
"Ziiii! Assalamu'alaikummmm," ucapan salam nyaring terdengar di depan pintu yang sejak tadi sudah terbuka. Zila dan Kobar menoleh bersamaan, dan siapakah yang mereka lihat? Ternyata Bika teman satu profesinya Zila di kafe Kobar.
"Bikaaa, apakabar?" jerit Zila menghambur ke arah Bika. Mereka berdua saling berpelukan menumpahkan kerinduan yang selama ini sudah menggunung. Sebab setelah sebulan lebih Zila menikah, mereka belum pernah bertemu kembali. Jujur, Bika merasa kehilangan teman seprofesi sekaligus tempat curhatnya.
"Wahhh, setelah elo nikah, gue kesepian deh Zi, tidak ada lagi teman yang bisa gue ajak curhat. Sedih,deh. Apalagi Paman Kobar belum juga mengganti posisi elo dengan orang lain, otomatis gue yang selalu menghandel semua tamu. Randi dan Randa tidak bisa diandalkan banyak, sebab mereka sendiri punya tugasnya masing-masing," keluh Bika sedih.
"Bi, gue juga sama merasa kesepian setelah menikah. Gue tidak punya teman dan gue baru bisa keluar ini karena gue pergi diam-diam," curhat Zila nampak sedih. Tiba-tiba Kobar menghampiri setelah tadi hanya mengamati kebersamaan dua taman akrab yang sedang menumpahkan kerinduan. Namun, ketika mendengar Zila bercerita, Kobar takut Zila menceritakan masalah pribadinya pada orang lain yang belum tentu bisa simpatik dengan masalah yang dihadapi Zila. Untuk itu Kobar menghampiri dengan maksud mencegah Zila curhat.
"Bi, ada apa kamu datang ke rumah?"
"Ini, Paman. Aku sengaja datang ke rumah Paman untuk memberitahukan bahwa hari ini aku tidak bisa ke kafe, soalnya hari ini dan besok ada acara keluarga yang tidak bisa aku tinggalkan. Aku harus bantu-bantu Kakak aku yang mau nikah," berita Bika memberitahukan niatnya datang ke rumah Kobar.
Kobar diam sejenak dan berpikir. Kalau Bika hari ini tidak masuk, lantas siapa yang akan menggantikan kehadiran Bika, sementara pelayan kafe hanya Randa, Randi dan Boy?
"Aduhhh, gimana ini? Kalau kamu tidak masuk otomatis personel kita berkurang dan tidak ada perempuannya. Masa semuanya laki-laki?" Kobar terlihat lesu setelah mendapatkan kabar dari Bika bahwa dirinya hari ini dan besok tidak bisa masuk.
"Aku terpaksa tidak masuk karena ada acara keluarga, jika bukan karena Kakakku akan menikah, mungkin aku tidak akan minta ijin," ucap Bika merasa menyesal.
"Ok. Kalau kamu mau ijin tidak masalah Bi. Tapi jangan lupa Selasa kamu harus masuk, ya," ucap Kobar mengijinkan. Bika tersenyum dengan keputusan Kobar.
"Siap Paman, kalau begitu gue pulang dulu ya, Zi. Lain kali, elo datang yang sering ke rumah Paman Kobar supaya gue bisa bertemu elo," ujar Bika bahagia.
__ADS_1
"Oh, iya, Zi. Beberapa minggu yang lalu setelah elo menikah, gue tanpa sengaja bertemu si Nauri di warung pinggir jalan sebrang kafe Kobar. Dia sepertinya habis ngobrol banyak dengan seseorang dari kota. Karena gue penasaran, gue tanya si Nauri yang kebetulan tengah berteduh sama cowoknya. Saat gue tanya, dia malah ngolok-ngolok gue sama ngatain elo, kalau elo itu nikahnya palingan sama laki-laki hidung belang. Sepertinya dia punya dendam kesumat deh sama elo. Kok kelihatannya benci banget?" lapor Bika sebelum dia melangkahkan kaki keluar pintu rumah Kobar.
"Gue sudah yakin si Nauri bakal jelek-jelekin gue di mana-mana. Tapi gue nggak peduli lagi, Bi. Dia memang benci gue sejak cowoknya, si Ridu gue tolak cintanya, karena gue tahu si Ridu merupakan cowoknya si Nauri." Zila menjeda sejenak bicaranya untuk mengatur nafas.
"Tapi, diluaran sana malah gue yang digosipin yang ngejar-ngejar si Ridu. Itulah penyebab si Nauri benci gue. Rupanya si Ridu, cowok bencong itu sendiri yang menyebar gosip nggak benar tentang gue, bahwa guelah yang ngejar-ngejar dia," lanjut Zila terlihat geram.
