
Dua minggu kemudian, tiba-tiba Mama Hilsa datang ke kantor Naga sendirian setelah tadi pamit pada Papa Hasri untuk ke salon. Pak Hasri sedikit heran sebab saat dia menawarkan untuk mengantar, Mama Hilsa menolak secara halus, biasanya dia selalu ok-ok saja bila Pak Hasri mau mengantar kemana pun.
"Papa di rumah saja, Mama hanya ingin me time sendiri saja di salon. Mama tidak ingin Papa menunggu lama dan kesal," bujuknya yang biasanya ingin selalu diantar dan dibersamai kemanapun juga. Padahal Bu Hilsa belok ke kantor Naga.
"Mama! Tumben, ada apa?" kejut Naga saat dia sedang sibuk menandatangani sebuah proposal, menatap terkejut dan heran atas kedatangan Mamanya ke kantor tanpa pemberitahuan pula.
"Kamu terkejut melihat Mama, apa Mama tidak boleh datang ke kantormu ini?" duga Bu Hilsa sedikit merajuk.
"Oh, tidak dong, Ma. Bukan itu maksud Naga. Naga hanya terkejut karena kedatangan Mama yang tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan. Coba kalau memberitahu dari awal, jauh hari Naga pasti siapkan suguhan yang spesial buat Mama," kilah Naga menyembunyikan rasa ingin tahunya kenapa Mamanya tiba-tiba mendatangi kantor.
"Mama boleh duduk?" Untuk yang kedua kalinya Naga dibikin terkejut oleh Bu Hilsa, Bu Hilsa meminta ijin pada Naga untuk duduk, padahal secara pribadi hubungan Naga dan Bu Hilsa sangat dekat dan tidak ada rasa segan yang berlebihan, tapi kini Bu Hilsa seolah sedang menghadapi orang lain ketika mendatangi meja Naga
"Mama, apa-apaan sih, duduklah, Ma. Naga minta maaf tidak mempersilahkan Mama duduk. Naga lupa, sekali lagi Naga minta maaf." Ucapan Naga yang terlihat tulus justru membuat Bu Hilsa ingin tertawa, dia tidak tahan mengerjai anak lelakinya terlihat menjadi serba salah dan segan.
"Hah, ha, ha, Naga. Apa kamu percaya Mama sedang serius sama kamu? Mama sedang mengerjaimu. Ya ampun, rupanya kamu tidak bisa diajak bercanda," ujar Bu Hilsa seraya duduk di di depan Naga.
"Ya ampun, Mama. Kenapa Mama ngerjai Naga?" kejut Naga tidak percaya. Bu Hilsa terkekeh sembari duduk dengan santainya.
"Sudah, sudah, sekarang Mama mau membicarakan hal yang serius dengan kamu. Ini perihal kehamilan istri kamu yang sampai saat ini masih belum memperlihatkan tanda-tanda melahirkan. Apakah kamu sudah periksakan ke Dokter Rangga, kenapa istrimu belum juga melahirkan? Mama takut terjadi apa-apa dengan Zila dan cucu Mama." Bu Hilsa nampak risau.
"Mama jangan khawatir dengan keadaan Zila yang sampai saat ini belum ada tanda-tanda melahirkan, itu hal wajar. Istri teman Naga juga ada yang melahirkan diusia kehamilan 40 minggu, jadi semua itu normal-normal saja. Mama tidak perlu khawatir, lebih baik doakan saja si jabang bayi sehat dan lahirannya lancar dan selamat." Ucapan Naga perlahan sedikit meredakan ketakutan Bu Hilsa perihal kehamilan Zila.
"Benarkah begitu?" Bu Hilsa mencoba meyakinkan. Naga mengangguk dengan wajah yang diselimuti senyuman. "Baiklah kalau begitu, Mama akan berusaha tenang menantikan kehadiran cucu Mama yang sebentar lagi lahir ke dunia. Lalu apakah kamu sudah menyiapkan nama untuk cucu Mama yang pertama ini?"
__ADS_1
"Naga masih memikirkannya Ma, nanti setelah jagoan Naga lahir, pasti namanya sudah ada. Nomong-ngomong, tumben Mama tidak diantar Papa? Biasanya kalian kemana-mana selalu sepaket tidak terpisahkan?"
"Mama sengaja tidak ingin diantar Papa, sebab Mama hanya ingin mempertanyakan masalah kehamilan Zila tanpa diketahui Papamu, Mama takut Papa kepikiran jika mendengar Mama mempertanyakan itu di depannya."
"Ya sudah, mulai sekarang Mama jangan khawatir tentang kehamilan Zila. Naga yakin sebentar lagi juga Zila akan melahirkan," yakin Naga tidak tega membiarkan Mamanya dilanda bingung.
"Baiklah kalau begitu, Mama sebaiknya kembali, tapi Mama mau ke salon dulu. Sebab tadi Mama sempat bilang ke Papa bahwa Mama mau ke salon," ujar Bu Hilsa seraya bangkit dari kursi.
"Ma, apakah perlu Naga antar?" Bu Hilsa langsung menggeleng dengan tawaran itu. Bu Hilsa akhirnya pulang dari kantor Naga dengan hati yang masih dilanda khawatir.
"Mama pulang, ya. Kamu kasih kabar segera jika istrimu sudah ada tanda-tanda melahirkan," ucap Bu Hilsa mengingatkan. Bu Hilsa pun kemudian segera keluar dari ruangan Naga untuk pulang. Tujuan Bu Hilsa sekarang adalah salon.
