
"Ya ampun kemana perginya istriku ini, kenapa lama sekali? Jam segini belum muncul juga? Apakah dia nyasar masuk kantor ini? Tapi kalau nyasar tidak mungkin, kan sudah jelas di atas plafon ada petunjuk tempat dan ruangan." Nagi nampak frustasi dan risau menantikan Hilda yang tidak kunjung datang.
Nagi duduk kembali di kursi kebesarannya, dia memijit kasar tulang hidungnya yang kini seakan merasakan sakit yang tiba-tiba mendera. Ketidakhadiran Hilda di sisinya bisa jadi penyebab sakit di kepalanya yang berdenyut.
"Lebih baik aku hubungi saja Hilda supaya segera kemari." Nagi mencoba menghubungi hp Hilda, dia ingin tahu di mana Hilda sekarang.
Hp Hilda aktif, tapi Hilda tidak mengangkatnya. Nagi semakin risau dengan keadaan Hilda yang entah di mana, terlebih kini keberadaannya tidak bisa dia ketahui sebab Hilda tidak memakai cincin yang ada indikator kamera pengintai.
Nagi tidak hilang cara untuk mencari di mana keberadaan Hilda, dia berusaha mencari tahu lewat sinyal GPS.
"Hahhh, Hilda ternyata berada di dekat sini? Ya ampun, istriku berada di ruangan pribadiku? Memangnya lagi apa dia. Coba aku samperin." Nagi tidak percaya bahwa Hilda ternyata berada di dekatnya. Malah berada dalam satu ruangan.
Nagi membuka pintu ruangan pribadinya, saat dibuka ternyata betul. Ada sebuah tubuh yang terbujur di atas ranjang ukuran raja. Dia sepertinya tidur sangat lelap sehingga keberadaan Nagi yang kini ada di dalam tidak mengganggu tidurnya.
"Ya, ampun, Sayang. Kamu rupanya tidur sangat pulas. Apakah tadi malam tidur kamu kurang. He, he, he, jelas Hilda pagi ini masih ngantuk, malam tadi aku dan dia telah melakukan gencatan senjata sebanyak dua kali, dia pasti sangat lelah. Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud membuatmu lelah, tapi bagaimana lagi dong. Setap dekat denganmu sekujur tubuhku meremang dan ingin selalu melakukan kerja bakti yang membara. Aku tidak bisa menahannya setiap dekat denganmu." Nagi berbicara pelan sembari menatap tubuh Hilda yang terbujur di ranjang.
"Kak Nagi, sangat keren, tampan, dan menggiurkan. Wuahhhh, beruntung aku bisa mendapatkan Kak Nagi, Kak Nagi sangat romantis. Aku sangat mencintai Kak Nagi, aku tidak rela Kak Nagi dimiliki orang lain. Muach, muach,"
Nagi tersentak saat mendengar Hilda yang tiba-tiba bicara, dia pikir Hilda telah bangun, tapi setelah diperhatikan rupanya mata Hilda tetap merem dengan bibir yang komat-kamit. Fiks, Hilda mengigau, dia benar-benar memimpikan dirinya sampai ke alam mimpi. "Ya ampun, Sayang, kamu sampai mengigau."
Nagi membiarkan Hilda tidur dengan nyenyak sampai Hilda terbangun nanti, alangkah lebih baiknya dia melihat hasil pekerjaan para pegawainya hari ini daripada menunggui Hilda di kamar.
Nagi keluar dari ruangannya. Dia berjalan-jalan di sekitar ruangan staff yang kini sedang sibuk menjalankan aktifitas kerja.
"Bos Nagi, pagi Bos," sapa Raja dengan hormat. Raja merupakan Asisten kepercayaan Nagi di bidang produksi barang.
"Pagi, Ja. Kabarku baik. Bagaimana proses produksi selama aku tidak ada?"
"Alhamdulillah, selama Bos Nagi tidak di sini semua aman dan terkendali tidak kurang satu apapun. Semua karyawan juga dalam keadaan ok. Itu makanya barang produksi yang keluar sangat memuaskan hasilnya sebab para karyawannya sangat disiplin dan berdedikasi tinggi," lapor Raja sangat memuaskan.
"Syukurlah, Ja. Semua itu memang selalu diharapkan oleh setiap pemilik perusahaan. Aku sangat bersyukur dengan keadaan pabrik saat ini yang kemajuannya sangat pesat, terlebih ditunjang oleh orang-orang yang sangat disiplin dan berdedikasi tinggi. Dan sepertinya aku akan melebarkan sayap perusahaan ini di daerah Bandung. Aku akan membuka anak cabang perusahaan."
