Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Musim 3 Nagi dan Hilda #Handi Ingin Kembali


__ADS_3

Ralat ; Guysss saya di sini mau minta maaf, soalnya dalam bab-bab di musim tiga ada sedikit kesalahan tentang nama Papa Harsya alias adiknya Papa Hasri. Ternyata setelah saya tadi baca ulang di bab sebelumnya yaitu (bab 114) ternyata nama adiknya Papa Hasri adalah Handi Prayogi. Duhhhh babnya sudah jauh, dan ternyata namanya bukan Harsya. Mohon maaf ya jika nanti saya ganti di bab ini namanya, sebab ada beberapa bab lagi yang masih melibatkan Handi (bukan Harsya). Jadi mohon maklum. Author kadang lupa nama-nama tokoh, saking banyaknya tokoh. Revisi nama akan berjalan slow....terima kasih bagi yang masih setia baca karya saya yang sederhana ini.


Ada dua bab dalam satu part kali ini, jadi jangan bosan baca ya...


Kembali Mengungkit Dulu kisah Handi Prayogi dan Harumi


    Handi Prayogi adik kandung dari Papa Hasri yang kini bermukim di kota Makassar dan lebih memilih menjadi seorang Direktur utama perusahaan sang Kakak yaitu Papa Hasri, ketimbang membangun perusahaan seperti Kakaknya yang jauh lebih dulu sukses dengan perusahaan di mana-mana. Dia lebih senang mengabdikan diri pada perusahaan Kakak kandungnya.


    Setelah peristiwa datangnya Nagi ke kota Makassar yang sengaja menemuinya untuk mengetahui penyebab perceraian Ibunya dan Handi, Handi sedikitnya merasa menyesal telah melimpahkan kesalahan pada Nagi yang diyakininya merupakan anak biologis dari laki-laki bajingan bernama Guntur.


    Handi sebetulnya merasa iba dengan Nagi yang selalu mendatanginya untuk sekedar dianggapnya sebagai anak. Tapi kebencian Handi yang terlanjur mendarah daging pada Guntur, sehingga dengan dendam yang masih membara, Handi menjadikan Nagi kambing hitam atas kesalahan ayah biologisnya yaitu Guntur.


    "Maafkan Papa, Gi. Seharusnya kamu tidak kena imbas dari kesalahan ayah biologismu. Harusnya dendam itu sudah sirna sejak Papa mendapat kabar bahwa Guntur telah meninggal sehari setelah tertabrak truk gandeng di jalan itu saat dikejar Papa. Dia yang telah menghancurkan rumah tangga Papa sama Ibumu yang Papa cintai." Handi menangis menyesali sikapnya yang salah telah melimpahkan semua kesalahan Guntur pada Nagi.


    "Sekarang Papa sadar betapa kamu begitu baik, dan kebaikanmu telah kamu torehkan sejak dahulu sejak kamu dirawat dan dibesarkan oleh tangan hebat Kakakku dan Kakak iparku, Mas Hasri dan Mbak Hilsa. Mereka berjasa besar dalam merawatmu. Dan atas didikan mereka dan kasih sayang mereka, kamu menjadi Nagi yang baik budi, pekerja keras dan berbakti. Tapi sayangnya, Papa tidak melihat segala kebaikanmu menjadi hal yang membanggakan. Papa justru terus terbawa arus dendam yang berkecamuk dalam dada, sehingga dirimu menjadi korban kebencian Papa. Papa minta maaf, Gi. Papa salah menyimpan dendam terlalu lama dan melimpahkan kesalahan ayah biologismu padamu."


    Handi masih terpuruk menangisi kesalahannya yang telah bersikap tidak adil pada Nagi. Kini tangis itu pecah karena Handi baru menyadari bahwa kebencian dan dendamnya pada Nagi atas kesalahan ayah biologisnya itu sama sekali tidak baik dan malah menghancurkan rasa simpatik seseorang. Harumi yang masih dicintainya, kini berubah haluan, balik membencinya. Padahal pertemuan kemarin yang bertahun-tahun lamanya dia harapkan, bisa menjembatani tali kasih cinta di masa lalu itu, nyatanya tidak membuat Harumi jatuh simpatik. Harumi terlanjur kesal dengan sikap Handi yang terlalu melimpahkan kesalahan Guntur pada Nagi.


