Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 114 Musim 2 Peristiwa Kelam Di Balik Kehadiran Nagi


__ADS_3

     "Ibuuuu," seru Nagi seraya menyambut pelukan wanita yang dia sebut Ibu. Dia Harumi mantan istri Handi yang diceraikan di depan Papanya Naga dua puluh empat tahun yang lalu.


     "Nagi, anakku," ucapnya seraya merangkul Nagi lalu tidak terasa air matanya luruh membasahi pipinya yang mulai dihiasi kerutan halus. Perempuan paruh baya berkerudung segi empat itu perlahan mengelus punggung Nagi dengan rasa sayang. Kerinduan yang selama ini dipendam selama satu tahun karena jarak dan waktu yang memisahkan raga, kini tercurah sudah.


     Tanpa sepengetahuan Naga, Pak Hasri dan Bu Hilsa, Nagi selalu mengunjungi Ibunya setahun sekali ke kota Medan. Kota yang menjadi pengasingannya selama bertahun-tahun sejak dia diceraikan Handi mantan suaminya. Tangisan rindu itu mulai reda, Ibunya Nagi mulai melepaskan rangkulannya dan menangkup wajah Nagi dengan kedua tangannya.


     "Kamu datang lagi, Nak? Semakin tahun kamu semakin tampan. Kapan kiranya anak Ibu yang tampan ini membawa menantu buat Ibu kesini? Rasanya Ibu sudah tidak sabar ingin memangku cucu," ungkapnya sendu memperlihatkan rasa kesepiannya yang mendalam.


     Nagi meraih salah satu tangan Bu Harumi lalu dibawa menuju bibirnya dan dikecupnya. "Ibu rupanya sudah tidak sabar ingin segera bermenantu. Doakan saja yang terbaik, Bu, supaya Nagi segera menemukan jodoh yang terbaik buat Nagi," harapnya disertai aamiin...


     "Bagaimana, apa kabarnya Ibu Saat ini?" kini giliran Nagi mempertanyakan kabar sang Ibu yang selalu saja menolak jika Nagi ingin membawanya ke Jakarta.


     "Seperti yang kamu lihat, Ibu selalu seperti ini, fisiknya saja yang sehat, tapi batin tidak," ucap Bu Harumi tanpa sadar mengungkap perasaan hatinya yang dia rasakan.]


     "Kenapa batin Ibu selalu tidak baik, apakah selama bertahun-tahun Ibu merasa tidak baik? Kalau begitu, katakan alasan Papa Handi selalu menganggap Nagi musuhnya setiap kali bertemu?" tatap Nagi memohon dan meminta penjelasan tentang Papanya yang selalu menganggapnya musuh.

__ADS_1


     Bu Harumi membuang mukanya ke kiri menghindari desakan Nagi, dia tidak akan kuasa menceritakan itu semua di depan anaknya yang selama ini sudah menderita bertahun-tahun lamanya.


     "Bu, katakan. Kenapa selau saja Ibu menghindar setiap kali Nagi membahas soal ini? Nagi hanya ingin tahu kenapa sikap Papa selalu menganggap Nagi musuh jika kita kebetulan bertemu?" desak Nagi seraya menatap mata Bu Harumi intens. Bu Harumi tidak kuasa menatap mata teduh sang anak.


     "Bu ...." Bu Harumi melepaskan rangkulan tangan Nagi yang sejak tadi merangkulnya. Bu Harumi berjalan menuju teras rumah lalu membuka pintu depan lebar-lebar. Rumah tipe sederhana itu hanya dihuni oleh dua orang, yakni Bu Harumi dan salah satu pegawai Bu Harumi yang selalu menemani Bu Harumi siang dan malam di rumah ini. Namun kebetulan hari ini Bu Hana salah satu pegawai di pabrik kapas milik Bu Harumi, minta pulang dua hari karena anak gadisnya akan wisuda.


     Nagi dengan langkah berat mengikuti Bu Harumi memasuki rumah itu. Seperti kebiasaannya, Bu Harumi selalu melakukan itu setiap kali dia datang dan menanyakan hal itu pada Ibunya. Entah apa yang dirahasiakan oleh Bu Harumi sehingga dia berat untuk mengungkapkan rahasia itu sampai bertahun-tahun bertahun-tahun.


