkan aku Sayang, telah mencurangimu. Itulah sebabnya mau tidak mau kamu harus menjadi milikku," batinnya tersenyum.
Nagi menghampiri Hilda yang kini jinak lagi. Dia menangkap tubuh Hilda yang sedang melihat keluar jendela. Hilda terkejut dan menyesal tadi tidak menuju kamar mandi saja supaya tidak diuber-uber Nagi. Nagi kini memeluknya dari belakang menikmati wangi rambut yang ditimbulkan kepala Hilda.
"Wangi banget, aku sangat merindukan wangi ini," endusnya sembari meremat jemari Hilda dan menyatukannya. "Sayang, maukah kamu menjadi istriku dengan segala ketampananku?" tanya Nagi diiringi tawa. Hilda kesal dengan candaan Nagi yan dinilainya tidak bermutu.
"Kak Nagi sangat sombong, aku tidak suka. Aku sudah tahu Kak Nagi tampan, tapi jangan sampai sesombong itu," gerutunya kesal sembari ingin melepaskan rematan tangan Nagi. Namun sayang, Nagi sangat kuat merematnya.
__ADS_1
"Ok, aku minta maaf. Sekarang aku ingin bicara serius. Aku ingin melamar kamu," ungkapnya seraya membalik tubuh Hilda dan menatapnya lembut.
"**Hilda Regana Putri** apakah kamu bersedia menikah denganku, dengan segala kekurangan aku dan kemiskinan kasih sayang dalam hidupku dari seorang Papa kandung? Maukah kamu menjadi bagian dalam hidupku dan mewarnai hidupku sepanjang hayatku dan menua bersama?" Saat Nagi menyebutkan 'kemiskinan kasih sayang dalam hidupku', Nagi terlihat sedih. Hilda pun merasakan kesedihan itu. Sedalam itu Nagi merasakan kesedihan kekurangan kasih sayang seorang Papa kandung. Padahal selama ini di tidak kekurangan kasih sayang dari Papa Hasri dan Mama Hilda.
Hilda mendongak, matanya ikut berkaca-kaca, dan jawaban dia kali ini tidak ingin membuat kaca-kaca di mata Nagi bertambah banyak dan jatuh. Dengan hati yang mantap Hilda menjawab.
"A~aku mau menjadi bagian dalam hidup Kak Nagi dan mewarnai kehidupan Kak Nagi, serta menua bersama Kak Nagi," ucapnya yakin dan lepas seperti ada kebahagiaan yang besar yang dia rasakan.
Nagi sontak bersorak dan segera meraih cincin emas yang tadi disimpan di sakunya.
"Benarkah kamu menerima aku?" tanyanya sembari membuka kotak perhiasan yang di dalamnya terdapat sebuah cincin emas 10 gram. Nagi perlahan memasang cincin itu di jari manis Hilda lalu mencium kening Hilda dengan mesra dan penuh kasih sayang.
"Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Sayang. Cuppp." Kecupan itu pun terjadi lagi menjadi saksi bahwa mereka kini sedang bahagia dan kasmaran.
__ADS_1