Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 70 Musim 2 Persyaratan Nagi


__ADS_3

Rangkaian demi rangkaian vidio CCTV yang diperlihatkan Naga ditatapnya lekat-lekat, Zila sepertinya tidak ingin terlewat satupun adegan demi adegan yang terekam di sana. Zila menghela nafasnya dalam, rupanya kepergian Naga ke Surabaya tidak lepas dari rencana seseorang, yaitu mantan istrinya Naga.



"Tapi Kak Naga pastinya senang banget, kan, ketemu dia? Buktinya Kak Naga sampai lupa tidak menghubungi aku?" ucap Zila sembari mengurai pelukan Naga.



Naga meraih tangan Zila dan mencengkramnya. "Jangan sembarangan, aku hanya merindukanmu. Tidak ada yang lain yang ada di hati dan pikiranku, selain kamu," ucapnya sembari menciumi wajah Zila. Zila meronta-ronta karena merasa kegelian.



"Kak Naga bohong," sangkalnya.



"Aku tidak bohong," kilah Naga tidak mau kalah seraya memeluk tubuh Zila yang berontak.



"Lepaskan, aku tidak mau dekat-dekat Kak Naga, bayi ini tidak mau dekat-dekat Papanya yang suka bohong."



"Aku tidak bohong, seperti yang kamu lihat di rekaman CCTV itu, aku dijebak dan Dila tiba-tiba masuk menyerobot. Sementara kepalaku pening dan mataku ngantuk, sepertinya aku saat itu sedang dalam pengaruh obat tidur. Beruntung aku segera menghubungi Gordo dan Garda, dan akhirnya mereka datang sebelum Dila melakukan hal yang tidak senonoh," terang Naga masih menahan tubuh Zila dari pelukannya.



"Baiklah, aku percaya kalau Kak Naga tidak bohong dan itu merupakan jebakan mantan istri Kak Naga. Lantas, bagaimana bisa mantan istri Kak Naga melakukan kerjasama dengan perusahaan Naga Group, apa maunya?" Zila mencoba menyelidik.



"Aku juga tidak tahu, yang jelas dia menguntitku dari media sosial. Dia mengikutiku dengan akun yang lain. Malah tiga bulan yang lalu dia melihat status di insta storyku tentang aku yang belum bisa move on, dia pikir status itu ditujukan untuknya. Dan dia menduga aku belum menikah lagi sehingga dia berharap dan mengejarku. Padahal seminggu kemudian setelah aku membuat status di insta story, aku menikahi kamu," tutur Naga sembari mengeratkan pelukannya.



Zila membenarkan posisi tubuhnya sehingga kini tubuhnya menghadap ke langit-langit rumah. dengan leluasa Naga bisa mengusap perut Zila, merasakan keberadaan jabang bayi yang masih belum terbentuk wujudnya.



"Lalu, kalau dia masih akan mengejar Kakak ke sini, bagaimana?"



"Aku punya kamu, senjataku paling ampuh dan yang bisa melindungi aku adalah kamu. Dia hanya mantan, dan kamu rumah aku untuk pulang," tegas Naga membuat Zila tersenyum bahagia.


__ADS_1


"Kak Naga, bagaimana rencana pindah kita?'' Zila berusaha mengalihkan topik pembicaraan.



"Bagaimana kalau besok? Sekarang aku sangat lelah dan ingin menikmati hari bersamamu. Apakah kamu tidak keberatan?"



"Terserah Kak Naga, aku ikut saja." Zila menyetujui keputusan Naga atas kepindahannya besok. Karena rasa lelah dan ngantuk, suara Naga yang tadi terdengar kuat kini seakan menghilang tenggelam bersama rasa kantuk yang sangat mendera. Naga tertidur pulas dengan Zila sebagai bantal gulingnya.



"Ya ampun Kak Naga, kenapa sudah tertidur lagi, padahal aku mau minta oleh-oleh," gerutu Zila kecewa sembari perlahan melepaskan tangan Naga. Namun sangat susah, sebab tangan Naga begitu erat memeluk tubuh Zila.



Akhirnya Zila ikut tidur dalam dekapan Naga. Keduanya terlelap dalam dekapan kerinduan.


***


Sementara itu di kamar Nagi. Setelah tidak berhasil menghentikan Hilda untuk berbicara, Nagi masuk kamar. Sepertinya liburannya kali ini kurang mengesankan. Setelah perselisihannya dengan Hilda dan sikap Hilda yang berubah, Nagi memutuskan untuk kembali ke Jakarta lebih cepat.



