Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Musim 3 Nagi dan Hilda


__ADS_3

"Nagiii." Semua hampir meneriakan nama Nagi kecuali Hilda. Hilda hanya mampu ternganga tanpa suara. Dia sengaja menahan semua kegembiraannya di mata semua orang yang ada di rumah itu, terutama dari mata Mama dan Papanya. Entah apa yang akan Hilda rencanakan, yang jelas kini dia seolah memperlihatkan eksprsi datar.



"Nagi," seru Naga seraya merangkul Nagi adik yang selama ini sangat dia sayangi. Naga tidak percaya Nagi yang kini sangat begitu dekat dengan dirinya, menjelma jadi Nagi yang jauh banyak berubah. Makin dewasa dan terlihat mapan. Sepertinya kecuriagaan Naga tentang sebuah perusahaan yang berkembang di bidang perkapasan itu tidak salah lagi. Nagilah pemiliknya.



"***Kapassindo NagiMedani***? Lantas itu perusahaan siapa? Perusahaan itu merupakan perusahaan yang awalnya kecil. Namun, lama kelamaan bermetamorfosa menjadi perusahaan besar seiring berjalannya waktu, serta merupakan masuk ke dalam lima besar peringkat perusahaan yang akan merajai pasaran Asia." Semua data dan akurasinya mengarah pada perusahaan Nagi, tpi Nagi sengaja belum mau mengakuinya di hadapan keluarganya.



Obrolan seputar Kapassindo kini mampu mengalihkan sikap Hilda yang datar. Papa dan Mama Hilsa terkecoh dengan sebuah fakta yang mengejutkan tentang perusahaan kapas milk Nagi itu. Namun, Nagi tetap tidak mengakuinya, dia malu jika harus disandingkan dengan perusahaan Naga juga Papanya itu.



Hilda bersyukur tadi dirinya berhasil beringsut dan menjauh saat semuanya tengah fokus membahas sebuah perusahaan baru bergerak di bidang perkapasan.



"*Benar dugaanku, perusahaan kapas itu milik Kak Nagi. Pantas saja selama ini aku sudah sangat jatuh cinta dengan kapas hasil produksinya, sebab kapas itu memang milik perusahaan Kak Nagi*," pikir Hilda dalam hati dengan rona yang sangat bahagia.



"*Aku tidak boleh terlihat senang atau bahagia* *dulu di depan Mama dan Papa karena telah bertemu Kak Nagi, aku akan terus membuat mereka menganggap bahwa aku sudah tidak sayang lagi dengan Kak Nagi. Aku ingin lihat bagaimana reaksi mereka*." Hilda tetap pada sandiwaranya.



"Hilda, Sayang!" Bu Hilsa terdengar memanggil nama Hilda dari luar pintu kamar. Dia berharap Hilda ikut menyambut kedatangan Nagi. Namun, Hilda tidak bergeming, dia tetap teguh pada pendiriannya.



Besok menjelang, Hilda sudah berdandan layaknya seorang pelamar pekerjaan. Seperti yang pernah ia sampaikan kepada Papanya bahwa dia akan bekerja di perusahaan Kakaknya, Naga.



Hilda keluar kamarnya dengan langkah yang tegas. Dia kini menjelma bak seorang wanita karir yang baru memulai. Saat Hilda keluar, semua menatap takjub plus heran.

__ADS_1



"Papa, hari ini aku akan melamar kerja di perusahaan Kak Naga, tapi aku tetap ingin Kak Naga memperlakukan aku sama, seperti memperlakukan layaknya seorang Bos pada bawahannya," ujar Hilda di sela-sela sarapan paginya.



"Kamu serius ingin bekerja di perusahaan milik Kak Naga?" Pak Hasri bertanya penuh rasa heran.



"Aku serius, Pa. Aku lebih tertarik bekerja di perusahaan seperti ini daripada di instansi. Dan, aku minta maaf karena sudah tidak sesuai ekspektasi Papa," ujar Hilda meminta maaf sambil menunduk. Pak Hasri tersenyum melihat perubahan Hilda yang sudah sangat lebih baik. Hilda mau meminta maaf saja, itu sudah merupakan hal yang sangat luar biasa.



