Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 60 Musim 2 Panggil Aku Kakak


__ADS_3

Nagi dan Hilda sangat terkejut dengan kedatangan Zila yang tiba-tiba. Suara Zila yang kencang membuat mereka nampak takut, pasalnya mereka berdua takut kedua orang tua Hilda mendengar teriakan Zila. Bisa mati Hilda jika ketahuan, sementara hubungan yang dibina bersama Nagi merupakan hubungan *backstreet*. Namun sayang, hubungan yang berusaha disembunyikan dari siapapun termasuk Zila, kini harus ketahuan orang lain. Hilda sangat menyesalkan dan berubah resah.



"Zi, apa yang terjadi antara aku dan Hilda hanya khilaf. Kami melakukannya tanpa kami sadari." Nagi tiba-tiba bersuara memberi alasan.



"Kak Nagi, bisa-bisanya bilang ini khilaf. Kak Nagi ini sepupuan sama Hilda. Hilda posisinya sebagai seorang kakak sepupu, meskipun usianya tujuh tahun di bawah Kak Nagi. Coba bayangkan, jika Kak Nagi memiliki saudara perempuan, relakah Kak Nagi sebagai seorang Kakak membiarkan adik perempuannya dirusak seperti ini? Sebejat-bejatnya seorang laki-laki jika saudara perempuannya terjerumus dalam kenakalan, aku rasa dia tidak akan sudi dan pastinya dia merasa khawatir," omel Zila panjang lebar.



Tiba-tiba Hilda berdiri dan memangku tangan, sepertinya keberaniannya kembali pulih setelah tadi resah karena kepergok Zila.



"Heh, jangan banyak bicara kamu, Zila! Memangnya elo ini siapa, berani mengomeli kami? Jangan sok-sok an merasa jadi kakak ipar gue, kalau asalnya dari kampung, ya, dari kampung saja. Tidak perlu mengajari kami," sergah Hilda tanpa rasa takut.



"Ok, aku tidak bermaksud mengajari kamu. Lagipula itu urusan kalian berdua, mau ngapain kek, mau ngesekkk bebas kek, mau jual diri sampai hancur kek. Tapi, apakah kamu tidak malu dengan status kamu yang anak kuliahan, terus terlahir dari keluarga terhormat dengan kasih sayang yang lengkap dan harta yang berlimpah, lalu masih tidak malu juga dengan hinaan yang pernah kamu lontarkan ke aku, bahwa aku ini perempuan penjaja cinta hanya karena kalian melihat aku seorang pelayan kafe yang kata orang remang-remang?" kilah Zila tidak kalah.



Hilda terdesak, seperti hilang kata-kata untuk membela diri lagi.



"Gimana, apakah kamu tidak malu dengan apa yang kamu lakukan dengan keadaan kamu yang serba tidak kekurangan saat ini? Jangan-jangan Hilda yang aku kenal ini justru ayam kampus yang terima jasa uh ah para om-om. Mana tahu, bukan? Di luar saja terlihat baik-baik dan alim, tapi \*\*\*\*\*\*\*\*\*\* pemain handal. Lalu bandingkan dengan aku yang seorang pelayan kafe yang setiap hari dicibir sebagai perempuan tidak benar, tapi aku masih bisa jaga diri aku dari jamahan para hidung belang. Jangankan colek, cium saja aku nolak. Aku ini tidak murahan seperti apa yang orang sangkakan. Luar boleh terlihat liar, tapi dalam aku masih bisa menjaga kehormatan, karena bagiku kehormatan segalanya," balas Zila mengena sampai ulu hati Hilda.


__ADS_1


Hilda menunduk sejenak, betul apa yang dikatakan Zila. Dia seperti murahan saja di matanya kalau seperti ini. Namun, Hilda tidak takut, toh apa yang dilakukannya bukan ngesekk bebas. Lantas Hilda mendongak, kali ini dia harus memberi pembelaan terhadap apa yang dituduhkan Zila padanya.



"Ok, gue akui gue salah. Tapi apa yang kami lakukan bukan ngesekk bebas seperti apa yang elo katakan. Bahkan gue jamin gue masih virgin. Jadi, jangan sembarangan elo bilang gue ngesekk bebas, sebab gue juga masih bisa kontrol diri gue. Huhhh, dasar perempuan kampung," kelit Hilda memberi pembelaan.



"Tapi kalau tidak ketahuan sama aku, pasti kalian sudah buka kancing atas satu, ya?" ejek Zila sembari membalas Hilda dengan memangku tangan seperti yang Hilda lakukan tadi.



Nagi berdiri lalu berkata, "Zi, benar apa yang dikatakan Hilda, kami tidak ngesekk bebas kok. Lagian yang kami lakukan hanya sekedar berciuman, tidak lebih. Maka dari itu, tolong jangan bilang kami ini ngesekk bebas karena kami tidak sampai sejauh itu," bela Nagi merasa tidak terima.



