
"Kak Hasya, Diara, sejak kapan kalian saling kenal? Kenapa kalian seperti sudah akrab?" tanya Zila heran. Hasya dan Diara sontak membalikkan badan lalu menoleh ke arah Zila dan Naga yang kini sudah ada di samping Zila.
"Non Zila, apa kabar Nona? Selamat atas usia kandungan empat bulannya semoga Non dan bayi yang dikandungnya selalu sehat dan lahir dengan selamat," balas Hasya lalu ikut bergabung bersama Zila dan Naga. Zila langsung mengenalkan Diara pada Naga.
"Kak Naga kenalkan ini adalah anak satu-satunya Tante Zuli yang kebetulan sekarang bekerja di perusahaan Papa Hasri di Jakarta." Zila memperkenalkan Diara pada Naga.
Naga menyalami Diara lalu mempersilahkan menikmati hidangan yang ada di acara syukuran empat bulan kehamilan Zila yang diadakan oleh Mamanya ini.
Sudah hampir dua jam berlalu Hilda baru nampak batang hidungnya. Zila melihat Hilda nampak murung, Zila tahu Hilda sangat sedih memikirkan Naga yang tidak ada dalam hidupnya. Zila berinisiatif menghampiri Hilda dan meninggalkan ulu Naga serta Hasya juga Diara.
"Tunggu sebentar, aku mau panggil Hilda dulu," pamit Zila seraya menjauh dari mereka bertiga.
"Hilda, ayo, ikut aku." Zila menarik lengan Hilda mendekati Naga yang masih ngobrol bersama Hasya dan Diara.
"Apaan sih Zi, jangan tarik-tarik tangan gue dong, gue nggak mau dalam keramaian." Hilda menahan kakinya untuk tidak terseret oleh Zila.
"Kamu kenapa sedih begitu, kamu nampak murung. Apa karena Kak Nagi?"
"Sudahlah, Zi, jangan kait-kaitkan murung gue dengan Kak Nagi, gue hanya sedang tidak enak badan," alasan Hilda sembari melengos.
"Hilda, jika kamu masih tidak bersemangat begitu dan selalu murung begitu bagaimana bisa aku harus menyampaikan kabar baik pad Kak Nagi jika nanti dia telpon aku lagi? Aku yakin Kak Nagi pasti menghubungi aku lagi." Zila berusaha meyakinkan Hilda yang murung.
"Tapi kapan, kapan Kak Nagi akan menghubungi elo lagi?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu, Hil? Tapi jika kamu terlihat murung dan tidak bersemangat seperti ini, apa yang mesti aku katakan pada Kak Nagi nanti jika dia menelpon? Masa iya aku katakan kamu sakit dan murung, jika aku katakan demikian bisa jadi Kak Nagi akan sedih dan jadi prustasi di tempat keberadaannya sekarang."
"Dia kini di mana, Zi? Apakah sedikitpun tidak cerita sama kamu di mana Kak Nagi tinggal?" Hilda menyelidik.
"Aku tidak tahu Hil, Kak Nagi tidak pernah memberikan informasi tentang tempat tinggalnya. Tapi kamu harus berubah lebih baik demi Kak Nagi, supaya saat Kak Nagi mendengar kabar baik tentang kamu, maka Kak Nagi akan merasa bahagia dan semangat. Karena aku yakin Kak Nagi saat ini sedang merintis sebuah usaha, dan kabar baik tentangmulah yang akan membuat Kak Nagi semangat."
"Kak Nagi sedang merintis usaha apa, Zi? Kasih tahu aku?" Hilda memegang kedua bahu Zila, tidak sabar mendengar kabar lainnya tentang Nagi.
"Aku tidak tahu Kak Nagi merintis usaha apa, aku hanya menduga dan firasatku mengatakan bahwa Kak Nagi saat ini sedang merintis usaha untuk menopang kehidupannya. Untuk itu doa dan semangat hidup kamulah yang Kak Nagi butuhkan, meskipun kalian tidak saling dipertemukan."
