Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Musim 3 Nagi dan Hilda # Kelulusan Hilda


__ADS_3

Dua Tahun Kemudian


     Akhirnya empat tahun sudah Hilda mengenyam bangku kuliah, saat ini acara wisuda sedang di gelar di salah satu hotel bintang lima kota Bandung. Lalu lalang jalan menjadi macet akibat acara wisuda ini.


     "Selamat, ya, Sayang. Kamu lulus dengan nilai yang bagus," ucap Bu Hilsa seraya merangkul Hilda penuh rasa haru. Pak Hasri, Zila maupun Naga ikut menghadiri acara wisuda Hilda. Mereka semua larut dalam kebahagiaan yang dirasakan Hilda atas kelulusannya. Hal ini tidak lepas dari dukungan semua orang. Kedua orang tua, Naga juga Zila, serta Hadi yang selalu membantu Hilda dalam setiap kesempatan.


     Hilda meraih gelar sarjana hubungan internasional atau S.IP dengan nilai yang lumayan bagus. Semua tidak menduga Hilda bisa mencapai dititik ini, sebab selama ini Hilda sudah berubah banyak, terutama sikap. Sikapnya yang tertutup dan pendiam sangat dikhawatirkan oleh kedua orang tuanya bisa menghambat kuliahnya. Namun dugaan itu tidak terbukti, nyatanya kini Hilda bisa menerima pengalungan medali almamater yang disematkan di lehernya. Serta memakai toga dan topi sarjana.


     Sungguh ini suasana yang sangat menggembirakan sekaligus mengharukan bagi semua termasuk kedua orang tua Hilda. Tidak henti-hentinya mereka bersyukur.


     Selain seluruh anggota keluarga yang merayakan kebahagiaan ini, Hadi yang notebene naksir sama Hilda juga turut bahagia, karena selama ini dialah yang sering membantu Hilda dalam berbagai kesempatan tanpa diminta. Namun, tentu saja setiap bantuan yang Hadi berikan terselip doa mengharapkan Hilda bersimpatik padanya.


     "Hilda selamat, ya. Semoga ilmu yang kamu dapat selama ini bisa berguna dan bermanfaat," ucap Hadi seraya meraih tangan Hilda. Hilda tersenyum simpul, dia memang tidak banyak bicara sejak kehilangan Nagi, terlebih dua tahun terakhir ini sejak Nagi sudah tidak menghubunginya lagi, sikap pendiam Hilda semakin kelihatan.


     "Empat tahun sudah dari waktu yang dijanjikan Kak Nagi, dan selama itu pula aku mencoba melupakan Kak Nagi, karena Kak Nagi pun melupakan aku. Namun, aku sama sekali tidak bisa melupakan Kak Nagi. Tapi, kenapa Kak Nagi sama sekali tidak pernah menghubungiku? Kak Nagi tega," bisiknya diakhiri kalimat kekesalan pada Nagi.


     "Hilda," sapa Hadi yang sejak tadi melihat Hilda termenung. Walaupun Hilda memperlihatkan senyuman di acara kelulusannya hari ini, tapi Hadi melihat Hilda tidak bahagia. Senyuman yang diberikan Hilda tidak tulus dan lepas. Bahkan selama membersamainya, Hilda jarang bersikap hangat. Namun Hadi tidak menyerah, dia tetap memberikan perhatian sama Hilda sebab dia memang menaruh hati pada Hilda.


     "Kak Hadi tidak perlu perhatian atau membantu Hilda lagi dalam bentuk apapun, terlebih kalau dalam hati Kak Nagi ada maksud terselubung." Begitu peringat Hilda suatu hari. Sejak itu Hadi berusaha menyembunyikan rasa sukanya pada Hilda, sebab dia takut kehilangan Hilda yang memang keras kepala.

__ADS_1


     Acara wisuda selesai jam tiga sore, setelah para tamu dan wisudawan menikmati sajian mewah di hotel itu. Hilda langsung dibawa pulang oleh Mama Hilsa dan Papa Hasri, sedangkan Naga, Zila dan baby Syaka yang kini sudah berusia hampir empat tahun, kembali ke apartemen.


     Sementara Hadi yang tahu Hilda dibawa pulang langsung oleh kedua orang tuanya, ia pun pulang dan kembali ke kesatuannya untuk bertugas. Tadi hanya menyempatkan hadir dalam acara wisuda Hilda sebagai bentuk penghormatannya.


     Baru saja Hilda dan kedua orang tuanya tiba di rumah, HP Hilda sudah berbunyi. Hilda melihat siapakah yang menghubunginya. Sebuah private number tertera. Tapi Hilda enggan mengangkat, dia sudah lebih dulu berprasangka bahwa yang menghubunginya, Nagi. Hilda sudah terlanjur kecewa, kenapa tidak sejak dulu saja Nagi menghubunginya?


