
Nagi tertunduk lesu setelah mendengar semua pengakuan laki-laki paruh baya bernama Harsya di hadapannya, yang selama ini dia sebut Papa.
"Kenapa Papa tidak bunuh saja orang itu, kenapa juga Papa biarkan aku tumbuh di dalam rahim Ibu dan seumur hidup aku harus menerima kebencianmu atas perlakuan bajingan itu?" Nagi berkata geram lalu mendongak.
"Aku korban keegoisan kalian semua. Kalian tega membiarkan aku seperti orang berdosa. Apakah Papa tahu, setiap aku bertemu Papa, aku berharap Papa menatapku penuh kasih sayang dan sedikit saja menyapaku dengan panggilan, Nak? Tapi semua itu kalian biarkan aku menanggung dosa bajingan itu. Di mana dia, sebutkan di mana dia berada? Aku akan membunuhnya sebab aku tidak terima seumur hidupku menanggung beban dari dosa yang dilakukannya," teriaknya lantang seperti kesetanan.
Nagi mengamuk dan membenturkan kepalanya ke tembok. Rasa kecewa dan marah terlanjur menyatu dalam dirinya. Daripada hidup harus menanggung malu akibat perlakuan ayah biologisnya yang seakan menimpakan kesalahan pada dirinya, lebih baik dia mati saat ini juga. Semua orang seperti sengaja menjadikan dirinya tumbal atas kesalahan ayah biologisnya.
Harsya panik, dia tidak menyangka Nagi akan semarah dan ngamuk membabi buta. "Aku sudah terlanjur jadi tumbal bajingan itu, kesalahannya kalian timpakan padaku. Seumur hidupku aku dijadikan musuh padahal aku tidak tahu masalah sebenarnya. Dan kalian, Papa yang aku sangka Papa, juga Ibu menghukum aku atas kesalahan bajingan itu tanpa mau menceritakan kisah yang sesungguhnya. Lebih baik aku matiiiiii." Teriakan Nagi menggema dalam ruangan Harsya.
Harsya segera memanggil Satpam dan orang-orang kuatnya untuk menangani Nagi. Harsya iba, anak muda yang selama ini dibenci atas kesalahan seseorang di masa lalunya, kini histeris dan hampir saja melukai dirinya.
Beberapa orang tinggi besar dan Satpam rumah Harsya berdatangan tepat waktu, sayang pelipis, dahi juga bbir Nagi sudah berdarah karena luka benturan yang sengaja dia benturkan sendiri ke tembok ruangan Harsya.
"Lepaskan aku, biarkan aku mati. Biarkan aku mati biar Papa Harsya dan Ibuku puas. Aku akan puas jika aku mati, kalian menyingkirlah. Tidak akan ada lagi dendam terpendam dan kebencian setelah aku mati. Aku rela Papa Harsya dan Ibuku kembali bersatu, dengan begitu aku akan mati dengan tenang," ceracau Nagi seraya menepis-nepis tangan orang-orang tinggi besar yang memeganginya.
"Bawa dia ke kamar, masukan dan ikat dengan kuat supaya dia tidak berontak. Kita bawa ke RS jika dia masih tidak tenang." Harsya memerintahkan orang-orangnya untuk mengurung Nagi di sebuah kamar kemudian diikatnya kuat-kuat.
"Menyingkirlah, aku tidak ingin hidup lagi, biarkan aku mati, supaya mereka berdua bisa tertawa dan gembira atas kematianku." Nagi masih berteriak histeris dan tenaganya sangat kuat, sehingga tiga orang suruhan Harsya hampir saja kewalahan.
Harsya dengan cepat menghubungi Hasri dan Naga di Bandung.
"Biarkan aku mati, maka kalian akan puas," ceracaunya lagi tiada henti. "Hilda, maafkan aku. Aku lebih baik mati daripada melihat kebencianmu padaku, karena aku hanya anak seorang bajingan dan pemerkosa." Nagi masih belum berhenti mengata-ngatai dirinya dan mengumpatnya dengan sebuah kematian.
Harsya terpaksa segera memanggil seorang dokter kenalannya yang bisa menyuntikkan obat penenang pada Nagi yang kini meracau tiada henti dan berontak. Beberapa menit kemudian dokter kenalan Harsya datang disambut gembira oleh Harsya. Harsya membawa dokter itu ke ruangan di mana Nagi di kurung dan diikat.
Dokter segera menyuntikkan obat penenang pada Nagi yang ngamuk dan meracau. Beberapa detik kemudian, Nagi diam dan tertidur karena pengaruh obat penenang.
