Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 38 Bertemu Cinta Monyet Masa Lalu


__ADS_3

Non Zila pasti ingin, ya?" tanya Bi Rana yang tiba-tiba muncul dan menebak apa yang dirasakan Zila.


"Wahhh, tebakan Bi Rana betul sekali. Saya memang ingin sekali mencicipinya. Apakah boleh?" tanya Zila sudah tidak sabar.


"Boleh dong, Non. Biar bibi tuangkan ke dalam wadah, ya. Non Zila duduk manis saja di kursi makan, bibi akan mempersiapkan dulu." Zila mengangguk setuju dan duduk di kursi makan.



"Nah, silahkan Non asinannya," sodor Bi Rana ke hadapan Zila yang langsung disambut Zila dengan bahagia. Zila mulai menyantap asinannya dengan lahap. Bersamaan dengan itu, di depan pintu rumah suara bel berbunyi tanda seseorang bertamu.



"Wahhh, Non Zila lahap banget makan asinannya. Non Zila memang suka asinan, ya?"



"Wajar dong Rani, orang Non Zila sedang isi, pasti bawaannya pengen makan asinan, rujak dan yang seger-seger. Iya, kan, Non?" tukas Bi Rana membela Zila. Sejenak Zila merasa berdosa, sebab dia yang sedang dibicarakan sedang isi oleh Bi Rana dan Bi Rani, ternyata hanya pura-pura demi alasan menghindari peraturan berat dari Nyonya Besar rumah ini. Zila pura-pura hamil supaya tidak disuruh-suruh oleh Ibu mertuanya yang tidak kira-kira memberi pekerjaan rumah yang numpuk tiap hari.



"Oh Iya betul, Non Zila, kan sedang hamil. Jadi wajar saja Non Zila senang makan asinan dan rujakan," ujar Bi Rani membenarkan.



"Wahh, kalian ini enak-enakan duduk manis di dapur sambil mencicipi asinan bawa saya. Tidakkah kalian tahu bahwa di ruang tamu sedang ada tamu yang kehausan menunggu minum? Zila kamu bikinkan minuman untuk tamu saya di depan. Kamu yang bikin dan kamu juga yang antar," titah Bu Hilsa dengan wajah yang tegas.



Zila tidak membantah, dia segera berdiri dan menghampiri bar kecil lalu membuat dan mengolah minuman sesuai yang pernah dia bisa dan lakukan di kafe Kobar saat itu.



"Wahh, Non Zila keren. Hebat banget bikin teh tarik ditarik-tarik," ujar Bi Rani memuji kemampuan Zila.



"Ini bukan teh tarik, Bi. Tapi teh manis yang less sugar," jawab Zila yang sukses membuat Bi Rani mengerutkan keningnya. Tadi dikagetkan dengan kemampuan Zila dalam membuat teh manis tarik yang sangat lihai, ditambah lagi Zila mengucapkan kata less sugar yang asing di telinga Bi Rani.



Empat gelas minuman telah siap di atas baki cantik. Zila membuat dua teh tarik less sugar dan dua kopi latte untuk Pak Hasri dan Naga suaminya.



Zila sudah siap membawa baki cantik itu ke depan dengan jantung yang tiba-tiba berdegup.



Di ruang tamu, Bu Hilsa menoleh ke arah dapur menantikan Zila membawakan minuman bagi tamu dan dirinya beserta Naga dan Pak Hasri.



Tidak berapa lama penantian Bu Hilsa datang juga. Zila dengan membawa empat minuman di baki cantik dan meletakkan minuman itu masing-masing di hadapan mereka.



"Silahkan dinikmati minumannya," ujarnya mempersilahkan. Saat Zila mau berdiri dan kembali ke dapur, tamu laki-laki yang masih muda itu memanggil ke arah Zila dan menghentikan langkah Zila.



"Tunggu sebentar, aku seperti pernah mengenali gadis ini. Tapi, di mana, ya?" Tamu itu menghentikan langkah Zila lalu bertanya-tanya pernah melihat Zila di mana seraya berpikir sejenak.


