
Rencana setelah sarapan akan pindah ke apartemen justru harus dibatalkan, sebab keadaan Zila yang tidak memungkinkan. Naga panik dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan terlebih ini adalah pengalaman pertama dalam menghadapi istri yang mabok hamil. Bu Hilsa juga terlihat khawatir, sebab dalam lubuk hatinya dia tidak tega melihat Zila yang sedang mengandung cucunya tersiksa karena mual muntah.
Dulu saat mengandung Naga, Bu Hilsa pernah mengalami kondisi seperti ini, mual muntah yang terbilang parah. Bu Hilsa berinisiatif membuat kembali bubur ketan merah andalannya, sebab dulu saat mual parah dan tubuh sudah lemas, mertuanya memberikan bubur ketan merah. Anehnya saat masuk mulut dan tenggorokannya, perutnya tidak menolak. Untuk itu melihat kondisi Zila seperti ini dia teringat masa lalu.
Bu Hilsa segera berlari ke dapur menghampiri Bi Rani. Bi Rani juga di dapur sedang sibuk membuat rujak andalannya. Sementara Bi Rana bertugas ke pasar membeli mangga mangkel sama kedondong untuk dibuat asinan. Karena Zila suka banget dengan asinan. Bu Hilsa merasa menyesal, kemarin tidak menyuruh Bi Rana ke pasar membeli buah-buahan.
"Bi, bantu saya bersihkan beras ketan merahnya, saya mau bikinkan istrinya Naga bubur ketan merah. Saya masih penasaran dengan bubur ketan merah, sebab dulu saat saya mengalami mual muntah parah, yang masuk dalam perut saya selain buah-buahan, ya, bubur ketan merah buatan mertua saya."
"Siap, Nyah." Bi Rani segera menuju lemari beras yang di sana terdapat berbagai beras. Ada juga biji kacang hijau, jika mau membuat bubur kacang hijau pun, tinggal ambil kacang hijaunya di lemari beras.
"Ini, Nyonya, sudah bersih tinggal dieksekusi oleh Nyonya," ujar Bi Rani seraya memberikan beras ketan merah yang sudah dicuci bersih di panci. "Nyonya, apakah mau saya bantu bikinkan atau Nyonya sendiri saja?" lanjut Bi Rani.
"Biar saya saja yang bikin, tolong siapkan saja perlengkapannya," titah Bu Hilsa. Bi Rani ngeloyor menuju rak bumbu untuk menyiapkan bahan-bahan pelengkap. Daun pandan, garam sedikit, gula merah, dan santan cair sudah disiapkan Bi Rani. Bu Hilsa dengan semangat mengeksekusi pembuatan dari awal sampai akhir.
"Selesai," serunya seraya mengangkat spatula kayu bekas mengaduk bubur ketan merah.
"Wah, Nyonya, bahagia banget sudah menyelesaikan bubur ketan merah ini," seru Bi Rani ikut gembira.
Bi Rani, coba kamu cicip bubur ketan buatan saya, apakah ada yang kurang? Saya takut kurang manis atau malah asin."
"Itu sih nomer wahid Nyonya, serahkan pada saya urusan cicip-mencicip," ujar Bi Rani seraya meraih sendok bersih dari rak untuk mencicipi. Dengan wajah yang menjiwai, Bi Rani merasakan bubur ketan merah di mulutnya.
"Wahhh, Nyonya, luar biasa. Ini bubur merah terlezat yang pernah saya cicipi. Nyonya benar-benar ahli kalau jadi pembuat bubur ketan merah," puji Bi Rani sungguh-sungguh.
"Bisa saja kamu ini, Bi. Ya sudah, kamu siapkan saja satu mangkok bubur ketan merahnya buat mantu saya. Saya takut dia kekurangan nutrisi ataupun tenaga dalam tubuhnya." Bu Hilsa terdengar sangat perhatian.
Bi Rani segera membawa satu mangkok bubur ketan merah buatan Nyonya Besar, yang akan diantar ke atas ke kamar Naga. Tidak lupa rujak buatannya yang terlihat segar.
