
Acara ulang tahun baby Syaka yang meriah itu, berakhir tepat jam sepuluh malam. Para tamu undangan, kini mulai berpamitan untuk pulang. Kecuali keluarga Pak Heryawan, Papanya Hadi yang masih di sana. Hilda merasa heran, dia berpikir negatif dengan kehadiran sahabat Papanya ini yang mengakhirkan diri untuk pulang. Dalam hati Hilda sudah menduga bahwa akan ada pembicaraan lain setelah ini. Yakni, sebuah perjodohan.
Seperti yang pernah dia katakan dulu, saat pertama kali Hilda sempat dijodohkan dengan anak sahabat Mamanya, Hilda menolak keras rencana perjodohan itu. Dan kini dia juga akan menolak keras jika rencana perjodohan digulirkan kembali.
"*Kenapa hidup aku selalu rentan dijodohkan? Aku belum tua-tua amat, masa mau dijodohkan melulu. Kalau sudah usia 30 tahun, bolehlah aku dijodohkan, sama Lee Min Ho bujangan lapuk juga boleh*," dengusnya dalam hati kesal.
Pak Hasri dan pak Heryawan juga istrinya, nampak sedang berbincang, sementara Hilda menjauh dan mendekat ke arah Zila dan Naga yang saat itu sedang menerima kado dari salah satu tamu yang hadir belakangan. Hadi yang tadi ke kamar mandi, langsung mendekati Papa dan Mamanya dengan mata yang bergulir kesana kemari, sepertinya dia sedang mencari Hilda.
"De, kenapa teman kamu itu dibiarkan, temani bersama Mama dan Papa, sana?" suruh Naga setengah mengusir.
"Kak Naga, biarkan saja Kak Hadi bersama orang tuanya, toh sudah sepatutnya berada dekat dengan kedua orang tuanya," sergah Zila sambil melotot ke arah Naga. Naga hanya membalas dengan kekehan.
Sebuah perbincangan yang sudah diduga Hilda sebelumnya, kini terjadi juga kebenarannya. Dengan nada yang santai dan terkesan berguyon, Mamanya Hadi melontarkan sebuah keinginan yang ternyata diaminkan di dalam hati Hadi.
"Alangkah senangnya jika kami bisa besanan dengan Pak Hasri dan Bu Hilsa, anak-anak kita jug sepertinya sudah saling dekat dan akrab. Kita sebagai orang tua tinggal ngamprokin dan berusaha mendekatkan mereka berdua dengan rencana kita," celoteh **Bu Hasna**, istrinya **Pa** **Heryawan** penuh harap seraya memicingkan matanya ke arah Hadi. Hadi tersenyum paham dengan apa yang dibicarakan Ibunya barusan.
__ADS_1
"Itu semua tergantung anak-anak saja, Bu Hasna. Kalau saya sebagai Ibu hanya bisa mendukung dari belakang," cetus Bu Hilsa hati-hati. Sepertinya kini Bu Hilsa tidak mau lagi gegabah memberi dukungan untuk sebuah perjodohan pada anaknya, Bu Hilsa takut Hilda menolak mentah-mentah seperti dua tahun yang lalu.
"Baiklah kalau begitu kami sebaiknya pamit. Waktu juga semakin menanjak malam. Mengenai pembicaraan yang saya singgung tadi, mungkin ada baiknya kita membicarakannya lain waktu dengan tempat yang ditentukan," pamitnya dengan wajah yang sumringah. Hadi yang sepertinya sedang mencari Hilda seoa
Setelah kepergian keluarga Pak Heryawan, Bu Hilsa dan Pak Hasri menghampiri Naga yang masih terlihat berbincang-bincang.
"Selamat, Sayang, cucu Oma. Kini sudah dua tahun dan sudah mulai lancar bicaranya," puji Bu Hilsa pada baby Syaka yang masih melek dan terlihat belum ngantuk.
Baby Syaka hanya tertawa-tawa saja saat Omanya menggodanya seakan paham yang sedang dibicarakan Omanya.
Zila membawa Hilda sedikit jauh dari keluarganya, sepertinya Zila sedang ingin membicarakan hal yang bersifat rahasia dengan Hilda. Sementara Hilda, mengerutkan keningnya tidak paham dengan maksud Zila membawanya jauh dari keluarganya.
"Jangan protes, ikuti aku saja," peringat Zila sembari menarik tangan Hilda. "Langsung saja, aku mau tanya, cincin yang kamu pakai di jari tengah kamu itu pemberian dari siapa? Itu sepertinya cincin mahal?" tanyanya sembari mengamati jari Hilda tidak lepas.
Hilda diam dan bingung apa yang harus dia katakan pada Zila? Sementara dirinya pun tidak tahu dari siapa sebenarnya cincin itu.
__ADS_1
***
Benar dugaan Hilda, dua minggu setelah acara ulang tahun baby Syaka digelar, kedua orang tuanya tiba-tiba memanggilnya dan mengajaknya berkumpul di ruang keluarga. Kali ini Hilda patuh walau hati kecilnya menolak. Hilda bertanya-tanya sebenarnya ada apa ini?
"Ada apa ini, Ma, kenapa aku disuruh ke ruang keluarga?" Hilda bertanya dengan berbagai prasangka. Bu Hilsa tersenyum penuh teka-teki, membuat Hilda semakin tertekan.
"Kami akan memperkenalkan seseorang sama kamu, tapi seseorang itu justru sudah tidak asing lagi dengan kamu," ungkap Bu Hilsa masih teka-teki. Hilda semakin dilanda bingung dan misteri dengan jawaban Bu Hilsa.
Tidak berapa lama, tamu yang dinantikan Bu Hilsa dan Pak Hasri tiba. Ucapan salam dari beberapa orang di depan rumah terdengar kompak menggema.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab ketiganya kompak, meskipun Hilda hanya menjawab pelan saja saking terkesima dengan tamu yang datang. Pak Heryawan beserta anak dan istri yang ternyata anaknya adalah Hadi. Kedatangan mereka menimbulkan kecurigaan dalam benak Hilda.
"Silahkan Pak Heryawan dan Bu Hasna duduk." Pak Hasri mempersilahkan duduk pada tamunya. Sementara Hadi yang sejak tadi tersenyum bahagia nampak berusaha mencuri-curi pandang ke arah Hilda.
Hilda semakin gelisah saat Pak Heryawan mulai mengutarakan maksud kedatangannya.
__ADS_1
"Maksud kedatangan kami adalah, kami mengajak Pak Hasri dan Bu Hilsa untuk berbesanan dengan kami. Sepertinya anak-anak kita juga tidak keberatan, mereka sudah saling kenal dan dekat." Ucapan Pak Heryawan baru saja sontak membuat Hilda tersentak tidak percaya, etelah dua tahun yang lalu pernah dijodohkan dengan anak taman sahabat Mamanya , kini dijodohkan lagi dengan anak sahabat Papanya. Hilda terlihat tidak suka.