
Naga berpamitan pada Mama dan Papanya serta Hilda. Walaupun Hilda sering bersikap sentimen pada Zila, tapi Naga tidak sampai memarahi adiknya sebegitu keras. Selama ini Naga memang tidak pernah melihat adik semata wayangnya bersikap seperti itu. Mungkin saja sejak Naga dua kali gagal dalam membina rumah tangga dengan yang terdahulu karena dikhianati, Hilda menjadi sentimen.
"Papa barusan sadar, tidak? Naga tidak menyebut kita untuk menitipkan istrinya, hanya pada Bi Rani pembantu kita." Bu Hilsa membuka obrolan setelah Naga pergi. Kini yang dibahas Bu Hilsa adalah sikap Naga yang menitipkan menantunya pada orang lain, yakni Bi Rani.
"Mama juga, kenapa harus bahas ucapan Kak Naga tadi? Sudah saja biarkan, biar dia diurus Bu Rana sab Rani," tukas Hilda judes. Bu Hilsa tidak membalas protes anaknya, dia paham sikap anaknya seperti itu tidak lepas dari rasa trauma akan kegagalan rumah tangga Kakaknya.
Setelah kepergian Naga beberapa menit yang lalu, Zila berdiri ingin berjemur di balkon. Sinar Matahari yang menyorot langsung ke dalam kamarnya membuat Zila tertarik untuk menjemurkan diri, terlebih sinar matahari pagi ini sangat bagus untuk kesehatan tubuhnya.
Namun saat Zila bangkit dan hendak ke balkon, di atas kasur Zila melihat sebuah map berwarna biru tergeletak di sana. Zila mengetahui map itu milik Naga yang sempat dibicarakan Naga bersama salah satu kliennya di telpon tadi malam. Walaupun cuma sekilas mendengar, Zila cukup yakin bahwa map biru itu sungguh berarti bagi keberlangsungan kerja sama perusahaanya dengan perusahaan.
Zila segera menuju pintu kamar dan membukanya, berharap Naga masih ada di ruang makan. Tiba di bawah tangga, Zila langsung menuju dapur. Di sana masih ada Ibu mertuanya juga Hilda.
"Mas Naga ..." Naga yang dicari rupanya sudah tidak ada. Sejenak Zila berdiri seraya menyapa kedua mertuanya.
"Pagi, Bu, Pak," sapanya kecuali pada Hilda diiiringi seyum. "Kak Naga sepertinya ketinggalan map ini, dia meletakkan di atas kasur tadi," lapor Zila menyampaikan dengan sedikit gusar. Pak Hasri segera meraih map itu. Tanpa pikir panjang, Pak Hasri segera beranjak meninggalkan meja makan. Pak hasri tahu map ini menentukan kerja sama besar antara perusahaannya .
"Duduk dan sarapan pagilah," titah Bu Hilsa pada Zila yang masih berdiri di sana.
__ADS_1
"Saya tidak sarapan, Bu. Saya akan kembali ke kamar karena sedikit kurang enak badan," tolak Zila sopan.
"Kamu, sakit?" Bu Hilsa bertanya lagi dengan wajah yang terlihat was-was. Zila hanya melihat sekilas lalu pergi.
"Aku permisi, ya, Bu," ucap Zila seraya berlalu.
"Tunggu!"
Zila menahan langkahnya lalu menoleh ke arah Hilda heran. Hilda mendekati Zila dan menatap ibu hamil muda itu dengan tatapan kesal.
Kamu itu rupanya pandai bersandiwara, jangan-jangan sekarang saja sedang bersandiwara memainkan peran kalau kamu ini pura-pura sakit," tuding Hilda dengan muka yang menyeringai.
"Aku tidak yakin, sebab kemarin saja kamu pura-pura hamil hanya untuk menghindari aturan Mama," kilah Hilda tidak mau kalah.
"Iya, aku akui aku salah dan aku berpura-pura hamil karena ingin belas kasihan kalian supaya aku tidak kalian pekerjakan."
