Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 126 Musim 2 Bertemu Sila di Rumah Sakit


__ADS_3

     Hari ini jadwal pemeriksaan kandungan Zila. Meskipun masih mual muntah, tapi untungnya Zila mau makan, minimal buah-buahan. Naga bersyukur dan tidak terlalu khawatir melihatnya.


     Akan tetapi Naga dibuat geleng-geleng kepala, sebab Zila bukannya bersiap-siap malah tidur malas-malasan.


     "Sayang, hari ini jadwal pemeriksaan kandungan kamu. Bersiap-siaplah, kenapa kamu malah malas-malasan?" Naga heran dan menghampiri Zila. Sejak kehamilan yang kedua ini Zila terlihat lebih malas, mandi dan berdandan juga malas, untung saja Zila memang dasarnya mempunyai wajah yang cantik, meskipun tidak dipoles bedak, Zila tetap cantik.


     "Kemana sih, Kak? Aku sedang malas bepergian, jadi periksanya jangan sekarang, nanti saja, ya."


     "Ya, ampun, Sayang, apakah kamu tidak ingin melihat perkembangan bayi kita di dalam perut kamu? Ayo dong bangkit, kamu harus mandi dan bersiap-siap," peringat Naga sembari meraih tangan Zila.


     Zila bangkit walau malas-malasan, inginnya dia tiduran seharian di kamar tanpa kemana-mana, tapi Naga tidak membiarkan Zila lebih malas lagi. Sebelum pergi Zila disajen dulu dengan buah-buahan dan beef steak kentang. Dengan dipaksakan Zila tetap makan beef steak itu meskipun dagingnya tidak banyak dia makan, minimal kentang yang jadi pelengkapnya dimakan sampai habis.


     Perhatian Naga seja Zila hamil emang dua kali lipat dari biasanya, makannya, minum jusnya juga susunya hampir tiap hari Naga yang siapkan selama Bi Lala belum datang. Dan saat Zila makan, Naga juga mengawasi, jika Zila ogah-ogahan maka Naga yang memperingatkan dengan sedikit keras.


     "Kalau kamu tidak mau makan sayuran ini dengan habis, aku tidak mau tahu jika nanti anakku kenapa-kenapa," peringat Naga sehingga Zila menjadi penurut. Dan terpaksa harus penurut daripada harus masuk rumah sakit lagi dan dirawat, sebab Zila memang tidak suka harus ke rumah sakit hanya untuk berobat dan dirawat di sana. Zila takut dengan jarum suntik, meskipun jika harus disuntik maka dengan terpaksa disuntik.


    "Ayo, sekarang kamu mandi dan berdandan. Walaupun kamu malas berdandan, minimal pergi keluar bedak dan lipstik harus kamu pakai supaya wajah kamu tidak kusam banget. Sebab di luaran sana banyak wanita genit yang berusaha mendekatiku," bujuk Naga merayu Zila supaya minimal berbedak dan menggunakan lipstik. Sontak Zila sedikit kaget saat mendengar Naga menceritakan di luaran sana banyak wanita genit yang ingin mendekati Zila.


     Zila pun berdandan sesuai porsi dan seleranya, menjelma kembali menjadi Zila yang seperti anak kuliahan. Cantik, muda,dan fresh karena kehamilannya belum sampai tiga bulan, perutnya pun belum buncit layaknya orang hamil.


     Melihat Zila sudah cantik dan fresh, Naga menyunggingkan senyum bahagia, sesungguhnya Naga mencintai Zila bukan fisik semata. Naga hanya tidak ingin Zila terlihat kusam dan tidak bergairah di depan perempuan lain yang menaruh hati pada Naga. Intinya Naga tidak ingin Zila direndahkan perempuan lain.


     "Ayo Sayang, apakah kamu sudah siap?" ajak Naga bersemangat.


     Setengah jam kemudian, Naga dan Zila sampai di rumah sakit untuk memeriksa kandungan Zila. Naga menemui Dokter Rangga, Dokter yang dulu sempat menangani kehamilan Zila sampai saat Zila keguguran.


