
Merasa semua rahasia mereka berdua telah terbongkar dan kini ada dalam genggaman Zila. Baik Hilda maupun Nagi hanya mampu diam. Zila membuka pintu mobil dengan kasar dan keluar dari mobil Nagi menghampiri Naga yang sudah memarkirkan mobilnya di dalam parkir area sebuah apartemen mewah.
Hilda dan Nagi saling tatap setelah kepergian Zila. "Bersikaplah sedikit sopan padanya, ikuti maunya. Kamu mau hubungan kita terbongkar lebih cepat di hadapan Mama dan Papa? Bisa mereka shock setelah mendengarnya seperti apa yang dikatakan kakak iparmu tadi," peringat Nagi.
"Kenapa juga Kak Nagi membelanya, kenapa kita harus takut sama Mama dan Papa kalau kita memang saling mencintai?" Nagi menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.
"Jangan keras kepala, Kakak tidak suka kamu terlalu keras kepala. Turunkan dulu sedikit ego kamu , jangan sama-sama keras. Lagipula Zila memang benar, kamu harus dibiasakan memangil dia Kakak atau teteh seperti yang dia mau."
Mendengar ucapan Nagi seperti itu Hilda merengut, dia tidak suka Nagi lagi-lagi membela Zila. Hilda turun dari mobil dengan membuka dan menutup kembali pintu mobil dengan kasar. Nagi dua kali terkejut sembari melihat kepergian gadis labir yang keras kepala tapi mati-matian mencintainya.
"Aku harap dalam waktu empat tahun kamu bisa melupakan aku dan justru menemukan pria yang cocok dan kamu cintai, sebab sepertinya hubungan kita tidak akan direstui Mama dan Papa. Sementara aku hanya anak terbuang yang dipungut dan dikasihani Mama dan Papa setelah kedua orang tuaku pergi dan menelantarkanku. Dalam waktu empat tahun aku bisa mengembalikan keadaan perasaan kita pada semula, yakni hubungan kasih sayang antara kakak sepupu dan adik sepupu," guman Nagi penuh tekad.
Naga kini sudah tiba di depan apartemen mewahnya diikuti Zila, Nagi dan Hilda. Mereka masuk setelah pintu terbuka secara otomatis.
Nagi terlihat sangat antusias, sebab beberapa tahun yang lalu apartemen milik Naga ini sudah menjadi rumah kedua baginya setelah rumah Papa dan Mamanya Naga.
"Wah, aku sudah lama tidak kesini, dan kesannya luar biasa. Apartemen Bang Naga memang selalu membuat aku merasa kangen." Tidak salah Nagi memuji, sebab apartemen Naga memang sangat mewah dan bikin betah.
"Nikmatilah setiap ruangannya, Gi, sebelum kamu ke Jakarta," balas Naga sembari tersenyum.
"Kak Naga yang mana kamar kita?" Zila celingukan mencari kamar mereka, sebab di dalam apartemen mewah ini ada dua kamar yang sama-sama elegan dan tentunya mewah.
Naga membawa Zila pada satu kamar yang di dalamnya sudah terpasang foto dirinya dan Zila. Zila terbelalak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Semua barang-barang di dalam kamar itu benar-benar mewah dan menarik.
"Wah, guci cantik dan mahal. Ini juga meja riasnya bertahtakan marmer pualam yang sangat mahal." Zila tidak henti-hentinya memuji keadaan kamarnya yang benar-benar baru saja dilihatnya di alam nyata sehingga Zila tiada henti mengaguminya. Setelah selesai mengagumi dalam ruangan kamarnya, Zila berlari menuju kamar mandi, dia yakin kamar mandinya tidak kalah mewahnya.
Benar dugaannya, kamar mandi itu sangat mewah dan bersih, sehingga Zila akan betah berlama-lama di kamar mandi.
__ADS_1
"Ya ampun, udik dan kampungan banget gue punya Kakak ipar," ledek Hilda yang tiba-tiba sudah berada di dalam kamar Naga.
