
Tiba di rumah suasana sangat sepi. Kedatangan Zila dan Naga hanya disambut oleh Bi Rana dan Bi Rani. Mereka nampak tersenyum dengan kedatangan Zila bersama Naga. Sepertinya kedua asisten rumah tangga kembar itu punya pikiran yang sama, mereka berdua saling pandang lalu menghampiri Naga dan Zila.
"Den Naga, Non Zila." Bi Rani nampak terkejut melihat kebersamaan Naga dan Zila yang terlihat hangat lagi. Tadi pagi, Bi Rani masih melihat Zila yang sembab karena habis menangis, tapi kin tangis itu berubah dengan senyum kegembiraan.
"Kemana Mama dan Papa juga Hilda, Bi?" tanya Naga heran.
"Nyonya dan Tuan Besar tidak bilang mau kemana-mananya, tapi Nyonya hanya mengatakan mau ke rumah temannya yang anaknya mau dijodohkan dengan Non Hilda. Begitu Nyonya bilang," ucap Bi Rani menyampaikan apa yang dikatakan Bu Hilsa.
"Bersama Hilda?" tanya Naga lagi penasaran.
"Betul, Den. Padahal Non Hildanya tidak mau," ujar Bi Rani lagi. Sejenak Naga termenung, ingatannya kembali pada seminggu yang lalu saat Mamanya bercerita ingin menjodohkan Hilda dengan anak teman akrabnya.
Naga dan Zila menaiki tangga menuju kamarnya. Di dalam kamar Zila langsung merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Tiba-tiba sebuah notif WA bunyi. Zila langsung membuka WA dan melihat siapa yang mengirimkan WA tersebut. Ternyata itu dari Hasya, yang mempertanyakan bagaimana hasil jadi pelari hari ini.
"Dari siapa, senyum-senyum begitu bacanya?" tanya Naga curiga. Zila langsung menyembunyikan Hpnya. Dia akan malu jika rahasia **PELARI**nya diketahui Naga.
"Tidak ada, hanya dari Kak Hasya. Dia menanyakan kabarku sudah sampai mana? Kak Hasya sangat mengkhawatirkan aku jika setibanya aku di kantor Kakak, Kakak malah tidak mempedulikan aku," kilah Zila sedikit dibumbui kebohongan. Bukan apa-apa, Zila takut Naga berpikiran yang tidak-tidak tentang Hasya yang memang perhatian padanya.
Sejak awal kenal dengan Hasya, Zila dan Hasya sudah lebih akrab, mereka sering ledek-ledekan. Setiap ketemu selalu ada saja yang mereka perdebatkan, Naga sebetulnya sudah tahu dan mereka persis Tom dan Jerry yang suka bertengkar. Naga tidak mencurigai apa-apa, dan memang sesungguhnya diantara mereka tidak sedang tejadi apa-apa selain keakraban biasa. Hanya saja Hasya menganggap Zila seperti adiknya sendiri.
Naga lega tanpa ditanya, Zila sudah menceritakan secara tidak langsung bahwa dia tadi bertemu Hasya di Lembang.
"Kamu bertemu Paman Kobar dan Tante Zuli?" Pertanyaan Naga langsung mendapatkan gelengan kepala oleh Zila. Naga merasa heran. "Kenapa?"
"Tadinya ingin menemui mereka, tapi mataku yang sembab ini tidak mau aku perlihatkan pada paman Kobar dan tante Zuli. Aku tidak sanggup jika harus melihat mereka sedih gara-gara melihat aku sedih."
__ADS_1
"Kak Naga, benarkah apa yang dikatakan Bi Rani bahwa Hilda akan dijodohkan dengan anak kawannya ibu?" Zila mengalihkan topik pembicaraan. Naga diam sejenak.
"Itu hanya rencana mama dan belum pasti."
"Syukurlah kalau Hilda mau, padahal selama ini Hilda mencintai Kak Nagi," ujarnya tanpa sadar telah membongkar rahasia percintaan backstreetnya Hilda dengan Nagi. Naga yang fokus dengan jawaban Zila, sontak mengerutkan keningnya tidak percaya.
"Apa, apa tadi kamu bilang, Sayang? Hilda mencintai Nagi, adik sepupuku?" tanya Naga mencoba meyakinkan.
"A~apa? Nagi mencintai Hilda?" Zila terkejut dan malah memberikan pertanyaan balik pada Naga. Melihat Zila yang aneh begitu, membuat Naga sedikitnya dilanda curiga. Di awal dia menyebutkan bahwa Hilda mencintai Nagi adik sepupunya, lalu kini Nagi mencintai Hilda.