**
"Selamat datang, Nak. Sebentar lagi kamu launching ke dunia. Menemui Mama dan Papa juga orang-orang yang menyayangi kamu yang sudah siap menyambut kehadiranmu," Zila berbicara sendiri sembari menatap kamar baby boynya.
Setelah melihat-lihat kamar baby boynya yang bernuansa biru langit, Zila kembali ke kamarnya, sejenak dia ingin merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Nafasnya juga sedikit terengah dan berpacu, untuk itu Zila merasa dia saat ini beristirahat merilekskan sekujur tubuhnya.
Namun, belum sampai tubuhnya di kasur, tiba-tiba Zila merasakan rasa sakit yang tidak biasanya dari dalam perut. Lama semakin lama rasa sakit itu kian bertambah sehingga membuat Zila berteriak pada Bi Lala.
"Bi Lala, tolonggg," teriaknya panik. Bi Lala yang sedang memasak di dapur terkejut dan segera menghampiri Zila. Pada saat Bi Lala sampai ke kamar Zila, dilihatnya Zila sedang menahan perutnya yang terlihat sakit.
"Non, Non Zila, apa yang sedang Nona rasakan, apakah Nona sedang merasakan rasa mulas yang beraturan?" tanya Bi Lala penasaran. Bi Lala menduga Zila akan melahirkan, sebab tanda-tandanya sudah kelihatan. Tanpa menunggu perintah, Bi Lala menghubungi Bu Hilsa memberitahukan kalau Zila saat ini sedang mengalami kontraksi. Bi Lala juga kini menghubungi Naga di kantornya untuk segera pulang.
__ADS_1
Saat mendengar berita itu dari Bi Lala, Naga segera meninggalkan pekerjaannya dan meluncur ke apartemen. Tiba di apartemen, Naga begitu shock melihat keadaan Zila yang menderita sakit akibat mulas yang dirasakan. Naga segera membawa Zila keluar. Sementara Bi Lala membawa kantong baju yang isinya semua baju ganti Zila. Sedangkan baju bayi dan perlengkapannya sudah dibawa semua oleh Bu Hilsa yang memang jauh-jauh hari sudah menyiapkan tetekk bengeknya.
Naga dan Zila serta Bi Lala sudah tiba di RS Harapan Sehat. Tiba di sana rupanya Mama dan Papa Naga serta Hilda sudah ada di RS dengan kompak. Mereka menyambut Zila yang sudah sangat kesakitan karena kontraksi hebat. Naga segera membawa Zila ke ruangan praktek Dokter Rangga.
Zila dengan cepat ditangani oleh Dokter Rangga dibantu oleh beberapa orang Perawat. Kini tubuh Zila dibaringkan di brangkar dan diperiksa terlebih dahulu tensi darah, berat badan serta bukaan berapa. Dan rupanya bukaannya hanya tinggal dua lagi untuk menuju bukaan lengkap. Pantas saja tadi Naga melihat Zila sangat menderita, karena rasa mulasnya begitu hebat.
Zila segera dibawa ke ruangan bersalin, di sana Dokter Rangga masih dibantu oleh beberapa Perawat untuk membantu proses persalinan Zila yang ternyata kini bukaannya sudah lengkap.
Rasa mulas itu kini kian menjalar ke seluruh tubuhnya, sehingga Zila sudah tidak kuat menahannya. Ringisan dan aduhan rasa sakit meluncur begitu saja dari mulut Zila. Ini benar-benar sakit yang tidak terduga sebelumnya.
"Kak Nagaaa, sakittt, aduhhhh, arghhhhh," ringisan panjang itu mengiringi hentakan Zila menekan dengan perutnya mengeluarkan sang jabang bayi dalam perutnya.
"Sedikit lagi Bu, ayo ngeden lagi, kepalanya sudah kelihatan. Ibu tinggal dengarkan aba-aba saya, kalau disuruh ngeden, ibu ngeden kuat-kuat ya. Sekarang ambil nafas dalam-dalam lalu ibu lepaskan. Tidak henti-hentinya Dokter dan beberapa Perawat juga salah satu Bidan memberi pengarahan pada Zila.
Sementara Naga yang sejak tadi menemani Zila di sampingnya, siap menunggu Zila dan memberi kekuatan dengan menyalurkan energi positif melalui tangan Zila yang dia genggam.
Lalu setelah menghabiskan waktu setengah jam, tiba-tiba suara tangisan bayi terdengar nyaring dari dalam ruangan bersalin. Bu Hilsa dan Pak Hasri sangat bahagia menyambut kehadiran cucunya yang pertama.
"Owe, owe, owe," suara tangisan bayi itu terdengar begitu nyaring dari ruangan bersalin sehingga membuat orang yang di luar merasa kaget sekaligus senang bukan main terutama Bu Hilsa dan Pak Hasri. Mereka saling peluk saking bahagianya.
Bayi merah yang masih berdarah itu kini dibersihkan dan dibebat dengan kain pernel yang dibawa oleh Bu Hilsa dari rumahnya. Setelah bayi sudah bersih, bayi dan sang ibu dibawa ke ruangan perawatan untuk mendapat perawatan selanjutnya.
Kondisi Zila yang masih lemah karena kelelahan, terpaksa harus dipasang infus di tangannya supaya cepat pulih dan kembali kuat. Nampak di sana wajah-wajah bahagia terpancar, semua bersyukur menyambut kehadiran baby boy yang belum diberi nama itu dengan bahagia.
__ADS_1