Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 84 Musim 2 Sedikit Kisah Nagi dan Diara


__ADS_3

Setelah satu hari dirawat di Rumah Sakit Ibu dan Anak, akhirnya Zila sudah boleh pulang. Zila tidak dibawa ke apartemen, melainkan ke rumah mertuanya.



Sepanjang perjalanan, antara Naga dan Zila tidak ada percakapan apapun. Naga juga nampak serius dan wajahnya sejak naik mobil sudah ditekuk. Terakhir, dia bicara pada Kobar untuk berpamitan, setelahnya Naga tidak ada lagi bicara apapun, mempersilahkan Zila masuk mobil saja tidak.


Di Rumah Kobar


Kobar dan Tante Zuli juga Diara kini sudah kembali ke rumah. Mereka bertiga sama saja, tidak ada yang berbicara sama sekali sepanjang perjalanan menuju rumah Kobar. Mereka seakan ikut terbawa suasana atas kesedihan Zila dan Naga yang kehilangan calon anak yang memang sangat dinantikan Naga selama ini.



Dua puluh menit kemudian mobil yang dikemudikan Kobar tiba di depan rumahnya. Halaman rumah Kobar yang lumayan luas, kini dibagi dua. Bagian depan sebelah kiri, kini dibangun sebuah toko untuk jualan tante Zuli. Sementara sebelah kanan masih lumayan luas untuk parkiran mobil. Sejak Kobar diangkat dn dilibatkan menjadi pengawas di proyek pembangunan pabrik milik Naga yang dibangun di atas tanah Zila, Kobar diberikan mobil inventaris untuk digunakan Kobar sebagai alat transportasinya.



Kobar masuk ke dalam rumah diikuti tante Zuli dan Diara. Kobar duduk di sofa ruang tamu dengan wajah yang sangat lelah. Tante Zuli segera ke dapur untuk membawakan Kobar kopi, berharap Kobar tenang. Sementara Diara langsung menuju kamar menghindari suasana hati Kobar yang tengah dilanda sedih dan bersalah atas kehilangan bayi yang dialami Zila.



"Kang, diminum dulu kopinya supaya pikiran dan hatinya sedikit tenang," Tante Zuli menyodorkan secangkir kopi hitam pada Kobar, Kobar segera meraih cangkir itu lalu segera diseruputnya. Kobar meletakkan kembali kopinya di meja, matanya kini menerawang jauh. Kobar masih memikirkan keadaan Zila yang kini kehilangan bayinya. Diamenyesal tidak bisa mengawasi Zila lagi seperti ulu saat Zila masih gadis dan dalam pengawasannya.



Kobar mendesah, dia benar-benar merasa bersalah atas musibah yang menimpa keponakannya itu. Terlebih saat melihat sikap Naga yang sangat terpukul saat mendengar penjelasan dari Dokter, bahwa bayinya sudah tidak bisa diselamatkan.



"Akang sungguh sangat berdosa dan bersalah sama mereka berdua, Akang tidak bisa menjaga Zila selama di sini," sesal Kobar memulai pembicaraan. Zuli mengelus tangan Kobar, memberi semangat suami yang baru kurang lebih sebulan dinikahinya itu. Diapun sama merasakan kesedihan Kobar atas kehilangan yang dirasakan Zila. Tante Zuli juga merasakan perasaan yang sama, bagaimana tidak? Zila yang sudah sangat dekat dan sudah dia anggap sebagai anak sendiri, lalu mendapatkan musibah yang tidak diduga sebelumnya, membuat Tante Zuli merasakan sedih yang dalam. Tapi dia tidak bisa apa-apa selain mendoakan kesehatan kembali untuk Zila yang kini sudah menjadi keponakannya juga, sebab Zuli kini sudah menikah dengan Kobar.



"Saya juga Kang , sama. Saya tidak bisa mengawasi Neng Zila selama di sini, saya minta maaf ya, Kang, tidak bisa menjaga keponakan Akang dengan baik. Saya hanya sibuk di depan menjaga toko dan menunggu pembeli. Saya juga sangat menyesal dan merasa berdosa pada mereka berdua," ujar Tante Zuli sangat menyesal.

__ADS_1



Kobar menoleh dan beralih menghadap ke arah Zuli dengan tatapan mata yang redup tapi berusaha menenangkan. "Sudah, tidak perlu merasa bersalah, kamu tidak salah. Mungkin ini sudah takdir yang harus dilewati Zila dan keluarga kecilnya, semoga mereka berdua mendapat hikmah dari semua kejadian ini dan diberi pengganti yang bisa lebih membahagiakan mereka juga kita semua," ujar Kobar berusaha menenangkan Zuli yang sama terpukulnya dengan kejadian yang menimpa Zila.



Sementara Diara yang kini sedang berada di kamar, juga merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa Zila, dia tidak bisa mencegah Zila saat Zila memaksa ingin naik pohon mangga, padahal mangganya ada yang mudah dipetik karena salah satu dahannya ada yang rendah. Namun, Zila tidak mau mangga yang di dahan itu sebab masih sangat muda. Zila lebih memilih mangga yang tua yang sudah mangkel yang berada di dahan atas, sehingga tanpa rasa takut Zila menaikinya meskipun sudah dilarang Diara.