"Jika memang itu pilihanmu, Papa hanya bisa mendukung dari belakang saja apa yang menjadi pilihanmu," ujar Papa Hasri akhirnya, menyetujui langkah yang dipilih putrinya itu.



"Karena waktu sudah mulai siang, aku harus berangkat dulu. Aku pamit, ya, Pa, Ma," ujarnya terlihat begitu sangat bersahaja. Kepergian Hilda mendapat tatapan aneh dari Bu Hilsa. Di satu sisi dia merasa bangga dengan perubahan Hilda. Namun di sisi lain, Bu Hilsa merasa bertanya-tanya dan aneh akan sikap Hilda. Kemarin saja saat Nagi datang, dia sama sekali tidak memperlihatkan sikap senang sama sekali.


***



"Duluanlah, Kak. Aku segera meluncur," balas Hilda seraya menjalankan mobil biru metaliknya keluar halaman rumah. Di simpang empat mobil Hilda berhenti sejenak, sengaja bertegur sapa dengan si pengemudi lainnya yang menggunakan mobil mewah berwarna merah metalik.



"Cantiknya, calon istri Kakak," pujinya seraya melambaikan tangan. Lalu keduanya kini sama-sama melajukan mobilnya menuju sebuah kafe di pagi itu. Mereka akan memulai kebersamaan dengan ngopi pagi di sebuah kafe sebelum memulai aktifitas.



Mobil Hilda turun mengikuti mobil merah metalik itu. Mereka memasuki sebuah cafe yang telah sama-sama mereka janjikan sebelumnya.



"Duduklah, Sayang. Kamu mau pesan apa?"

__ADS_1



"Aku sudah sarapan di rumah, Kak. Aku tidak pesan apa-apa," tolak Hilda.



"Ya, apun manis banget calon istri Kak Nagi ini. Tidak, kamu jangan tidak pesan apa-apa, biar aku pesankan jus melon kesukaan kamu saja" ujarnya tidak bisa dibantah.



"Sayang, serius kamu mau bekerja di perusahaan Bang Naga? Tidakkah kamu duduk diam di rumah saja menunggu aku pulang dari mengurus perusahaan dan menyambutku dengan penuh cinta?" tatap Nagi dalam.



"Aku ingin bekerja dulu Kak, aku ingin menikmati hasil kuliah S1 ku. Percuma aku kuliah kalau akhirnya berakhir di pelaminan," ujarnya memberi alasan.



"Kuliahmu saja tidak sesuai jurusan dengan sebuah perusahaan Bang Naga, lantas apa kaitannya dengan gelar pendidikanmu, toh lulus SMA saja kamu masih bis diterima kerja di perusahaan Bang Naga?" kerungnya heran.



"Aku, hanya ingin bekerja saja di perusahaan Kak Naga. Jangan memberi aku pertanyaan lain, sebab aku malas menjawabnya." tukas Hilda.



"Kamu tidak akan aku biarkan bekerja, aku akan segera melamarmu. Atau kalau perlu kamu hanya bekerja di perusahaanku saja, menjadi Sekretaris pribadiku, supaya hari-hariku hanya bersamamu." Mendengar itu Hilda mendengus kesal, kalau Nagi mau melamarnya buktikan saja dulu jangan hanya cerita.



"Aku ingin menikahimu, sebab bayangan indah malam pertama bersamamu selalu terbayang," seru Nagi mendadak seakan mesum.



"Kak Nagi, memangnya apa yang sedang Kak Nagi bayangkan tentang malam pertama pernikahan Kak Nagi? Lantas dengan siapa Kak Nagi akan menikah dan melakukannya?"


__ADS_1


Nagi meraih jemari Hilda dan menciumnya cepat sehingga Hilda terkeju. Hilda yang sedang jual mahal dalam hati sangat senang sekaligus kesal sebab Nagi belum juga merealisasikan niatnya melamar yang sering didengungkannya itu.


__ADS_2