Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 147 Musim 3 Nagi dan Hilda # Hilda yang Bimbang


__ADS_3

     Hilda diam tanpa membalas ciuman Mama Hilsa. Dia melepas rangkulannya, kemudian menatap sang Papa lalu berpamitan dengan wajah datar. Ada helaan nafas yang sesak saat Mama Hilsa mengantar kepergian putrinya, dadanya sakit mengingat perubahan pada diri Hilda.


     "Pa, setelah perubahan yang dialami putri kita nampak jelas, apakah Papa akan terus membiarkan keadaan ini tetap begini? Mama tidak tega menghukumnya lebih lama dengan menjauhkan dia dengan Nagi. Apakah Papa pikir dengan menjauhkan dengan Nagi akan ada perubahan yang lebih baik dalam diri Hilda? Tidak ada, kan, Pa?" seloroh Mama Hilsa menatap kecewa suaminya.


     "Tapi, setidaknya dengan menjauhkan dia dengan Nagi, sikap agresifnya hilang dan Papa berharap Hilda menjadi perempuan yang bisa menjaga harkat dan martabatnya, bukan mempersilahkan dirinya supaya dicicipi atau menawarkan diri pada laki-laki yang dia cintai dengan memaksanya. Meskipun di sini Nagi awalnya menolak, tapi jika terlalu sering ditawari ikan yang masih segar, lama kelamaan kucing itu pasti menyantapnya dengan sukarela." Pak Hasri diam sejenak.


     "Papa hanya ingin menghindarkan Hilda dari perbuatan nekad yang lebih jauh daripada ini. Sebelum terjadi, alangkah baiknya mereka dijauhkan. Apakah Papa di sini salah?" lanjutnya menyambung ucapannya sembari menatap Bu Hilsa. Bu Hilsa menggeleng dia pun setuju dengan cara suaminya. Namun, yang mereka heran perubahan sikap yang kini ditunjukkan Hilda sempat membuat keduanya khawatir. Hilda menjadi pemurung dan tidak ceria seperti dulu.


"Tapi, Pa, apakah putri kita akan terus bersikap seperti itu, dia kini datar dan tidak pernah lagi mau berinteraksi lagi sama kita, dia cuek dan hampir tidak peduli. Mama jadi takut ada apa-apa dengan Hilda," risau Mama Hilsa terdengar takut.



"Mama jangan terlalu takut, sekarang putri kita memiliki seorang teman dekat yang Papa lihat sangat perhatian dengan Hilda. Papa harap mereka cocok satu sama lain dan pemuda itu mampu merubah putri kita melupakan Nagi yang semata-mata hanya menjadi obsesi dalam cintanya Hilda," ujar Pak Hasri penuh harap dan keyakinan.



"Mama pun demikian, Pa. Berharap kalau Hilda bisa menemukan seseorang yang bisa melupakan obsesi gilanya, mencintai seseorang sampai hampir rela merendahkan harga dirinya di depan laki-laki yang dia cintai."



"Tapi, Mama tidak menyalahkan Nagi sepenuhnya. Anak kitalah yang terlalu punya obsesi untuk memiliki dam dimiliki Nagi," lanjut Bu Hilsa dengan tatapan menerawang jauh ke sana ke tempat yang entah di mana Nagi berada.



"Tapi ngomong-ngomong menurut Papa, kira-kira di mana Nagi sekarang? Mama mengkhawatirkannya, meskipun dia bukan darah daging Mama, tapi Nagi besar bersama anak kita sejak dia berusia dua tahun. Jujur, Mama sangat menyayangi Nagi, Pa." Nampak ungkapan jujur di dalam mata Bu Hilsa tentang rasa sayangnya pada Nagi yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.



"Papa juga sama, Ma, sudah menyayangi Nagi seperti Papa menyayangi anak sendiri. Dan di mana dia sekarang, Papa rasa Nagi berada dekat dengan ibu kandungnya. Hanya, Papa kurang tahu di mana tepatnya kota dia tinggal. Papa harap Nagi selalu dalam lindungan Allah dan sukses dalam karirnya."

__ADS_1



"Memangnya Papa yakin kalau Nagi sekarang sudah mendapatkan sebuah pekerjaan? Mama khawatir dia kesusahan?" ungkap Bu Hilsa sedih.