"Itu rencana yang bagus Bos. Saya sangat mendukung langkah Anda," sahut Raja senang.
"Ja, atur jadwal, nanti setengah jam sebelum istirahat stop produksi lebih awal. Aku minta waktu pada semua karyawan untuk berkumpul di aula pabrik. Sebab aku hari ini ingin memperkenalkan seseorang pada seluruh karyawan perusahaan ini. Kamu segera sebarkan berita ini," instruksi Nagi. Raja mengerutkan keningnya dengan instruksi Nagi yang tiba-tiba ini. Ada apa dengan Bosnya ini?
"Baik Bos, akan segera saya sampaikan pada seluruh karyawan." Raja permisi dari ruangan Nagi untuk menyampaikan apa yang disampaikan Bosnya barusan.
Nagi tersenyum membayangkan rencananya nanti yang akan memperkenalkan Hilda pada semua orang bahwa dia adalah istrinya.
Nagi membelokkan kakinya ke arah kantin. Pihak kantin menyambut kedatangan Nagi sangat antusias dan tentunya hormat, sebab Nagi merupakan pemilik perusahaan Kapassindo Nagi Medani yang sangat humble dan baik, sehingga banyak yang segan dan menyukai Nagi.
"Bu, buatkan minuman yang paling segar di kantin ini," perintah Nagi. Ibu kantin tidak membantah, dia segera mengeksekusi pesanan Nagi dengan sepenuh hati.
"Silahkan Pak Nagi," sodor Ibu kantin memberikan secangkir mug minuman pesanannya. Nagi segera meraih mug itu dan dipegangnya. Dia akan memberikannya pada Hilda saat dia terbangun nanti.
Nagi kembali ke dalam ruangannya seraya mengunci ruangannya dari dalam. Kali ini dia punya siasat untuk Hilda.
Nagi segera menuju ke dalam ruangan pribadinya, tenyata Hilda masih tidur. Nagi sampai geleng-geleng kepala dibuatnya. "Baiklah, aku akan membangunkan yang tidurnya kayak kebo ini."
__ADS_1
"Sayang, ayolah bangun. Kamu sudah terlalu lama tertidur di ruangan ini. Sayangggg," ujar Nagi seraya membangunkannya dengan mencium seluruh wajah Hilda.
Hilda mulai bergerak dan menggeliatkan tubuhnya ke kiri dan kanan. Dia meregangkan tubuhnya di atas kasur.
"Kak Nagi, sudah berada di sini? Rapatnya bagaimana? Lancar?" tanya Hilda penasaran sekaligus kaget. Rencana yang tadi sempat disusunnya mendadak takut tidak terkabul.
"Sayang, lama banget tidurnya. Kamu tahu bukan bahwa hari ini kamu akan aku kenalkan pada seluruh karyawan perusahaan ini?"
Hilda namak kaget dengan ucapan Nagi, dia akan dikenalkan pada seluruh karyawan perusahaan ini. Hilda kaget karena di belum ada persiapan apa-apa terutama mental.
"Kenapa Kak Nagi tidak bilang sejak tadi?" protes Hilda sedikit kecewa.
"Kenapa protes, apakah kamu tidak suka akan aku kenalkan pada karyawanku di sini?" Hilda menggeleng, dia bukan tidak senang, tapi takut mengecewakan jika tidak ada persiapan sebelumnya.
"Aku bukan tidak senang, melainkan aku kaget, sebab aku belum ada persiapan mental untuk menghadapi mereka." Nagi serta merta mengerutkan keningnya heran, dia tidak paham apa yang dimaksudkan Hilda.
"Kamu tidak perlu melakukan persiapan mental segala, memangnya aku mau perkenalkan kamu dengan sebuah tes akademik atau tes psikotes? Aneh-aneh saja kamu ini, Sayang." Nagi geleng-geleng kepala.
"Cobalah dulu minuman ini. Ini akan menyegarkan kamu yang baru bangun tidur. Nanti akan terasa fresh lagi dan stamina meningkat," ujar Nagi seraya menyodorkan satu mug minuman segar pesanannya tadi.
"Ini tidak mengandung obat tidur atau obat perangsang bukan, Kak?" Pertanyaan Hilda mendapat kekehan dari Nagi, dia tidak habis pikir dengan pikiran istri cantiknya ini.