"Lebih baik udik dan kampungan dibanding nyosor minta dicintai," balasnya telak membuat Hilda terdiam, yang mampu dia lakukan adalah meleletkan lidah dan tinjunya di udara.
Setelah beberapa saat berada di dalam apartemen Naga dan Nagi begitu puas bernostalgia dengan keadaannya , Nagi berpamitan bersama Hilda. Mereka berdua masih punya rencana ke Tangkuban Perahu di daerah Lembang.
"Bang Naga kami pamit dulu, ya. Kalian berdua baik-baik di sini. Lain kali aku pasti datang lagi," pamit Nagi seraya memberi kode pada Hilda untuk pamit.
Hilda menghampiri Naga dan memeluk Naga seraya mencium pipinya. "Cupppppp. Ini semua tanda sayang aku sama Kak Naga yang selalu menyayangi aku dan selalu memberi apa yang aku mau," ujarnya sengaja ingin membuat Zila kepanasan dengan mengarahkan tatapan mata sinisnya pada Zila.
Zila mendekat lalu meraih tubuh Hilda sehingga Hilda seolah merangkul Zilla. Di sana Zila sedikit memberi ceramah untuk Hilda.
"Kalian pasti merencanakan sesuatu, kan? Aku titip pesan satu sama kamu wahai adik iparku yang terhormat tidak udik seperti aku. Jaga diri kamu jangan sampai kamu berpacaran sampai kebablasan. Meskipun Kak Nagi sepupu kamu, tidak mustahil ketika kamu menyodorkan kehormatanmu dia bisa jadi merenggutnya sebelum waktunya tiba. Sebab sebaik-baiknya kucing, jika disodorkan ikan yang masih segar, maka dia akan tergoda dan akhirnya menyantap juga. Meongggg," peringatnya diakhiri gerakan dan suara seekor kucing.
"Huh, gue nggak gampangan juga kali," balasnya sembari menjauhkan tubuhnya dari Zila dengan kasar. Zila tersenyum lalu menepuk-nepuk bajunya bekas senderan Hilda. Sepertinya suasana makin memanas diantara dua insan perempuan ini. Nagi yang menyadari itu segera berpamitan dan berjanji akan menjaga Hilda sebaik mungkin.
"Kak Naga, apakah Kak Naga tidak merasa curiga akan kedekatan mereka?" Selepas Nagi dan Hilda pergi dari apartemennya, Zila sedikit mengutarakan rasa curiganya pada Naga supaya suaminya itu menyadari.
"Kedekatan mereka sudah terbentuk sejak lama dan mereka tidak ubahnya adik kakak meskipun pada kenyataanya Hilda adalah kakak sepupu bagi Nagi. Mereka saling menyayangi satu sama lain sebagai saudara," yakin Naga tidak mencurigai adanya hubungan batin antara adik dan Nagi sepupunya itu. Zila akhirnya hanya bisa diam setelah mendengar penjelasan dari Naga yang meyakini bahwa kedekatan Nagi dan Hilda hanya sebatas saudara sepupu.
"Ayo, jangan mencurigai mereka yang aneh-aneh. Lebih baik kita membuat sebuah proses menuju puncak awang-awang," tarik Naga menarik tubuh Zila masuk ke dalam kamar, lalu adegan selanjutnya hanya mereka yang tahu. Yang jelas suara aneh antara keduanya terdengar jelas dan leluasa menggema di dalam apartemen ini.
**
Perjalanan Bandung ke Gunung Tangkuban Perahu tidak memakan waktu yang cukup lama. Hanya satu jam lebih lima belas menit, itupun ditempuh dengan sedikit rintangan, hanya kemacetan sesaat di area masuk wisata yang membuat kendaraan menumpuk dan itu tidak terlalu lama.
Mobil yang ditumpangi Nagi dan Zila sampai di puncak Gunung Tangkuban Perahu. Nagi memarkirkan mobilnya dengan rapi sebelum menuruni mobil.
