Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 107 Musim 2 Mood Booster Bagi Naga


__ADS_3

Setelah mengutak atik Hp Zila, Hilda hanya menemukan sebuah nomer yang menghubungi nomer Zila berulang kali. Namun nomer itu tidak bisa dilihatnya, nomer tertulis private number. Hilda terlihat mendesah kecewa. Ingin rasanya Nagi menghubunginya tapa diprivate agar dia bisa menghubunginya.


     "Zi, coba deh elu bilang sama Kak Nagi jangan diprivate kalau nelpon. Biarkan gue tahu nomer dia supaya gue sama dia bis saling komunikasi langsung. Apa sih susahnya buat dia? Kalau seperti ini aku jadi sedih dan hanya bisa menduga-duga," keluh Hilda sedih.


     Zila meraih pundak Zila dan mengusapnya. "Kamu rupanya masih belum paham juga alasan Kak Nagi kenap. Jangankan kamu, aku saja pernah memintanya, tapi Kak Nagi tidak mau membuka dulu rahasia dia berada di mana. Kalau kita maksa terus, maka Kak Nagi tidak mau lagi menghubungi aku untuk menyampaikan pesannya buat kamu," tukas Zila. Alasan ini juga sama merupakan karangan Zila semata, dia tidak tahu nanti ke depannya kebohongan apa lagi yang akan Zila buat untuk membuat Hilda bisa berubah.


     "Kenapa Kak Nagi melakukan itu pada gue? Segitu tidak percayanya dia sama gue sehingga hanya lewat elu dia mau menghubungi dan menyampaikan semua kata-kata dia ke gue," keluhnya lagi dengan mata yang berkaca-kaca.


     "Kamu masih mau Kak Nagi menghubungi dan menanyakan kabar kamu? Caranya ikuti saja kemauan dia. Sampai di mana Kak Nagi akan bertahan dengan keadaan ini, mungkin dia butuh ketenangan setelah kemarin merasa dibuang Papa Hasri. Kita doakan saja di mana pun dia berada selalu dalam perlindungan Yang Maha Kuasa," saran Zila membesarkan hati Hilda yang sedih.


     "Sering-seringlah Zi, lu main ke rumah Mama ini, agar gue ada teman," ucap Hilda sebelum Zila berpamitan dari kamar Hilda. "Nanti kasih kabar lagi jika Kak Nagi ada menghubungi elu," Hilda merangkul bahu Zila dan menumpahkan kesedihannya karena ingat Nagi, laki-laki spesial yang selalu ada di dalam hatinya.


     "Ok, aku pamit dulu, ya." Zila melepaskan rangkulan Hilda yang menangis. Matanya basah dengan air mata yang deras akibat mengingat Nagi.


     Tidak ingin menambah kesedihan Hilda lebih dalam, Zila segera beranjak meninggalkan kamarnya dan segera turun menemui Naga. Kemudian Naga dan Zila berpamitan pada kedua orang tua Naga.


     "Setelah kalian pindah, segera berikan kami cucu, agar saat kalian pergi hanya kalian yang pergi, lalu kami yang akan menjaga cucu kami." Sebuah permohonan dari sang ibu mertua pada Zila sebelum mereka berdua keluar dari rumah itu.

__ADS_1


     "Insya Allah, Bu. Kami secepatnya akan memberi kalian cucu," balas Zila seraya menatap Bu Hilsa sejenak lalu kembali mengalihkan pandanganya ke arah luar yang kebetulan Naga sudah memberikan kode agar Zila segera menaiki mobil.


**


     Akhirnya Naga dan Zila sudah kembali ke apartemen. Apartemen yang sepi menimbulkan gelora dalam diri Naga. Zila yang lebih dulu masuk kamar segera menyimpan barang-barangnya yang kemarin sempat dibawa ke umah mertuanya. Zila sejenak merebahkan tubuhnya menikmati hawa dingin dari AC yang menyapu tubuhnya.


     "Dinginnya, setelah tadi berjalan dari parkiran apartemen dan menaiki lift yang terasa panas, kini terbayar sudah dengan hawa dingin dari AC," ujarnya menikmati sapuan Ac di tubuhnya.


     "Zi." Naga datang dan menimpa tubuh Zila dengan tubuh kekarnya. Mereka saling berhadapan dengan tangan Zila yang sudah dicekal jemari Naga.