"Kenapa aku harus membubuhkan obat perangsang di minuman ini? Kamu istriku yang tiap saat bisa aku pakai tanpa harus dijebak dengan obat perangsang seperti kisah-kisah dalam novel. Aku tinggal minta dan rayu, maka kamu aan klepek-klepek." Nagi berbicara dengan percaya diri.
"Baiklah akan aku minum, minuman ini." Akhirnya Hilda meminum minuman pemberian Nagi barusan, tenggorokannya terasa segar dan enak. Hilda bangkit ingin ke kamar mandi, namun Nagi mencegahya.
"Ok, tapi jangan lama. Aku menunggumu," ujar Nagi tidak sabar.
Hilda segera ke kamar mandi, lalu membuang yang mengganjal dalam kantung kemihnya. Setelah itu dia segera membersihkan diri, menggosok gigi, sebab biasanya kalau suda bangun tidur suka bau mulut, maka di kamar mandi ini dia gosok giginya sampai bersih dan terakhir disemprot dengan pewangi mulut agar nanti dia ngobrol sama Nagi tidak tercium bau nafas.
"Hah, hah." Hilda mencium bau dari mulutnya, akan tetapi bukan bau melainkan wangi yang sangat menyegarkan. Hilda segera keluar kamar mandi menuju meja rias dan duduk di sana, rasanya dia sangat gerah.
Perlahan Hilda membuka blazernya sehingga menyisakan pakaian tank topnya yang menonjolkan buah simalakama, tidak disentuh bikin tegang, tapi kalau disentuh mengakibatkan kesetrum tingkat tinggi.
"Kak Nagi, apakah Kak Nagi ingat saat kita di sini dan Ibu Harumi memergoki kita yang akan hampir saja blesss. Aku sangat malu saat itu. Bagaimana kalau kejadian itu kita putar saja sekarang Kak, di sini," ajak Hilda membuat mata Nagi membulat.
"Apa sayang, kamu mau melakukannya di sini?" kaget Nagi melotot.
"I~iya. Bi~biar ada kesannya begitu," ucap Hilda gugup.
"Baiklah, kita akan lakukan di sini, sekarang. Ayolah naik, sayang." Nagi meraih tangan Hilda ke atas ranjang.
"Benarkah kamu ingin melakukannya di sini?" Hilda mengangguk seraya tersipu malu.
Tidak butuh waktu lama keduanya kini mulai pemanasan dan mulai mempreteli masing-masing penutup tubuhnya.
"Kak Nagi," sebutnya setelah Hilda benar-benar siap. Nagi dengan jurus kilatnya segera menyambar bibir Hilda dengan sangat dalam.
"Ya ampun Sayang, ini suasana yang benar-benar romantis buat kita," ucap Nagi sembari benar-benar siap menaklukan Hilda yang sudah tidak sabar.
__ADS_1
Decakan maupun jeritan keluar dari mulut keduanya sambut menyambut. Mereka terbuai dalam suasana kamar yang sangat romantis. Kegiatan ini terekam nyata di kamera CCTV yang layar monitornya tersambung langsung dengan monitor di rumah Bu Harumi. Sepertinya Nagi lupa bahwa di kamarnya terpasang kamera CCTV yang pernah ia pasang sendiri tempo hari.
#Mata Bu Harumi Ternoda Lagi Kesuciannya
"Ya ampun, anak dan menantuku ini ternyata tengah main kuda lumping di ruangannya. Ternoda dua kali mata suci ini dengan kelakuan mereka. Untung mereka sudah suami istri. Kalau tidak, maka aku yang akan merajamnya sampai tidak bisa jalan," ujar Bu Harumi geleng-geleng kepala dengan kata-kata yang penuh nada ancaman.
Siang makin menjelang, Nagi dan Hilda menyudahi aktifitas menyenangkannya. Mereka segera ke kamar mandi lalu membersihkan diri,saling gosok badan.
"Ayo, sayang cepatlah, sebentar lagi kamu akan aku kenalkan pada semua karyawan perusahaan ini," ajak Nagi tidak sabar.
Jam 11.30 tiba, sesuai rencana sebelumnya, bahwa Nagi akan memperkenalkan seseorang pada seluruh karyawannya bahwa Hilda adalah istrinya.