"Biarkan dia seperti ini, ini efeknya hanya satu jam. Nanti jika sudah siuman dan dia masih berontak, maka obat penenangnya bisa disuntikkan kembali," ujar dokter Hariadi seraya keluar dari kamar Nagi yang kini sedang diberi obat penenang.
Dokter Hariadi berbincang sejenak dengan Harsya, lalu dokter itu pamit dulu sebab tadi sedang meninggalkan pasien yang datang berobat ke rumahnya di mana dia buka praktek.
Setelah kepergian Dokter Hariadi, Harsya kembali menghubungi Pak Hasri dan Naga untuk menanyakan Ibunya Nagi yang tidak ia ketahui keberadaannya. Dan sepertinya Nagi butuh seseorang yang bisa melembutkan hatinya kembali, entah itu Ibunya atau perempuan yang sedang dekat dengan dirinya.
__ADS_1
"Mas Hasri, bantu aku menghubungi mantan istriku. Sepertinya dia harus didampingi oleh Ibunya. Kalau bisa jika Mas Hasri tahu, sekalian bawa kekasih Nagi untuk datang, untuk memberikan bantuan moril, sebab Nagi sepertinya terguncang, dia menyakiti dirinya sendiri." Harsya memberitahukan kondisi Nagi saat ini disertai vidio rekaman saat Nagi ngamuk.
"Baiklah, Sya. Tunggu kedatangan kami." Pak Hasri menutup panggilan telpon dari Harsya adiknya yang kini dilanda kalut dengan keadaan Nagi yang histeris dan ngamuk. Pak Hasri menyanggupi akan datang bersama Naga ke Makassar secepatnya hari ini.
Bandung
"Sayang, Papa barusan nelpon. Om Harsya dari Makassar menghubungi kalau Nagi sekarang sedang ngamuk dan histeris, dia menyakiti dirinya sendiri dengan membenturkan dirinya ke tembok. Om Harsya juga mengirimkan bukti vidio rekaman saat Nagi ngamuk," berita Naga pada Zila sang istri.
"Apa? Kak Nagi ngamuk?" kejutnya tidak percaya.
"Aku tidak bisa berlama-lama membiarkan Nagi di sana histeris dan ngamuk, Nagi butuh penanganan medis dan spiritual. Aku dan Papa harus segera ke Makassar sekarang. Untuk sementara kamu nginap di rumah Mama dulu bersama Syaka," ucap Naga seraya menyiapkan segalanya. Zila sang istri patuh mengikuti
Setelah menitipkan Zila dan Syaka pada Mamanya, Naga dan Papa Hasri segera ke bandara untuk terbang menuju Makassar.
Medan
Sementara itu di kediaman Bu Harumi, Hilda dan Bu Harumi panik dan terkejut saat mendapat kabar tentang Nagi yang kini sedang ngamuk dan histeris di kediaman Harsya, Makassar. Mereka berdua mendapatkan kabar dari Naga dan Papa Hasri, yang memberitahukan bahwa mereka hari ini harus segera ke Makassar. Sebab dukungan moril dari Ibunya dan Hilda lebih dibutuhkan untuk Nagi yang sekarang sedang histeris.
Hilda dan Bu Harumi juga mendapat kiriman vidio rekaman saat Nagi ngamuk dan membentur-benturkan dirinya ke tembok. Hilda belum paham kenapa Nagi bisa melakukan hal nekad dan menyakiti dirinya seperti di vidio seperti itu.
Hari itu juga Hilda dan Bu Harumi bersiap akan bertolak ke Makassar hari ini juga. Mereka berharap ada maskapai penerbangan tujuan Makassar yang berangkat siang hari ini supaya mereka bisa tiba dengan cepat di sana.
"Jika aku harus ke Makassar itu artinya aku akan bertemu dengan Mas Harsya, apakah aku sanggup? Rasanya aku tidak sanggup untuk mengingat masa lalu yang kelam itu. Aku tidak pantas bertemu kembali dengan Mas Harsya. Tapi, kini Nagi membutuhkan aku. Aku datang ke sana hanya untuk Nagi," batin Bu Harumi sedih.
Walau dengan hati yang bimbang, Bu Harumi segera mengajak Hilda bersiap berangkat menuju bandara Kuala Namu untuk melakukan perjalanan udara tujuan Makassar hari ini.
"Ya Allah, berikan kelancaran dalam perjalanan kami. Semoga anakku bisa kembali tenang," harap Bu Harumi dalam hati.
Perjalanan udara dari Kuala Namu ke Bandar udara Sultan Hasanudin telah tinggal landas tepat pukul 15.00 wib meninggalkan Bandar udara Kuala Namu, Medan.