"Maafkan aku, Zi. Aku sangat menyesal tidak memaksa menahanmu untuk tidak naik," gumannya pelan dengan rasa bersalah yang begitu besar di dadanya. Tiba-tiba Hp Diara berbunyi, rupanya sebuah notif WA masuk. Diara melihat siapa yang mengirimkan WA padanya.



"*Diara sejak kapan kamu cuti, apakah tempat tinggal kamu di kota Lembang juga? Kapan kembali ke Jakarta? Jangan terlalu lama sebab perusahan tidak mau menerima pegawainya yang lama cuti, kalau kamu sudah tidak betah bekerja, sebaiknya resign saja*." Pesan itu dibacanya dan isinya terasa ketus saat dibaca. Diara sedikit kecewa dengan perubahan sikap Nagi itu. Ternyata pesan itu dari Nagi, Manager Operasional di perusahaan tempatnya bekerja di Jakarta.



Meskipun Diara sedikit kecewa karena perubahan sikap Nagi yang tidak lagi hangat sejak dia berusaha menghindar dan menolak secara halus lamaran Nagi saat itu, dengan alasan ingin fokus dengan pekerjaan dan membahagiakan ibunya yang janda di kampung. Namun Diara tetap harus membalas pesan WA itu dengan sopan dan sebaik-baiknya.




Untuk itu kepulangan ke kampung halamannya, selain tujuan cuti, juga ingin meminta pendapat ibunya tentang Nagi laki-laki yang telah mengungkapkan cinta padanya. Namun niatnya dia urungkan, setelah Diara secara tidak sengaja bertemu Nagi di Gunung Tangkuban Perahu bersama gadis muda yang cantik, yang pada saat melihat ke arahnya, gadis muda itu nampak cemburu dan menarik tangan Nagi seraya berkata bahwa mereka sebentar lagi akan menikah. Juga ucapan Nagi saat memanggil sayang pada gadis muda itu, membuat Diara benar-benar mengurungkan niatnya untuk meminta pendapat pada ibunya tentang laki-laki yang sedang menginginkannya jadi pendamping hidupnya.



Sejenak sebelum membalas pesan WA Nagi, Diara menarik nafasnya panjang, dia menghirup kembali udara sebanyak-banyaknya untuk menghadapi kata-kata Nagi yang siapa tahu setelah ini memberi balasan yang lebih ketus lagi. Maka Diara sudah mempersiapkan diri.



"Besok saya kembali ke Jakarta, Pak Nagi. Saya cuti tahunan ambil seminggu, Pak." Hanya itu balasan dari Diara. Setelah pesan WA itu terkirim dan langsung dibaca, belum ada balasan lagi dari Nagi.

__ADS_1



Diara segera bangkit menuju lemarinya, dia harus bersiap-siap menyiapkan barangnya untuk kembali ke Jakarta, besok.



"Semoga Anda bahagia dengan perempuan pilihan Pak Nagi, siapapun perempuannya itu, saya harap perempuan itu sangat mencintai Pak Nagi," harap Diara tulus meskipun dia sebenarnya patah hati mendapati Nagi secepat itu sudah melupakannya. "Andai saja aku tidak menolak secara halus niat Pak Nagi, mungkin saja saat ini aku sedang bersama Pak Nagi tertawa bersama dan bahagia," sesalnya dengan mata yang berkaca-kaca.



Ketika Diara menyudahi menyiapkan keperluannya untuk besok, tiba-tiba di depan terdengar seseorang yang mengucap salam. Terdengar Zuli sang ibu mempersilahkan masuk dengan akrab, sepertinya ibunya itu sudah lama kenal dengan tamunya yang ternyata ada perlu pada Kobar ayah sambungnya.



Tidak lama dari itu, pintu kamar Diara diketuk Zuli, Diara segera membukakan pintu dengan heran. "Ada apa, Bu?"



"Ra, suguhin dulu tamu bapak Kobar, Ibu mau menyusul bapak di depan. Kebetulan bapakmu tidak bawa Hp. Kamu bersikap baik, ya, dengan tamu, siapa tahu dia jodohmu," ujarnya seraya bergegas keluar rumah mau menyusul Kobar yang sedang ngobrol dengan tetangga sebelah.



Diara segera ke dapur membuatkan kopi untuk tamu Kobar, lalu dengan segera menyuguhkannya. Saat di muka pintu ruang tamu, sejenak Diara tertegun, ternyata tamunya masih muda dan tampan, serta wajahnya begitu familiar bagi Diara, tapi Diara lupa di manakah dia pernah bertemu?



"Silahkan diminum, Mas kopinya," diara mempersilahkan dengan senyum seramah mungkin. Hasya yang melihat sejenak sangat terpesona dan berdecak kagum.



"*Wahhh, gadis muda yang cantik dan ramah*," puji Hasya dalam hati. Hasya tidak melepaskan tatapan kagumnya pada Diara yang belum sempat kenalan dengannya.


__ADS_1


Tidak berapa lama Ibunya dan Kobar bapak sambung Diara datang dan memasuki tamunya yang sedang ditemani Diara. Sejenak Zuli merasa bahagia melihat kebersamaan Diara dengan Hasya, sebab jauh-jauh hari Zuli sudah berangan-angan ingin memiliki menantu seperti Hasya, dan pertemuan anaknya untuk pertama kali dengan Hasya ini dia harap bisa lebih mendekatkan anaknya dengan Hasya.


__ADS_2