
Naga bingung harus berbuat apa dengan yang baru saja dilihat dan didengarnya dari laporan Hasya dan Nagi. Laporan dari kedua orang tuanya juga Hasya dan Nagi membuat dia dilanda bingung. Padahal dia sudah menyiapkan segalanya. Pernikahan dengan gadis itu hanya tinggal kurang dari 24 jam lagi. Apa yang harus diputuskan Naga?
"Bos masih bisa memutuskan untuk membatalkan pernikahannya besok. Sekarang masih ada waktu Bos untuk membatalkan." Sambil menyeruput kopi untuk menghangatkan badannya, Hasya mengusulkan pendapatnya.
"Sudahlah, tinggalkan aku sendiri. Aku ingin menyendiri dan berpikir jernih untuk memutuskan besok." Naga beranjak meninggalkan Hasya dan Nagi yang masih di beranda dengan suguhan secangkir teh. Suasana memang dingin, jadi Hasya dan Nagi menikmati kopi di sore hari ini.
"Zila Arzilla, benarkah kamu merupakan gadis kampung pelayan kafe yang merangkap melayani pria hidung belang? Sungguh tidak bisa kupercaya." Naga menggeleng-gelengkan kepalanya menyangkal semua dugaannya.
Besok tiba, Naga memerintahkan Hasya dan Nagi untuk bersiap. Hasya dan Nagi menduga bahwa Naga akan membatalkan rencana pernikahannya bersama gadis yang bernama Zila Arzilla itu. Namun fakta malah mencengangkan, Naga justru memerintahkan Hasya dan Nagi menjadi saksi atas pernikahannya.
"Kalian jadi saksi pernikahanku bersama gadis itu. Aku akan tetap menikahinya, tapi setelah menikah aku punya rencana untuk gadis itu. Aku tidak membatalkan pernikahan karena semata menghindar dari pandangan buruk masyarakat di sini yang kelak akan menjadi tetangga baruku, bahwa aku bukan pecundang yang lari disaat hari penikahannya," ujar Naga penuh keyakinan sehingga Hasya dan Nagi tidak bisa lagi memberikan tanggapan apa-apa lagi.
Sementara itu, di kediaman Kobar tamu sudah mulai berdatangan. Sengaja Kobar hanya mengundang keluarga dekat dan tetangga dekatnya saja. Karena atas permintaan pihak laki-laki, pernikahan ini sederhana saja. Yang penting ada ijab qabul dan semua rukun terpenuhi.
Kobar dan Zila tidak mempermasalahkan. Mereka menerima keputusan pihak laki-laki dengan lapang dada.
Zila kini masih dirias oleh MUA yang khusus dikirim pihak Naga. Tinggal sentuhan terakhir sang MUA memoleskan bedak di wajah Zila. Seketika, wajah Zila yang dasarnya memang sudah cantik, semakin bertambah cantik setelah sang MUA meriasnya dengan sempurna. Zila menjelma menjadi pengantin Sunda yang sangat cantik dan mempesona. Terlebih dia masih gadis perawan yang kecantikannya nampak semakin bersinar tidak ada yang mengalahkan.
Zila hari ini diibaratkan seorang ratu yang kecantikannya tidak tertandingi.
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul 9.00 pagi. Para tamu undangan mulai berdatangan. Pak Penghulu dari KUA setempatpun sudah datang bersama salah satu saksi dari pihak KUA. Hanya tinggal calon mempelai pria yang belum datang.
Kini Zila sudah siap menjadi pengantin. Saat MUA menyuruh bercermin, sejenak Zila tersentak melihat dirinya betapa cantik dan membuat pangling. Tiba-tiba Zila sangat sedih, sebab dia teringat kedua orang tuanya yang hanya dia kenal lewat foto saja. Zila sedih, disaat hari pernikahannya ini tidak ada kedua orang tuanya. Bahkan saudara kandung dari pihak Ayahnya Zila saja tidak mau menghadiri.
Zila sebetulnya masih punya wali nikah yang sah, yaitu Haidar sebagai Mamang (om) kandung dari pihak ayahnya. Namun, saat Kobar mengabarkan bahwa Zila akan menikah dan meminta Haidar menjadi wali nikahnya, Haidar menolak dengan alasan ada urusan lain keluar kota yang lebih penting dari pada menghadiri pernikahan keponakannya yang dianggapnya miskin dan tidak selevel.
Kobar sedih saat menyampaikan penolakan Om kandung Zila yang tidak mau menjadi wali nikah keponakannya itu. Dan kini kesedihan itu malah dirasakan Zila sekarang. Sebagai keluarga dia merasa tidak dianggap lagi.
