Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 105 Musim 2 Zila Mengarang Bebas


__ADS_3

     Hilda tetap tidak percaya bahwa Papanya benar-benar tidak mengetahui di mana Nagi. Hilda yakin Nagi disembunyikan oleh Papanya dan orang-orang kepercayaan Papanya. Hilda juga yakin Papanya telah memerintahkan semua orang yang berpengaruh di perusahaan Hasri Food Sulawesi untuk membuat data Nagi tidak ada di perusahaan itu supaya Hilda sama sekali tidak bisa mengakses keberadaan Nagi.


     "Papa sudah hubungi juga Om kamu di sana. Om Handi bilang Nagi sempat menemuinya dan pamit, apakah kamu tadi tidak mendengar Papa dan Om Handi bicara dengan loudspeaker? Lalu kamu masih mau bilang Papa berbohong dan mengakali semua ini?"


     Tidak habis akal Hilda meminta Pak Hasri untuk menghubungi semua perusahaannya yang tersebar di seluruh Indonesia untuk mengecek keberadaan Nagi. Namun nihil semua perusahaan milik Pak Hasri tidak ada data Nagi sama sekali dan Nagi tidak terdaftar sebagai staff atau karyawan di perusahaan Pak Hasri manapun.


     "Nagi, di mana kamu, Nak?" guman Pak Hasri bingung.


     "Ini semua gara-gara Papa. Semua awalnya dari niat Papa yang ingin memisahkan aku dengan Kak Nagi," sentak Hilda marah seraya berjingkat dan beranjak dari ruangan keluarga menuju tangga untuk ke kamarnya. Hilda masuk kamar dan menutup pintu kamar dengan keras.


     "Brugggg." Pintu tertutup dengan keras sehingga membuat Pak Hasri dan Bu Hilsa terkejut


**


     Dua minggu setelah keberadaan Nagi yang raib entah kemana, Hilda selalu mengurung diri di kamar dan tidak pernah masuk kuliah sehingga dia di DO dari kampus. Pak Hasri sudah putus asa dan bingung harus melakukan apa. Anak perempuan semata wayangnya sungguh tidak bisa diatur dan keras kepala. Entahlah dengan cara apalagi Hilda harus dibujuk.


     "Ga, sebagai Kakak laki-laki satu-satunya, yang dekat dengan adik perempuannya, coba bujuk adikmu supaya bisa kembali seperti dulu. Dia hanya di kamar mengurung diri dan tidak pernah mau bersosialisasi lagi dengan dunia luar sejak kehilangan Nagi. Papa jadi bingung dan merasa bersalah. Tolong kamu bujuk," pinta Pak Hasri terlihat putus asa.


     "Baiklah, Pa, akan Naga coba untuk membujuk Hilda." Naga patuh dan akan berusaha membujuk Hilda supaya kembali ceria seperti dulu.


     Naga sengaja membawa Zila ke kamar Hilda untuk membujuknya. Saat melihat Hilda di kamarnya, Hilda sibuk dengan dunianya mengutak-atik Hpnya mencari Nagi di media sosial dengan mengetik nama Nagi di berbagai akun kemudian di klik dan dicarinya, tapi nihil Nagi yang dia cari tidak jua ketemu. Hampir semua media sosial sudah Hilda selancari untuk mencari Nagi, lagi-lagi nihil dan gagal.


     "Ahhhhh, semua gara-gara Papa!" pekiknya seraya menghempas Hpnya di atas kasur. Naga dan Zila yang melihat Hilda yang sudah berubah sedemikian rupa, merasa prihatin. Tubuh kurus kurang makan dan wajah cantiknya kini tirus tidak berseri hanya dengan waktu dua minggu saja kehilangan Nagi. Naga sangat sedih dan terpukul melihat Hilda seperti ini.


     "De, kenapa harus seperti ini? Kenapa kamu siksa diri kamu sendiri gara-gara satu orang laki-laki? Kamu harusnya lebih berjuang memperlihatkan pada dia bahwa kamu bisa bangkit tanpa dia. Kalau kamu seperti ini, apa yang mesti dia banggakan dari kamu, dia pasti menertawakan kegagalan kamu." Naga meraih lembut lengan adik remajanya yang masih labil itu. Dia benar-benar tidak menduga Hilda sekeras kepala itu. Dirinya saja laki-laki tidak keras kepala seperti Hilda.


     Hilda menepis tangan Naga kasar, dia melotot dan mengusir Naga untuk pergi. "Pergi, aku tidak butuh Kakak yang tidak perhatian dan mendukung aku. Kakak sama saja kayak Papa, sangat egois dan hanya mementingkan kemauannya sendiri," tukasnya menuding Naga yang tidak perhatian dan egois. Naga geleng kepala.


     "Harusnya kamu tidak seperti ini. Kamu ini masih muda dan jalan hidupmu masih panjang, tapi kenapa kamu sia-siakan hidupmu demi satu pria yang jelas-jelas sengaja pergi meninggalkanmu."


      "Stop, Kakak jangan tuduh Kak Nagi yang tidak-tidak. Kak Nagi tidak pernah melupakan aku. Justru Kak Nagi dipaksa untuk melupakan aku oleh Papa. Dan aku yakin, Kakak juga pasti terlibat di dalamnya," tudingnya lagi membuat Nagi geleng-geleng kepala.