     Panggilan itu masih bersuara, dan Hilda masih berpikir itu adalah Nagi. "Jika yang menghubungi aku ini Kak Nagi, alangkah tidak berperasaannya dia, empat tahun aku menunggu Kak Nagi menghubungi nomerku tapi tidak pernah sekalipun menghubungi, tapi kini setelah empat tahun berlalu kenapa dia baru menghubungi di saat hatiku terlanjur kecewa?" Hilda membiarkan panggilan itu sampai dia berhenti sendiri.


     "Hilda, Sayang, Papa dan Mama ingin bicara sebentar, apakah kamu ada waktu? Kasih kami waktu sedikit saja, Papa minta tolong," mohon Pak Hasri dengan muka memelas menandakan betapa Hilda susah untuk diajak bicara.


     Hilda menjawab hanya dengan gestur tubuh, dia menuju sofa ruang tamu dan duduk di sana. Pak Hasri dan Mama Hilsa mengikuti Hilda, mereka harus berusaha mengalah dengan sikap dingin Hilda.


     "Sebelumnya Papa dan Mama mengucapkan selamat dan terimakasih sama kamu anak Papa yang paling cantik karena sudah melewati masa kuliah dengan baik. Kami berdua bangga padamu, dan kami sangat terharu. Untuk itu, kami sangat mengapresiasi pencapaianmu dengan sebuah reward. Papa sama Mama ingin memberikan sebuah reward berupa mobil mewah keluaran tahun ini. Kamu bisa lihat mobilnya di depan sekarang," ungkap Pak Hasri bahagia. Namun reaksi Hilda hanya biasa saja, datar.


     "Tapi Hilda tidak minta itu, kan, Pah?" Pak Hasri dan Bu Hilda saling tatap, heran dengan penolakan Hilda.


     "Lantas apa yang kamu mau, kami akan meluluskan. Apa saja," tukas Pak Hasri meyakinkan. Hilda tersenyum simpul.


     "Apa saja? Papa akan kabulkan apa saja yang aku minta termasuk menghadirkan Kak ...." Hilda tidak melanjutkan bicaranya, dia berpikir mana mungkin Papanya mengabulkan permintaan konyol seperti itu, lagipula kini Hilda merasa kecewa dengan Nagi. Dan sepertinya dia mengurungkan niatnya untuk meminta menghadirkan Nagi pada Papanya.

__ADS_1


     "Apa yang kamu mau, menghadirkan siapa?" tanya Pak Hasri penasaran.


     "Apakah Papa yakin mau mengabulkan permintaan aku ini tanpa kecuali?" tukas Hilda menatap lekat wajah Pak Hasri. Pak Hasri sudah menduga apa yang Hilda mau, tapi masalahnya dia kini tidak tahu di mana Nagi kini berada. Pak Hasri bisa saja mengerahkan orang-orangnya untuk mencari Nagi untuk dihadirkan di sini. Tapi Pak Hasri tidak akan memberikan kemudahan itu. Pak Hasri akan membiarkan Hilda dan Nagi bertemu dengan kehendak hatinya masing-masing.


     "Papa ...."


     "Sudahlah, Pah. Aku tidak yakin Papa akan mengabulkan permintaanku. Aku tahu Papa juga tidak akan suka mendengarnya. Dan yang jelas, aku bisa menebak Papa tidak mungkin bisa mengabulkan permintaan aku ini." Hilda memotong ucapan Papanya dengan cepat, kemudian bergegas pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang terbengong melihat sikap Hilda.


     Hilda menaiki tangga dan menuju kamarnya, dia terlanjur kecewa dengan Papanya.


     "Hilda, Sayang, dengar Papa dulu," teriak Pak Hasri ingin mengejar Hilda yang bergegas pergi menuju tangga. Namun, Bu Hilsa mencegahnya dia menarik tangan suaminya.


     "Papa, biarkan Hilda menenangkan diri dulu, dia terlanjur emosi dengan semua dugaannya dulu. Karena Hilda berpikir bahwa Papa akan menolaknya dan tidak akan mengabulkan permintaannya.


     "Lalu, Papa harus apa mengatakan semuanya bahwa Papa sudah mengijinkan dia untuk berhubungan dengan Nagi kembali?"


     "Papa jangan risau dulu, biarkan Hilda menentukan jalannya sendiri untuk mencari cintanya. Dengan tidak melarangnya, sekarang lebih baik kita memperbaiki hubungan kita dengan Hilda putri kita yang sudah lama dingin. Anggap saja reward dari kita adalah memberikan kepercayaan kepadanya dan memperbaiki hubungan kita yang sudah terlanjur tidak sehat." Bu Hilsa memberikan masukan yang cukup membuat Pak Hasri sedikit lega dan ada jalan keluar.


     "Baiklah, Ma. Kita ikuti maunya Hilda, toh putri kita selama ini tidak melakukan penyimpangan selama dia kita pisahkan dengan Nagi." Pak Hasri akhirnya mengambil sikap. Dia akan mengikuti jalan yang ditempuh Hilda anaknya selama Hilda tidak menyimpang.

__ADS_1


     "Besok jam 12 siang temui aku di Cafe Syaidar." Seseorang mengirimkan pesan singkat di inbox Hilda.


__ADS_2