"Cari saja orang lain sebagai wali hakim. Aku sibuk ada urusan keluar kota yang lebih penting," ujarnya dengan judes.
"Sayanggg, sudah jangan menangis. Zi, sudah, ya," bujuk Zuli yang memang sudah sayang ke Zila seperti dia menyayangi anaknya sendiri yang sekarang jauh merantau kuliah dan kerja di Jakarta.
Zuli memanggil MUA untuk membetulkan riasan wajah Zila. "Wahhhh, Mbak Zila menangis ya? Tapi air mata ini sebenarnya tidak akan membuat luntur riasan di wajah Mbak Zila, sebab alat make up saya kualitas tinggi yang tidak mudah luntur jika kena air. Ini sifatnya water proof, " jelas sang MUA membuat Zuli lega. Sang MUA hanya menepuk air mata yang membasahi pipi Zila.
"*Ibu, Bapak, hari ini Zila menikah. Semoga pernikahan yang tidak didasari cinta ini, berjalan lancar dan tidak ada hambatan berarti*," batin Zila disela wajahnya yang diberikan kembali sentuhan terakhir oleh MUA.
Beberapa saat kemudian, rombongan dari pihak pengantin pria sudah datang. Terdengar dari suara riuh di depan rumah Kobar yang kini dipasang tenda menandakan ada sebuah perhelatan pernikahan.
__ADS_1
Naga yang dihadiri kurang lebih lima orang sebagai saksi nikahnya, segera diarahkan ke hadapan meja ijab qabul yang sudah dihadiri Penghulu juga salah satu saksi. Kobar, sang Pamanpun sudah berada diantara saksi dan para tamu undangan yang sudah hadir.
Di pernikahan sang Ponakan ini, terpaksa Kobar hanya bisa menghadirkan Pak Ustadz Handi sebagai wali hakim untuk Zila, dan menunjuk dua orang saksi dari keluarga Kobar, yakni adiknya, Kabir, dan juga RT setempat.
Proses ijab qabulpun mulai diperdengarkan. Pak Penghulu mulai berbincang sedikit kepada saksi maupun wali hakim dan tentu saja pada Naga sebagai mempelai prianya. Naga nampak sangat tampan dan berwibawa, mengenakan jas warna krem senada dengan kebaya pengantin yang dikenakan Zila.
"Ananda **Naga Panega** saya kawinkan dan nikahkan Engkau dengan putri kandung almarhum Bapak **Haga Barata** yang bernama **Zila Arzilla**, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 24 karat seberat 50 gram dibayar, **TUNAI**," lantang suara Pak Penghulu sampai menggema ke dalam kamar rias pengantin membuat bulu kuduk Zila meremang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Zila Arzilla binti almarhum Bapak Haga Barata, dengan mas kawin tersebut, **TUNAI**." Dengan satu tarikan nafas, Naga berhasil mengucapkan ikrar ijab qabul dengan lancar. Rasa lega dan haru tiba-tiba menyeruak di dalam dadanya, bahkan Naga seakan ingin meneteskan air mata saking terharunya. Entahlah apa sebenarnya yang dirasakan Naga saat ini, padahal dengan dua pernikahan yang sebelumnya, Naga tidak seterharu saat ini.
Pengantin wanita mulai dibawa keluar kamar rias, menuju meja yang tadi sudah digunakan ikrar ijab qabul oleh Naga. Kini prosesi lumrah kedua mempelai akan segera dimulai. Zila mulai menghadapkan wajahnya ke arah Naga, seketika itu hati Zila berdesir melihat wajah tampan kota Naga yang begitu mempesona dan menarik hatinya.
Naga juga merasakan desiran yang sama dalam hatinya. Rasa cinta yang sejak awal sudah mencuat kini hadir lagi ketika melihat betapa cantiknya Zila Arzilla di hadapannya. Kedua mempelai mulai saling menyematkan cincin kawin lalu keduanya saling mencium satu sama lain. Zila mencium tangan Naga, sedangkan Naga mencium kening Zila. Momen ini tidak lupa didokumentasikan di HP maupun kamera juru foto sewaan Naga.
Penandatanganan buku nikah dan berkas lainnya juga kemudian segera dilakukan. Dan akhirnya semua proses pernikahan sederhana ini dari awal acara sampai selesai, diberikan kelancaran dan bak jalan tol.
Proses pernikahan usai, kini mereka telah sah menjadi suami istri baik agama maupun negara. Naga dan Zilapun memasuki kamar khusus yang sudah dirancang sebagai kamar pengantin. Para tamu yang masih hadir mengguyonnya dan menduga bahwa mereka sedang akan mempersiapkan malam pertama.
__ADS_1
.