__ADS_1


"Zizi," serunya membuat Zila terkejut. Sebutan Zizi hanya pernah disematkan seseorang dimasa lalu. Yaitu cinta pertama plus cinta monyetnya Zila semasa SMA.



"Zila, kamu Zila, kan, Zi?" yakinnya lagi seraya berdiri. Semua orang yang berada di ruang tamu heran terlebih Naga, mereka bertanya-tanya kenapa Zila bisa kenal dengan tamunya, yang tidak lain adik sepupu Naga. Yakni anak dari adik Papanya Naga.



Zila menoleh perlahan dan menyunggingkan senyum pada anak muda yang usianya ditaksir masih seumuran dengannya. Zila langsung mengenalinya, tapi segan menyapa sebab posisinya berada di tengah-tengah keluarga Naga.



Dia adalah Rafa, mantan pacar Zila saat SMA. Bisa dikatakan hubungan mereka hanya cinta monyet dan tidak ada perasaan lebih untuk melanjutkan ke tingkat serius, terlebih saat itu Rafa memang memutuskan kuliah keluar negeri. Lalu hubungan pacaran mereka pun putus begitu saja.



Walaupun demikian hubungan Rafa dengan Zila terbilang baik. Rafa dan Zila selalu kompak dan mengerjakan PR bersama serta tidak terlibat kenakalan remaja. Boleh dikatakan Zila memiliki kesan baik saat dekat dengan Rafa.



Rafa merupakan anak konglomerat di kota Bandung. Saat pacaran dengan Rafa, Zila tidak pernah merasa percaya diri, sebab Rafa merupakan orang terpandang dan berada, sehingga Zila perlahan melepaskan kepergian Rafa. Terlebih saat itu Rafa memang dikirim kedua orang tuanya sekolah ke luar negeri.



Hubungan keduanya pun hilang begitu saja. Baik Rafa maupun Zila tidak pernah lagi saling kontak. Setelah enam bulan lamanya menunggu kabar yang tidak kunjung datang dari Rafa, akhirnya Zila benar-benar bisa melepaskan Rafa pergi dari kehidupannya. Apalagi Rafa anak orang terpandang dan anak konglomerat di kota Bandung, yang mana kehidupan dan status sosial akan sangat dinomorsatukan. Jadi memang sepetinya Zila dan Rafa tidak ditakdirkan harus bersama.



"Kalian saling kenal?" Naga yang sejak tadi merasa heran menimpali dan bertanya pada Zila dan Rafa.



"Benar, Bang. Kami saling kenal. Dulu pernah satu SMA dan kami lumayan dekat. Tapi hubungan pertemanan kami terpaksa harus berjauhan, sebab aku dikirim Papa ke luar negeri." Rafa menjelaskan tanpa menyebutkan hubungan kedekatan dirinya dengan Zila secara spesifik. Sepertinya Rafa sangat cerdas melihat situasi dan kondisi Zila yang berada di rumah Naga.




"Teman SMA, dekat apa jauh?" Naga mulai penasaran dengan hubungan antara Rafa dan Zila dahulu.



"Kami cinta monyet, Bang." Entah keceplosan atau disengaja, Rafa sedikit membuka seperti apa hubungan dirinya bersama Zila dahulu.



"Oh, cinta monyet!?"



"Mana monyetnya, dan mana cintanya?" lanjut Naga seakan ingin mengorek hubungan Zila dan Rafa lebih jauh.



"Kami sama-sama cinta dan monyetnya, Bang," sahut Rafa lagi semakin jelas saja punya hubungan apa mereka dahulu saat masih SMA. Jawaban ini cukup membuat Naga diam dan menyimpan sebuah pertanyaan nanti buat Zila.



"Wah, rupanya kalian saling kenal dan dekat, ya?" Pak Hasri menimpali saat melihat sikap Naga yang sedikit menegangkan.



"Iya, Paman. Kami dekat dan sama-sama suka belajar bersama dan kadang-kadang kita suka saling cerita masalah keluarga," ujar Rafa sampai melebar kemana-mana. Zila jadi tidak enak hati, terlebih Rafa berbicara seakan tidak bisa dikontrol.