     Besoknya, Naga bersiap akan berangkat ke kantor. Zila menyiapkan segalanya kecuali sarapan pagi. Setelah selesai memakai baju untuk ke kantor dan sudah terlihat tampan, Zila sejenak menatap Naga dalam seraya berpikir, "pantas saja Kak Naga banyak yang menggandrunginya, dia sangat tampan dengan senyum yang penuh kharisma. Sekarang saja dua mantan istrinya malah tiba-tiba berdatangan dan ingin meraih hati Kak Naga kembali. Dulu saat menjadi istrinya mereka kemana saja, tidakkah Kak Naga sangat sempurna untuk tidak dilepaskan?" lamun Zila.


     "Zi, kamu melamun?" sapa Naga membuyarkan lamunan Zila. Zila tersadar dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


     "Aku tidak melamun, aku hanya sedang berpikir bahwa ketampanan Kak Naga ini sungguh sempurna. Aku orang paling beruntung mendapatkan laki-laki sempurna seperti Kak Naga, sebab sejak dulu jika Paman Kobar ingin menjodohkan aku, aku selalu membayangkan laki-laki yang tampan, tubuhnya kekar dan kaya raya dan baik hati. Dan kini lelaki itu benar-benar ada di hadapanku," ungkap Zila berbangga.


     "Kamu ini sangat berlebihan, Sayang."

__ADS_1


     "Baiklah, daripada aku mengagumi Kakak terlalu berlebihan, aku khawatir aku tidak bisa menahan segala keinginanku untuk selalu berdua bersama Kakak. Kita sekarang turun, karena Bi Lala sudah menyiapkan sarapan buat kita." Zila menyeret tangan Naga menuju meja makan. Mereka sarapan pagi bersama diiringi celotehan antara keduanya.


Sepeninggal Naga, sejenak Zila menyantaikan diri dengan merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Zila merasakan kedamaian dan kenyamanan saat dirinya hanya berdua saja bersama Naga. Laki-laki dewasa yang pada awalnya dipertemukan saat Zila pulang dari kafe milik Pamannya. Saat itu Zila kurang enak badan dan dan pulang malam-malam sendiri dengan badan yang demam.


     Semua terkenang kembali saat Nauri dan Ridu pacarnya Nauri sengaja menganggu Zila. Nauri yang seorang anak dari Lurah setempat yang notabene teman sekolah Zila saat SMP, selalu mengganggu Zila dan membully Zila dengan kata-kata yang pedas dan tidak pantas. Namun hinaan mereka berdua kini menjadi hikmah buat Zila, siapa sangka pada malam setelah Nauri dan Ridu mengganggunya, ternyata calon jodoh Zila sedang dikirimkan Allah untuknya.


     Zila masih terbaring santai layaknya seorang putri raja, dia tersenyum bahagia dengan semua yang kini didapatkannya. Ternyata tidak harus menjual diri, akhirnya jodoh tajirnya datang sendiri, meskipun awalnya Naga bagi Zila sangat pelit saat dimintai uang tebusan karena dia sudah menyerahkan mahkota yang selama ini dijaganya pertama kali untuk Naga.


     "Kak Naga tidak rugi mendapatkan aku. Aku yang selalu dikatakan wanita penjaja cinta oleh orang-orang, tapi buktinya aku masih bisa menjaga kesucianku sampai aku pertama kali direnggut Kak Naga."


     "Kak Naga aku mencintaimu," pesan WA terkirim dari Zila sesaat setelah ia membayangkan kehidupannya sebelum dan sesudah menikah dengan Naga.


     "Tangggg." Bunyi pesan WA masuk ke Hp Naga. Naga yang baru saja duduk santai di kursi kebesarannya segera melihat pesan WA. Dia bertanya-tanya dari siapakah pesan WA tersebut. Ternyata dari Zila sehingga bibir Naga tersenyum merekah, membuat dia bahagia karena membayangkan kejadian semalam berama Zila. Zila yang sangat agresif dan menggebu-gebu, membuat Naga semakin bersemangat dan melayang-layang di udara.


     "Sayanggg, kamu semakin pandai membuatku bahagia. Gadis muda yang kini bermetamorfosa menjadi wanita muda yang kuat dan penggoda. Penggoda suaminya sendiri." Berkali-kali Naga melayangkan senyuman bahagia di pagi hari ini. Moodnya dibikin baik dan bahagia oleh Zila.


    

__ADS_1


__ADS_2