
Seminggu berlalu, Zila bosan di rumah. Terlebih harus berdiam diri tanpa melakukan sesuatu. Ditambah sikap ibu mertuanya masih belum sehangat saat dia hamil. Bi Rani dan Bi Rana sudah sigap mengerjakan pekerjaan rumah dengan cepat, mereka tidak mau Zila menyerobot dan membantu mereka.
Bi Rani merasa tidak enak, karena bagaimanapun juga Zila merupakan Nonanya juga. "Rana, cepat sapu halaman belakang, aku takut Non Zila malah menyapu jika masih kotor dengan daun-daun," suruh Bi Rani pada Bi Rana.
"Baiklah, kalau begitu kamu bereskan cuci piring ini, aku ke belakang dulu, deh." Bi Rana setuju dan beranjak menuju halaman belakang.
Sementara masih di dalam kamar, Zila dan Naga terlibat sebuah perdebatan kecil. Zila yang meminta Naga mengijinkannya ikut ke kantor karena sudah cukup sehat. Naga menolak, alasannya Zila masih perlu istirahat lagi untuk memulihkan kesehatannya pasca kuret.
"Sudah aku bilang, kamu di rumah saja. Beristirahatlah supaya kamu cepat sehat dan bisa hamil lagi," cegah Naga sembari merapikan dasinya. Zila menatap kecewa, lalu mendekati Naga dan merangkulnya.
"Kak, aku bosan di rumah terus. Aku tidak boleh bekerja ini itu oleh Bi Rana maupun Bi Rana. Lantas ke luar rumah untuk jalan-jalan di mall saja dilarang, padahal tinggal diantar sama Pak Wawan saja, tapi masih dilarang dan Kak Naga khawatir, gimana aku bisa cepat pulih kalau d rumah terus," protesnya dengan gayanya yang merajuk.
"Zi, bisa nggak kamu untuk selalu patuh sama aku suami kamu? Kamu ingat tidak saat aku sempat tidak mengijinkan kamu ke Lembang, tapi kamu ngeyel terus, lalu apa yang terjadi? Karena kamu tidak pernah dengarkan aku, akhirnya apa? Kita kehilangan anak yang selama ini aku impi-impikan. Apakah kamu mengerti perasaan aku ini, aku sedih tahu?" ujarnya seraya mengurai rangkulan Zila dengan perlahan. Zila diam, sepertinya Naga sedang menyudutkan dirinya. Lagi dan lagi masalah itu diungkit, dia juga sama sangat sedih atas kehilangan calon bayinya.
"Aku juga sama, Kak, sedih atas musibah ini. Tapi bisakah Kak Naga tidak menyalahkan aku terus? Aku juga masih bisa punya anak dan hamil lagi, kalau perlu kembar sekalian," belanya sedih. "Kak Naga jangan terlalu menyalahkan aku, sebab aku juga sama kehilangan," lanjutnya sambil berurai air mata lalu pergi dari kamar meninggalkan Naga sendirian.
"Zi," panggilnya. Namun Zila sudah menjauh dan berlari menuruni tangga. Bersamaan dengan itu suara ucapan salam dari seseorang terdengar nyaring, Naga heran sepertinya dia mengenal suara itu. Zila yang masih di tangga menghentikan langkahnya dan mendengar, suara siapakah itu?
Zila menyeka air matanya lalu menuruni tangga dan tidak peduli dengan siapa yang datang.
"Assalamualaikum, tanteee, ommm, aku datang," teriaknya lantang seperti sudah tidak ragu-ragu lagi.
__ADS_1
"*Perempuan itu, mau apa ke sini*?" batin Zila was-was. Karena Bi Rana belum muncul terpaksa Zila menyambut perempuan yang dulu digadang-gadang akan dijodohkan sama Naga.
"Waalaikumsalam," jawabnya dengan senyum dipaksa. "Eh, Mbak Sila. Silahkan masuk Mbak." Zila mempersilahkan tamu mertuanya masuk dengan berusaha tersenyum ramah. Sementara itu Bu Hilsa yang samar-samar mendengar suara ucapan salam, segera keluar kamar menyusul Pak Hasri yang sejak tadi sudah keluar kamar.
"Seperti aku kenal, Sila? Benarkah dia Sila?" Bu Hilsa nampak girang mendengar suara Sila terdengar.
"Mbak Sila, silahkan diminum." Zila mempersilahkan tamu ibu mertuanya minum setelah tadi dia berhasil mencegah Bi Rana yang mau mengantarkan minuman ke depan.
"Oh terimakasih. Kamu kan istrinya Mas Naga, bukankah kemarin kabarnya hamil, tapi kenapa sekarang belum melendung-melendung sih, jangan-jangan kamu hamil bohongan, ya?" tanya Sila tidak tahu tempat. Sebetulnya Zila malas melayani nenek lampir di depannya ini, tapi demi meraih hati kedua mertuanya dia berusaha seramah mungkin pada Sila tamu ibu mertuanya.
"Iya, Mbak, kemarin saya benar-benar hamil. Namun, sayang Allah belum mempercayakan kami keturunan. Janin yang aku kandung keguguran." Zila mengungkit kembali musibah yang menimpanya sebulan yang lalu.