Mendengar semua penuturan Zila barusan, Hilda semakin sedih. Nagi menjauh gara-gara Papanya yang sengaja menjauhkannya karena Papanya terlanjur tahu hubungan Hilda dan Nagi yang bukan sekedar sayang pada saudara melainkan sayang yang didasari rasa cinta sepasang kekasih.
"Ini semua gara-gara Papa," dengusnya nampak kesal.
"Ayo sekarang ikut aku, perlihatkan dulu wajah kamu di hadapan Kak Naga." Zila menarik paksa Hilda mendekati Naga.
"Rubah wajah murung kamu dengan penuh senyum," peringat Zila setengah berbisik. Hilda melelet-leletkan bibirnya saat Zila tidak henti-henti menasehatinya.
"Kak Naga, lihatlah siapa ini yang baru datang? Tega banget, acaranya sudah mau beres dia baru keluar dari sarangnya." Hilda mendilak mendengar ocehan Zila seperti itu. Sontak mereka bertiga yang tadi ditinggalkan Zila, menoleh serempak ke arah Zila dan Hilda.
"Non Hilda, apa kabar?" Hasya lebih dulu berbasa-basi pada Hilda.
"Kak Hasya, aku baik-baik saja. Lalu kabar Kakak bagaimana, selama ini sudah tidak terlihat di sini?"
__ADS_1
"Saya baik-baik saja Nona. Saya sudah jarang kelihatan karena selama ini ditugaskan oleh Bos Naga di luar kota. Bersyukurnya tugas itu kini sudah tahap penyelesaiannya, dan saya bisa berkumpul kembali di perusahaan Naga Group Bandung," ujar Hasya.
Sementara Hilda yang tadi berbicara pada Hasya, fokusnya terbagi saat dia tanpa sengaja melihat dengan jelas seseorang yang pernah dia lihat.
"Aku seperti mengingatnya, tapi di mana, lupa lagi." Hati Hilda bertanya-tanya dan berusaha mengingat perempuan yang kini berada dekat di samping Zila dan Hasya.
"Kak Hasya, pertanyaan aku yang tadi belum Kak Hasya jawab, sejak kapan Kak Hasya dan Diara seakrab ini?" pertanyaan Zila barusan sontak membuat jantung Hilda mendadak berdegup tidak beraturan.
"Benar dugaanku, dia orang yang sama saat aku dan Kak Nagi bertemu di Tangkuban Perahu, bukankah perempuan ini yang sempat disebut Kak Nagi sebagai perempuan dambaannya yang sempat disukainya saat itu? Aku ingin tahu lebih jauh hubungan dan perasaan dia ke Kak Nagi sekarang seperti apa." Hilda berbicara dalam hatinya.
"Kami kenal saat Diara pulang cuti ke kampung halamannya. Saat itu saya ke rumah Paman Kobar untuk memberitahukan masalah proyek pembangunan di kota Lembang itu. Lalu kami kenalan dan sampai sekarang kami masih saling kenal," jawab Hasya apa adanya mengenai perasaannya
"Pantas saja Kak Hasya seperti sudah tidak canggung lagi dengan Diara, rupanya kalian sebelumnya sudah saling kenal."
Diara menghampiri Hilda dan menyalami tangan Hilda, tadinya Hilda ingin menolak, tapi tidak enak dilihatin Zila dan Hasya, terpaksa dia menerima uluran tangan Diaraa.
"Zi, sebentar gue pinjam dulu si Diara, ada yang mau gue omongin sama dia," ijin Hilda pada Zila yang terlihat heran melihat perubahan sikap pada Hilda. "Tenang saja, ngga gue apa-apain, gue hanya mau ngomong sebentar," yakin Hilda lagi dengan mengangkat jempolnya ke atas memberi kode bahwa mereka akan baik-baik saja.
Meskipun Diara sedikit terkejut, tapi dia mengikuti kemana Hilda membawa Diara pergi.
Hilda menarik lengan Diara ke dalam toilet di rumahnya dan menahannya di sana persis korban penculikan.
Apa yang akan Hilda lakukan pada Diara?
__ADS_1