__ADS_1



"Oh iya, Zi. Bagaimana masalah tanah orang tua kamu yang dicuri oleh Ommu sendiri itu, apakah sekarang sudah bisa kembali ke tangan kamu sebagai ahli waris?" lanjut Rafa. Pembicaraan Rafa barusan mengingatkan Naga pada tanah orang tua Zila yang saat ini sedang dipelajari dan diselidiki oleh Hasya dan tim. Mencari tahu siapa saja yang terlibat dalam pencurian tanah milik Haga.



"Aku, sudah tidak tertarik lagi Raf untuk menuntut, walaupun secara hukum tanah itu memang milik ayahku. Tapi, siapa orang dan Pengacaranya yang mau membantu kami yang tidak mempunyai uang banyak untuk membayar Pengacara," sergah Zila pesimis.



"Kalau kamu mau, aku bisa bantu dengan mengirimkan Pengacara handal kepercayaan keluarga Papa aku."



"Sekali lagi aku sudah tidak tertarik untuk merebut kembali tanah itu Raf, sebab tanah itu sudah dijual Om aku pada orang lain. Kalau begitu, aku permisi, ya," pamit Zila menghindari pembicaraan yang lebih melebar, sebab Zila tidak mau keluarga Naga termasuk Naga punya kesimpulan lain terhadap hubungan dirinya dengan Rafa.



"Zi," panggil Rafa seakan masih ada yang ingin disampaikannya lagi. Namun Zila sudah berlalu. Rafa kini kembali duduk setelah tadi cuma berdiri saat berbicara dengan Zila. Padahal Rafa memang tulus ingin bantu jika memang tanah milik orang tua Zila itu dicuri kepemilikannya.



"Bang, ada hubungan apa kalian dengan Zila teman aku itu?" Akhirnya sebuah pertanyaan yang sejak tadi ditabung Rafa keluar juga karena dia merasa penasaran.



"Kami punya hubungan khusus," jawab Naga penuh teka-teki.



"Maksud Abang?" tanya Rafa penasaran.



"Zila, adalah ...."



"Naga, tolong ambilkan Mama asinan dan manisan di dapur. Sepertinya Zila lupa mengambil tadi," potong Bu Hilsa cepat, seakan tidak ingin Naga mengakui di depan Rafa bahwa Zila adalah istri Naga.



"Aduhhh, Nyonya saya minta maaf, tadi saya lupa membawa asinan dan manisan ini sebagai camilan." Tiba-tiba Bi Rani datang dan membawa dua toples asinan lalu diletakkannya di meja.



"Wahhh, asinan. Aku kebetulan suka Tan," ujar Rafa senang, sebab makanan asinan ini memang favorit Rafa. "Wah, segarnya.



"Makanlah, Raf. Tante bawa asinan itu oleh-oleh dari Jakarta kemarin. Kamu favorite banget, bukan?" ujar Bu Hilsa sengaja membuat Rafa lupa akan pertanyaannya tadi tentang siapa Zila sebenarnya dalam keluarga ini.



"Tante ini tahu saja kesukaan aku sejak dulu," puji Rafa pada Bu Hilsa.



"Iya, dong Raf, kamu kan keponakan Paman dan tante yang tante sayangi," ucap Bu Hilsa yang sepertinya obrolannya ini bisa melupakan fokus Rafa tentang siapa sebenarnya Zila.



"Tuan, Nyonya, Den Naga, istri Aden Non Zila mendadak keram, perutnya terasa sakit sekali katanya. Mungkin bawaan dari janin yang dikandungnya Den," berita Bi Rana yang memberitahukan bahwa Zila mengalami keram perut yang menyakitkan. Berita dari Bi Rana ini menjawab sudah pertanyaan serta rasa penasaran Rafa barusan.

__ADS_1



"Istri! Jadi Zizi adalah istrinya Bang Naga?" kejutnya seakan tidak percaya. Rafa mendadak merasa kecewa mendengar fakta yang tidak sengaja didengar dan tercetus dari mulut asisten rumah tangga Pamannya. "Jadi kamu sudah menikah, Zi. Dengan Bang Naga?" Rafa masih berdiri terpaku dengan pertanyaan yang masih mendera di dadanya.


__ADS_2