"Mama jangan sedih dan khawatir, Papa tahu Nagi adalah seorang lelaki yang gigih dan pekerja keras mirip dengan Naga, abangnya. Jadi, walaupun Nagi berada jauh dengan kita, Papa yakin dia akan maju, sebab Papa kenal dia. Nagi itu seorang pekerja keras sama seperti anak kita Naga Regana." Pak Hasri meyakinkan lagi Bu Hilsa supaya tidak berpikiran yang tidak-tidak terhadap Nagi.


***


Hilda tiba di hadapan pintu apartemennya Naga, dia segera mengetuk dan menunggu beberapa saat untuk dibuka. Tidak berapa lama pintu itu terbuka. Bi Lala menampakkan dirinya dan menyambut dengan kaget kedatangan Hilda.



"Non Hilda, masuk Non," sambut Bi Lala ramah membiarkan Hilda masuk. Hilda melihat ke sekitar ruangan, mencari keberadaan Zila bukan baby Syaka seperti kebanyakan seorang Onty yang selalu mencari keponakannya terlebih dahulu.




Hilda mulai mendorong pintu kamar Zila dengan perlahan, saat dilihatnya Zila baru saja selesai memberi ASI untuk baby Syaka yang hari demi hari semakin montok dan sehat.



"Ziii," bisiknya panjang. Zila sontak menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Zila sejenak terkejut, tapi tidak lama dari itu dia mendekat dan memeluk Hilda erat penuh kerinduan.



"Hil, kemana saja kamu? Kenapa baru datang kemari, apakah kamu sudah melupakan kakak iparmu yang kece ini?" tanya Zila menyombongkan diri seraya melepaskan rangkulannya di tubuh Hilda.

__ADS_1



Tidak berapa lama Bi Lala datang membawa cemilan dan secangkir teh panas. Bi Lala meletakkan cemilan dan teh panas di atas meja, lalu kembali lagi ke dapur.



"Zi, bagaimana apakah ada kabar tentang Kak Nagi?" tanya Hilda penuh harap. Zila sudah bisa menebak maksud Hilda yang sudah hampir bosan dijawabnya.



"Belum ada lagi, Hil. Aku rasa Kak Nagi sedang fokus dengan usahanya sekarang. Tapi, kamu jangan khawatir dengan Kak Nagi, aku yakin Kak Nagi sekarang ini sedan berusaha mengumpulkan syarat untuk pernikahan empat y tahun ke depan. Lihat saja nanti."



"Kenapa kamu begitu yakin, Zi? Sedangkan Kak Nagi sekarang ini sudah tidak menghubungi kamu. Dia sudah lupa dengan aku dan janjinya itu, Kak Nagi ingkar janji," dengus Hilda nampak kecewa.



"Kamu itu salah menilai, Hil. Kak Nagi bukan ingkar janji, tapi firasatku saat ini Kak Nagi sedang merintis usahanya. Sepertinya Kak Nagi sedang sibuk-sibuknya saat ini. Kamu harus berpikir positif dengan Kak Nagi. Ayolah, kamu pasti bisa tetap semangat dan yakin dengan janji itu. Apakah karena lelaki tampan cepak itu yang membuat keyakinan kamu goyah terhadap Kak Nagi?" tukas Zila mengaitkan dengan lelaki muda tampan berambut cepak yang akhir-akhir ini sering jalan bersama Hilda.



"TIdak, aku tidak digoyahkan oleh lelaki manapun. Aku hanya merasa Kak Nagi memang memberi isyarat untuk perlahan pergi jauh dari sisiku dengan memberikan janji akan melamarku setelah empat tahun. Itu aku rasa hanya sebuah alasan dia untuk membuat aku perlahan melupakannya," keukeuhnya keras kepala.



"Kamu jangan keras kepala, Hillda. Kak Nagi itu seorang lelaki yang komitmen dengan janji, aku bisa menilai dari gelagatnya. Dia tidak jauh beda degan Kak Naga, sama-sama konsisten sama keputusannya dan komitmen sama janjinya. Percayalah," bujuk Zila masih belum menyerah.


__ADS_1


Hilda diam tanpa membalas lagi ucapan Zila. Hatinya kini dilanda bimbang.


__ADS_2