Nagi mengirimkan pesan WA pada Hilda untuk berpamitan. Namun, baru beberapa menit pesan itu masuk dan dibaca Hilda, tiba-tiba pintu kamar Nagi terbuka, Hilda datang dan menghambur ke arah Nagi.




Melihat Hilda menangis haru seperti itu, Nagi tidak tega, dia bangkit dan merangkul Hilda dengan penuh kasih sayang.



Nagi mengusap-usap rambut Hilda dengan kasih sayang. Dia tidak menduga gadis di hadapannya memliki rasa cinta kepadanya, malah sejak dulu. Perlahan Nagi mengurai rangkulannya dan membawa bahu Hilda ke hadapannya. Nagi menatap dalam wajah yang kini sembab.



"Kenapa Kakak ingin meninggalkan aku, karena sikap aku ke Kak Nagi, kan?" Hilda mendahului berbicara sebelum Nagi mulai bicara. Matanya yang masih sembab memperlihatkan betapa dia sangat sedih akan kehilangan Nagi.



"Kak Nagi memang harus kembali, kerjaan Kakak kan di Jakarta."



"Kenapa secepat ini Kak, bukankah kemarin Kak Nagi bilang cutinya dua mingu, ini belum genap dua minggu, memangnya di Jakarta Kak Nagi mau apa? Hanya untuk menghindariku Kak Nagi memutuskan untuk pulang lebih awal, tega!" dengusnya sembari melepaskan cengkraman tangan Nagi.

__ADS_1



"Kamu mencintai kakak, bukan?" tiba-tiba sebuah pertanyaan mengejutkan Hilda yang jika dijawab maka Hilda akan menjawab iya.



Hilda menatap Nagi, dia kini penasaran dengan apa yang dimaksudkan Nagi. Tatapannya meminta sebuah penjelasan.



"Kuliahlah yang benar, ikuti maunya Papa dan Mama. sekarang fokuslah belajar, Kak Nagi akan ikut senang jika kamu fokus belajar."



"Fokus belajar? Kak Nagi hanya mengingatkan aku fokus belajar? Aku pikir Kak Nagi akan mengatakan bahwa Kak Nagi mencintai aku. Aku lebih baik melepaskan kuliah aku demi mengejar cinta Kak Nagi. Aku mencintai kamu, Kak," cetus Hilda kecewa dengan apa yang dikatakan Nagi barusan,



Nagi geleng-geleng kepala sambil menatap Hilda intens, dia harus ekstra sabar menghadapi gadis keras kepala dan ekspresif seperti Hilda.



"Kuliahlah yang benar, empat tahun lagi Kakak janji aka melamar kamu," tegas Nagi membuat Hilda seketika seperti anak ayam yang tiba-tuba disambar burung elang.



Rasa tidak percaya memenuhi dada Hilda. Perlahan Hilda membalikkan badannya dan mendekati Nagi, binar bahagia tiba-tiba terpancar.



Hilda merangkul Nagi dengan erat seperti tidak ingin dilepaskan. "Sungguh? Apa yang Kakak katakan barusan adalah sungguh-sungguh?"



"Katanya kamu mencintai Kakak, jadi untuk bisa bersama dengan Kakak, kamu harus patuh dulu dengan kemauan orang tua dulu. Yaitu kuliah sampai selesai sampai kamu mendapatkan gelar Sarjana." Ucapan Nagi seperti sebuah syarat yang harus dipenuhi Hilda agar bisa menikah dengan Nagi.



"Tapi, aku inginnya menikah lebih cepat denganmu Kak," tukas Hilda seperti menawar apa yang disyaratkan Nagi.



"Kamu tidak bisa menawar lagi. Jika memang ingin menikah dengan Kakak, maka kamu harus kuliah yang benar.''



"Tapi, apakah Kak Nagi akan setia selama menunggu aku? Bagaimana kalau di Jakarta saat kita berhubungan jarak jauh, Kak Nagi kepincut perempuan lain?" tanya Hilda was-was.

__ADS_1



"Kakak sudah pernah kecewa dengan penolakan seorag gadis. Jadi, Kakak tidak mungkin melakukan itu karena pengkhianatan itu sangat menyakitkan," pungkasnya sembari menenggelamkan wajah Hilda ke dalam dekapan dadanya.


__ADS_2