
Hilda segera menuju mobil dengan perasaan yang sangat kesal dan marah. Gadis muda itu menduga Nagi ada hubungan lain dengan perempuan yang bernama Diara tadi. Sebab Hilda melihat tatapan lain di mata keduanya. Antara segan dan malu. Hilda membuka dengan kasar pintu mobil setelah Nagi membuka kuncinya.
"Bruggghhh." Pintu mobil tertutup dengan kencang akibat kemarahan Hilda. Rasa cemburu seketika membuncah dalam dada. Rasa kesal tiba-tiba timbul. Hilda menangis membuat Nagi panik.
"Sayang, kamu kenapa nangis? Duh, jangan nangis dong, De! Kak Nagi benar-benar tidak ada hubungan khusus apa-apa dengan perempuan tadi," sangkal Nagi.
"Kak Nagi bohong, Kak Nagi pasti menyukai perempuan tadi," tuding Hilda sambil terisak.
"TIdak, Kak Nagi tidak menyukainya," sangkalnya lagi sembari mendekat dan memeluk tubuh Hilda yang langsung ditepis Hilda.
"Aku tidak percaya, Kak Nagi berbohong."
"Tidak, Kak Nagi tidak bohong. Kak Nagi hanya kenal dengan perempuan itu karena dia sekantor di perusahaan Papa yang ada di Jakarta." Nagi mencoba meyakinkan Hilda yang kini makin terisak. Nagi baru pertama kali melihat seorang gadis menangisinya karena cemburu, padahal dia dan Diara tidak pernah terjalin hubungan spesial. Hanya dia saja yang pernah menyukai dan mengungkapkan rasa cintanya pada Diara, tapi ditolaknya.
"Jujur sebenarnya dia siapa dan ada hubungan apa Kakak dengan perempuan itu selain teman kantor?" desak Hilda. Nagi diam, dia bingung harus berkata apa.
"Ok, kalau Kakak diam itu artinya Kakak memang punya hubungan khusus sama perempuan itu. Lalu tadi tiba-tiba saja Kakak di depan dia memanggil aku sayang, aku tahu Kakak hanya ingin membuat dia cemburu dan kecewa sama Kakak dengan cara memanas-manasi dia lewat aku. Jadi, aku buat Kak Nagi hanya alat untuk memanas-manasi perempuan itu? Tega banget Kak Nagi," ceracau Hilda marah seraya membuka pintu mobil. Untungnya segera dikunci oleh Nagi, sehingga Hilda kesusahan untuk membuka pintu.
Nagi meremat rambutnya sendiri, kepalanya mendadak berdenyut mendengar ceracauan Hilda, dia juga bersalah kenapa juga tadi mencoba membuat Diara cemburu dengan memanggil sayang pada Hilda, padahal sebelumnya belum pernah. Dan pada akhirnya Hilda malah yang cemburu dan curiga bahwa dia dan Diara ada hubungan khusus.
"Ok, ok, aku minta maaf. Aku akan jujur sama kamu. Tapi kamu dengar dulu jangan nangis lagi. Aku mohon." Nagi memohon karena kini Hilda benar-benar menangis layaknya seorang gadis yang baru saja diputuskan cinta sama pacarnya.
Wajar saja Hilda begitu sedih, sebab rasa cintanya pada Nagi begitu besar. Sejak usia 15 tahun, tiga tahun yang lalu, Hilda sudah memiliki rasa cinta pada Nagi. Sampai-sampai ketika teman-temannya yang lain sudah memiliki cinta monyet di umur segitu, Hilda tidak pernah mencobanya, sebab yang dia cinta hanyalah Nagi sepupunya yang selalu mengantar jemput sekolah.
Dan diusia Hilda delapan belas tahun lebih inilah, rasa cinta Hilda yang besar pada Nagi berubah menjadi rasa takut, takut akan kehilangan, sehingga dengan ekspresifnya Hilda mengungkap secara terus terang bahwa dia sangat mencintainya tanpa ditutup-tutupi.
Awalnya Nagi pun tidak menganggap semua itu serius, Nagi berpikir Hilda hanya bercanda. Namun dugaannya salah, rupanya Hilda benar-benar mencintainya. Hilda memiliki ambisi untuk memiliki Nagi dengan cara yang ekpresif dan malah cenderung agresif.