     "Jangan tuduh Kakak terus, Kak Naga sama sekali tidak terlibat atas rancana Papa. Sekarang kamu berubahlah untuk lebih baik. Jika seperti ini mana mungkin laki-laki mau mendekatimu," bujuk Naga lagi hampir tidak sabar.


     "Biarkan, aku tidak peduli laki-laki manapun kecuali Kak Nagi. Aku hanya ingin Kak Nagi," tekannya lagi penuh ambisi. Naga dan Zila sangat sedih dan prihatin melihat keadaan Hilda seperti itu.


     Zila memberi kode pada Naga supaya tidak bicara lagi. Jika melihat Hilda seperti ini, Hilda sepertinya butuh teman curhat, tiba-tiba terbersit dalam hati Zila untuk mendekati Hilda dengan pendekatan dari teman ke teman dan kakak. Zila akan berusaha sebisanya. Zila berharap Hilda bisa kembali seperti sebelumnya.


     Naga keluar dari kamar Hilda dengan raut wajah kecewa. Sementara Zila masih bertahan di dalam kamar dengan sebuah misi, yaitu mencoba membujuk Hilda dengan caranya sendiri.

__ADS_1


Zila menutup rapat-rapat pintu kamar, berharap tidak seorang pun yang mendengar ucapannya di dalam bersama Hilda.



"Bagaimana, apakah enak rasanya ditinggalkan atau dilupakan orang yang kita cintai?" Zila duduk santai di bibir ranjang sembari menggoyang-goyangkan kakinya yang menjuntai ke bawah.



Hilda menatap kesal terhadap Zila yang berani duduk santai di ranjangnya.



"Pergi, lu pergi dari kamar gue. Gue muak lihat elu di sini," usir Hilda melotot.



"Eit, tunggu dulu, jangan usir dulu. Aku punya sesuatu untuk disampaikan ke kamu yang nantinya akan berguna buat kamu sebelum kamu menyesal."



Hilda melotot dan tidak suka Zila masih ada di dalam kamarnya. "Gue nggak butuh omelan elu yang nggak ada gunanya. Pergi!" usirnya lagi




"Apa yang elo tahu dengan Kak Naga, katakan!" sentaknya tidak sabar.



"Tenang dulu, aku akan bicara tapi kamu harus santai dan camkan dan dengar baik-baik semua ucapan yang aku sampaikan," tegas Zila dengan serius sehingga Hilda menanggapinya serius.



"Cepat katakan!"



Zila diam sejenak dan berpikir hal apa yang harus dia katakan supaya Hilda mau kembali kuliah dan mejalani hari-hari seperti biasanya.

__ADS_1



"Aku, mendapatkan telpon dari *private number* yang ternyata itu Kak Nagi. Dia hanya ingin berbicara padaku saja tidak dengan orang lain. Tujuannya adalah ingin memantau kamu lewat aku. Tapi Kak Nagi memohon jangan sampai ada orang lain yang mengetahui bahwa aku menerima panggilannya, sebab menurut Kak Nagi ini rahasia, dan keberadaan Kak Nagi juga rahasia," bisik Zila nampak serius dengan penuh kehati-hatian.



Gelagat Zila ini mengundang keyakinan di dalam diri Hilda, sehingga Hilda tidak sabar lagi ingin tahu apa yang dikatakan Nagi lagi.



"Benarkah, elu tidak bohong, kan? Lalu di mana Kak Nagi sekarang, gue ingin bicara dengannya?" desaknya tidak sabar.



Zila tersenyum dalam hati, dia bersorak sepertinya Hilda termakan omongannya. Baiklah Zila akan tetap menggunakan kecerdasan otaknya untuk bersandiwara demi kebaikan Hilda menurutnya.



"Tenang dulu, jangan tidak sabaran seperti itu. Keberadaan Kak Nagi masih rahasia, dia tidak mau mengatakan di mana dia sekarang. Nomer Hpnya saja dirahasiakan," tahan Zila membuat Hilda kecewa.



"Lalu apa yang Kak Nagi katakan?" Hilda menyiapkan kupingnya untuk mendengarkan Zila ngomong.



"Yang jelas Kak Nagi ingin mendengar kamu tetap kuliah sampai tuntas, lalu kamu kembali ceria seperti dulu dan selalu cantik dan bersemangat. Dan ingat, rubahlah sikap agresif kamu menjadi lebih anggun, karena sepertinya Kak Nagi tidak suka dengan sikap kamu yang pecicilan," ungkap Zila yang seratus persen ngarang dan ini semua hanya karangan bebasnya sendiri.



"Lalu apa yang akan Kak Nagi janjikan?"



"Kak Nagi menjanjikan akan melamar kamu. Maka dari itu, mulai sekarang kamu harus bisa lebih baik dan tunjukkan empat tahun kemudian kamu adalah gadis yang anggun yang kuliahnya berhasil, sehingga Kak Nagi semakin terpesona denganmu, sehingga penantiannya tidak sia-sia," pungkas Zila mengakhiri karangannya yang benar-benar bebas.



Jauh di lubuk hati Zila, dia was-was karangannya ini akan jauh dari ekspektasi. Namun Zila berdoa semoga niat baiknya ini diridoi oleh Yang Maha Kuasa.

__ADS_1


__ADS_2