Makassar
Harsya sudah menghubungi Naga dan Pak Hasri untuk secepat mungkin terbang ke Makassar. Begitu juga dengan mantan istrinya yang dulu pernah diceraikannya karena sebuah kekecewaan dirinya yang mendalam.
__ADS_1
Harsya termenung memikirkan kejadian ngamuknya Nagi tadi. Anak muda yang selama ini selalu baik dan selalu hormat padanya dan menganggap dirinya Papa itu, kini keadaannya sangat mengkhawatirkan. Dia sengaja menyakiti dirinya dengan membenturkan kepala dan tubuhnya ke tembok. Harsya merasa bersalah karena selama ini terkesan melimpahkan kesalahan Guntur si bajingan itu kepada Nagi. Meskipun dalam tubuh Nagi mengalir darah Guntur, tidak ada sedikitpun sifat yang mewarisi lelaki bajingan itu. Nagi tumbuh besar dalam limpahan kasih sayang kakak dan kakak iparnya yaitu orang tuanya Naga. Mereka dengan ikhlas merawat Nagi yang saat itu usianya baru dua tahun.
Ketika diceraikan, kabarnya Harumi pergi dari tanah kelahirannya. Dan Harsya tidak tahu lagi kabarnya sampai sekarang, mereka benar-benar tidak dipertemukan lagi setelah Harsya menceraikannya.
Flashback Harsya
Dua hari setelah malam pertama yang kecewa, Harsy tiba-tiba dapat kiriman sebuah paket yang isinya berupa bukti vidio rekaman seseorang yang dia kenal. Guntur dan Harumi saat itu sedang melakukan hal yang menjijikan. Walaupun Harsya meyakini bahwa Harumi sepertinya dalam pengaruh obat bius lokal. Namun hati Harsya sangat hancur melihat Harumi seperti sedang melayani Guntur layaknya suami.
Setelah kiriman vidio itu, Harsya berusaha mencari Guntur, dia berniat membuat perhitungan dengan Guntur, saat itu Harsya sedang dirasuki emosi dan berniat akan membunuh Guntur. Namun, Guntur tidak diketahui rimbanya. Entahlah, sepertinya Guntur bukan menghilang ditelan bumi melainkan keberadaan Guntur dilindungi oleh beberapa orang berpengaruh, sebab Guntur merupakan salah satu anak dari seorang pejabat negara.
Sebulan kemudian, tiba-tiba Harsya mendapatkan kembali fakta yang mencengangkan. Kali ini dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Guntur kembali mengusik hatinya yang telah luka. Harumi dan Guntur kepergok tengah memadu kasih di tengah temaramnya malam di kamar milik mereka berdua. Saat itu Harsya pulang kerja larut malam karena harus lembur di perusahaan Papanya Naga yang masih baru dirintis kala itu. Namun kepulangannya, matanya kembali harus melihat kejadian yang membuat amarahnya di ubun-ubun.
Saat itu Harsya mengejar Guntur sampai ke jalan raya besar. Namun naas, tubuh Guntur terpental saat sebuah truk gandeng tidak sengaja menabraknya. Sejak saat itu Guntur dilarikan ke RS oleh warga. Entah benar atau tidak, kabar kematian Guntur telah sampai di telinga Harsya. Meskipun Harsya merasa puas, tapi rasa sakit hati itu seakan masih membekas dan sukar hilang.
Kejadian malam itu membuat Harsya sangat kecewa dan marah. Keadaan Harumi saat itu sangat memprihatinkan, sebab Harumi kembali seperti dalam pengaruh obat perangsang. Saat itu dengan terpaksa Harsya membawa Harumi ke RS, saat dirawat dan diperiksa ternyata Harumi sedang dalam keadaan hamil dengan usia kandungan empat minggu. Harsya yakin janin dalam kandungan Harumi merupakan janinnya Guntur.
Sejak saat itu Harsya dan Harumi terjadi perang dingin, Harsya tidak pernah menyentuh lagi Harumi. Berkali-kali ingin memaafkan dan melupakan kejadian itu, tapi Harsya tidak bisa. Dan Harumi bersumpah bahwa dia melakukan itu karena hanya dalam pengaruh obat perangsang, dia tidak sadar saat melakukannya.
__ADS_1
Akhirnya kesabaran Harsya runtuh juga, dua tahun setelah Nagi lahir, Harsya menalak Harumi di hadapan Papa dan Mamanya Naga. Dia pergi meninggalkan Harumi yang saat itu terpuruk dan sedih. Sementara Harumi, dalam kebuntuan, dia putus asa. Akhirnya dengan berat hati menitipkan Nagi pada Papa dan Mamanya Naga.