
"Wahhh, sepertinya Tante Zuli menyukai Kak Hasya pada pandangan pertama, ya? Terus kapan dong Diara pulang kampung, biar dia bisa dipertemukan dan dikenalkan sama Kak Hasya? Aku juga setuju jika Kak Hasya bisa jadian sama Yara. Selain Kak Hasya baik dan loyalitasnya tinggi, dia juga masih single." Zila sepertinya ikut mendukung apa yang Zuli bayang-bayangkan.
"Entahlah, Zi. Diara belum bilang kapan dia bisa pulang kampung. Katanya sih dalam bulan ini dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Jadi, tante nggak tahu kapan dia bisa libur dan pulang dulu ke kampung ini."
"Tapi kalau menurut aku, walaupun tante Zuli menyukai Mas Hasya untuk dijadikan menantu, sebaiknya jangan terlalu berharap, sebab kita belum tahu Diara di Jakarta apakah sudah memiliki pacar atau belum. Jika sudah, maka Tante sebagai orang tua jangan sampai memaksakan kehendak anak. Biarkan Yara memilih jalan hidupnya sendiri. Kita tinggal mendoakan saja. Benar, nggak sih, Tan?"
"Ehh, i~iya. Kita tidak boleh memaksakan kehendak anak. Yang penting kita mendoakannya saja, ya. Tapi, tante tetap akan mendoakan supaya Mas Hasya berjodoh dengan Diara anak tante, habisnya Mas Hasya sepertinya laki-laki yang baik," harap Zuli diliputi senyum penuh harap.
"Aamiin... "
"Ehemmm, permisi Non Zila." Bersamaan dengan ucapan amin yang diucapkan Zila, tiba-tiba sebuah deheman terdengar mengejutkan Zila dan Zuli yang sejak tadi membicarakan Hasya. Saat keduanya menoleh, Zuli dan Zila tersentak setengah mau pingsan, sebab orang yang dibicarakannya ternyata kini ada di belakangnya.
"*Jangan-jangan Mas Hasya mendengar apa yang aku bicarakan tadi sama Neng Zila*. *Gusti nu* *agung, isin pisan (Allahu Akbar, malu banget*)," guman Zuli malu.
"Kak Hasya, ada apa, Kak? Kok sendirian dan datang dengan tiba-tiba kaya jelangkung?" Zila terlihat gugup dengan ujung mata melirik Zuli. Zuli juga sama saja merasa gugup saat Hasya sudah berada di belakangnya.
"Saya mau bertemu Paman Anda. Namun, sepertinya Paman Kobar sedang tidak ada."
"Paman Kobar masih di kafe, Kak. Nanti dihubungi saja Hpnya dan kasih janji supaya Paman bisa bertemu Kak Hasya," ujar Zila memberitahu.
"Saya pikir hari ini Paman Non Zila ada di rumah. Besok saja saya datang lagi." Hasya akan melangkahkan kakinya, tapi Zuli menahannya dengan menawarkan seblak buatannya.
"Mas Hasya, kenapa buru-buru? Kalau Paman Kobar tidak ada, alangkah lebih baiknya ngobrol bersama kami dulu sambil menyantap seblak sore di warung kecinya Tante." Zuli menawarkan seblak buatannya pada Hasya dengan penuh senyum.
Tadinya Hasya ingin menolak. Namun tidak enak karena Zuli sudah sigap menyiapkan seblak buatannya ke dalam mangkok ukuran sedang. Zuli mempersilahkan Hasya mengikutinya untuk duduk di teras yang sudah tersedia meja dan kursi bagi pembeli yang sengaja makan di tempat. Dengan terpaksa Hasya menerima tawaran Zuli, walaupun diikuti perasaan malu.
"Ayo, Mas Hasya , jangan sungkan. Saya itu ikhlas dan bahagia jika ada yang mencicip masakan saya, apalagi Mas Hasya, kan calon man~~." Hampir saja Zuli keceplosan mengucapkan calon mantu pada Hasya, untung saja mulut Zuli segera di rema, kalau tidak, sudah pasti blong deh.
Hasya tersenyum penuh misteri dan penuh makna yang tersembunyi. Hasya mengikuti Zuli yang mengarahkannya pada teras depan yang beralih fungsi menjadi kedai kecil.
