Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 14 Ulah Sila


__ADS_3

Sejenak Naga dan Hasya tercengang mendengar cerita perempuan muda itu. Naga nampak kecewa mendengar bahwa Zila sering diajak check in ke hotel oleh tamu kafe yang sekedar ingin bersenang-senang.



"Paman Kobar sangat mendukung si Zila melayani tamu kafe diluar pekerjaan, yaitu melayani tamu pria hidung belang. Karena tujuannya satu, yaitu mencari uang sebanyak-banyaknya untuk membayar hutangnya pada rentenir yang sudah membengkak," lanjut perempuan muda itu dengan serius.



Naga dan Hasya mengusap dadanya. Sejenak Naga merasa menyayangkan atas pekerjaan yang digeluti Zila diluar pelayan kafe. Naga merasa menyesal telah membawa masuk Zila ke dalam kehidupannya. Kenapa sebelumnya dia tidak mencari tahu seluk beluk Zila sebelum mengajaknya menikah. Naga merasa menikahi Zila adalah pengalaman terburuk, sebab Zila merupakan perempuan tidak benar yang kini sudah masuk ke dalam kehidupannya. Penyesalanpun datang belakangan.



"Eeeh ... Nauri, Ridu, ngapain kalian nongkrong di warung Bu Sari ini? Apakah kalian menunggu kafe Paman Kobar buka? Tapi, maaf ya, kalian kalau ke kafe Kobar jangan meminta minuman keras dong, meskipun kafe Kobar remang-remang, tapi di sana tidak menjual minuman keras yang bikin otak tidak waras." Tiba-tiba seorang perempuan berumur sekitar 25 tahun, menegur pasangan muda yang perempuannya sempat berbincang dengan Naga dan Hasya tadi.



Rupanya perempuan tadi yang berbincang dengan Naga adalah Nauri dan pasangannya Ridu, merupakan musuh Zila yang suka mengganggu Zila. Mereka memang membenci Zila. Namun, Ridu yang merupakan pacar dari Nauri sebenarnya bukan benci Zila, melainkan dia kecewa dengan Zila yang sempat menolak cintanya, karena Zila tahu Ridu adalah pacar Nauri teman sekelasnya dulu di SMA. Nauri membenci Zila karena dia percaya adu domba Ridu bahwa Zila mencintai Ridu pacarnya Nauri. Sehingga sampai kini baik Nauri maupun Ridu selalu bikin onar jika bertemu Zila.



"Rupanya elu, ngapain lu tanya-tanya segala Bika? Sudah ditinggal sahabatnya kawin, elu uring-uringan dan kehilangan teman yang biasa diajak curhat ya? Ha, ha, ha, palingan si Zila itu dinikahi cowok kayak, tapi hidung belang yang perempuannya di mana-mana. Perempuan miskin dan kotor kayak si Zila, memang pantas mendapatkan laki-laki hidung belang," ejeknya ketus.



"Jangan sembarangan ngatain Zila kotor, elu berdua lebih kotor dari dia. Kalian sebenarnya punya dendam kesumat apa sama Zila? Heran gue. Benci amat sama dia, sedangkan dia belum pernah rugiin elu berdua," bela perempuan yang ternyata Bika, pelayan kafe Kobar yang merupakan teman dekat Zila.



"Awas minggir lu, lebih baik gue cabut daripada melayani pelayan kafe murahan kayak elu." Nauri dan Ridu pergi setelah menghina Bika dengan keji. Bika mengepalkan tangannya kesal.



"Setan, pergi kau tukang onar. Ke neraka sekalian!" umpat Bika kesal seraya melangkahkan kakinya menuju rumahnya yang memang sudah tidak jauh dari sana.


__ADS_1


Naga dan Hasya sedikitnya mendengar pertengkaran antara sepasang anak muda tadi dengan perempuan bernama Bika barusan.



"Bos, sepertinya perempuan muda barusan juga adalah pelayan kafe Kobar. Dia sepertinya teman dekat Non Zila, sebab dia lebih membela Non Zila ketimbang menjelekkan," simpul Hasya. Naga juga menyimpulkan demikian, sepertinya yang barusan memang sahabatnya Zila.



"Iya, sepertinya dia teman dekatnya Zila, yang pastinya dia akan membela Zila seburuk apapun Zila," tukas Naga seraya memberi kode untuk mengajak Hasya kembali ke villa. Hasya paham dengan kode yang diberikan Naga. Mereka kembali ke mobil dan menyudahi pencarian mereka tentang informasi Zila.