"De, dengar Kak Nagi. Aku mohon, sekali ini saja untuk memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya," pinta Nagi seraya mendekati Hilda dan memberikan tisu untuk mengusap air matanya. Nagi harus pandai-pandai membujuk Hilda.
__ADS_1
"Aku akan jujur kalau kamu berhenti nangis." Nagi akhirnya memberikan ultimatum supaya Hilda berhenti nangis, tapi sepertinya susah kalau membujuk orang yang sedang patah hati, hatinya pasti terasa sakit dan ingin terus menangis.
Nagi segera menutup kaca jendela dan menyalakan mesin mobil, dia harus segera keluar dari area parkir ini dan segera keluar dari kawasan wisata Tangkuban Perahu. Nagi akan mencari tempat yang agak sepi untuk membujuk Hilda. Nagi menjadi merasa bersalah dan sakit kepala menghadapi Hilda yang susah dibujuk, beginilah jika menghadapi ABG yang masih labil, sulit dibujuk.
Nagi mulai melajukan mobilnya dan turun gunung, lajunya sengaja pelan sembari mencari tempat parkir di turunan kaki gunung Tangkuban Perahu ini untuk sejenak dia parkir.
"Mau dibawa kemana, aku, Kak? Turunkan aku, aku tidak mau jalan dengan Kak Nagi lagi," pintanya marah. Air matanya kini mulai berhenti, hanya sisa sembabnya yang masih jelas terlihat.
Nagi segera membelokkan mobilnya saat menemukan rest area pertama di kaki gunung itu, tempatnya juga terlihat sepi tidak seperti di puncak Gunung Tangkuban Perahu yang banyak lalu lalang orang. Protes Hilda juga tidak didengarnya, yang penting dia harus menjelaskan dan membujuk Hilda supaya kembali ceria seperti saat berangkat tadi.
"Kak Nagi, mau apa ke tempat ini?" herannya dengan mata yang awas.
"Aku cuma mau parkir di tempat ini yang pengunjungnya tidak lalu lalang di luar. Kalau kamu mau, kita masuk ke dalam dan kita istirahat sejenak untuk merilekskan tubuh dan pikiran kita yang sedang mumet atau marah ini," ujar Nagi diiringi senyum usil. Hilda terbelalak dengan ucapan Nagi barusan.
"Tidak, cukup di sini saja. Dan kalau Kak Nagi mau membicarakan hal yang tadi yang berkaitan dengan perempuan tadi, baiknya segera katakan dengan jujur di sini. Dan jika Kak Nagi masih belum jujur juga, aku sebaiknya turun di sini dan biarkan aku pulang sendiri naik grab," ketusnya was-was.
"Ok, aku siap mendengar. Tapi ingat, Kak Nagi harus jujur. Kalau tidak jujur, aku turun di sini dan pulang sendiri."
"Baiklah, Sayang, aku akan jujur sama kamu yang suka ngambek dan susah dibujuk."
"Jangan coba-coba menggoda aku. Cepat katakan, apa hubungan Kak Nagi dengan perempuan tadi?" berangnya seraya mendilak.
"Tenang dulu, tarik nafas dan keluarkan dari mulut, maka kamu akan semakin tenang."
"Cepat, jangan bertele-tele!" sergahnya tidak suka.
"Aku mulai, ya? Sebenarnya dia adalah Diara, Sekretaris di kantor Papa. Sejak dia mulai masuk sebagai karyawan di kantor Papa, aku mulai menyukainya dan sempat menyatakan cinta. Tapi semakin aku kejar dia malah semakin menjauh. Lalu beberapa bulan kemudian setelah aku gagal dan ditolak secara halus oleh Diara, Kak Nagi tidak berputus asa dan mulai menyatakan cinta lagi. Dan untuk yang kedua kalinya ditolak kembali, dengan alasan dia ingin fokus bantu orang tuanya di kampung yang sudah janda, Diara tidak mau menjalin hubungan yang lebih dari hubungan rekan kerja, yaitu hubungan atasan dan bawahan." Nagi menjelaskan sembari matanya jauh menerawang.
