
Dila dibawa paksa oleh Pak Sugari dan Satpam lainnya. Tanpa rasa malu dia mengata-ngatai perusahaan Naga supaya bangkrut. Semua orang sudah berkumpul sejak tadi di depan ruangan Naga menatap kepergian Dila yang dibawa oleh Pak Sugari.
Sesaat setelah Dila dibawa paksa oleh Pak Sugari dan anak buahnya, diantara mereka masih ada yang berdesas-desus baik masalah pertengkaran Zila dan Dila, maupun tentang siapa Zila sebenarnya. Tanpa Naga dan Zila memberitahu hubungan mereka, akhirnya akibat kejadian ini semua karyawan terutama sttaf, mengetahui bahwa Zila adalah istri baru Naga.
Akhirnya semua perlahan bubar dai ruangan Naga. Kini tinggal Naga dan Zila yang kembali hening. Zila membenarkan dressnya yang kusut akibat tarikan Dila si Mak Lampir. Apakah Zila akan berhenti menggoda Naga karena Dila sudah pergi? Zila berdiri seperti ada yang dipikirkan. sepertinya Zila akan melanjutkan aksinya, sebab keromantisan tadi rasanya ingin dia lanjut.
Zila menghampiri pintu, lalu keluar sejenak dan menghampiri ruangan Desy sang Sekretaris. "Mbak Desy, apakah setelah ini ada agenda penting yang harus dihadiri Kak Naga, eh CEO?" tanyanya penasaran.
"Oh, emm~ tidak ada Mbak, ehh maaf Bu," ujar Desy gugup. Zila geleng-geleng kepala melihat tingkah gugup Desy yang tiba-tiba memanggilnya Ibu.
"Aduhhhh, Mbak Desy, tidak usah gugup begitu. Panggil saja saya seperti biasa, panggil saya Mbak jika saat saya sendirian. Lagipula saya orang biasa kok," protesnya sembari tersenyum. "Ngomong-ngomong terima kasih atas infonya. Terus kalau ada yang mencari Kak Naga, misal mantan istri keduanya, Mbak Desy bilang saja lagi sibuk tidak bisa diganggu," ujar Zila mengajari Desy. Desy mengangguk tanda setuju.
Zila kembali ke ruangan Naga, di sana Naga menatapnya penuh pesona yang menakjubkan, tapi tatapannya tegas menatap Zila dengan gurat marah. "Pasti Kak Naga merasa sebal dengan kejadian barusan. Baiklah aku akan melunakkan kembali sikap singa yang lapar ini. Kak Naga itu pura-pura tidak butuh aku, padahal butuh, terbukti tadi jantungnya berdegup kencang saat bersentuhan dengan dadaku," batin Zila.
Zila menutup kembali pintu ruangan Naga dan berbalik sejenak bermaksud ingin mengunci pintu ruangan Naga rapat-rapat. Hari ini dan seterusnya dia akan mengikuti saran Hasya, berubah jadi Zila yang seorang PELARI handal bagi suaminya sendiri.
"Sayang, apa yang kamu lakukan? Apa yang kamu cari?" tanyanya dua kali.
Zila tersenyum malu-malu seraya sedikit menunduk. "Kak Naga, apakah pintu ini bisa dikunci?" tanyanya tanpa rasa ragu.
Naga berdiri dengan heran lalu perlahan menghampiri Zila. "Memangnya kenapa, apa yang akan kamu lakukan jika pintu itu harus dikunci?" tanya Naga di depan wajah Zila. Zila berhasil menyesap wangi mulut Naga yang sepertinya dia habis gosok gigi. Ok, dia juga harus ke kamar mandi dan gosok gigi terlebih dahulu. Saat berperang nanti tidak boleh ada tercium bau dari mulutnya.
"Kak Naga, aku harus ke kamar mandi dulu. Aku mau gosok gigi," jawabnya seraya berlari terbirit menuju kamar mandi. "Jangan lupa kunci saja pintunya, apakah Kak Naga tidak merindukan aku?" pertanyaan itu membuat Naga menyunggingkan senyum betapa Zila sangat mencintainya.
Hanya butuh waktu lima menit Zila gosok gigi. Zila keluar dari kamar mandi dengan menyiapkan mental sekuat baja untuk mengantisipasi kemungkinan yang terjadi di luar kamar mandi nanti. Ketika keluar, tatapannya bertemu dengan Naga yang secara kebetulan sedang menatap Zila.
__ADS_1
"Apa yang akan kamu lakukan dengan pintu itu? Pintu itu sudah terkunci dengan rapat," berita Naga dengan senyum sinis. Zila sedikit ciut dengan senyum sinis Naga, tapi Zila tidak akan menyerah dia harus menjadi Zila sang PELARI jika ingin kembali mendapatkan hati Naga. Zila menghampiri Naga yang kini sedang duduk di sofa.
Zila duduk di samping Naga dengan senyum yang penuh godaan. "Apakah Kak Naga tidak ingin melanjutkan peristiwa yang membuat kita sama-sama dag dig dug tadi?" tanyanya sembari menatap Naga lebih dekat. Jarak antara bibir Naga ke bibirnya cuma beberapa inci dan ini begitu menggoda buat Zila.