"Bos, apakah kita perlu mencari tahu tentang informasi Zila dari perempuan bernama Bika tadi?" ungkit Hasya setelah beberapa meter menjalankan mobilnya.



"Sudahlah, Sya. Sudah aku bilang, yang namanya teman dekat pastinya akan selalu menutupi keburukan temannya. Aku yakin cerita perempuan yang pertama tadi merupakan fakta tentang Zila," tepis Naga menyudahi Hasya untuk mengungkit kembali tentang Zila.




Hasya bertekad, mencari kebenaran tentang Zila demi Bosnya yang selama ini sudah baik dan dia anggap saudara sendiri.



Sementara itu di kota Bandung di rumah milik keluarga Hasri, Zila masih berkutat dengan kaca yang dilapnya. Mamanya Naga memberitahu, bahwa hari ini akan kedatangan tamu istimewa dari kota Jakarta yang kebetulan punya usaha butik di kota Bandung, siapa lagi kalau bukan Sila? Perempuan mapan yang usianya jauh lebih dewasa dari Zila yakni delapan tahun lebih tua, yang digadang-gadang akan dijodohkan dengan Naga oleh Bu Hilsa.



"Assalamualaikum!" Ucapan salam itu menggemparkan seluruh ruangan di rumah itu. Bagaimana tidak? Semua penghuni rumah ini termasuk ART tahu bahwa yang datang adalah Sila, perempuan yang akan dijodohkan Bu Hilsa dengan Naga yang ditolak mentah-mentah oleh Naga, sedangkan kini Naga sudah menikah dengan Zila perempuan sederhana dari kampung.



"Gila, Non Sila datang. Haduhhhh, bagaimana ini? Sementara Non Zila masih sibuk dengan kaca, lagi. Duhhh, aku tidak tega kalau Non Zila dihina karena bau atau kumal oleh Non Sila yang sok kaya itu," ringis Bi Rani khawatir.

__ADS_1



"Wa'alaikumsalam," sahut Bu Hilsa yang tiba-tiba muncul dari ruang kerjanya sembari menyambutnya sumringah.



"Sila, kamu datang sayang," sambut Bu Hilsa seraya menghambur ke pelukan Sila dan merangkulnya penuh rasa kangen.



Kedua perempuan beda generasi itu kemudian menuju ruang keluarga yang di depannya ada taman bunga. Untuk menuju ruang keluarga mereka harus melewati ruang tengah yang kacanya sedang Zila bersihkan.



Saat Sila berjalan melewati ruang tengah, Sila penasaran dengan seseorang yang berada di sana yang sedang membersihkan kaca. "Itu siapa, Tante?"



"Ohhh, itu istri barunya Naga yang waktu itu tante cerita sama kamu. Dia dari kampung, tante tidak setuju dengan perempuan itu. Jadi, sekarang dia, tante jadikan babu saja di rumah ini, supaya dia tidak betah dan cepat meminta cerai sama Naga," tukasnya gemas. Mereka berduapun menuju ruang keluarga, karena biasanya Bu Hilsa mengajak tamu yang sudah akrab ke ruang keluarga.



Lima belas menit setelah Sila ngobrol dengan Bu Hilsa, tiba-tiba dia kebelet pipis dan ijin ke kamar mandi. Sila menuju kamar mandi dekat dapur, dan melewati ruang tengah. Di sana masih ada Zila yang kini menaiki tangga besi untuk mencapai kaca yang tinggi. Sila melewati Zila yang sibuk membersihkan kaca tanpa menegur satu patah katapun. Sedangkan Zila memang tidak melihat Sila yang lewat sehingga dia fokus dengan pekerjaannya.



Tidak berapa lama, Sila kembali dari kamar mandi dan berjalan menuju ruang tengah. Dengan sedikit bersenandung dia berjalan mendekati tangga besi yang dipijak Zila. Tangan sebelah kiri Sila sengaja memegang dan mendorong salah satu tiang besi tangga.



"Awwwwwwww." Pekikan panjang itu keluar dari mulut Zila. Baru beberapa hari di rumah mertuanya nyawanya sudah terancam.



Sebelum tubuhnya menimpa lantai, rupanya ada seseorang yang menangkap tubuh Zila. Siapakah itu?

__ADS_1


__ADS_2