Tiba di kamar, Bi Rani melihat Zila sudah terbaring lemah ditemani Naga yang mimijit-mijit kepala Zila.
__ADS_1
"Zi, lebih baik kita ke RS, ya. Aku khawatir kondisi ini makin parah jika berlanjut. Sementara dalam perut kamu tidak ada makanan yang tersisa, aku khawatir terjadi apa-apa dengan bayi kita," ujar Naga resah. Naga sempat kesal dengan sikap keras kepala Zila yang tidak mau diajak ke RS untuk dirawat.
"Aku tidak mau dirawat, aku hanya rindu ibu. Bagaimana jika saat aku sedang begini ada ibu yang rawat dan menemani, alangkah aku bahagia, Kak," ungkap Zila sembari meneteskan air mata. Naga menjadi terharu, perempuan muda di hadapannya ini benar-benar merindukan kasih sayang seorang ibu yang tidak pernah dia rasakan setelah meninggalkan Zila 20 tahun yang lalu. Naga merasakan kerinduan yang dirasakan Zila.
Bi Rani yang masih di mulut pintu, menghentikan langkahnya saat mendengar yang dikatakan Zila. Bahwa Nonanya ini sangat merindukan kasih sayang seorang Ibu. Bi Rani menjadi terharu, lantas dia membalikkan tubuhnya, Bi Rani berinisiatif untuk memberikan kesempatan pada Bu Hilsa untuk mencoba memberikan bubur ketan buatannya secara langsung. Bi Rani berpikir dengan cara seperti itu, siapa tahu membuat Zila mau makan dan perutnya terisi.
"Nyonya, alangkah lebih baiknya Nyonya saja yang memberikan bubur ini pada Non Zila, seperti apa yang disampaikannya tadi pada Den Naga, bahwa Nona sangat merindukan ibunya yang telah tiada. Saya rasa ikatan batin dengan ibunya Non Zila bisa tersalurkan lewat Nyonya," saran Bi Rani memberanikan diri.
"Benarkah bisa tersalurkan, Bi? Kamu ini ngarang."
"Saya hanya berpikiran siapa tahu dengan diberikannya sama Nyonya kerinduan Non Zila pada ibunya sedikit terobati," kilah Bi Rani dengan muka yang seakan meminta Bu Hilsa mengikuti sarannya.
"Baiklah, akan saya coba. Tapi jika dia tidak mau dan masih bersikap dingin pada saya, bagaimana?"
"Nyonya jangan menyerah, Nyonya harus sentuh hatinya dengan kasih sayang. Nyonya coba bayangkan sedang memberikan bubur itu buat Non Hilda." Bi Rani memberikan saran lagi yang membuat Bu Hilsa sedikit termenung.
Bi, rujak buahnya jangan dikasih lihat dulu sebelum mantu saya memakan bubur ini. Saya ingin dia makan dulu bubur, lalu setelah itu boleh Bi Rani berikan rujaknya," ujar Bu Hilsa memberi saran. Bi Rani patuh, dia menyembunyikan rujak itu di samping tubuhnya.
Bu Hilsa mendekati kamar dan mengetuk pintu, lalu masuk dengan menenteng semangkok bubur ketan merah. Naga menoleh dan merasa heran dengan kedatangan Mamanya yang masuk kamar dengan menenteng mangkok.
"Ma, masuklah!" ucap Naga memberi ruang pada Mamanya untuk mendekati Zila. Zila nampak tersentak dengan wajah yang sudah pucat pasi. Bu Hilsa sangat prihatin melihat menantu yang sempat dia tidak suka itu dengan wajah yang persis orang sakit.
"Ibu," ucapnya pelan.
"Mama membawakan bubur ketan merah buat kamu. Kali ini kamu harus makan dan cicipi bubur ketan buatanku. Bubur ini pasti bisa masuk perut kamu, dan aku yakin ini bisa diterima mulut dan perut kamu," ujar Bu Hilsa seraya menyodorkan mangkok bubur itu, lalu menyendokkan untuk diberikan pada mulut Zila. Zila sempat menggeleng dan merekahkan tangannya di depan dadanya.
