
"Apa yang membuatmu menyuruh gue kesini, Zi?" Kening Hilda mengkerut heran. Zila balik mengkerut dan tidak suka dengan pertanyaan Hilda barusan.
Tiba-tiba perut Zila sakit kembali, rasa keram itu kembali terasa. Sebisa mungkin dia menarik nafas untuk menghilangkan rasa nyeri di bagian bawah perutnya."Zi, elo kenapa?" Hilda heran lalu menghampiri kakak iparnya itu.
"Perut aku kram lagi, tadi keram sekarang keram lagi," sahutnya sembari duduk di sofa mencoba dibuat serileks mungkin.
"Jadi kalau hamil akan seperti itu?" tanya Hilda penasaran.
"Aku kurang tahu, tapi setahuku tidak semua dan tidak selalu orang hamil akan seperti ini. Tapi kalau kamu mau mengetahui lebih lanjut, kamu harus merasakan dulu hamil."
"Apa, hamil? Gue harus bisa hamil dulu baru bisa merasakan bagaimana saat hamil dan apa yang dirasakan saat hamil, maksud lo begitu?" Hilda mencoba meyakinkan.
"Iya, kamu harus hamil dulu baru bisa merasakan kram saat hamil, mual muntah saat hamil dan malas mandi saat hamil, itu semua pernah aku rasakan," jelas Zila masih meringis.
"Tapi, aku belum kawin Zila, gue mana bisa hamil. Maksud lo, gue haru hamil duluan gitu?" Hilda melotot ke arah Zila.
"Bukan begitu maksud aku, tapi kamu bisa merasakan ini setelah kamu nikah nanti dan hamil. Tolong kamu pahami arah pembicaraanku, masa anak kuliahan tulalit," ejek Zila.
"Kapan gue bakal hamil? Kak Naginya saja entah di mana dan tidak memberi kepastian. Gue hanya mau hamil sama Kak Nagi," tegas Hilda seraya berubah sangat murung. Sepertinya ia teringat kembali dengan Nagi.
"Tenang dulu, kamu jangan sedih begitu. Aku memanggil kamu kesini justru ada kabar baik untuk kamu perihal Kak Nagi. Apakah kamu mau dengar kabar baik apa?" Hilda langsung mendongak dan menatap Zila tajam mempertanyakan kabar baik yang akan disampaikannya.
"Kabar baik perihal Kak Nagi apa? Cepat katakan!" titah Hilda tidak sabar.
"Sabar sedikit kenapa. Tapi aku ada syarat dan ketentuan, jika syarat dan ketentuannya mau kamu patuhu, maka aku mau katakan berita baik ini cuma-cuma," ujar Zila tawar-menawar.
Hilda nampak berpikir keras dengan apa yang Zila tawarkan. "Apa yang sedang kamu pikirkan Hilda, syarat dan ketentuannya tidak berat. Apakah kamu tidak mau mendengar kabar baik tentang Kak Nagi dari aku?"
"Mau dong. Katakan syarat dan ketentuannya, lama-lama elo ini jadi ibu hamil tukang maksa," gerutunya terpaksa.
__ADS_1
"Baiklah akan aku katakan syarat dan ketentuannya. Dengar baik-baik, ya." Zila menarik nafasnya sejenak untuk menyiapkan segala kemungkinan.
"Cepatlah, Zi. Gue tidak mau dipermainkan. Gue juga tidak mau lama-lama di sini, gue hanya akan kesal kalau mood gue berantakan begini. Kirain nyuruh datang kesini untuk memberi kabar bahagia beneran, tahunya cuma mempermainkan." Hilda nampak marah dan bermaksud berdiri.
"Syarat dan ketentuannya mudah, kamu jangan elo gue lagi kalau manggil aku, sebab aku tinggal di Bandung dan bukan di Jakarta. Walaupun bagi kamu itu biasa karena kamu tinggal lama di Jakarta, tapi bagi aku panggilan elo gue kamu ke aku terdengar membentak, dan aku kurang suka dengan hal itu. Bagaimana apakah kamu bersedia menerima syarat dan ketentuan dari aku?" Zila menatap lekat ke arah Hilda ingin tahu kesiapannya mematuhi syarat dan ketentuan yang ia tawarkan.
"Jika berita baik yang elo sampaikan ke gue bagus buat gue, gue siap-siap saja. Tapi, ini kan bahasa sehari-hari gue saat di Jakarta, tidak mudah menghilangkannya saat gue bicara dengan seseorang," ujar Hilda merasa disayangkan.
"Kamu masih bisa pakai elu gue disaat yang tepat, kamu bisa mengunakannya dengan sesama teman dekat kamu, tapi tidak dengan aku. Gini-gini juga usia aku jauh lebih tua dari kamu, jadi wajar jika aku meminta kamu untuk memanggilku sedikit pantas," jelas Zila tetap pada pendiriannya.
"Ok, kalau berita yang kamu sampaikan itu akan membuat mood gue jadi bagus, gue siap. Tapi apa dulu dong beritanya?"
"Janji dulu, kamu panggil aku kamu bukan gue elo," pinta Zila dengan penuh permohonan.
"Baiklah, Zi. Kamu katakan berita baiknya." Mendengar Hilda mulai menyebut elo dengan kamu, hati Zila menjadi senang dan tersenyum bahagia.
"Ok, dengar aku baik-baik. Kemarin Kak Nagi menghubungi aku dengan private number dan coba kamu dengarkan ini, lalu simpulkan sendiri."