     "Mandilah dulu, Nak. Kamu pasti cape. Hari sudah petang dan waktu Magrib pun sebentar lagi datang," suruhnya mengingatkan Nagi dengan waktu yang ternyata kedatangan dia ke kediaman Ibunya sudah hampir Magrib.


     Bu Harumi mendesah berat, dadanya seakan mendapatkan hantaman batu besar setiap kali mendengar Nagi mempertanyakan alasan di balik sikap Handi yang seperti memusuhinya.


     Terkenang sudah peristiwa 27 tahun yang lalu. Peristiwa pahit yang menimpa rumah tangga Harumi dan Handi yang baru menginjak usia tiga bulan. Harumi menjadi rebutan kakak tingkat di kampusnya kala itu. Handi dan Harsya saling bersaing untuk mendapatkan Harumi, mahasiswi tingkat tiga semester dua di universitas ternama di kota Bandung.


     Kala itu Harumi menjatuhkan pilihan pada Handi sang Kakak tingkat yang keren, tampan, dan perhatian serta tidak kurang ajar pada perempuan. Terlebih Harumi dan Handi memang sudah menjalin kasih sebelum Harsya mengetahui bahwa mereka menjalin kasih.

__ADS_1


     Akhirnya Harumi menikah dengan Handi. Kebahagiaan jelas terpancar di wajah keduanya. Namun sejak mereka menikah, rupanya Harsya menyimpan dendam dan luka sehingga ketika pernikahan mereka sudah berjalan tiga bulan, Harsya datang dengan sebuah rencana dan jebakan licik.


     Sore itu ketika satu jam lagi Handi pulang bekerja, Harsya mendatangi Harumi baik-baik dengan senyum yang meyakinkan dan ramah. Harumi sebetulnya tidak nyaman kedatangan Harsya, sehingga Harsya hanya dia aku di teras depan rumahnya.


     Dari situ dimulai awal penderitaan sekaligus musibah bagi pernikahan Harumi dan Handi. Entah bagaimana awalnya Harumi dan Harsya ketahuan sedang bercinta di kamarnya bersama Harsya. Handi sangat marah dan naik pitam, sehingga pada saat itu dia bagaikan kesetanan. Handi ngamuk membabi buta menyerang Harsya. Sementara Harumi dengan wajah yang lemas setengah sadar masih terbaring berselimutkan kain tipis di atas ranjang pada saat itu.


     Handi mengejar Harsya sampai ke jalan raya besar, sehingga pada saat bersamaan sebuah truk pengangkut batu bara berhasil menabraknya tanpa disengaja dan diduga, sebab Harsya mencoba berlari dari kejaran Handi yang marah pada saat itu.


     Tubuh Harsya yang terguling berdarah, diamankan warga lalu dibawa ke rumah sakit setempat. Setelah itu baik Handi maupun Harumi tidak lagi mendengar kabar tentang Harsya sejak dia dilarikan ke rumah sakit oleh warga.


     Sementara itu Harumi yang setengah sadar karena pengaruh suatu obat, mulai bangkit dan membenahi diri dan mulai mengenakan bajunya yang tercecer akibat ulah Harsya. Sebelum Handi datang dan saat dia masih mencari potongan baju yang tercecer, harumi menemukan sebuah bukti cangkang obat yang dia temukan di bawah meja rias di kamarnya. Cangkang itu dia pungut, kemudian dia raih dan disimpan sebelum Handi datang.


     Saat Handi datang keadaan Harumi masih lemah dan sulit ditanya, sebab Harumi masih dalam pengaruh obat yang menghilangkan setengah kesadarannya.


     Meskipun Handi marah, pada saat itu Handi membawa Harumi ke sebuah klinik dan Harumi sempat dirawat satu dan dinyatakan hamil dengan usia kandungan satu bulan. Handi terkejut dan marah saat itu sehingga ketika Dokter mau menjelaskan alasan yang menyebabkan kondisi Harumi kehilangan setengah kesadarannya ketika di bawa ke klinik, Handi sama sekali tidak mau mendengarkan karena dia terlanjur marah.

__ADS_1


__ADS_2