Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 91 Musim 2 Rupanya Mimpi


__ADS_3

"Non, Non Zila, bangun Non." Tubuh Zila digoyang-goyang oleh Hasya. Hasya sampai heran melihat Zila yang sangat ngantuk. Padahal perjalanan dari kuburan seharusnya tidak memakan waktu lama, sepuluh menit juga bisa sampai. Berhubung tadi di depan mobil yang dikemudikan Hasya ada truk pasir yang tergelincir karena muatan berlebihan, perjalanan yang biasanya cuma sepuluh menit, kini memakan waktu sampai tiga puluh menit.



Hasya berpikir mungkin saat tadi menunggu truk pasir dievakuasi, Zila ngantuk dan tertidur, terlebih saat di kuburan Zila sempat menangis. Juga sebelum ke kuburan, Hasya memang sudah melihat mata Zila yang bengkak seperti sudah menangis. Hasya menduga sudah terjadi pertengkaran yang membuat Zila pergi dan menangis.



Hasya masih menggoyang pelan tubuh Zila yang layaknya kebo yang susah dibangunkan. Terpaksa Hasya menggoyang tubuh Zila agak kuat supaya terasa oleh Zila saat dibangunkan.



"Non Zila, bangun Non," ucap Hasya seraya menggoyang bahunya kuat. Tiba-tiba Zila perlahan bergerak mulai mengangkat tangannya bergeliat.



"Heuayyy." Zila menguap menandakan dia masih sangat ngantuk. Sepertinya Zila memang sangat ngantuk, berkali-kali dia menutup lagi mata dan menyenderkan kepalanya ke jok mobil.



"Pamannnn, Kak Nagaaaaa." Hasya tersentak ketika Zila tiba-tiba meneriakkan dua orang yang dia kenal, pamannya dan Naga Bosnya. Sepertinya Zila sedang bermimpi entah bertemu paman atau Naga.



"Non, Nona sepertinya ketiduran dan bermimpi," ujar Hasya. Hasya sejenak turun dan segera berlari menuju sebuah warung yang kebetulan ada di sekitar pabrik untuk membeli air mineral. Hasya kembali setelah mendapatkan apa yang dia mau.



"Non Zila, Anda sudah bangun? Minumlah dulu air mineral ini, sepertinya Nona butuh minum," seru Hasya sambil menyodorkan sebuah botol minuman ke arah Zila yang kebetulan sudah sadar dari tidurnya. Zila sejenak nampak bingung, sepertinya kesadarannya belum pulih benar pasca bangun tidur.



"Nona, apakah nona tadi sedang bermimpi?" Hasya menatap Zila dengan penasaran. Sejenak Zila diam mencoba mengingat akan mimpinya barusan. Sebelum menjawab pertanyaan Hasya, Zila membuka segel botol minuman kemudian dia meneguk minuman botol mineral itu. Perlahan kesadaran Zila kembali, ia mulai mengingat kejadian sebelumnya.



Saat tadi menunggu truk pasir yang dievakuasi karena tergelincir menutupi jalan, Zila lama kelamaan ngantuk dan tertidur sampai akhirnya tiba di depan pabrik yang dibangun di atas tanah miliknya. Zila terbangun kaena dibangunkan Hasya, padahal tadi dia sedang bermimpi memeluk Naga orang yang saat ini sedang dipikirkan Zila.



"Apa yang Nona mimpikan? Kenapa nama Paman Kobar dan Bos Naga yang disebut?" tanya Hasya penasaran.

__ADS_1



"Ya ampun, rupanya aku bermimpi tadi Kak. Sepertinya aku sangat nyenyak tadi tidur. Tadi sebelum Kak Hasya membangunkan aku, di dalam mimpi itu aku sudah memasuki bangunan pabrik itu dan memeluk paman Kobar, tapi setelah berbalik ternyata dia bukan paman, melainkan Kak Naga," urainya menceritakan mimpinya tadi. Hasya mendengarkan dengan seksama cerita Zila sehingga dia merasakan bahwa sesungguhnya Zila sangat merindukan Naga.



"Ya ampun, Non, ternyata Nona sedang bermimpi. Nona sepertinya sedang merindukan Bos Naga sampai terbawa mimpi," simpul Hasya seraya memegang kemudi dan menatap Zila. Hasya sedikitnya tahu apa yang dirasakan Zila, setelah musibah keguguran siapapun perempuan yang mengalaminya pasti akan dilanda sedih.



"Kak Hasya, apakah kita sudah sampai?"



"Kita sudah sampai, Non. Kalau Nona mau turun, turunlah dan masuk ke pabrik lalu temui paman Kobar, siapa tahu paman Kobar akan berubah menjadi Bos Naga," ujar Hasya menggoda Zila yang wajahnya mendadak murung. Sejak bertemu di jalan pun, Zila sudah terlihat murung dan tidak gembira, Hasya sudah bisa menilai bahwa Zila sedang ada masalah dengan Naga.