"Apa-apaan sih perempuan hamil itu, malah pergi. Mempermainkan gue. Katanya nyuruh mendengarkan, lantas apa yang mau gue dengar kalau dia pergi. Huhhhhh dasar nggak beres" rutuknya di dalam hati kesal.
Zila kembali ke hadapan Hilda lalu memperlihatkan sebuah alat perekam suara, dan diberikan pada Hilda. Hilda menatap alat perekam yang disodorkan Zila padanya dengan heran.
"Apa, nih?" Seraya memegang lalu dilihatnya.
"Tekan tombol record, dan kamu dengarkan isi dari rekaman itu. Juga lihatlah di dalamnya ada menu mirip Hp. Kamu buka menu perekam, di sana kamu bakal nemuin tanggal dan keterangan jam saat rekaman," jelas Zila.
"Lalu setelah kamu buka menu perekam, kamu pencet tombol dengarkan," lanjut Zila lagi menjelaskan. Hilda mengikuti semua arahan Zila dengan seksama dan serius, baru kali ini Zila melihat Hilda memperhatikannya serius. Rekaman itu pun diperdengarkan."
"Zi, aku mencintai Hilda. Aku sungguh-sungguh mencintai Hilda setelah aku tahu bahwa Hilda rela merendahkan dirinya di hadapanku, aku tidak mau lagi Hilda merendahkan dirinya di hadapanku. Maka empat tahun lagi aku berjanji akan melamarnya dan menjadikan dia ratu dalam hidupku."
__ADS_1
Rekaman itu terdengar sangat jelas dan nyaring, sampai Hilda mengulang kembali suara rekaman itu, Hilda masih belum percaya bahwa itu benar-benar suara Nagi.
"Bagaimana, apakah kamu masih belum percaya dengan janji yang diucapkan Kak Nagi? Aku harap setelah ini, kamu benar-benar berubah, berubah menjadi Hilda yang lebih baik lagi dan semangat dalam menjalani kuliah. Kamu harus jadi kebanggaan Papa dan Mama kamu, juga Kak Naga. Kalau kamu berubah menjadi lebih baik, bukan tidak mungkin saat Kak Nagi kembali nanti, dia akan terhenyak dan semakin terpesona, juga bangga terhadap kamu," tutur Zila memotivasi. Sementara Hilda masih menatap lekat alat perekam yang mirip Hp itu.
"Zi, apakah ini nyata? Benarkah ini Kak Nagi? Jadi, gue akan dilamarnya setelah empat tahun kemudian? Kenapa empat tahun kemudian, sekarang saja gue siap dilamar," ujar Hilda masih bengong dengan rasa tidak percaya.
Zila kesal dengan Hilda lalu dia merebut alat rekaman itu dari tangan Hilda. Kesal dengan syarat dan ketentuan yang dilanggar Hilda, yaitu Hilda lupa masih memanggil dirinya gue.
"Zi, apa-apaan sih, elu main rebut saja, gue masih ingin dengar rekaman itu," sentaknya seraya meraih alat perekam yang dipegang Zila. Namun Zila menepisnya.
"Zi, sini dulu dong, gue mau kirimkan ke Hp gue," mohon Hilda.
"Tidakkkkk, karena kamu masih berkata elo gue," sergahnya. Hilda tersentak, dia baru sadar bahwa dia melanggar janjinya dan lupa akan janjinya itu.
"Maaf, gue, ehhh aku lupa, Zi. Plisss, aku lupa, maafkan aku," ujarnya seraya menangkupkan kedua tangannya sebagai permohonan maaf pada Zila. Zila akhirnya luluh, dia mencoba memaklumi, karena kebiasaan, Hilda lupa dengan janjinya sesuai syarat dan ketentuan yang dikatakan Zila tadi.
"Ok, aku maafkan. Besok dan seterusnya kamu jangan lupa. Aku bukan gila hormat, tapi aku tidak biasa dipanggil elo atau gue. Jadi, kamu paham kan, Hilda?
"Gue, waduhhh, maaf, maaf, aku lupa Zi. Wahh lupa lagi nih."
"Ya sudah tidak apa-apa jika memang lupa, aku maklumi. Jadi, mau kamu sekarang apa?" Zila tidak marah lagi saat Hilda tadi lupa mengucapkan gue yang harusnya aku, karena Hilda sudah meminta maaf.
"Aku mau rekaman itu kirimkan ke nomer aku. Biar bukti rekaman Kak Nagi ini aku simpan," pintanya yang disetujui Zila.
Zila segera menunaikan permintaan Hilda yang baginya masalah kecil. Di dalam hati Zila terbit sebuah harapan besar, setelah Hilda mendapatkan rekaman suara ungkapan isi hati Nagi, maka Hilda akan berubah dengan perlahan menjadi Hilda yang semangat dan tetap ceria.
Rekaman itu sudah terkirim ke Hp Hilda, Hilda sangat senang dan tersenyum gembira. Dia akan menyimpannya dan menagih janji Nagi suatu saat setelah empat tahun kemudian.
"Ok, Zi, kalau begitu, aku pamit, ya. Lagi pula Bi Lala sepertinya sudah datang." Hilda berpamitan setelah apa yang dimaunya dia dapatkan. Zila mengangguk, dia pun berjingkat mengantar kepergian Hilda untuk pulang.
__ADS_1
"Hati-hati, Hil. Kamu langsung pulang ke rumah, ya. Salam buat Mama dan Papa." Zila mengantar kepergian adik iparnya dengan senyum mengembang.