    "Aku harus apa untuk membuat Harumi bisa kembali bersamaku? Apa aku harus meminta maaf dan bersujud pada Harumi dan mengaku menyesal telah bersikap tidak adil sama Nagi? Baiklah Harumi, jika itu memang kemauan kamu, aku akan datang menemuimu untuk meminta maaf, lalu kamu atur pertemuan aku dengan anakmu supaya aku bisa meminta maaf juga pada anakmu itu." Handi bertekad untuk meminta maaf pada Harumi dan Nagi, lalu meminta Harumi kembali padanya untuk menemani masa tuanya.


    "Aku ingin menghabiskan masa tuaku bersamamu Harumi, semoga kamu berkenan kembali dan memaafkanku. Aku mencintaimu Harumi," ucap Handi lagi di tengah isak tangisnya tentang sebuah penyesalan.


    Hari ini Handi bertekad akan menemui Harumi di kota Medan, kebetulan dia kini sudah mengantongi alamat Harumi di sana. Dia harus kembali meyakinkan Harumi bahwa dirinya masih membutuhkan Harumi dan ingin menghabiskan masa tua bersama Harumi.


    "Tunggu aku Harumi."


    Pesawat yang ditumpangi Handi menuju Bandar Udara Kuala Namu, Medan, kini sudah mendarat dengan selamat di landasan pacu. Handi mengucap syukur karena perjalanannya diberi kelancaran dan keadaan cuaca serta alam yang sangat cerah. Handi punya firasat kedatangannya dengan niat baik pasti akan membuahkan hasil yang baik. Itu keyakinan Handi ketika kakinya baru satu langkah diinjakkan di kota Medan.


    Handi menaiki sebuah taksi untuk mengantarnya ke sebuah alamat, di mana Harumi tinggal. Satu jam kemudian, taksi yang Handi tumpangi sampai di depan sebuah rumah yang asri dan berukuran sedang. Keadaan rumah itu dari luar nampak teduh dan nyaman bagi siapa saja yang melihat maupun yang menempatinya.


    Keadaan rumah siang ini terlihat sepi. Handi berjalan perlahan mendekati muka rumah. Halaman rumah yang lumayan luas dengan berbagai bunga yang bermekaran, menambah indah panorama pemandangan halaman rumah Harumi.

__ADS_1


    Handi kini sudah di depan pintu rumah Harumi. Jantungnya kini berpacu sangat cepat, seolah akan bertemu dengan seorang musuh yang akan siapa bertarung.


    Handi menegarkan kembali hatinya sebelum mengetuk pintu dan mengucap salam.


    "Tok, tok, tok, assalamualaikum." Sebuah ketukan yang diiringi ucapan salam kini diperdengarkan. Namun tidak ada yang menyahut atau menghampiri Handi. Lalu Handi mengulang kembali mengetuk pintu dan mengucap salam. Yang kali ini dia berharap ada yang menyahut.


    "Assalamualaikum," ucapnya lantang. Namun tetap saja nihil tidak ada yang menyahut. Handi berdecak sedikit putus asa. Namun dia sudah terlanjur di sana. Tekadnya tidak akan menyerah begtu saja untuk memohon kemaafan dari Harumi dan memintanya kembali bersamanya.


    "Om mau ke siapa?" tanya seseorang bersuara lembut menegurnya.


    "Om mau bertamu ke rumah Bu Harumi, apakah dia tidak berada di rumah, soalnya rumahnya sepi?" tanya Handi penasaran dan berharap gadis muda yang berada di hadapannya ini memberikan pencerahan.


    "Tante Harumi? Tante Harumi sedang tidak berada di rumah, beliau sedang di pabrik kapas milik anaknya," jawab gadis muda yang diduga adalah tetangga rumah Harumi.


    "Kira-kira jam berapa Bu Harumi kembali dari pabriknya? Dan kira-kira alamat pabriknya dekat atau jauh dari tempat ini?' tanya Handi ingin memastikan.


    "Letak pabriknya tidak jauh, tepat berada di belakang rumah ini. Jika Om mau menunggu, tunggu saja. Sebab kira-kira dua jam lagi Tante Harumi kembali," jelas gadis muda itu membuat Handi sedikit lega.