"Sudah, aku tidak mau turun. Lagipula aku tidak ingin paman melihatku seperti ...." Zila tidak melanjutkan ucapannya. Zila tidak ingin menyakiti pamannya dengan keadaannya yang menyedihkan ini. Hasya paham apa yang akan Zila katakan. Zila tidak ingin memperlihatkan kesedihan pada Kobar.



"Apakah Nona mau ke rumah paman Kobar saja menemui tante Zuli?" Zila langsung menggeleng. Jika ke rumah sama saja, kesedihannya akan diketahui tante Zuli, dan tante Zuli pasti akan mengatakan pada Kobar bahwa Zila sedang sedih.




"Aku bingung, Kak,'' cetusnya tiba-tiba lalu meneteskan air mata. Zila menangis di sana. Hasya terharu dan ingin membantu Zila yang sudah dianggapnya adik sendiri. Bahkan sebelum Zila hamil, mereka begitu akrab dan sering terlibat perdebatan kecil, tapi setelah hamil dan keguguran rasa humor Zila seakan hilang sendirinya, dan Hasya juga tidak berani memulai karena melihat Zila yang seakan sedih dan sensitif.



"Non, Nona bingung kenapa?"



"Bisa tidak, Kak, Kak Hasya panggil saja aku Zila saja? Aku canggung mendengarnya," sergah Zila tidak suka, sejak awal juga Zila memang tidak suka disebut Nona oleh Hasya.



"Tidak. Saya tetap harus panggil Anda Nona, anggap saja saya sedang memanggil nama Anda, nama Anda anggap saja Nona," tegas Hasya lagi teguh.

__ADS_1



"Nona bingung kenapa? Kalau tidak keberatan, Nona cerita pada saya, Insya Allah saya bisa memberikan Nona sedikit hiburan," desak Hasya lagi.



Zila yang masih terisak menyeka air matanya sejenak setelah tadi diberikan tisu oleh Hasya. "Ceritakan pada saya pelan-pelan," desaknya lagi penasaran.



Sebelum Zila bercerita panjang lebar ternyata Zila menumpahkan dulu kekecewaannya dengan menangis di depan Hasya. Hasya hanya bisa melihat tapi tidak bisa meraba ataupun memeluk tubuh Zila untuk menenangkannya. Walaupun Hasya menganggap Zila seperti adiknya sendiri, tapi Zila tetap seorang perempuan yang bukan mahram, yang tidak bisa dia peluk sembarangan untuk sekedar meredakan tangisnya.



"Tumpahkan semua kekesalan Non Zila di sini. Menangislah dulu sebelum dilihat orang lain," ucap Hasya berusaha memberi sugesti supaya kesedihan Zila tumpah semua di dalam mobilnya sebelum turun dan mengajak Zila neduh di sebuah kafe.



"Tapi maaf, saya tidak bisa memeluk Nona meskipun Nona butuh sandaran. Walau saya sudah menganggap Nona seperti adik, tapi kita bukan mahram dan tidak bisa memeluk Nona walau sekedar untuk menenangkan Nona," ucap Hasya melanjutkan bicaranya. Zila tidak menyahut dia masih asik dengan kesedihannya.



Lima belas menit, sepertinya Zila sudah mulai tenang. Tinggal suara isak yang masih tersisa. Zila mendongak, lalu membetulkan rambut dan menyeka wajahnya yang tadi basah oleh air mata dengan tisu. Wajahnya yang sembab sangat kentara Zila habis menangis. Hasya khawatir jika Zila diajak turun ke kafe nanti malah menimbulkan kesalahpahaman orang-orang.



"Nona sebaiknya kita mencari kafe untuk minum dan makan, sepertinya di depan sana ada kafe unik. Nona bisa sambil cerita di sana. Tapi, bagaimana dengan wajah Nona? Ahhh, saya tahu biasanya perempuan selalu mempunyai alat tempur untuk merias wajahnya. Yang kusam menjadi cerah yang kerut menjadi kencang, apakah Nona bawa?" Ide Hasya ini sontak membuat Zila sedikit menyunggingkan senyum merasa lucu.



"Aku tahu Kak. Lalu Kak Hasya tahu dari mana alat tempur perempuan bisa menyamarkan kekurangan wajah dan lain-lain?"



"Saya hanya lihat dari iklan di televisi, sejak itu saya jadi tahu dan selalu membelikan untuk ibu saya." Zila sampai terkejut mendengar pengakuan Hasya yang bisa membelikan alat make up perempuan sendiri buat ibunya. Zila merasa salut dengan Hasya, rupanya Hasya merupakan orang yang sangat perhatian sama ibunya.



"Baiklah Nona sebaiknya mobil ini segera menepi ke kafe di depan sana, sepertinya kafe itu lumayan nyaman untuk kita berbagi cerita. Nona silahkan touch up dulu mukanya supaya tidak kelihatan bekas tangisnya," ujar Hasya seraya membelokkan mobilnya ke sebuah kafe yang terlihat nyaman dengan nuansa outdoor.


__ADS_1


Tiba di kafe, tepat dengan selesainya Zila men touch up mukanya yang sembab tadi, Hasya dan Zila turun sama-sama memasuki sebuah kafe bernuansa alam itu, semakin membuat nyaman pengunjungnya.


__ADS_2