Zila meraba bibir Naga dan wajahnya yang semakin tampan. Rabaan manja yang dibuat seeksotis mungkin untuk menarik minat Naga menjadi lebih besar lagi. Zila tahu Naga sedang pura-pura. Dan ini menjadi kesempatan Zila untuk menggoda Naga supaya terjebak di dalam pelukannya.
"Kak Naga," desisnya manja seraya memagut bibir Naga penuh hasrat. Zila mengunci tubuh Naga dengan tangannya. Namun berhasil ditepis Naga. Zila berdiri dengan sangar. Zila meraih tangan Naga sembari membisikkan sesuatu yang membuat Naga bergidik mau.
Naga berdiri menghindar membelakangi Zila. Zila meledeknya sebab dia tahu Naga sangat menginginkannya. Dengan gerakan cepat Zila memeluk Naga dari belakang.
"Kepppp." Zila menangkap tubuh Naga dengan kuat, lalu menenggelamkan kepalanya di pundak Naga.
"Kak Naga, aku sudah tidak kuasa menahan rindu pada Kak Naga. Jika hari ini Kak Naga masih menolakku, maka terpaksa aku akan memaksa Kak Naga. Ayo kita ke kamar, kita buat anak lagi supaya semua orang bisa menganggapku ada dan berguna," seret Zila membawa paksa Naga ke dalam kamar.
"Aku mencintaimu Kak, aku sudah merindukan Kakak tapi Kakak terlalu fokus dengan kesalahanku saja. Sekarang kita berjuang lagi demi mendapatkan apa yang kita mau. Aku dan Kak Naga ingin menjadi orang tua, aku juga butuh belaian mesra Kak Naga." Zila dengan beringas membuka satu persatu yang melekat di badannya juga di badan Naga.
"Ayo kita lakukan, Kak. Bukankah Kak Naga sejak tadi menginginkannya?" godanya sendu sembari melabuhkan ciuman terdahsyatnya di bibir Naga. Pada akhirnya Naga membalas semua rayuan Zila dengan setiap sentuhan yang memberikan rasa terindah dan ternyaman.
Birahi dan hasrat yang membara itu kini sedang disalurkan. Baik Naga ataupun Zila sama-sama sangat menikmati. Tidak ada lagi perang dingin, yang ada hanyalah perang pertautan nafkah batin.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Mereka yang terlena kini sudah terbangun dari perang pertautan yang dimenangkan keduanya.
"Bangunlah, kita mandi bersama. Yang tadi itu aku tidak menduga kamu sangat menguasainya, kamu semakin garang, Sayang." Naga memuji Zila atas apa yang dilakukan Zila tadi saat semua bantal dan guling ikut terkena goyangan gempa lokal yang membuat keduanya hilang kendali.
__ADS_1
"Aku masih ingin begini Kak, berbaring dengan dipeluk tangan Kakak yang besar dan kekar, rasanya sangat nyaman," ucap Zila seraya memejamkan matanya. Zila merasa sangat ngantuk dan ingin rasanya dia masih tertidur di sini bersama Naga dalam pelukannya.
"Kamu tadi pagi merajuk, apa yang kamu lakukan saat merajuk?"
"Aku hanya pergi ke Kampung Sukaseuri dengan wajah sembab, lalu menemui kuburan kedua orang tuaku. Aku sangat merindukan mereka," ungkapnya.
"Lain kali kamu jangan lagi pergi disaat aku tidak ijinkan, bahaya."
"Baiklah, tapi semua itu aku lakukan karena Mama dan Papa Kak Naga begitu dingin padaku. Kak Naga juga sama saja sangat dingin dan tidak menganggapku ada."
"Ayolah, sebaiknya kita mandi. Kita lanjutkan obrolan kita nanti malam di rumah. kalau kamu tidak mandi maka rasa kantuk itu akan terus hadir. Aku yang akan memandikanmu," paksa Naga seraya meraih tubuh Zila dan akan memangkunya.
"Kak Naga pakaikan handuk dulu, aku malu," protesnya yang tidak dihiraukan Naga. Naga membawa Naga ke kamar mandi kemudian mereka mandi bersama, saling menggosok badan.
Setelah mandi dan berdandan, Naga dan Zila segera keluar dari kamar yang sudah rapi kembali oleh Zila. Kamar yang menjadi saksi terjadinya cinta yang dahsyat antara keduanya. Hubungan mereka secepat kilat berubah baik kembali. Naga juga tidak bisa berlama-lama membiarkan Zila dilanda rasa bersalah berkepanjangan.
Naga dan Zila keluar secara beriringan dari ruangan Naga. Desy dari mejanya sudah berdiri dan menyambutnya dengan senyuman ramah.
"Pak Naga, selamat atas pernikahan kalian. Saya baru tahu dari perdebatan tadi di ruangan Pak Naga. Kami, khususnya saya bukan maksud menguping. Tapi, karena peristiwa tadi, kami ...."
"Ah, sudahlah. Kalian tidak salah. Sebetulnya saya juga bermaksud memberitahukan kalian, tapi waktunya tidak sekarang."
"Selamat, ya, Pak, Bu," ucap Desy yang memanggil Zila dengan sebutan Bu karena di depan Naga.
__ADS_1
"Sama-sama," ujar Naga sembari berjalan menuju lift. Di dalam lift kejadian yang tidak terduga terjadi. Naga memeluk Zila dan menciumnya merasakan nafas Zila yang wangi.
****