    Handi memutuskan menunggu Harumi di depan rumahnya yang tersedia bangku panjang dan juga meja. Sepertinya Handi sangat menikmati keadaan halaman dan teras rumah yang asri, sehingga dia ketiduran karena ngantuk.


    Harumi yang pulang dari pabrik dan memasuki rumahnya cukup dari pintu belakang rumah. Menyadari ada seseorang yang terbujur di bangku teras rumahnya setelah dia dengan sengaja membuka pintu depan dan langsung terkejut saat menemukan tubuh yang sepertinya lelah itu.


    Harumi menatap lekat ke arah orang yang duduk di depan teras rumahnya itu. Dia penasaran dan nekad mendekati Handi untuk meyakinkan siapakah orang tersebut.


    "Pak, Pak, maaf, bangun." Harumi menggoyang tubuh yang terbujur itu pelan. Karena belum bangun juga, Harumi mengulang kembali goyangannya di bahu Handi.


    Handi perlahan mulai bergerak-gerak membuka wajah yang tadi sengaja ditutupi topinya. Dia meregangkan ototnya sejenak dari ketegangan yang ada. Lalu Handi bangkit dan duduk sempurna di bangku itu.


    Harumi tersentak saat matanya dengan penuh melihat dengan jelas bahwa yang ada di hadapannya adalah Handi, mantan suaminya 27 tahun silam. Harumi mundur selangkah ke belakang dengan wajah yang ditutupi tangan kirinya. Rasa tidak percaya kini menggelayuti dirinya.


    "Mas Handi, benarkah ini Mas Handi?" kejutnya. Handi segera berdiri sempurna setelah dia benar-benar tersadar dari alam mimpinya, sejenak dia mengucek mata menghilangkan dari sisa kantuknya.

__ADS_1


#Meminta Harumi Kembali dan Menua Bersama


    Handi terkejut setelah matanya kini menatap sempurna dan melihat di depannya ternyata Harumi, wanita yang selama ini masih selalu dicintainya.


    "Harumi!" serunya bahagia, lalu mengulurkan tangannya spontanitas. Harumi tidak membalas uluran tangan Handi itu, dia justru mundur selangkah lagi menuju muka pintu.


    "Harumi, tolong jangan pergi." Handi berhasil menahan tangan Harumi sehingga tubuh Harumi tertahan di muka pintu rumahnya.


    "Mau apa kamu datang kemari, Mas? Jangan ganggu hidupku lagi yang sudah lama bahagia tanpa usikanmu. Pergilah, aku tidak ingin melihatmu!" usir Harumi seraya mengibas tangannya.


     "Tidak, aku kemari hanya ingin meminta maafmu. Aku ingin kembali padamu. Aku ingin menua bersamamu. Aku juga telah menyesal atas sikapku pada Nagi. Aku ingin meminta maaf pada Nagi. Sekarang aku ingin kembali bersamamu dan menua bersamamu. Aku mohon, ampuni aku Harumi, aku menyesal telah bersikap tidak adil pada Nagi. Aku jua menderita selama berpisah darimu. Percayalah, selama ini aku selalu mencintaimu."


    Panjang lebar Handi mengungkapkan semua isi hatinya di depan Harumi, dia tidak mau berbasa-basi lagi. Dia ingin meyakinkan Harumi bahwa dirinya menyesali perbuatan yang telah bersikap tidak adil pada Nagi juga telah meninggalkan Harumi karena kecewa atas peristiwa pahit yang menimpa Harumi yang berakibat hancurnya rumah tangga mereka.


    "Aku mohon kamu percaya, aku datang kemari hanya ingin meminta maaf darimu dan ingin kembali bersamamu serta menua bersamamu. Aku mohon Harumi, kabulkan permintaanku sebagai permintaan terakhir." Handi memohon-mohon dengan tangan yang ditangkup. Harumi bingung, dia ingin melepaskan cekalan tangan Handi tapi tidak bisa.


    "Mas, lepaskan dulu. Aku takut dilihat orang lain. Bangkitlah dan duduk yang benar, kita bicarakan apa yang sebenarnya kamu ingin," bujuk Harumi seraya perlahan menepis tangan Handi. Handi lama-lama luluh dan percaya, Harumi bisa diajak bicara dari hati ke hati. Handi melangkah mundur menuju bangku yang didudukinya tadi dengan mata yang menatap lekat ke arah Harumi. Handi takut Harumi membohonginya dan masuk ke dalam rumah.