"Ehhhh, Sila. Kapan datang dari Singapura? Kamu makin cantik saja. Duhhhh, anaknya Mama Anggi semakin glowing saja." Tiba-tiba Bu Hilsa datang menghampiri ruang tamu dan menyambut Sila dengan penuh senyum bahagia lalu merangkulnya dan menciumnya penuh kerinduan, diimbuhi kata-kata pujian. Zila yang melihat terbersit rasa cemburu melihat kehangatan keduanya.
Mana pernah dirinya diperlakukan mesra begitu oleh seorang perempuan dewasa yang bernama ibu. Saat tahu dirinya hamil saja, kehangatan yang ditunjukkan Bu Hilsa tidak seperti itu. Zila selalu saja sensitif jika mengingat seorang Ibu, dan Zila selalu merindukan kasih sayang seorang ibu. Sejujurnya dalam hatinya ingin disayang oleh mertuanya seperti disayang oleh seorang ibu. Zila rindu belai kasih sayang seorang ibu yang tidak pernah dia dapatkan, kecuali saat kecil yang tidak mampu dia ingat kebersamaan dengan sang ibu karena Zila masih dua tahun kala itu.
"*Ibu, Bapak, seandainya kalian masih ada, ingin rasanya aku bercengkrama bersama kalian dan bermanja. Aku sungguh merindukan kasih sayang kalian terutama ibu*," lamunnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kak Silaaa, apakabar?" jerit Hilda yang tiba-tiba muncul dan menjerit histeris lalu merangkul Sila dengan bahagia.
__ADS_1
"Ya ampun, Hildaaa. Kakak baik, Hil. Kamu makin cantik saja dan tambah dewasa sepertinya." Sila membalas pelukan Hilda dengan erat, mereka nampak sama-sama bahagia. Zila tambah sedih, hatinya dilanda cemburu. Dia yang selama ini berharap bisa disayang oleh orang-orang yang sudah menjadi anggota keluarga barunya, tapi tidak dia dapatkan terlebih saat dia keguguran. Kedua mertuanya juga masih terlihat dingin dan kaku. Hilda apalagi, sama sekali tidak pernah menganggap dia kakak ipar. Dan yang lebih sakit, sikap Naga yang masih dingin sejak dia keguguran semakin menambah rasa sedih di hatinya.
"Oh iya, tadi pertanyaanku belum dijawab. Kenapa menantu tante bisa keguguran?" tanya Sila mengulang pertanyaannya tadi seraya mengurai rangkulannya dengan Hilda.
"Dia keguguran karena habis naik pohon mangga," jawab Hilda yang sukses membuat Sila terlongo lalu dengan cepat tertawa terbahak-bahak seolah mendapatkan sebuah hal yang lucu. Hilda ikut tertawa kecil. Zila yang melihat Sila tertawa sangat sedih sekaligus miris, ternyata orang berpendidikan tinggi saja tidak punya rasa empati dan simpati pada Zila yang mendapatkan musibah. Zila menatap Sila dengan kecewa.
"Stopppp, jangan ketawain istri aku atas musibahnya." Naga tiba-tiba datang dan menghentikan tawa Sila yang menggema.
"Mas Naga, aku bukan menertawakan musibah yang menimpa istri Mas Naga, melainkan kecelakaannya itu yang membuat aku ketawa, kata Hilda istri Mas Naga keguguran karena habis naik pohon mangga, aku lucu saja kenapa ibu hamil bisa naik pohon?" ralat Sila sedikit merendahkan bicaranya.
Naga menghampiri Zila dan meraih lengan Zila yang kini air matanya mulai menetes, padahal dia berusaha menahan bulir bening itu supaya tidak turun. Zila menepis tangan Naga, dia juga kesal sama Naga karena sikapnya tadi di kamar yang sempat menyudutkan Zila tentang kegugurannya.
"Jadi, begini hasil sekolah tinggi-tinggi dengan karir yang bagus dan pergaulan sosialita yang seabreg, sayangnya tidak dibarengi empati dan simpati yang tinggi pada seseorang yang mengalami musibah, malah ketawa terbahak-bahak persis menonton doger monyet," ucap Zila menohok ulu hati sila yang langsung diam saat itu juga. Kebetulan saat itu Pak Hasri sudah tiba di ruang tamu dan mendengar apa yang Zila katakan. Menantunya itu berbicara dengan penuh sorot mata yang marah dan kecewa serta tegas. Pak Hasri tidak menduga Zila bisa berbicara seperti itu.
Semua masih diam dan terhenyak dengan ucapan Zila barusan. "Dan mirisnya, justru modelan seperti inilah idaman para orang tua yang punya anak laki-laki untuk dijadikan menantu. Mbak Sila masih beruntung, meskipun tidak punya empati dan simpatik, tapi masih banyak para orang tua yang mengharapkan Mbak Sila jadi menantu bagi anak laki-lakinya," tandas Zila menohok dua kali buat Sila maupun semua yang berada di sana.
Zila menyeka air mata setelah menyudahi bicaranya. Lalu Zila berbalik dan berlalu dari ruang tamu menuju ke belakang halaman rumah, di mana tempat ini adalah tempat ternyaman buatnya menenangkan diri.
Setelah Zila pergi, sejenak keadaan ruang tamu menjadi hening. Kata-kata Zila barusan sepertinya menohok untuk semua. Zila pergi dengan uraian air mata, sementara mereka yang masih bertahan di ruang tamu sejenak masih terlihat gelisah. Beberapa saat kemudian Naga beranjak meninggalkan ruang tamu dengan hati yang merasa bersalah pada Zila.
__ADS_1