     Naga bersyukur keadaan janin dalam kandungan Zila dalam keadaan sehat, meskipun belum terbentuk dan masih berupa gumpalan, tapi keadaan janin itu berkembang baik. Naga juga sangat senang berat badan Zila bertambah lagi setelah kemarin turun ke angka 45 kg kini bertambah menjadi 47 kg.


     Keluar dari rumah sakit dengan melewati koridor rumah sakit, tidak diduga mereka berdua bertemu dengan Sila, perempuan yang sempat ingin dijodohkan oleh kedua orang tua Naga dengan Naga.


     Sila nampak kaget dan berhenti seakan ingin menghindari Zila dan Naga yang mau menuju parkiran.


     "Mas Naga, apa kabar? Siapa yang sakit?" tanya Sila penasaran.

__ADS_1


     "Sila? Kabarku baik. Tidak ada yang sakit, hanya aku sedang mengantar istriku periksa kehamilan. Kebetulan sudah selesai dan kami sekarang akan pulang," jawab Naga sedikit kaget karena Mila menyapanya disaat Naga hanya fokus pada Zila dan jalan yang dia lewati.


     "Ohh, hamil?" Pertanyaan Sila terdengar terkejut dan tidak percaya. Naga mengangguk.


     "Kamu ngapain di sini? Siapa yang sakit?" Naga balik bertanya.


     "Aku sedang akan menengok teman aku yang sakit."


     "Ok, kalau begitu aku dan istriku pamit dulu, ya, semoga teman kamu cepat sembuh dari sakitnya," harap Naga sembari berlalu. Sementara Zila yang sejak tadi diam hanya memperhatikan interaksi Naga dan Sila tanpa mau menyapa terlebih dahulu. Silanya saja tidak mau menatap sedikit pun ke arahnya, jadi Zila juga cuek saja dan tidak juga menyapanya.


     Sila menatap punggung Naga dan Zila dengan gemas dan kecewa, rupanya dalam dirinya masih tersimpan rasa kecewa pada Naga dan kesal pada Zila.


     "Huhhh, bisa-bisanya si Zila perempuan kampung itu tidak menyapaku, mentang-mentang dia kini telah diterima oleh Tante Hilsa dan Om Hasri. Sekarang dia sedang hamil, jadi peluang aku benar-benar tidak ada," gerutunya kesal sembari membalikkan badan menuju salah sau ruangan di rumah sakit itu.


     Zila dan Naga sudah memasuki mobilnya dan mulai keluar dari parkiran rumah sakit. Naga nampak senang dengan hasil pemeriksaan zila hari ini. Progresnya sungguh baik dan janin dalam kandungannya berkembang dengan baik.


     Naga membayangkan tujuh bulan kemudian dia akan benar-benar menjadi seorang ayah yang harus siap siaga menjaga bayinya siang malam. Sepertinya jika waktunya kelahiran si jabang bayi nanti, Naga harus memerintahkan kembali Hasya ke perusahaan Naga Group di Bandung, supaya Naga bisa melimpahkan semua pekerjaan pada Hasya, sementara dia akan menjaga bayinya selama tidak ke kantor. Naga sangat antusias sebab ini merupakan kali pertama Naga akan menjadi seorang papa.


     "Kak Naga, apakah Kak Naga sedang melamun?" sapa Zila mengejutkan Naga yang memang sedang melamun. Naga tersentak dan mengatupkan bibirnya yang sejak membayangkan menjadi ayah tadi tidak henti tersenyum.


     "Tidak, Sayang, aku tidak sedang kesambet. Aku hanya sedang melamunkan tujuh bulan kemudian saat aku jadi Papa. Aku akan sering di rumah dan urusan kantor akan aku limpahkan lebih banyak pada Hasya," tutur Naga senang.


     "Kak Naga, sebegitu bahagia dan antusiasnya Kakak dengan anak ini. Benarkah Kakak bahagia mempunyai anak?" tanya Zila membuat Naga terkejut dan terbelalak lau tiba-tiba ngerem mendadak. Untungnya Zila menggunakan sabuk pengaman, sehingga tubuh dan perutnya tidak terantuk ke dasbor mobil.


