
Zila menuju balkon kamar setelah merasa tubuhnya segar karena diguyur air shower. Sisa pertautan tadi masih membayang di pelupuk matanya. Sentuhan Naga dan semua tindakannya membuat Zila melayang dan diperlakukan dengan penuh perasaan dan cinta oleh Naga. Sunggingan senyum terbit dari bibir Zila. Entah senyuman apa. Yang jelas perasaan cinta yang telah tumbuh itu, kini semakin merekah setelah perlakuan Naga tadi.
Naga tiba-tiba menghampiri dan memberikan secangkir jus jambu kesukaan Zila. Zila kaget, padahal tadi dia sedang melamunkan kejadian indah tadi bersama Naga.
"Makasih, Kak," ujarnya berterimakasih membuat Naga merasa sedikit aneh dengan Zila yang biasanya terlihat judes dan menggemaskan.
"Apa yang membuatmu pergi dari rumah? Lalu kenapa perempuan tadi dan pacarnya ingin mencelakai kamu?" Naga mencoba menyelidik karena penasaran.
Zila belum terlihat ingin menjawab, dia asik menyeruput jus jambunya dan dinikmatinya penuh perasaan. Beberapa saat kemudian Zila mulai bersuara.
"Aku hanya ingin menjumpai Paman Kobar pasca sakit." Zila memberi alasan yang sedikit masuk akal bagi Naga. Naga menatap Zila dengan lelap.
"Kamu sesayang itu sama Pamanmu, apakah Pamanmu sangat besar jasanya dalam hidup kamu?" Pertanyaan Naga membuat Zila sedikit tersenyum.
"Aku sayang banget sama Paman Kobar, sebab Paman Kobar sudah mengurusku sejak kecil."
"Lalu, kalau boleh tahu kenapa Paman Kobar memiliki banyak hutang sampai 500 juta?" korek Naga menyeledik.
"Awalnya hutang itu hanya sebesar sepuluh juta tahun lalu, untuk nambah modal usaha Paman pada Juragan Desta. Sebulan kemudian, Paman ingin mengembalikan uang itu karena uangnya sudah ada. Namun orang-orang dari pihak Juragan Desta seolah sengaja tidak datang ke rumah tepat dihari terakhir akan jatuh tempo. Dan benar saja dugaan bahwa Juragan Desta sengaja mengulur waktu dan datang ke rumah setelah sehari jatuh tempo. Karena menurut Juragan Desta hutang Paman sudah jatuh tempo, maka sejak hari itu hutang Paman berbunga tiap bulan." Zila menerangkan dengan mata menerawang.
Naga kini paham semua yang telah diceritakan Zila. Betapa beratnya hidup yang Zila alami. Bahkan demi membantu membayar hutang sang Paman, Zila rela kerja di kafe Kobar yang terlanjur diberi stigma buruk oleh masyarakat.
"Lantas rencana kamu apa setelah ini, Sayang?" tanya Naga menyelidik seraya mulai menyematkan panggilan sayang di belakang nama Zila. Zila tidak menjawab dia hanya menatap jauh ke depan sana.
**
Di kediaman Kobar. Kobar yang kini memakai gift guna menopang tangannya yang sempat patah karena pengeroyokan tempo hari, tengah berjemur di bawah sinar matahari pagi. Disuguhi kopi hitam dan goreng ulen pemberian Zuli tetangga cantik sebelah rumahnya yang selalu perhatian.
Hari ini dan juga hari sebelumnya sudah satu minggu, Kobar tidak masuk kafe. Urusan kafe dia serahkan pada Darga dan Dargi dua pengawal kepercayaannya serta pegawai yang lain.
__ADS_1
Kobar sedang bingung, hari ini orang suruhan Juragan Desta akan datang menagih cicilan yang biasa disetorkan Kobar awal bulan. Namun hari ini pemasukan dari kafe turun drastis. Lalu dari mana dia akan membayar cicilan itu? Sementara Juragan Desta jika telat saja sehari, maka dia akan menaikkan hutangnya.
"Huhhhh, ya, ampun, berat sekali hidup ini. Meminta bantuan Zila sangat tidak mungkin, sebab suaminya juga belum tentu memberikan bantuan. Lagipula jika aku meminta bantuannya, alangkah malunya," Kobar nampak putus asa.
"Kang, kenapa pagi-pagi melamun? Kan sudah ditemani goreng ulen sama kopi hitam yang manisnya sedang?" Zuli tiba-tiba menghampiri dan duduk di samping Kobar yang nampak bingung.
"Akang sedang bingung Zul. Anak buah Juragan Desta malam ini pasti datang untuk menagih. Sementara Akang belum ada uang untuk membayar cicilan itu. Ahhhh, alamat dibengkakkan lagi bunganya sama Juragan Desta," desis Kobar bingung.
