
Harsya mulai bercerita tentang kronologis kenapa Nagi bisa ngamuk dan menyakiti dirinya sendiri. Dia tidak menduga bahwa Nagi bisa histeris seperti itu ketika Harsya selesai menceritakan tragedi di malam pengantin yang menimpa dirinya. Serta bukti vidio kiriman yang dilihat Nagi.
"Aku tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Kalian berdua juga korban dari kebejatan bajingan itu. Tapi, seharusnya kalian juga bijak, tidak menghukum Nagi atas kesalahan ayah biologisnya. Aku mengerti kenapa Nagi bisa histeris begitu, sebab dia yang tidak tahu apa-apa, dengan tiba-tiba mendapatkan kenyataan yang sangat pahit. Siapapun bisa bersikap seperti Nagi histeris dan ngamuk. Aku hanya bisa berdoa semoga setelah perawatan ini, Nagi kembali tenang dan menjalani kehidupan dengan normal lagi," ujar Pak Hasri bijak.
"Aku mengakui salah, harusnya aku tidak memperlihatkan sikap yang seolah memusuhi Nagi. Sebetulnya dia anak yang baik, tapi hatiku terlalu dirasuki amarah sehingga Nagi kena imbasnya. Aku sungguh menyesal," ujar Harsya menyesali sikapnya yang seakan melimpahkan kesalahan Guntur pada Nagi.
"Kenapa kamu tidak mencoba tes DNA, dari dulu kamu selalu menolak tes itu. Hanya untuk memastikan. Karena bisa saja Nagi adalah benih darimu, bukan benih dia yang jadi," usul Pak Hasri tiba-tiba.
"Sejak dulu aku tidak mau tes DNA sebab aku yakin Nagi bukan darah dagingku. Aku tidak siap dan pasti sangat kecewa jika Nagi benar-benar hasil dari perbuatan bajingan itu," tandas Harsya memberi alasan kenapa dirinya sampai sekarang tidak mau tes DNA.
"Baiklah kita lihat bagaimana sikap Nagi setelah dia pulih dari dirawat ini."
Setelah pembicaraan tadi di ruang tunggu, Harumi beranjak menjauh dari sana, sepertinya dia ingin menenangkan diri.
Harumi kini berada di sebuah taman rumah sakit. Setelah mendengar pembicaraan antara Harsya dan Pak Hasri tadi, hatinya sangat teriris kembali setelah dipaksa harus mengingat masa lalu yang pahit.
"Harumi," tegur seseorang yang ternyata Harsya. Harsya membuntuti Harumi sampai taman rumah sakit. Harumi sangat terkejut, dia segera mengusap air matanya yang tadi tengah ditumpahkannya karena merasa tidak tahan lagi mengingat nasib buruk yang dialami Nagi.
Harumi mengakui salah, sebab dia juga sama menyembunyikan hal yang sebenarnya dari Nagi sampai Nagi hampir menginjak umur 30 tahun saat ini.
Harumi tidak ingin menoleh ke arah Harsya, meskipun hatinya masih menyimpan cinta. Namun, semua itu sudah berlalu, saat ini Harumi ingin menata hati. Belum lagi luka batin Nagi yang harus dia sembuhkan gara-gara terungkapnya rahasia kelam masa lalu yang menimpa pernikahannya. Nagi jelas terluka, sebab selama ini dia seolah dipersalahkan oleh sikap Harsya yang tidak pernah baik padanya.
"Aku menyesal telah bersikap tidak adil pada Nagi. Jika aku tahu Nagi bakal histeris dan melukai dirinya seperti ini, sejak awal aku tidak akan menceritakan tragedi masa lalu kita. Aku juga salah terlalu melimpahkan kesalahan bajingan itu kepada Nagi. Aku menyesal Harumi. Aku mohon maafkan aku," ujar Harsya panjang lebar.
Jantung Harumi tiba-tiba berdebar kencang, darahnya juga mendidih bagaikan aliran lahar yang ingin dimuntahkan. Sepertinya kata maaf Harsya sudah terlambat jika melihat keadaan Nagi seperti sekarang ini. Harumi membalikkan badan, matanya menatap tajam ke arah Harsya.