     "Sayangggg, apa yang kamu pertanyakan? Itu tidak lucu dan seharusnya bukan sebuah pertanyaan. Ya, jelas aku sangat bahagia, ini merupakan anak pertama dan pengalaman pertamaku jadi papa. Jadi, tolong jangan memberikan pertanyaan yang tidak masuk akal pada suamimu ini," tegur Naga ditekan dan terkesan marah.


     Zila membalas kemarahan Naga dengan tawa yang renyah, Zila melihat Naga sangat lucu saat marah. "Kak Naga, kenapa Kak Naga semarah itu? Kak Naga sangat lucu jika marah. Apakah Kak Naga tahu, saat marah seperti ini Kak Naga persis Ji Chang Wook dalam peran drakornya yang ngehits itu? Tentunya Kak Naga tidak tahu Ji Chang Wook, kan, ha, ha, ha," ejek Zila sembari tertawa. Naga benar-benar dibuat kesal pad Zila, bisa-bisanya saat sedang kesal malah dibalas dengan candaan. Apalagi Naga tidak kenal dengan Ji Chang Wook seperti yang Zila bilang barusan.


    Naga kembali menghidupkan mesin mobilnya membelah jalanan menuju rumah Mama dan Papanya. Naga membalas candaan Zila dengan membawanya ke rumah kedua orang tuanya. Naga yakin Zila pasti tidak mau dan kesal diajak ke rumah Mama dan Papanya. Naga sengaja menunggu momen Zila marah.


Melihat Naga diam saja dan nampak kesal, Zila juga diam tapi bibir senyam senyum. Entah kenapa Zila seperti ingin mengerjai Naga.


__ADS_1


"Yahhh, Papanya marah Sayang, rupanya kalau Papa marah mirip Ji Chang Wook. Jadi kalau semirip itu Mama gak mungkin dong melepaskan Papa ke perempuan yang ketemu tadi di lorong RS," ucap Zila mengajak bicara pada perutnya yang masih rata.



Naga menoleh ke arah Zila yang bicara sendiri sambil mengelus perutnya.



"Sayang, setampan apa sih Ji Chang Wook sampai kamu tidak mau melepaskan aku ke perempuan lain, coba kayak siapa laki-laki itu?" todong Naga meminta Zila memperlihatkan seperti apa Ji chang Wook.



"Nah, aku perlihatkan fotonya." Zila memperlihatkan Hpnya ke muka Naga dengan wajah yang berubah masam, murung dan mual.



Naga menatap foto aktor Korea yang menurut Zila tampan itu. Saat dilihat ternyata dirinya tidak kalah keren dan tampan, tinggi badannya juga hampir sama. Naga acungi jempol dengan standar tinggi pria favorit kesukaan Zila, tampan, maco, tegas, dingin juga romantis.



"Aku juga tidak kalah tampan dari dia, kenapa juga kamu sangat memuji dia dan kesengsem sama dia?" omel Naga pada Zila yang kini sedang menutup mukanya dengan sebuah kantong kresek yang dia temukan di dalam mobil.



"Huek, huek." Ternyata Zila sedang mual-mual dengan menampungnya di dalam kresek. Nasib baik Naga menyimpan kantong kresek di dalam mobilnya. Naga segera menghentikan mobilnya karena khawatir dengan Zila yang sedang mual.



Dengan pengertian Naga mencari minyak angin yang selalu dia simpan di dalam mobil untuk membalur leher Zila. Tidak berapa lama Zila berhenti huek-hueknya, perlahan kepalanya mendongak.



Matanya berair, hidungnya juga berair, wajah Zila nampak pucat. Naga segera meraih tisu dan menyeka wajahnya yang basah air mata dan ingus. Kini wajah yang tadi penuh canda dan ejekan pada Naga, berubah seketika. Pias dan murung sambil sesekali membuang ludahnya ke dalam kresek. Sejujurnya Zila tidak ingin siapa pun melihat atau mendengar dia huek-huek, termasuk Naga.

__ADS_1



"Sayang menghadap jendela badannya biar aku balur sama minyak angin punuknya." Dengan pengertian dan prihatin Naga membalur dan memijit-mijit punuk Zila.


__ADS_2