"Silahkan dicicipi Mas Hasya, makanan ala kampungnya. Kalau Mas Hasya suka, nanti saya bikinkan kembali," sambut Zuli dengan bahagia. Hasya patuh saja dengan ajakan Zuli dan duduk di kursi di teras itu.
__ADS_1
"Silahkan cicipi," ucap Zuli menyodorkan mangkuk yang sudah terisi seporsi seblak. Hasya tidak membantah, terlebih dirinya memang merasakan lapar.
"Kak Hasya, selamat menikmati seblak mamer ya," canda Zila seraya tersenyum.
"Iya, Non, saya baru kali ini menikmati seblak Tante Zuli." Hasya sejenak menoleh ke arah Zila dan Zuli untuk memberi kode bahwa seblaknya akan dia cicipi.
Satu sendok dua sendok seblak dalam mangkuk sudah berpindah tempat, yakni ke dalam mulut Hasya. "Wahhh, sedap dan segar seblak buatan Tante Zuli," pujinya jujur dari dalam hati. Hati Hasya juga diliputi dengan berbagai pertanyaan tentang apa yang didengarnya tadi di depan, sebelum dia berhasil mengagetkan Zila dan Zuli tadi saat berbincang.
"*Benarkah Tante Zuli menyukai aku untuk dijadikan menantunya, memangnya anak Tante Zuli yang mana dan sebesar siapa*?" tanya hati Hasya penasaran.
Pertama menikmati seblak seumur-umur, Hasya merasakan seblak buatan Zuli sangat sedap dan segar. Dan rasanya dia ketagihan. Dibarengi es teh jeruk suguhan Zuli, semakin sempurna saja nikmat yang Hasya rasakan saat ini. Sambil menyeruput es teh jeruk, kepala Hasya tidak sengaja mendongak ke arah dalam rumah kontrakan Zuli yang pintunya sengaja terbuka selama berjualan.
Tepat di dinding, mata Hasya menemukan sebuah foto. Foto seorang gadis muda yang tengah wisuda. Wajahnya lumayan manis dan menarik dengan bola mata yang indah. Jantung Hasya tiba-tiba berdegup kencang saat melihat foto itu. Di samping foto itu juga menempel foto Zuli bersama dengan gadis yang sedang berpakaian wisuda. Wajahnya memang sedikit mirip dengan Zuli. Hasya yakin, bahwa foto gadis yang sedang wisuda itu adalah anaknya Tante Zuli.
"*Mungkinkah ini anaknya Tante Zuli yang diobrolkannya tadi*?" Lagi-lagi Hasya bertanya di dalam hatinya dengan rasa penasaran.
"Bagaimana Mas Hasya, seblaknya nagih, tidak?" Tiba-tiba Zuli sudah ada di sampingnya dan menanyakan seblak yang sudah dimakan Hasya tadi.
"Tidak dijual, seblak barusan tidak dijual. Ini hanya *taste food* dulu, melihat pasaran. Kalau banyak yang meminta, maka tante akan berjualan seblak sayuran tadi."
"Enak betul Tan, seblaknya sangat enak dan segar serta nagih," puji Hasya jujur.
"Lain kali mampir ke sini lagi supaya bisa mencicipi seblak buatan saya," ujar Zuli penuh harapan.
"Insya Allah. Dan kebetulan saya saat ini mendapatkan tugas dari Bos Naga untuk menemui Paman Kobar. Bisa jadi besok atau lusa saya bisa mampir ke sini lagi untuk menikmati seblaknya," tukas Hasya sambil berdiri dan harus pamit sebab Naga sang Bos memberikan pesan WA, agar Hasya kembali ke proyek pembangunan pabrik di tanah yang kini sedang diselidiki siapa sebenarnya pemilik tanah yang pertama?
Hasya berpamitan. "Berhubung saya masih ada urusan, dengan terpaksa saya harus pergi. Non Zila, Tante Zuli saya pamit dulu," pamitnya sembari berdiri melangkahkan kaki menuju keluar.
"Pamit, ya, assalamualaikum," ulang Hasya seraya menuju mobilnya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," jawab Zila dan Zuli bersamaan sambil melambaikan tangan ke arah Hasya.
"Cie, cie, yang lagi menatap kepergian calon menantu," canda Zila disertai senyum menggoda.
