
Naga keluar dari lift kemudian menuju kamarnya, kepalanya yang pening sejak diadakannya rapat mendadak bersama para Supervisor semua departemen, semakin menghentak-hentak kepalanya. Maklum agenda hari ini yang cukup padat, membuat Naga sama sekali tidak ada jeda untuk sekedar beristirahat. Ini semua gara-gara berita kedatangan Dila ke pabrik dan mengawasi proses produksi, sehingga setelah agenda rapat bersama Manager Marketing, tiba-tiba harus disambung dengan rapat dadakan bersama seluruh Supervisor.
Tiba di depan pintu kamarnya, pintu kamar terbuka secara otomatis setelah Naga memasukkan sebuah kartu sebagai kunci pintu hotel. Bersamaan dengan bunyi klik, pintu itu terbuka.
Saat Naga masuk kamar, tiba-tiba seseorang ikut menyerobot masuk ke dalam kamarnya. Naga terkejut setengah mati dan hampir saja terjungkal. Naga memegangi dadanya karena kaget.
"Ya ampun, Dila. Apa-apaan kamu. Kenapa kamu bisa masuk ke dalam kamar saya? Keluar!" pekik Naga marah. Dila yang diusir malah senyum-senyum menantang dan berusaha mendekati Naga dengan pose yang menantang.
"Ayolah Naga, kita ulang kembali masa-masa indah bersama dulu yang pernah kita lewati berdua, mungpung kita sudah berada di dalam kamar," rayunya seraya berusaha memeluk pinggang Naga, Naga menepisnya dan menghalau tangan Dila.
"Jangan coba-coba ganggu aku dan rayu aku, sebab aku tidak akan tergoda," ketus Naga tidak suka. Naga dengan cepat melangkah menuju pesawat telpon untuk menghubungi bagian resepsionis supaya Satpam hotel menuju dan masuk ke dalam kamarnya, untuk mengamankan penyusup yang masuk kamarnya. Tidak lupa Naga juga menghubungi dua pengawalnya yang kecolongan, karena Dila bisa sampai tidak terawasi dan masuk ke dalam kamarnya dengan cara mencuri kesempatan saat dirinya membuka pintu hotel.
"Ha, ha, ha, mati kamu Naga, kali ini kamu tidak akan aku lepaskan, sebab kopi latte yang diantar OB tadi sudah aku bubuhi obat tidur," batin Dila licik.
Naga memijit-mijit tulang hidungnya karena pening kepala yang dirasakannya kini disertai rasa ngantuk yang berat. Mungkin saja obat tidur yang dibubuhkan Dila tengah bereaksi. Naga mencoba melawan rasa kantuk itu supaya tubuh dan matanya jangan lemah karena ngantuk sebelum dua pengawal dan Satpam datang ke kamarnya.
Dila bangkit, melihat Naga memperlihatkan reaksi dari obat tidurnya, kini gilirannya beraksi. Dila menghampiri Naga yang berpegangan pada ujung meja supaya tubuhnya tidak ambruk. Dila memegangi tangan Naga, dan berusaha membawanya ke atas ranjang. Naga mengikutinya sembari menahan tubuhnya supaya tidak ambruk, terlebih ambruk di atas ranjang.
Tiba di tepi ranjang, dengan cepat Naga menepis sekuat tenaga tangan Dila yang menuntunnya. Dila terjengkang di atas kasur dan terlihat meringis. Naga kesal, sebab pihak hotel dianggap lambat dalam merespon laporannya. Melihat Dila mencoba berdiri dari ranjang, Naga segera menjauh meskipun rasa kantuk sudah menjalar dan rasanya Naga ingin tidur.
"Cepatlah datang, aku tidak kuat berdiri lagi untuk lebih lama, sepertinya aku dalam pengaruh obat tidur, jika kalian lambat dalam waktu lima detik, maka terima akibatnya!" ancamnya geram saat berhasil menghubungi dua pengawalnya yang dirasa lambat saat Naga membutuhkan bantuannya.
Dila semakin mendekat dan aksinya kini semakin berani. Namun malang, pintu kamar Naga keburu dibuka Satpam hotel dan mereka langsung masuk diikuti dua pengawal Naga yang tadi berhasil dihubungi Naga.
__ADS_1
"Pak amankan perempuan ini dan usir dari hotel ini, karena perempuan ini telah berani menyusup ke dalam kamar Bos kami. Cepat laksanakan," tegas Gordo salah satu Pengawal Naga yang berhasil datang tepat waktu.
Dila segera membetulkan kancing kemejanya yang tadi sengaja dia buka untuk menjalankan aksinya yang gagal.
Satpam yang diperintah Gordo masih berdiri mematung dan tidak menjalankan perintah Gordo. "Kenapa kalian masih diam saja? Amankan perempuan ular ini, sebab dia masuk ke dalam kamar Bos kami tanpa seijin Bos kami dan Bos kami tidak terima," bentak Gordo kesal melihat Satpam hanya diam berdiri.
"Saya minta maaf tidak bisa mengusir Nyonya ini, sebab Nyonya ini merupakan tamu VVIP di hotel ini," ujar Satpam merasa segan.
