
Sebulan berlalu, Zila sudah benar-benar pulih pasca keguguran. Sikap Naga yang berubah, menjadi batu sandungan bagi Zila. Selain over protektif, Naga juga kini selalu bersikap dingin, terlebih saat Zila dalam masa pemulihan pasca keguguran, Naga tidak sehangat dulu. Zila paham, itu adalah cara Naga untuk menjaga Zila cepat pulih. Tapi Zila tidak mau Naga terlalu lama menghukumnya, sebab dia juga sudah cukup menyesal dan merasa bersalah atas kejadian keguguran ini. Apalagi selama ini pun Zila sudah patuh dan mengikuti perintah maupun larangan Naga.
Hari ini seperti biasa Naga pergi ke kantor, bulan ini merupakan bulan terakhir masa sibuk Naga menurut pengakuannya. Zila kembali berperan aktif sebagaimana layaknya seorang istri. Zila menyiapkan kemeja dan jas yang sesuai dengan Naga. Zila membayangkan betapa Naga sangat tampan hari ini.
Naga meraih kemeja dan jas yang Zila siapkan, lalu memakainya sendiri. Zila dengan sigap sudah berdiri di depan Naga memasangkan kancing, dasi dan juga jas yang akan dipakai Naga.
"Kamu jangan terlalu kecapaian. Ingat! Kamu baru pulih dari keguguran." Naga menatap Zila dengan tajam, tidak ada senyum genit atau menggoda seperti dulu, apakah hanya karena dirinya keguguran, Naga menjadi berubah seperti ini, atau ada hal lain yang membuat Naga berubah?
Zila sedih dengan sikap Naga yang masih dingin pasca dia pulih dari keguguran. Zila ingin Naga kembali seperti Naga yang dulu, perhatian dan genit. Tapi Zila tidak akan menyerah begitu saja, memang semua ini kesalahannya. Untuk itu dia harus mengembalikan Naga ke Naga setelan awal yang selalu mengekspresikan rasa cintanya secara nampak, tidak seperti ini dingin dan menyimpan kemarahan yang berkepanjangan.
"Baiklah Kak, aku tidak akan menyerah hanya karena sikap Kakak yang masih dingin dan marah padaku, aku harus berusaha mengembalikan keceriaan Kakak dan keluarga ini seperti semula, tidak seperti ini, ibu dan bapak mertuaku juga dingin dan terlihat masih marah padaku. Akan kuraih rasa cinta kalian meskipun kalian tidak senang padaku. Aku rasa aku belum terlambat untuk memulainya. Aku akan mengalah dulu menahan egoku untuk meraih cinta kalian," batin Zila penuh tekad.
"Ini tidak akan menjadikan aku lelah, Kak. Hanya memakaikan kancing dan memasang dasi juga jas di tubuh Kakak," tepisnya seraya masih memasangkan jas di tubuh Naga setelah tadi beberapa saat tertegun memikirkan perkataan Naga. Sebetulnya ada yang menyeret-nyeret di ujung mata Zila, tapi Zila berusaha menahannya, dia tidak ingin bulir bening itu jatuh di hadapan Naga.
"Ok, sudah siap. Sekarang Kak Naga sudah sangat tampan dan berwibawa, bahkan bisa jadi para perempuan di kantor Kak Naga berlomba-lomba ingin mencuri perhatian Kak Naga. Apalagi mereka dari kalangan yang sama dan berpendidikan tinggi. Bukan tidak mungkin mereka bisa menggaet Kak Naga, dan bukan tidak mungkin Kak Naga bisa tergoda. Pasti jika dibandingin sama aku, aku kalah jauh. Dan rasanya aku tidak percaya diri jika mengingat ini," tutur Zila rendah diri, dengan wajah yang dipaksa tersenyum menyembunyikan kesedihan dan kekalutan di dalam hatinya.
Naga menatap tajam Zila yang sedang berbicara di hadapannya, Naga bisa meraba apa yang dirasakan Zila, tapi Naga sengaja ingin menguji sampai di mana keteguhan cinta Zila.
"Tentunya, jika Kak Naga bertemu perempuan lain di luar sana, Kak Naga pasti tetap setia bukan sama aku?" sambung Zila lagi seraya menatap balik ke arah Naga.
__ADS_1
"Sudah, jangan berpikiran yang tidak-tidak, kamu baru pulih pasca keguguran. Jadi, berpikirlah yang sehat-sehat, jangan bebani pikiran kamu dengan pikiran yang kotor,'' cetusnya tidak suka.