Nagi dan Hilda menyebrangi jalan untuk menuju kolam besar yang dalamnya sebuah kawah putih yang laharnya panas. Lahar panas ini ditimbulkan dari Gunung Tangkuban Perahu yang memang masih aktif, yang sewaktu-waktu bisa menyemburkan awan panas. Kebetulan saat ini, gunung ini keadaannya aman dan boleh dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.
__ADS_1
"Ayo, Kak, kita fotoan di sana, kita minta tolong fotokan Kang jualan aksesoris itu," tunjuk Hilda pada sekelompok tukang jualan aksesoris asongan yang profesinya mendadak dobel setelah para pengunjung menyodorkan Hpnya untuk minta tolong mengambil fotonya. Nagi mengikuti kata Hilda, dan mereka minta tolong pedagang asongan yang siap sedia memfotokan dengan upah sukarela.
Beberapa adegan foto telah diambil Hilda dan Nagi. Mereka cukup puas, sebab kang juru fotonya memang benar-benar pandai membidik gambar dan mendapatkan view yang indah dengan background kawah putih yang terbentang dengan atasnya awan yang menggantung.
"Kita ke sebelah timur, sepertinya di sana viewnya indah juga," ajak Nagi seraya tidak lepas menggenggam tangan Hilda.
"Wah, benar banget. Di sini kawahnya jelas terlihat. Apakah kita boleh turun ke bawah dan mencoba merebus telur?" tanya Hilda sangat penasaran.
"Jangan, tidak usah! Lebih baik kita menikmati dari atas saja, kakak tidak mau ambil resiko," cegah Nagi ketakutan.
"Lebih baik kita ambil foto lagi di sini, viewnya juga lebih bagus," saran Nagi yang langsung disetujui Hilda. Hilda sangat antusias dan bahagia ketika harus menghabiskan beberapa kali jepretan fotonya bersama Nagi. Fotonya terkesan dekat layaknya orang prewed.
Tepat keduanya melakukan adegan saling berpelukan karena dinginnya hembusan angin gunung yang kencang, tiba-tiba orang yang sangat Nagi kenal berjalan ke arah tempat yang sama yang mereka pakai untuk berfoto.
Dia Diara bersama dua orang dewasa, sepertinya sepasang suami istri. Bisa di itu orang tua Diara. Perempuan muda itu menatap tepat ke arah Nagi dan Nagi juga kebetulan menatap ke arahnya.
"Diara," sebutnya spontan. Perempuan yang disebut Diara itu nampak ingin menghindar. Namun tidak sempat, sebab orang-orang di belakangnya sudah antri ingin memasuki tempat itu.
"Pak Nagi!" balasnya segan. Mereka saling tatap. Namun perempuan muda itu langsung memalingkan mukanya.
"Kak Nagi, ayo, kita sudahi saja berfotonya. Kak!" pekik Hilda pada Nagi yang sedang fokus pada seseorang.
"Kak Nagi, siapa dia?" Rupanya Hilda sudah melihat perempuan muda yang jadi fokusnya Nagi saat ini. Hilda tidak suka dan dia segera meremat jemari Nagi. "Ayo, Kak, jangan jelalatan lagi matanya. Sebentar lagi kita menikah, jangan dipakai untuk mengagumi perempuan lain yang tidak jelas," ketus Hilda sembari meraih lengan Nagi manja.
"Tunggu dulu, Sayang. Dia adalah teman kantor aku. Dia Sekretaris di kantor Papa, masa sih aku tidak menegurnya. Benar, kan, Diara?"
"Betul, Pak Nagi. Kalau begitu kami permisi dulu," pamit perempuan bernama Diara itu terlihat buru-buru. Hilda nampak tidak percaya, lantas dia menarik paksa Nagi menuju mobil, bersamaan dengan itu hujan angin tiba-tiba turun mengharuskan para pengunjung untuk segera berteduh.
__ADS_1