"Jangan menolak, kamu coba dulu," bujuk Bu Hilsa tidak patah arang.
__ADS_1
"Biarkan Kak Naga yang nyuap, Bu. Aku ingin Kak Naga ada di sini," pinta Zila mengisyaratkan bahwa dia mau makan hanya disuap oleh Naga.
"Baiklah, tapi kamu harus makan, ya. Ini bubur ketan merah buatan tanganku sendiri, jadi kamu harus mencicipinya," tukas Bu Hilsa berharap.
Naga mendekat dan mencoba mengikuti keinginan Zila untuk disuapi olehnya. Naga meraih mangkok bubur itu dari tangan Mamanya.
Satu sendok bubur ketan telah sampai di bibir Zila. Naga berharap Zila mau menelannya. Dan dengan penuh perjuangan, Zila mencoba membuka mulutnya.
Satu sendok bubur ketan merah buatan Bu Hilsa telah berada di mulut Zila, Zila seperti sedang merasakannya. Dan, akhirnya satu sendok yang disuapkan itu tiba diperutnya dengan enak. Rasa hangat dengan rasa bubur yang lezat kini memenuhi perutnya. Naga nampak bahagia, terlebih Bu Hilsa.
Dua suap tiga suap berhasil masuk perut Zila, sesekali dia menatap malu pada Bu Hilsa. Naga paham, untuk itu Naga meminta tolong Mamanya beranjak dari kamarnya.
Bu Hilsa paham dengan kode yang diberikan Naga, dia harus keluar karena Zila merasa malu dengannya.
"Mama, keluar dulu, ya, kamu habiskan buburnya. Jika masih kurang, masih banyak di dapur sepanci. Nanti kamu bisa minta Rana dan Rani," ucapnya seraya keluar kamar dengan senyum tersungging. Bu Hilsa melangkahkan kaki mendekati mulut pintu, dirinya pun kini menyebut Mama pada Zila seakan ingin mengikis jurang pemisah antara keduanya.
"Bu,'" tiba-tiba Zila memanggil Bu Hilsa. Bu Hilsa sontak menoleh.
"Terimakasih bubur ketan merahnya, sangat lezat dan tidak mual di perut," ucap Zila memberikan ucapan terimakasih yang tulus.
Bu Hilsa tersenyum dengan bahagia mendengar Zila berbicara padanya, lalu dia membalikkan badan seraya meninggalkan kamar Naga yang sedang menyuapi Zila.
"Wah, Nona. Alhamdulillah bubur ketan merah buatan Nyonyanya habis. Semoga Non Zila lekas pulih dan bertenaga. Nah sekarang sebagai hadiah dari Bibi, Nona harus mencicipi rujak buah buatan Bibi, spesial dari Bi Rani untuk Nona.
Wajah Zila mendadak berbinar, dia senang sekali mendengar Bi Rani membawakan rujak semangkok besar. Sebab selama hamil dan ngidam, Zila memang sangat favorit makan rujak buah terutama buatannya.
"Makasih banyak, Bi," ucapnya dengan rona bahagia. Pagi ini, Zila sudah mendapatkan dua perhatian dari dau orang wanita paruh baya, yakni mertuanya juga Bi Rani. Alangkah bahagia dan terobati kerinduan Zila pada almarhumah ibunya yang seakan hadir saat Bu Hilsa maupun Bi Rani memberikan bubur ketan merah dan semangkok rujak.
__ADS_1
"Alhamdulillah," ujarnya mengucap syukur.
Notes; GA berupa pulsa pada lima orang tertinggi dukungannya, akan author tutup pada jam 23.00 malam tgl 30 Juni 2023. Bagi kalian, ayo gercep sebelum jam 23.00 malam nanti. Pengumumannya menyusul besok pagi. Terimakasih.....