"Apa yang kamu tahu tentang Hilda?" Naga menyelidik, dia tidak mudah melupakan begitu saja apa telah dikatakan seseorang diawal.
"Tahu apa, aku tidak tahu apa-apa," sangkalnya.
"Tapi, jika aku menceritakan apa yang aku tahu tentang Hilda, Kak Naga harus mengabulkan permintaanku," ucap Zila akhirnya memberikan sebuah syarat.
"Selama bisa aku kabulkan maka akan aku kabulkan. Ceritalah!" desak Naga.
"Tapi kalau aku ceritain, Kakak jangan marah," pinta Zila sungguh-sungguh.
"Baiklah, aku tidak akan marah. Dasar penggoda." Zila melotot saat dikatakan penggoda oleh Naga, dia tidak paham.
"Kakak tadi bilang aku penggoda, penggoda siapa?" Zila tidak terima dikatain penggoda oleh Naga. Naga tersenyum karena Zila bingung.
"Bukankah kamu tadi di dalam ruanganku sudah sukses menjadi penggoda? Menggoda suami sendiri sehingga dengan dahsyatnya kamu menggodaku berulang-ulang dan meminta itupun nambah." Zila malu saat Naga menceritakan kejadian tadi di ruangan pribadi Naga.
__ADS_1
"Tapi, aku jujur sangat menyukai kamu yang seperti tadi, kamu garang, menggoda sehingga aku sangat puas dan bergairah. Nanti malam dan malam-malam yang lainnya kamu lakukan saja seperti tadi, kamu goda aku lalu kita akan sama-sama mendapatkan kesenangan itu," goda Naga diimbuhi senyum. Setidaknya setelah kejadian atas saran Hasya ini, terjadi perubahan positif dalam diri Naga, yakni kembali hangat dan mesra lagi.
Zila bersyukur atas bahasannya tadi, Naga akhirnya melupakan pertanyaannya tentang Hilda yang mencintai Nagi.
"Lalu pertanyaan aku yang tadi kenapa belum dijawab?" Baru saja lega, ternyata Naga sudah ingat lagi dengan pertanyaan tentang Hilda.
"Pertanyaan yang mana Kak, aku lupa lagi?" Zila pura-pura lupa.
"Benarkah Hilda mencintai Nagi seperti yang kamu bilang tadi?" tanya Naga mengulang pertanyaannya tadi.
Zila tersentak, dia pikir Naga lupa akan pertanyaannya. Lantas dia harus jawab apa sama Naga? Dis begitu bingung.
"Katakan saja, aku berhak tahu apa yang terjadi dengan adik kandungku satu-satunya, terlebih dia perempuan," ucapnya masih memohon.
Tapi Kak Naga janji tida marah dan mau mengabulkan permintaan aku. Janji?" Naga mengangguk. Akhirnya Zila menceritakan apa yang dia tahu tentang Hilda serta siapa laki-laki yang selama ini Hilda cintai.
"Apa, Hilda mencintai Nagi, saudara sepupuku?" heran Naga sama sekali tidak percaya.
"Aku tidak percaya, kamu salah informasi mungkin Zi," sangkal Naga.
"Tapi aku punya bukti saat Hilda menyatakan cinta pada Kak Nagi serta saat mereka melakukan ini," Zila menyodorkan Hpnya dan gambar rekaman yang tersimpan di dalam galeri fotonya. Naga cukup terhenyak melihat sebuah vidio rekaman saat Hilda menyatakan cinta pada Nagi serta adegan ciuman yang mana Hilda sungguh mendominasi ciuman itu.
"Hilda dan Nagi keterlaluan, mereka saudara sepupu, kenapa mereka terlibat cinta?" Naga merasa bingung dengan apa yang dilakukan adik perempuan satu-satunya itu dengan Nagi.
"Aku harus cepat-cepat bertindak supaya mereka tidak melanjutkan kisah cintanya," ujar Naga seraya mengepalkan tangannya tanda marah.
"Lalu apakah Kak Naga mau mengabulkan permintaan aku? Kapan kita akan pindah ke apartemen?" Pertanyaan Yila sepertinya membuat Naga tiba-tiba sakit kepala dan mulas. Naga ke kamar mandi membuang semua rasa sakit di tubuhnya akibat dari apa yang didengarnya barusan.
__ADS_1