"Lagipula rumah kalian ini sangat besar, jika aku harus mengerjakan gudang yang besar itu untuk aku kerjakan sendiri sehari, aku pastikan tidak sanggup. Kalau kamu tidak percaya, coba saja kamu membersihkannya seharian, aku pengen lihat seperti apa reaksi kamu," lanjut Zila tanpa rasa takut.
__ADS_1
"Ihhhh, lama-lama kamu ini ngeselin. Aku tidak suka ya melihat kamu di rumah ini, enek tahu tidak? Bisanya melawan saja, tidak ada gunanya," cebik Hilda seraya menepis lengannya dengan tangan Hilda, yang hampir saja mendorong tubuh Zila.
"Hilda, hentikan, jangan teruskan, itu bisa mencelakakan ibu dan bayinya," peringat Bu Hilsa seraya berdiri dan hendak memisahkan Hilda.
"Biarkan saja, Bu. Ibu juga tidak perlu sok perhatian pada aku, bukankah selama ini Ibu juga tidak pernah menyukai aku, bahkan kalian menuding perempuan yang tidak benar. Tapi tudingan kalian salah besar, sudah salah besar tapi kalian masih saja memberikan tudingan miring. Kalian memang tidak pernah mengalami hidup susah seperti aku, jadi kalian hanya menilai dari sisi kehidupan kalian saja, terlalu memandang remeh dan menilai rendah kehidupan orang lain, yang belum tentu kalian bisa di posisi aku," tutur Zila panjang lebar.
"Memangnya kenapa jika kami katakan bahwa kamu perempuan tidak benar, La wong foto-foto yang kami lihat foto kamu yang sedang duduk di samping Om-Om," serang Hilda masih belum mau menyerah.
"Itu cuma foto dan foto bisa menipu kita, kalian menyimpulkan aku perempuan tidak benar hanya melihat dari foto. Tanpa kalian sadari di sekitar kalian padahal banyak manusia yang munafik, berpakaian rapi dan kasih sayang dari kedua orang tua cukup, tapi ternyata di luaran dia melayani Om-on di hotel untuk sekedar memenuhi gaya hidupnya yang hedonis. Jadi, jangan menilai buku dari sampulnya," tutur Zila lagi percaya diri.
Hilda diam tidak bisa menyahut lagi, dia seakan hilang kata. Zila segera beranjak menaiki tangga, sebelum itu dia permisi pada Bu Hilsa sebagai bentuk hormatnya pada Ibu mertuanya. Setelah tiba di kamar, Zila benar-benar merasakan mual kembali.
Zila ambruk di atas ranjang dengan mata berkunang-kunang. Pagi ini dia betul-betul tertekan. Pikirannya yang sedih dan kalut menjadikan dia drop dan jatuh pingsan. Bisa jadi pertengkarannya dengan Hilda membuat Zila stress dan pingsan.
***
Saat menyudahi rapat dengan para petinggi perusahaan, Naga tiba-tiba mendapat panggilan telepon. Rupanya dari rumah. Pak Hasri yang tadi mengantarkan map biru milik Naga, rupanya tidak kembali pulang. Pak Hasri sengaja mengamati kinerja Naga yang ternyata tidak perlu diragukan. Dia lima kali lipat cerdas darinya.
"Waalaikumsalam, ada apa Bi Rana? Apa, rumah sakit? Zila masuk rumah sakit?" kejut Naga tidak percaya. Naga merapikan mejanya lalu bergegas keluar ruangan dengan sangat terburu-buru. Papanya yang melihat sangat penasaran dan benaknya bertanya, ada apa dengan Naga. Pak Hasri tanpa bertanya lalu mengikuti Naga dari belakang dengan mobilnya sendiri.
__ADS_1
Mobil Naga tiba di depan RS Karya Mandiri. Dan segera turun lalu menuju ruang di mana Zila dirawat. Raut muka was-was menyelimuti Naga. Naga memasuki sebuah ruangan di mana Zila kini dirawat dengan selang infus di lengannya. Naga segera menghampiri lalu meraih tangannya yang masih kaku.