"Ok, sekali lagi sebenarnya aku tidak peduli dengan apa yang kalian lakukan di sini, ketahuan ataupun tidak ketahuan. Aku hanya mengingatkan Hilda, jangan sampai hinaannya sama aku dulu justru menimpa sama dia. Kalau Kak Nagi memang mencintai Hilda, aku rasa cukup sayangi dia sebagai saudara dan menjaga dia dari pergaulan yang tidak benar. Bukan malah ikut terhanyut dengan godaan Hilda. Aku tahu, Kak Nagi cuma terhanyut dengan desakan Hilda yang memang mencintai Kakak, bukan?" ujar Zila tanpa ampun, membuat Hilda membelalakan mata.




Zila mencebikkan bibir bawahnya dengan maksud mengejek Hilda, dia tidak akan kalah dari Hilda kali ini. Terlebih keburukan Hilda kini sudah dia kantongi, siapa tahu suatu saat semua yang dilihatnya akan menjadi sebuah senjata untuk menyerang Hilda dikemudian hari jika Hilda masih memperlakukannya tidak baik. Zila tertawa sebelum berkata.



"Ha, ha, aku tahu kamu sedang membela diri. Lalu kalau kamu merasa benar, apakah tidak takut jika kelakuan mesum kalian aku laporkan sama kedua mertua aku yang sudah menganggap aku menantu kini? Iya, aku tahu sepupuan boleh menikah. Tapi dengan apa yang dilakukan kalian tadi, apa tidak akan shock tuh Mama Hilsa jika semua yang aku lihat di sini dan di kamar malam tadi aku ceritakan pada beliau?" Zila tersenyum licik merasa di atas angin. Sontak Hilda dan Nagi berdiri dan menatap resah ke arah Zila lalu mereka saling melempar tatap memberi kode sebuah ketakutan.



"Jangan gegabah, Zi. Aku mohon, jangan katakan semua yang kamu lihat tadi atau malam tadi pada Mama Hilsa. Aku mohon, aku memang salah tidak bisa menjaga saudara sepupuku sendiri. Jadi, aku mohon jangan katakan semua itu pada Mama ataupun Papa Hasri." Nagi memohon dengan wajah yang penuh harap.

__ADS_1



"Ok, aku urungkan niat aku untuk katakan semua itu pada Papa dan Mama Hilsa. Asal ada syaratnya."



"Apa syaratnya?" Hilda dan Nagi kompak.



"Syaratnya buat Hilda, aku hanya ingin kamu lebih beradab lagi memperlakukan aku sebagai kakak ipar kamu. Jangan pernah panggil aku nama, panggil aku kakak atau teteh. Jika sepatah saja menyebut aku perempuan kampung, maka lihat saja akibatnya. Aku akan bongkar kelakuan kamu yang ngemis cinta pada Kak Nagi. Ingat, mulai sekarang panggil aku kakak atau teteh," tekan Zila sembari berpangku tangan. Sekarang Hilda ada dalam genggaman tangannya. Jika dia macam-macam, maka Zila akan buka kartu Asnya pada kedua orang tuanya.



"Jangan berani ngancam aku perempuan kam ...."



"Eittt, jangan coba-coba lanjutkan kalimat itu jika kamu tidak ingin aku laporkan perbuatan kamu yang mesum itu. Di luar saja alim, padahal dalamnya sok alim," ejek Zila lagi tidak mau kalah.



"Huhhh, bisanya ngancam. Jangan coba-coba cari muka deh, lo," balasnya seraya berjingkat meninggalkan ruangan keluarga. Nagi ikut berdiri, tapi berhasil dicegah oleh Zila.



"Hey, aku tidak main-main Hilda, mulai sekarang biasakan panggil aku Kakak atau teteh, maka hidupmu akan selamat," teriak Zila memperingatkan.



"Kak Nagi diam saja dulu di sini, aku mau Kak Nagi dengarkan aku. Aku mohon jangan lanjutkan hal gila lagi dengan Hilda, Hilda masih remaja. Dia baru kuliah dan jiwanya masih sangat labil. Aku dengar langsung saat dia ngomong tadi, bahwa dia mencintai Kak Nagi sejak dulu. Jadi kemungkinan besar Hilda terobsesi dengan Kakak. Aku mohon jauhi Hilda sebelum dia memaksa Kak Nagi untuk berusaha menjamahnya. Karena seperti yang aku lihat tadi, meskipun Kak Nagi berusaha menolaknya. Namun, Kak Nagi tidak berusaha mencegahnya. Aku takut Hilda rusak oleh obsesinya sendiri," ungkap Zila setengah memohon pada Nagi untuk bisa menjauhi Hilda.

__ADS_1


__ADS_2