"Harusnya Mas Harsya bisa merangkul dia sejak dia selalu datang dan mengemis kasih sayang darimu. Tapi ego dan dendam Mas Harsya terlalu tinggi sehingga tidak bisa luruh oleh keteduhan hatinya. Nagi anak yang baik, dia tidak menurun sifat ayah biologisnya." Harumi mencoba menyuarakan isi hatinya setelah tadi lidahnya terasa kelu.
__ADS_1
" Yang aku kecewa, kenapa Mas Harsya tidak sedikitpun menyisihkan cinta pada nagi yang sudah bertahun-tahun berjuang untuk mendapatkan kasih sayangmu, sampai-sampai dia menuduh aku telah berselingkuh darimu karena melihat penolakanmu. Kamu yang terlalu egois, semua ini bukan kesalahan Nagi tapi Nagi kena imbasnya."
"Aku harap kamu jangan sampai menyesal jika Nagi suatu saat ternyata darah dagingmu setelah tes DNA. Tapi, jika sudah begini, aku lebih baik berharap Nagi bukan darah dagingmu supaya kamu tenang sekalian," tegas Harumi seraya bergegas meninggalkan Harsya yang melongo. Dia tidak menduga respon dari Harumi akan seperti itu.
"Harumi, tunggu." Harsya berteriak, tapi harumi tidak menggubris. Dia terlanjur kecewa oleh sikap Harsya yang baginya egois melimpahkan kesalahan Guntur pada Nagi.
***
Setelah satu hari dirawat di RS, Nagi sudah mulai sembuh, sikapnya tidak histeris lagi. Namun Nagi kini berubah jadi pendiam. Dokter tidak menemukan kelainan pada sarafnya, sikap seperti itu wajar dialami karena bisa diakibatkan dari sebuah kecewa atau trauma.
"Nagi akan kita bawa langsung ke Bandung, kami akan menyembuhkan trauma dalam dirinya di sana. Selain Hilda, kami akan mendatangkan seorang Psikiater untuk mencoba menyembuhkan traumanya." Naga segera mengambil keputusan seperti itu, sebab hanya Hildalah yang berpotensi besar bisa menyembuhkan trauma Nagi.
"Tapi, tidakkah Nagi dibiarkan tinggal bersama Tante saja, mengingat tante di Medan hanya sebatang kara?" ujar Harumi berharap bisa membawa Nagi ke Medan.
__ADS_1
"Naga bukan melarang Nagi dibawa ke sana, tapi kondisi Nagi belum stabil betul. Naga justru takut Nagi berbuat nekad di sana, sementara tante di sana hanya sendirian," tolak Naga halus. Harumi dengan terpaksa menyetujui saran dari Naga yang menurutnya lebih bisa diterima akal sehatnya.
"Baiklah, tante setuju dengan keputusanmu Nak Naga. Tante berharap Nagi di sana dapat stabil kembali jiwa dan raganya." Ucapan Harumi diaminkan semua.
Hari itu juga Naga dan Papa Hasri menyiapkan jet pribadi untuk kembali ke Bandung. Sementara Harumi setelah berpamitan dan memeluk anaknya, Nagi, dia segera bertolak menuju bandara Sultan Hasanuddin untuk kembali pulang ke Medan.
"Ibu pulang ke Medan, Gi. Setelah kesehatanmu stabil, kembalilah ke Medan. Ibu selalu menantimu," ujar Bu Harumi seraya bergegas.
"Harumi, biarkan aku mengantarmu," tawar Harsya mengejar Harumi yang akan bertolak ke Medan. Harumi mengangkat tangannya pertanda ia menolak keras kemauan Harsya.
"*Aku sudah tidak butuh perhatianmu Mas. Sikap kamu yang terlalu egois mengikis rasa cintaku padamu. Biarkan aku pergi dan hidup tenang*." Harumi berkata dalam hatinya mengucap kata perpisahan pada Harsya.
Pada akhirnya Nagi kembali ke Bandung untuk melakukan pengobatan secara psikis di Bandung sampai Nagi kembali hilang rasa trauma imbas dari kesalahan dan dosa masa lalu ayah biologisnya Nagi.
__ADS_1
Hilda merasa senang sebab Nagi bisa kembali tinggal di Bandung. Hal ini akan Hilda pergunakan untuk berusaha membantu menyembuhkan trauma yang dialami Nagi.