"Ya, ampun, Kang. Lalu bagaimana? Zuli tidak bisa bantu. Coba kalau Zuli punya uang, pasti Zuli bantu Kang Kobar meminjamkan uang untuk membayar cicilan hutang Akang." Zuli nampak kebingungan memikirkan hutang Kobar yang semakin membengkak.
"Tidak apa-apa Zul, Akang tidak minta bantuanmu. Akang berbicara seperti ini hanya karena Akang berbagi beban yang rasanya semakin sesak saja jika tidak diceritakan pada seseorang," jelas Kobar diiringi hembusan nafas kasar. Kali ini Kobar benar-benar buntu memikirkan hutangnya yang semakin besar.
Zuli sebagai tetangga yang selalu peduli pada Kobar, ikut menghembuskan nafas kasar merasa prihatin.
"Akang juga sempat kesana pikirannya, Zul. Tapi, akang tidak berani meminta bantuan pada Nak Naga, malu," balas Kobar lesu.
"Lantas bagaimana, dong, Kang? Waktu makin menanjak." Kekhawatiran Zuli malah semakin membuat Kobar kalang kabut.
"Ya, sudah. Akang mau usahakan dulu Zul. Mau mencari bantuan sama orang yang membeli tanah almarhum Haga. Akang mau menunjukkan KTP saja sebagai jaminan."
"Ya, ampun, Akang ini. Saking sudah kebingungan malah nambah masalah. Nanti dikiranya Akang mau nipu jika datang kesana. Kenal juga nggak, masa Akang ujug-ujug datang dan minjam uang. Lebih baik Akang sekarang ke kafe saja, siapa tahu penghasilan hari ini cukup untuk bayar hutang. Mungpung anak buahnya Juragan Desta nanti malam datangnya," usul Zuli.
Kobar menerima usul Zuli. Sekarang dia akan ke kafe menanyakan hasil kafe hari ini, siapa tahu hasilnya cukup untuk bayar cicilan hutangnya bulan ini pada Juragan Desta.
__ADS_1
"Baiklah Zul, Akang sebaiknya ke kafe dulu. Siapa tahu hasil kafe hari ini bagus," ujar Kobar seraya bersiap menyiapkan diri.
"Tapi bagaimana, Kang, dengan tangan Akang yang masih di tahan sama alat penyangga, apakah Akang bisa menjalankan motor?" Zuli merasa khawatir.
"Tenang saja, Zul. Aku akan minta bantuan Dargi untuk mengantarku. Sekarang aku akan menghubunginya," tukasnya seraya meraih HP dan menghubungi seseorang yang diduga Dargi.
Tidak berapa lama, Dargi pun datang dengan motor gedenya. Kobar segera bersiap dan menaiki motor yang dijalankan Dargi. Tujuan utama Kobar yang pertama sebenarnya adalah pemilik baru tanah almarhum adik iparnya **Haga**.
"Akang pergi dulu, ya. Assalamualaikum," pamit Kobar.
"Waalaikumsalam. Hati-hati Kang." Zuli melambaikan tangan dan menatap lekat kepergian Kobar dengan doa-doa di dalam hatinya.
Dargi menjalankan motor sesuai permintaan Kobar, yakni ke alamat tanah yang dulunya milik Haga.
*"
Sementara itu di villa milik Naga, setelah Isya dan makan malam. Naga dan Zila merencanakan akan ke rumah Kobar, untuk menjenguk dan silaturahmi.
"Tapi kamu tidak boleh nginap di rumah Paman Kobar. Kita hanya menjenguknya," peringat Naga yang langsung diangguki Zila.
Naga dan Zila masuk mobil. Mobil segera keluar halaman villa dan meninggalkan villa untuk menuju ke rumah Kobar.
Tepat di samping jalan depan rumah Kobar, mobil Naga tiba. Naga dan Zila melihat sebuah jeep teronggok di depan halaman rumah Kobar. Melihat hal ini, Zila menjadi curiga. Ditambah suara riuh terdengar dari dalam rumah Kobar seperti orang yang sedang berdebat.
Naga memasukkan mobilnya ke dalam halaman Kobar, bersamaan dengan itu suara pintu yang dibanting terdengar berdentum keras. Zila semakin takut dan khawatir dengan keadaan Kobar.
"Brakkkk."
"Paman," jerit Zila khawatir. Naga segera turun dari mobil begitupun Zila. Perasaan mereka tiba-tiba tidak enak.
"Ya, Allah semoga tidak terjadi apa-apa dengan Paman." Zila berdoa di dalam hatinya untuk keselamatan Pamannya.
__ADS_1
Sebenarnya apa yang terjadi di dalam rumah Kobar? Yuk pantengi lagi... Tunggu up date lagi guys....