"Assalamualaikum. Saya minta waktunya sebentar pada rekan-rekan. Bahwasanya saya akan memperkenalkan seseorang buat kalian semua. Di sini di depan kalian, ada seorang bidadari berdiri di samping saya. Kalian pasti heran siapakah beliau ini?" Hilda merasa tersanjung mendengar Nagi yang akan memperkenalkan dirinya di depan para karyawan Kapassindo NagiMedani.
"Di samping saya ini adalah sosok yang selalu mencintai saya tulus dan apa adanya, dia sosok setia dan romantis. Perkenalkan inilah dia perempuan istimewa dalam hidup saya yang sudah saya nikahi baru sebulan ini. Dia istri saya satu-satunya, yang pertama dan terakhir bagi hidup saya, juga kekal abadi sehidup sesurga," ucap Nagi memperkenalkan Hilda dengan sangat istimewa.
Hilda tersanjung dengan kata-kata sanjungan Nagi, perlahan dia meneteskan air mata. Tidak salah dia mencintai Nagi sejak usia 15 tahun, dan kini terbukti kata-kata Nagi bagai mutiara yang sangat berharga. Apa yang diucapkan Nagi melambung ke udara bahkan Hilda berharap harapan Nagi ini sampai ke lapisan langi ketujuh.
"Terimakasih banyak Kak, tidak salah aku memilih suami seperti Kak Nagi. Aku sungguh-sungguh merasa tersanjung dan berharga di matamu dan juga semua," ungkap Hilda terharu sehingga tidak kuasa dia menangis di hadapan semua orang saking terharunya.
Setelah acara memperkenalkan Hilda pada semua. Nagi dan Hilda kembali ke ruangannya. Nagi segera memesan makanan dari restoran sebrang perusahaannya untuk menikmati makan siang.
Makan siang berlalu Nagi dan Hilda kembali masuk ruangan Nagi. Di sini gejolak asmara mereka kembali bergelora. Keduanya sama-sama menginginkan sebuah kesenangan itu.
"Jangan salahkan Kak Nagi jika Kak Nagi minta terus. Setiap dekat kamu, aku sungguh tidak bisa menahan segala hasratku," ungkap Nagi seraya memagut bibir Hilda yang sudah pasrah menyerahkan segalanya pada Nagi.
"Ya ampun, mereka tidak ada malu-malunya. Kini setelah makan siang malah ditambah lagi. Ya ampun keduanya sama saja, tidak bisa menahannya. Nagi, Nagi." Bu Harumi geleng-geleng kepala dengan kelakuan anak menantunya.
"Sayang, ternyata di ruangan ini stamina kita malah meningkat. Kamu tambah lincah dan pintar saja," puji Nagi seraya mencubit hidung bangir Hilda.
Hilda mesem malu-malu, dia bersembunyi di balik lengan Nagi yang kekar.
"Kak Nagi, apakah setelah ini kita akan mengulangnya lagi?" tanya Hilda polos.
"Tidak, sayang, nanti saja di rumah. Malam hari saja. Setelah ini kita istirahat dulu sebelum bubaran kantor. Kebetulan kantor tidak ada jadwal padat hari ini," sanggah Nagi sembari mengecup kening Hilda.
"Ternyata, setelah dua minggu lebih kamu jadi istri, kamu semakin hari semakin pintar dan menggemaskan. Aku sama sekali tidak ingin sedetikpun jauh darimu, sama sekali," ungkap Nagi sambil menyambar kembali bibir Hilda ********** sampai tidak bernafas.
"Kak Nagi, apakah kegiatan kita ini aman dari pantauan mata manusia? Kenapa aku merasa firasatku mengatakan tidak aman?" ujar Hilda tiba-tiba.
"Kenapa, Sayang, kok tiba-tiba kamu merasa takut?" heran Nagi.
"Apakah di ruangan ini tidak terpasang kamera pengawas?" tanya Hilda berubah pucat dan nada bicaranya was-was.
"Apa maksudmu Sayang? Kamera pengawas?" Hilda mengangguk. Nagi tiba-tiba berdiri dan tersentak, dia baru tersadar bahwa ruangan ini sudah pernah dia pasang kamera CCTV.
"Sayang, gawatt, kegiatan kita ini sudah terekam CCTV dan vidio rekamannya terhubung langsung dengan monitor di rumah. I~Ibu? Ayo segera pulang, aku harap Ibu tidak sedang melihat monitor CCTV."
"I~Ibu? Jadi Ibu menyaksikan kita secara live?" Hilda kaget setengah mati dan tubuhnya lemas hampir pingsan. Keduanya kini dilanda was-was dan gundah gulana.
__ADS_1