"Ohhh, seperti itu kronologisnya. Gue jadi paham duduk perkaranya kalau begitu. Dasar mereka berdua itu tukang bikin onar, mentang-mentang si Nauri itu anak Kepala Desa songongnya minta ampun," timpal Bika ikut geram.
"Kalau gitu gue benar-benar pamit, nih, ya. Lain kali kalau ada kesempatan kita ngobrol banyak dan cerita-cerita." Bika cipika cipiki dulu bersama Zila sebelum dia benar-benar pergi.
Setelah Bika pergi, suasana riuh di ruang tamu Kobar kembali sepi. Kobar dan Zila sejenak menghela nafas. Lalu, sepertinya Zila dan Kobar melanjutkan kembali perbincangan yang tadi sempat tertunda.
"Zi, apakah kamu tidak kepikiran untuk mencoba menuntut hakmu pada Om Haidar? Dia yang merampas hak milik orang tuamu yang secara otomatis adalah hak kamu karena kamu merupakan pewaris satu-satunya Haga dan Karina." Kobar kembali membahas obrolan terkait sertifikat tanah milik almarhum kedua orang tua Zila, yang tadi sempat terjeda karena kedatangan Bika yang mendadak.
"Paman, kenapa sih Paman masih terobsesi dengan tanah itu? Kalau Paman ingin memperjuangkan, kenapa tidak dari dulu saja sejak meninggalnya kedua orang tua aku? Kalau sekarang, sia-sia. Dan aku sudah tidak peduli. Kalaupun aku yang meminta hakku, aku yang akan malu karena akulah yang akan dianggap mengemis harta. Aku tidak mau," tegas Zila seraya merebut sertifikat tanah yang menjadi pembahasan Kobar tadi.
__ADS_1
"Zi, tunggu! Nak, tolong dengarkan Paman. Dulu, Paman tidak punya orang kuat yang bisa membantu kita menegakkan keadilan untuk kita orang kecil. Jadi, yang Paman bisa hanyalah menyimpan baik-baik sertifikat tanah milik almarhum kedua orang tuamu seraya masih berharap keadilan itu ada buat keluarga orang tuamu. Dan sampai kini Paman berharap keajaiban itu datang. Tolong, Nak jangan dibakar!" cegah Kobar sembari mengejar Zila yang menuju belakang rumah.
Zila berlari kecil membawa sertifikat itu lalu meraih korek api untuk membakar sertifikat itu di belakang rumah. Kobar masih mengejar Zila. Sementara itu, pada saat yang sama di muka pintu rumah Kobar telah berdiri seseorang yang baru saja sampai, dan hendak mengucap salam. Namun urung saat melihat Zila dan Kobar berdebat serta Zila merebut sebuah sertifikat di atas meja. Dia adalah Naga yang sudah tiba di rumah Kobar.
Karena takut terjadi apa-apa, Naga mengejar paman dan keponakan itu yang berlari ke belakang rumah. Di sana, Naga melihat Zila menyalakan korek api yang berusaha dicegah Kobar.
"Tidak ada gunanya sertifikat yang selalu membuat hidup Paman tidak tenang ini disimpan terus. Buktinya sampai sekarang tidak ada keajaiban yang bisa mengembalikan tanah itu ke tangan pemiliknya, yaitu keluarga aku. Jadi, semua itu percuma, Paman," ujar Zila seraya menyalakan korek api dan mulai membakar ujung sertifikat tanah itu.
"Hentikan!" cegah seseorang sembari merebut sertifikat tanah yang sudah disundut ujungnya oleh Zila. Seketika Zila meradang dengan orang yang baru saja menggagalkan niatnya.
Zila bangkit dan merasa kesal dengan orang yang baru saja menggagalkan maksudnya.
"Jangan ikut campur!" sentak Zila seraya menepis tangan orang itu yang ternyata Naga. Zila tersentak bukan main setelah yang dilihatnya ternyata Naga. Zila melongo tidak percaya.
"Apa yang kalian ributkan dengan sertifikat ini? Apakah kalian ingin menjual tanah kalian?" tanya Kobar penasaran. Kobar yang sudah dekat dengan Naga langsung merebut sertifikat itu dari tangan Naga.
__ADS_1
"Nak Naga, Anda datang? Maafkan kami, kami berdua sedang salah paham," ujar Kobar seraya memegang erat sertifikat yang sudah terbakar sedikit ujungnya oleh Zila.