"Ok, dia tamu VVIP, tapi Bos kami juga tamu VVIP di hotel ini. Silahkan, bawa tamu VVIP hotel ini ke kamarnya, sepertinya dia salah masuk kamar hotel," ujar Garda Pengawal Naga yang berkulit coklat dengan mata yang terbelalak.
Satpam hotel yang bernama Randa sesuai name tagnya, terlihat ketakutan melihat Garda melototkan matanya, kemudian dia berkata dengan sopan pada Dila untuk mengajak Dila keluar kamar Naga.
"E eh, jangan berani pegang-pegang saya, dasar Satpam kurang ajar! Lagipula saya adalah calon istri dari tamu hotel ini, jadi wajar saja say sekamar dengan dia," akunya sembari mendekati Naga yang sudah tidak sadarkan diri karena tertidur akibat pengaruh obat tidur.
"Jangan kurang ajar, Bos kami tidak memiliki calon istri seperti Anda. Anda menjauh, atau kalau Anda berani mendekat, maka saya akan memanggil pemilik hotel ini supaya Anda diusir langsung oleh si pemilik hotel," tahan Garda sangar. Dia sudah tahu gelagat licik Dila yang bermaksud memperdaya Naga.
Karena melihat Dila yang semakin ngelunjak, Garda menghampiri Dila dan menarik lengannya, kemudian membawa Dila keluar paksa dari kamar Naga. "Mau saya lempar Anda dari kamar ini? Keluarlah baik-baik," seret Garda mengeluarkan Dila dengan kasar.
"Huhhh, sialan, dasar pengawal tidak tahu bersikap lembut sama perempuan. Aku doakan elu mendapatkan istri seorang petarung *Kick* *Boxing*, biar lu mampus tiap hari jadi samsaknya," dengus Dila kesal seraya meninggalkan kamar Naga dengan hati yang sangat kecewa.
__ADS_1
Setelah berhasil mengusir Dila dalam kamar Naga, Garda juga kini mengusir Satpam Randa, Garda tidak suka dengan Satpam yang tidak becus bekerja seperti Randa.
"Elu juga pergi, sepertinya elu jadi Satpam hanya seragamnya saja yang menyeramkan, coklat mirip Polisi, tapi ngusir penjahat kelamin saja tidak becus," cetus Garda sangar. Satpam bernama Randa menciut, kemudian dia pergi dari kamar Naga seraya berpikir tentang ucapan Garda barusan.
"Penjahat kelamin? Memangnya perempuan juga ada penjahat kelaminnya? Biasanya lelaki yang sering mendapatkan julukan begitu," pikirnya pusing sendiri sembari berlalu menuju pos tempatnya berjaga.
Gordo dan Garda bahu membahu mengangkat tubuh Naga yang sudah tertidur pulas akibat pengaruh obat tidur, kemudian Naga dibaringkan di ranjang kamar hotel itu.
"Biarkan Bos Naga istirahat dulu sampai pengaruh obat tidurnya hilang, kita awasi saja dari CCTV yang dihubungkan dengan Hp kita," ujar Gordo seraya menyelimuti tubuh Naga dengan selimut hotel. Kemudian Gordo dan Garda keluar kamar Naga setelah situasi sudah terkendali dan aman.
Naga beruntung, posisi bahayanya segera ditolong oleh kedatangan Satpam dan dua pengawal setianya. Jika terlambat, maka tidak menutup kemungkinan Dila sudah berbuat nekad dengan memanfaatkan keadaan Naga yang tidak sadarkan diri karena ngantuk.
Malam telah larut, Naga terbangun dan sudah sadar dari pengaruh obat tidurnya, hanya sakit kepalanya masih terasa. Naga mengerjap-ngerjap matanya kemudian melihat jam di tangan yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Waktu yang tidak memungkinkan lagi untuk Naga menghubungi Zila. Yang karena kesibukannya, Naga tidak sempat menghubungi Zila.
"Maafkan aku, Sayang," bisiknya menyesal seraya mengirimkan sebuah pesan WA pada Zila.
***
Sementara itu di kota Bandung, Zila yang beberapa hari ini tidak bisa menghubungi Naga, merasa sedih dan kecewa pada Naga yang berjanji setelah sampai Surabaya akan sering-sering menghubunginya. Namun nyatanya Naga sama sekali tidak menghubunginya.
Tiba-tiba sebuah pesan WA masuk dari nomer yang tidak dikenal. Mengirimkan sebuah rekaman vidio yang memperlihatkan seorang perempuan mengikuti masuk ke kamar hotel yang Naga tempati. Kemudian pintu hotel tertutup. Hanya sebatas itu vidio rekamannya. Namun cukup memberi gambaran buat Zila, sedang apa mereka di dalam kamar hotel berduaan. Tiba-tiba amarah Zila memuncak. Namun yang bisa Zila lakukan hanyalah merutuk dan sedih.
__ADS_1
"Kak Naga, pantas saja jarang menghubungi aku dan susah dihubungi. Rupanya ini yang Kak Naga lakukan," ujarnya sangat kecewa.