"Awas saja, jika Kak Naga berani selingkuhi aku, maka aku tidak segan-segan meninggalkan Kakak, dan aku tidak mau kenal Kakak lagi," ancamnya seraya menarik tangan Naga, sehingga mereka saling berhadap-hadapan.
"Apakah Kak Naga sudah tidak mau mencium aku lagi seperti kebiasaan yang Kakak lakukan?" tanya Zila seraya menyodorkan bibirnya. Namun, sepertinya Naga tidak berniat menciumnya. Zila tersenyum miris melihat Naga cuek seperti itu.
"Ok, Kakak boleh pergi. Tapi ingat, jangan sampai Kak Naga berselingkuh di belakang aku. Kak Naga tentu tahu, bukan, sakitnya diselingkuhi kaya apa?" ujar Zila seraya berlalu mendahului Naga yang akan menuju meja makan.
"Tidak, apa-apa, Bi. Aku ini kan cuma mantu yang tidak berkarir di luar rumah, jadi sudah sewajarnya aku membantu pekerjaan rumah sebisa aku. Lagipula Bi Rani tidak usah merasa nggak enak dilihat oleh Nyonya besar, justru Nyonya besar akan senang jika menantunya ikut sibuk dalam pekerjaan rumah. Tugas Bi Rani dan Bi Rana akan lebih cepat selesai," tukas Zila dengan suara yang tenang setenang air mengalir. Dia tahu di ruang tengah tadi sempat melihat ibu mertuanya, makanya saat di dapur Zila sengaja bebicara seperti itu hanya untuk menyindir Bu Hilsa saja, sebab Bu Hilsa sejak dirinya keguguran, sikapnya masih kaku dan tidak hangat lagi saat baru-baru ketahuan siapa Zila sebenarnya.
Bu Hilsa yang mendengar Zila bicara seperti itu merasa tersindir, sebab awal Zila datang ke rumah ini, Bu Hilsa sempat memperlakukan Zila layaknya pembantu.
"Jangan, Non! Non Zila baru saja pulih pasca keguguran, dan sekarang Non Zila tidak boleh melakukan hal yang berat-berat." Bi Rani berusaha mencegah Zila, tapi Zila tidak menggubrisnya, dia terus menyiapkan piring dan nasi goreng buatan Bi Rani di atas meja makan.
__ADS_1
"*Mungpung ibu mertua lagi ada, kali-kali aku cari perhatian, lagipula sikap mereka sudah sebulan ini seakan tidak lagi hangat padaku, mereka berdua kembali ke setelan awal, bedanya sekarang mereka tidak secara frontal menunjukkan sikap tidak sukanya padaku. Nasib, nasib, begini rasanya menikah dengan orang dari kalangan atas, kalangan yang tidak sepadan denganku. Semua memang dinilai dari harta, sehingga ketulusan dan kejujuran kadang tidak lagi jadi pilihan utama*." Zila berkata sedih di dalam hatinya, memikirkan sikap keluarga ini yang tidak lagi hangat padanya.
Kini semuanya sudah berada di meja makan. Zila masih sibuk menyiapkan jus mangga kesukaan keluarga Naga termasuk suaminya sendiri.
""Ibu dan Bapak, mau aku ambilkan juga?" tanya Zila kepada kedua mertuanya sembari menunggu persetujuan mereka.
"Tidak, biar aku sendiri yang ambil," tolak Bu Hilsa sembari melambaikan tangannya di udara. Hilda yang selalu sinis sejak kedatangan Zila kembali ke rumah ini, menatap Zila tidak berkedip dengan bibir yang terangkat ke atas dan mengejek.
"Hilda, apakah kamu mau aku ambilkan nasi goreng dan jus mangganya?" Zila membalas tatapan sinis Hilda dengan menawarkan bantuan untuk mengambilkan sarapan pagi Hilda.
"Sudah sepantasnya dong, menantu yang tidak sekolahan tinggi dan tidak punya karir di luar rumah, membantu pekerjaan rumah termasuk menyiapkan makanan gue," ketusnya.
"De, kamu ambil sendiri dong, letak nasi gorengnya, kan, dekat kamu," sergah Naga kurang suka.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Kak. Sebagai menantu yang tidak berpendidikan tinggi dan tidak berkarir di luar rumah, sudah sewajarnya aku membantu pekerjaan rumah. Walau demikian setidaknya aku masih punya attitude yang baik meskipun tidak berpendidikan tinggi dan berkarir di luar rumah," jawab Zila telak. Semua yang berada di meja makan diam tidak ada satu orangpun yang menyela.