"He he, tante lagi belajar jadi mertua, Zi," balas Zuli seraya tersenyum penuh harap.
***
Sudah seminggu Naga di kampung Sukaseuri. Selain ada hal yang harus segera dia tuntaskan, Naga juga sengaja membiarkan Zila bersama Kobar, untuk saling menumpahkan rindu satu sama lain antara paman dan keponakan. Sampai hari ini, Naga masih belum menemukan siapa sebenarnya pemilik tanah itu. Yang perlu dia mintai keterangannya hanyalah Kobar. Dari Kobar inilah, Naga mangharapkan ada titik terang yang sangat benderang supaya dia bisa mengungkap kebenaran.
Besoknya Naga datang ke rumah Kobar bersama Hasya. Tujuannya satu, yaitu mencari tahu kebenaran tentang tanah itu. Dari Kobar, Naga mendapat satu kejelasan bahwa tanah yang diklaim milik Haidar, sejatinya merupakan milik Haga, ayah kandung Zila.
"Sepertinya kita harus telusuri orang-orang yang dulu berkaitan dengan pembuatan sertifikat tanah itu. Kepala Desa dan BPN serta orang-orang yang menjadi saksi pembuatan sertifikat tanah itu, " usul Hasya yang diangguki Naga.
"Sayangnya Kepala Desa dan orang BPN yang mengurus sertifikat tanah Pak Haga, orangnya sudah meninggal. Jadi, saat kami ingin mencari tahu arsipnya di desa, aparat desa tidak mengijinkan. Mereka membantah tidak mungkin ada dua arsip sertifikat yang sama dengan nama pemilik yang berbeda. Dan sepertinya mereka berbelit-belit memberikan alasan kenapa kami dilarang meminta arsip yang ada di desa," tukas Kobar memberi satu titik terang lagi, bahwa sesungguhnya ada kejanggalan di dalam aparat desa.
"Ini harus diungkap Sya, sebab alasan mereka melarang Paman Kobar untuk mencari arsip di desa, sangat tidak masuk akal. Mungkin saja mereka tidak ingin terbongkar kejahatannya," duga Naga. Hasya mengangguk dan setuju dengan apa yang diucapkan Naga.
"Sya, sepertinya penyelidikan ini harus kamu tuntaskan dengan tim, aku menyerahkan sepenuhnya padamu dan tim. Aku harus segera ke Bandung. Perusahaan sedang membutuhkan kehadiran aku, sebab ada beberpa klien dari luar negeri yang ingin bekerjasama dengan perusahaan kita di Bandung," ujar Naga yang sebetulnya menyayangkan dia tidak bisa menyertai penyelidikan kasus mafia tanah ini.
Naga pun pamit dengan membawa serta Zila yang sudah seminggu lebih menghabiskan waktu bersama Pamannya.
"Kami pamit, ya, Paman."
"Tante Zuli, aku pamit, ya. Jika ada apa-apa tolong hubungi aku," ujar Zila berpamitan pada Kobar dan Zuli sembari menyalami keduanya. Naga juga tidak lupa memberi salam pada mereka berdua.
"Assalamualaikum!" salam Naga dan Zila berbarengan. Mereka memasuki mobil yang dikemudikan Naga sendiri. Mobil pun mulai melaju meninggalkan Kampung Sukaseuri.
Ketika mobil tiba di tugu pembatas jalan kampung menuju jalan ke kota, Naga dan Zila melihat Nauri dan Ridu yang berboncengan. Naga sengaja menghentikan mobil mewahnya sejenak dan membunyikan klakson mengagetkan mereka si biang onar. Naga membuka kaca jendela lebar-lebar dan membiarkan Nauri dan Ridu melihat ke arahnya.
"Sayang, rupanya mereka sudah berkeliaran lagi di jalanan. Mungkin saja mereka akan membuat onar," ujar Naga seraya menatap ke arah Nauri dan Ridu lalu mendongakkan kepalanya.
"Minggir kalian. Aku peringatkan ya, jangan bikin onar kampung ini lagi kalau tidak ingin kami jebloskan lagi ke penjara," peringat Naga seraya menutup kembali kaca mobil dan melajukan kembali mobil mewahnya. Nauri dan Ridu hanya bisa menahan marah tanpa bisa melawan.
__ADS_1