__ADS_1
"Lantas apa yang membuat Kak Nagi jatuh cinta sama perempuan sederhana itu?" selidiknya ingin tahu.
"Dia sederhana dan lembut dan pekerja keras serta tidak manja," jawab Nagi yang seketika menyayat ulu hati Hilda. Sementara dia, sama sekali bukan perempuan yang sederhana, lembut, pekerja keras. Hilda malah cenderung manja dan bar-bar serta keras kepala. Mengingat akan hal itu, sepertinya Hilda bukan tipe pilihan Nagi.
Hilda merasa sangat sedih. Tingkahnya yang kolokan seperti ini rasanya sudah bawaan lahir. Tapi dia ingin memiliki Nagi yang memiliki kriteria perempuannya seperti perempuan yang bernama Diara tadi.
Hilda nampak berkaca-kaca, dia merasa jauh panggang daripada api, apa yang dia inginkan sepertinya akan jauh tergapai. Hilda menoleh ke arah Nagi dengan wajah yang sedih.
"Semoga saja keinginan Kak Nagi tercapai," ketusnya berurai air mata seraya memalingkan muka ke arah jendela dan tidak menoleh lagi ke arah Nagi. Hilda merasa sudah putus harapan, karena dia bukan tipe yang dicari Nagi. Sontak Nagi menyadari kekeliruannya, kejujurannya pun bahkan malah membuat Hilda sakit hati.
"De, kok nangis?" Nagi segera mendekat dan berpindah posisi menuju jok yang diduduki Hilda seraya merangkul tubuh Hilda. Dia menyesal telah bertemu Diara tadi di puncak jika harus menyakiti gadis ekspresif di sampingnya ini. Hilda menangis semakin menjadi. Nagi semakin dilanda bingung.
"De, maafin Kak Nagi, jika cerita Kak Nagi tadi menyakiti kamu. Kak Nagi mohon, berhentilah menangis. Dan Kak Nagi harap kamu tetap jadi diri kamu tidak menjadi orang lain untuk mendapatkan hati Kakak," pungkasnya seraya berusaha membalik tubuh Hilda dan berusaha menyusut air matanya yang semakin luruh.
"*Ya ampun, aku salah. Seharusnya aku tidak mengatakan sikap Diara di depan Hilda. Kalau sudah begini, aku harus bagaimana*?" Nagi berpikir dalam hati mencari cara supaya Hilda berhenti menangis.
Perlahan Nagi mencoba membalik tubuh Hilda supaya wajahnya bisa dia tatap, mungkin inilah cara satu-satunya yang ampuh untuk menghentikan tangisan Hilda.
"Kenapa kamu harus sedih memikirkan apa yang aku suka dari perempuan itu? Jika kamu berubah seperti diapun, belum tentu menjadi otomatis kamu akan aku sukai, beda orang beda lagi rasa ketertarikanku. Dia masa lalu yang tidak pernah tergapai olehku dan aku saat ini dan seterusnya tidak sedang mencari perempuan seperti dia. Tapi aku mencari perempuan yang tulus mencintai aku apa adanya. Kamu tidak perlu menjadi orang lain untuk mencintai aku," tegas Nagi meyakinkan hati Hilda.
Hilda terisak, tangisnya mulai reda. Air matanya mulai kering karena Nagi membantu menyekanya. "Sudahlah jangan menangis, aku suka kamu yang seperti ini," ungkap Nagi seraya menjamah dagu Hilda. Dengan cepat Nagi sudah menyatukan bibirnya dengan bibir Hilda. Hilda meronta. Namun Nagi menahannya dengan kuat.
Beberapa saat kemudian. " Kak Nagi modus," teriaknya sembari memukul-mukul dada bidang Nagi. Nagi tersenyum melihat Hilda kembali bisa tersenyum.
"Tapi suka, kan?" ujarnya tersenyum seraya memeluk Hilda dengan erat, lalu mengecup rambut Hilda yang wangi.
"Terpaksa," balas Hilda sembari mencubit lengan Nagi.
__ADS_1
"Awww, sakit, Sayang," jerit Nagi sembari menyambar tubuh Hilda dalam pelukannya.