    "Harumi, aku sudah duduk. Maka kamu juga duduk. Kita bicarakan hal serius tentang hubungan kita. Aku ingin kembali bersamamu. Aku mohon." Handi lagi-lagi memohon dengan menangkupkan tangannya di depan dada seperti tadi.


    "Kenapa kamu meminta itu, Mas? Walaupun kamu meminta, tapi kita sudah tidak bersama. Sebab, aku sudah tidak ingin hidup bersama siapapun. Aku sudah tenang hidup sendirian seperti ini." Harumi meyakinkan dirinya bahwa dirinya lebih baik sendiri dan bahagia.


    "Tolong beri aku kesempatan sekali ini saja, Harumi. Aku mohon, aku minta maaf atas kesalahanku padamu di masa lalu. Aku juga ingin minta maaf sama Nagi atas sikapku yang telah jahat padanya. Sungguh, aku menyesal telah berbuat tidak adil pada Nagi dan kamu. Aku mohon Harumi, hidupku sudah hancur sejak lama dan selama itu aku tidak membuka hatiku pada perempuan manapun, sebab aku masih selalu mencintaimu. Percayalah padaku Harumi, aku mohon." Lagi dan lagi Handi memohon pada Harumi yang hanya mampu diam.


    Harumi nampak iba, tapi dia bingung harus melakukan apa. Jika dia menerima kembali Handi, usianya kini sudah hampir lima puluh tahun sudah saatnya menikmati hidup tanpa beban. Dan lagi, jika dia menerima kembali Handi, maka tidak menutup kemungkinan masa lalu itu akan selalu terkenang oleh Handi, dan yang Harumi takutkan adalah Handi mengungkit masa lalu itu saat sudah bersama.


    "Aku tidak mau mengungkit luka lama jika seandainya kita kembali bersama, sebab tidak menutup kemungkinan jika kamu teringat Nagi maka kamu akan ingat bajingan itu. Aku takut kamu mengungkit masa lalu saat kamu dalam keadaan mengingat Guntur. Jadi, kalau kita bersama lagi, itu tidak akan mudah, Mas. Kamu pikirkan baik-baik dan jangan terburu-buru mengambil keputusan," jawab Harumi memalingkan wajah ke arah lain.


    "Aku sudah menyesali perbuatanku pada Nagi, Harumi. Apakah kamu masih belum percaya? Aku sungguh-sungguh menyesal. Aku masih mencintaimu. Dari dulu sejak aku memutuskan menceraikanmu, jiwaku tersiksa dan menderita. Aku juga hampir gila karena selalu kena tipu orang saat merintis usaha dan membangun perusahaan sendiri. Semua itu karena aku tidak fokus dan menyesali perbuatanku yang telah menceraikanmu." Handi begitu menggebu-gebu mengungkapkan rasa di hatinya yang selama ini menderita dan penuh penyesalan.


    Harumi diam tidak membalas lagi ucapan Handi, dia kini dilanda dilema. Jika dia terima Handi, maka dia takut suatu saat Handi akan teringat kembali masa lalu yang merenggut pernikahannya lalu Handi trauma dan kecewa dan timbul rasa benci lagi. Dan jika tidak diterima, tapi hati kecil Harumi sejujurnya masih sama seperti pengakuan Nagi bahwa dia juga masih mencintai Handi.

__ADS_1


    "Aku harus berpikir keras dulu, Mas, sebelum ambil keputusan. Aku juga harus meminta pendapat Nagi. Jika dia tidak setuju, maka aku akan mengikuti kemauannya Nagi. Sekarang aku memasrahkan semuanya pada Nagi," tukas Bu Harumi gamang. Bagaimanpun dia tetap harus melibatkan Nagi dalam keputusannya yang akan diambil.


    "Aku yakin Nagi akan menyetujuinya, dia anak yang baik selama aku mengenalnya. Jadi, saat ini aku tinggal meminta persetujuannya. Aku akan meminta persetujuannya diterima ataupun tidak. Tapi aku harap Nagi menerima permintaanku ini." Handi berkata dengan kesungguhan hatinya.


__ADS_2